<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342</id><updated>2012-02-16T01:33:29.836-08:00</updated><category term='Da&apos;wah'/><category term='Do&apos;a'/><category term='Hadits'/><category term='Buletin an Najiyah'/><category term='Usrah'/><category term='Renungan'/><category term='tazkiyah'/><category term='Khasiat'/><category term='Shihah'/><category term='Info'/><category term='Tanmiyah'/><category term='Resensi'/><category term='Fenomena di sekitar Kita'/><category term='Sya&apos;ir'/><category term='As Sunnah'/><category term='Akhlaq'/><category term='Tarbiyatul Aulad'/><category term='wanita'/><category term='Masaail &apos;Ashriyah'/><category term='Abawiyah'/><category term='Audio'/><category term='Tekad'/><category term='Muruah'/><category term='Internasioanal'/><category term='Fiqh  Hadits'/><category term='taushiyah'/><category term='Buletin al Fikrah'/><category term='Firaq'/><category term='Fikrah'/><category term='Fiqh'/><category term='Islamic Thougst'/><category term='Soal jawab Seputar Islam'/><category term='Fiqh Nazilah'/><category term='Obat Herbal'/><category term='al wala wal bara&apos;'/><category term='Kitabah'/><category term='Nasihat Salaf'/><category term='Buletin  jumat an Najiyah'/><category term='Niswah'/><category term='Muslimah'/><category term='Ramadhan'/><category term='Khabar'/><category term='Khutbah &apos;Ied'/><category term='FATWA'/><category term='Gaya islami'/><category term='Islamic Word view'/><category term='Motivasi Islami'/><category term='Tokoh'/><category term='Tasyji&apos;'/><category term='Tarikh'/><category term='syurga'/><category term='Islamic Parenting'/><category term='Himmah'/><category term='Tauhid'/><category term='Sunan Mahjurah'/><category term='I&apos;jaazul Qur&apos;an'/><category term='Istri'/><category term='Aqidah'/><category term='Dunia Islam'/><category term='Fadhilah'/><category term='Sirah'/><category term='Rukun Iman'/><category term='ibadah'/><category term='Akhbar'/><category term='Masyakil'/><category term='Manhaj'/><category term='Ayat Kauniyah'/><category term='Koreksi'/><category term='Teladan'/><category term='Kiat'/><category term='Suami'/><title type='text'>Wahdah Islamiyah Muna</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>MUNA-WI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13164645042757109207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>212</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-643625158963556167</id><published>2012-02-12T15:47:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T16:10:19.814-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Thougst'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sirah'/><title type='text'>KEHIDUPAN SA’AD IBN ABI WAQQASH: TARBIYAH BAGI PARA AGEN PERUBAHAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;By: Ahmed Ibn Abdull-Rahman AlSowyan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(http://albayan.co.uk/id)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sa'ad ibn Abi Waqqash radhhiyallahu ‘anhu termasuk di antara sepuluh sahabat yang dijamin Nabi akan masuk sorga.[i] Dia juga terhitung sahabat senior, dia adalah orang ketiga yang masuk Islam.[ii] Sa’ad adalah sahabat yang tegar membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat Rasulullah tersudut dalam perang Uhud. Dia juga melalui masa-masa kesulitan dan kelaparan.[iii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad ikut memikul panji jihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dialah sahabat yang pertama kali melepas anak panah dalam jihad Islam [iv]. Dia ikut serta dalam perang Badar sebelum menginjak usia dewasa.[v] Dia juga ikut dalam perang Uhud. Dalam perang tersebut, dia berjuang dengan gigih bersama Rasulullah saat sebagian pasukan lalai.[vi]  Atas prestasinya itu, Rasulullah mau menebus panah Sa’ad dengan ayah dan ibunya (ungkapan lazim Arab, pent.).[vii] Selanjutnya, Sa’ad senantiasa ikut perang bersama Nabi dan tidak pernah sekalipun absen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam begitu bangga pada Sa’ad, sebagaimana dalam ungkapannya:"Ini adalah pamanku, maka siapa yang mau mempertaruhkan pamannya ?[viii] Tentunya, Rasulullah tidak akan membanggakan Sa’ad kecuali karena dia termasuk pahlawan pilih tanding yang memang berhak untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Umar ibn Khattab radhhiyallahu ‘anhu ingin menaklukkan Iraq dan harus berhadapan dengan kerajaan Persia, ia mengecek sahabat-sahabat sekaligus meminta pendapat mereka. Akhirnya, ia tidak mendapatkan orang yang lebih kapabel daripada Sa'ad, yang diibaratkan "singa dengan kukunya yang tajam"[ix]. Hanya orang yang berpengalaman yang dapat menanggung resiko dan memikul beban maha berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad tak mengecewakan harapan Umar. Ia berhasil memenuhi harapan Umar, dan mengukir keteladanan yang sangat indah dalam pengorbanan, kekuatan dan kepahlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perikehidupan Sa’ad memuat banyak pelajaran penting. Namun di sini cukup tiga yang akan diangkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Semangat Tempur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bangsa di dunia membahas tentang semangat tempur sebagai sebuah doktrin militer. Doktrin ini diharapkan menjadi spirit pengorbanan dan bela negara.  Setiap negara berusaha untuk menghidupkan sejarah masa lalu dan masa kini, sebagai upaya membangkitkan semangat tempur pasukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tahukah anda apa semangat tempur Sa’ad bin Abi Waqqash radhhiyallahu ‘anhu, tatkala ingin menaklukkan Persia yang merupakan imperium terbesar di zamannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad ibn Abi Waqqash mengajak pasukannya menyeberang sungai Tigris. Mereka akan menyerang Persia dan menyerbu kota Mada’in, tempat istana raja Kisra. Atas perintah tersebut, sebagian pasukan maju sedang yang lainnya ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi situasi tersebut, Sa’ad berkata lantang: "Apakah kalian takut pada air sungai ini?" Kemudian ia membaca firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا} ( آل عمران: 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguatkan moral pasukannya, Sa’ad memimpin di depan dan menyeberang. Dia menunggang kudanya masuk ke dalam sungai diikuti oleh pasukannya. Sambil menyeberang, dia berkata: “Hasbunallahu wa ni’mal wakil, Demi Allah, pasti Allah akan menolong wali-Nya, menegakkan agama-Nya dan membinasakan musuh-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan Sa’ad yang kokoh terhadap pertolongan dan bantuan Allah kepada wali-Nya ini tidak mutlak, tetapi dengan persyaratan yang dia ungkapkan sendiri: "Selama dalam pasukan tidak ada orang yang melampau batas atau perbuatan dosa yang melampaui kebaikan".[x]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat tempur ini memiliki beberapa rambu, yang urgen di antaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu, Kekuatan dan keberanian, serta tidak ragu dalam menghadapi segala tantangan. Lantaran itu, Sa'ad menggelari batalyon pertama yang menerobos sungai Tigris dengan “katibah al-ahwal” (ahwal: tantangan berat, pent.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, langkah Sa’ad merupakan suatu keputusan yang sangat beresiko, karena menyeberangi sungai sebesar sungai Tigris membutuhkan tekat dan keberanian. Dalam konteks ini, sangat tepat ungkapan penyair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika anda memiliki ide, anda juga harus memiliki tekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena yang justru merusak suatu ide adalah keragu-raguan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi awal umat ini sungguh telah menunjukkan kekuatan dan keberanian luar biasa. Tidak berlebihan bila raja Mesir dalam menggambarkan para penakluk berujar: "Andai mereka harus menghadapi gunung, niscaya mereka akan mampu menggulingkannya".[xi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan itu, deskripsi seorang tokoh Kristen tentang keberanian tentara Islam yang menaklukkan Spanyol: "Sungguh telah masuk ke negeri kami bangsa yang kami tak tahu, apakah dari langit mereka turun, atau dari perut bumi mereka keluar?"[xii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua, keteladanan merupakan kunci antusiasme. Jika seorang pimpinan pasukan berada pada barisan terdepan, niscaya para prajurit tidak akan ragu untuk ikut dan menempuh jalannya. Kepribadian seorang komandan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam memompa semangat dan membangkitkan spirit patriotisme. Para pemimpin sejati hanya akan tampak keunggulan dan jati dirinya justru pada waktu-waktu yang sulit dan genting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga, yakin terhadap pertolongan dan bantuan Allah. Yakin dengan janji Allah kepada wali-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ} (الحج:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ} ( العنكبوت: 69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat, dosa dan maksiat termasuk di antara sebab utama tertundanya pertolongan Allah berikut datangnya kekalahan dan kerugian. Dalam konteks ini, orang-orang beriman sesungguhnya tidak bertempur dangan senjata saja, tetapi juga dengan ketaatannya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Darda radhhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada sebagian murid-muridnya: "Beramalshalihlah kalian sebelum berperang, karena sesungguhnya kalian bertempur dengan amal-amal kalian".[xiii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari bahaya maksiat terhadap keberhasilan dakwah merupakan salah satu sarana utama agar dapat bertobat dan meninggalkannya. Sebaliknya, sikap lalai dan menganggap enteng perbuatan maksiat hanya akan melahirkan barisan dakwah yang rapuh, yang tidak akan mampu memikul tanggung jawab dakwah sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, dalam banyak kesempatan, kita justru lebih sering bertanya, mengapa pertolongan Allah tidak kunjung datang? Mengapa serangan musuh dakwah tak pernah berhenti? Mengapa sebagian program dakwah kita tidak membuahkan hasil yang diharapkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih aneh lagi, kita sering kali menjawab pertanyaan seperti itu sebagai sebuah sunnatullah. Tentu itu merupakan salah satu jawabannya. Tetapi selain itu, ada juga faktor-faktor lain yang harus senantiasa diingat. Antara lain adalah faktor dosa dan kemaksiatan kita, yang mengakibatkan kekalahan dan mengaburkan jalan kemenangan. Tepatlah firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ } ( البقرة: 124)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman: ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Berlapang Dada Terhadap Orang Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil menaklukkan Persia dan Irak, Sa'ad bekerja membangun kota Kufah. Ia menetap di sana bersama para sahabatnya. Di tengah itu semua, suatu peristiwa ganjil terjadi. Sekelompok penduduk Kufah mengadukan Sa’ad kepada Amirul Mu'minin Umar ibn Khattab radhhiyallahu ‘anhuma terkait kasus yang amat ganjil.  Mereka menuduh Sa’ad sebagai "tidak tahu tata cara shalat yang benar."[xiv]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, salah seorang di antara sepuluh sahabat yang telah dijamin sorga tidak tahu tata cara shalat yang benar? Alangkah keji tuduhan mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar ibn Khattab, dengan segala kecerdasan dan kepiawaian, serta pengetahuannya tentang sosok Sa'ad; tahu benar bahwa hal itu adalah dusta belaka. Tetapi karena posisinya sebagai Amirul Mu'minin, maka ia tetap berkewajiban untuk mengkonfirmasi tuduhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar kemudian mengirim surat kepada Sa'ad, bertanya dengan lemah lembut: “Wahai Abu Ishaq (kunyah Sa’ad, pent), sekelompok penduduk Kufah menganggap engkau tidak menguasai tata cara shalat dengan baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’ad membalas surat itu:  “Demi Allah, sungguh aku memimpin shalat mereka sebagaimana tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku tidak menyimpang daripadanya. Aku  shalat Isya dengan memanjangkan dua raka'at pertama, lalu memendekkan dua raka'at terakhir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar balik membalas: "Begitulah yang kami sangkakan kepadamu, wahai Abu Ishaq".[xv]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, untuk lebih jelasnya, Umar mengutus seseorang untuk bertanya langsung kepada penduduk Kufah tentang Sa'ad. Tidak satu mesjid pun kecuali ia masuki dan bertanya. Hasilnya, mereka semua memuji Sa’ad, sampai orang itu memasuki masjid Bani ‘Abs. Seseorang di antara mereka yang bernama Usamah ibn Qatadah seraya berdiri, berkata: "Kalau engkau bertanya kepada kami tentang Sa’ad, maka sesungguhnya dia itu tidak mau memimpin pasukan kompi, tidak membagi jatah secara merata, dan tidak adil dalam memutuskan suatu perkara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah, mungkinkah hal seperti itu bisa terjadi pada pribadi yang pernah ditebus oleh Rasululullah dengan kedua orang tuanya, dan menggembirakannya dengan sorga?  Alangkah keji kezaliman dan aniaya yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan tuduhan seperti itu, Sa'ad hanya berkata: "Demi Allah, saya akan berdoa kepada Allah atas orang itu tiga hal. Ya Allah, jika hambamu tersebut dusta, ia berdiri karena pamer dan mencari popularitas, maka panjangkanlah umurnya, jadikan dia papa dalam masa yang lama, dan jerumuskan dia dalam berbagai fitnah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengabulkan doa Sa’ad. Demikianlah sehingga kelak, setiap kali orang tersebut ditanya atas derita dan kehidupannya yang malang, ia hanya bisa menjawab: "Aku adalah orang tua yang terjerumus dalam banyak fitnah. Aku ditimpa akibat doa Sa'ad".[xvi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, dengan kebijaksanaannya, Umar ibn Khattab menurunkan Sa'ad dari jabatannya. Sebagai langkah preventif mencegah terjadinya fitnah di tengah masyarakat, di samping untuk menghapus perdebatan dan gosip terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Umar tetap menghormati kedudukan Sa’ad. Makanya, saat Umar dirawat akibat ditombak (oleh Abu Lu’luah, pent.), ia memasukkannya sebagai salah seorang dari enam anggota dewan syura (untuk memilih khalifah, pent.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada dewan syura itu, Umar berpesan: "Kalau kepemimpinan jatuh ke pundak Sa'ad, maka ia adalah orang yang sangat kapabel untuk itu. Kalau tidak, maka siapa pun di antara kalian yang kelak terpilih menjadi pemimpin, maka hendaknya ia memanfaatkan Sa’ad.  Sesungguhnya aku pernah mencopot jabatannya, bukan karena dia tidak kapabel, dan juga bukan karena ia pernah khianat".[xvii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh mengherankan sikap kelompok tertentu yang gemar mencoreng kehormatan para sahabat Nabi, dan dengan cara yang keji. Mereka mendiskreditkan sahabat dengan berbagai kedustaan. Perhatikan, bagaimana mereka pura-pura lupa terhadap keutamaan dan sejarah para sahabat Nabi. Keutamaan yang sesungguhnya luar biasa serta sejarah yang penuh dengan kisah kepahlawanan, jihad dan pembelaan terhadap agama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari peristiwa ini ada pelajaran berharga lain. Yaitu jika pelecehan dan tindakan aniaya bisa terjadi terhadap pribadi seperti Sa'ad dan shahabat lain, maka tentu terhadap orang selain dan setelah mereka, seperti ulama, dai dan orang yang berjasa lainnya lebih memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian manusia yang lemah agama dan rasa takutnya kepada Allah sangat mudah mengeluarkan perkataan untuk mendiskreditkan dan menjatuhkan kehormatan ulama dan dai. Manusia seperti ini sengaja mencari-cari kekurangan para ulama dan dai, bahkan tak segan-segan berdusta atas nama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk manusia seperti itu, tepat firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا } ( الأحزاب: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat tegas pengingkaran Rasulullah terhadap manusia seperti ini, dalam sabdanya: "Wahai manusia yang mengaku muslim dengan ucapannya, sementara keimanan belum masuk ke dalam hatinya; janganlan kamu menyakiti orang-orang  Islam. Jangan mencela dan mencari-cari kekurangan mereka. Barang siapa suka mencari-cari kekurangan saudaranya, niscaya Allah akan mencari-cari kekurangannya. Dan barang siapa dicari-cari kekurangannya oleh Allah, niscaya Allah akan buka kekurangannya, meskipun ia berada di tengah rumahnya".[xviii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut pandang ini, di sisi lain,  bisa meringankan beban orang-orang shaleh dari para ulama dan dai kita yang terlanjur dicemarkan namanya, dengan berbagai tuduhan dusta. Manusia yang telah direkomendasi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun, yang kebesaran dan kedudukannya disepakati oleh umat,  dicela dan tidak bebas dari tuduhan. Bagaimana pula manusia yang di bawah mereka, dari segi ilmu dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada mereka yang suka melontarkan tuduhan, tidakkah mereka takut terhadap akibat doa, sebagaimana doa Sa'ad radhhiyallahu ‘anhu? Di antara pesan yang indah, Hasan ibn Sufyan, salah seorang ulama hadits terkemuka, pernah berpesan kepada seorang muridnya yang telah membuat repot gurunya: "Takutlah pada Allah, karena durhaka kepada guru. Boleh jadi ada doa-doa mereka atas kamu yang terkabulkan".[xix]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Mengisolir fitnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika perselisihan terjadi di antara sahabat, banyak tokoh dari kalangan sahabat yang mengisolir diri dari dua kelompok yang bertikai. Yang menonjol di antara mereka adalah: Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdullah ibn Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kehidupan yang penuh dengan jihad dan pengorbanan. Sa’ad adalah sosok yang sejak kecil ikut dalam barisan utama para mujahidin, ia termasuk panglima mujahidin, ia habiskan masa mudanya hingga usia tuanya dalam berjaga, maju dan berkorban di jalan Allah. Akan tetapi, ketika ia melihat pertikaian  di antara sahabat, ia menggantung pedangnya dan mengisolir diri, sehingga ia tidak terlibat dalam perang Jamal, perang Shiffin dan proses arbitrase.[xx]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu dapat diprediksi bahwa akan banyak orang yang datang kepadanya bertanya tentang sikapnya. Mengingat bahwa medan perang adalah medan dan keahliannya. "Aku telah berjihad”, jawab Sa’ad dengan tegas, “sedang aku tahu tentang jihad. Aku tidak akan menyiksa diriku, walau yang datang kepadaku adalah orang yang lebih baik dariku. Aku tidak akan berperang sampai mereka memberiku pedang yang memiliki dua mata dan mulut, sehingga dapat berbicara dan mengatakan: ini mu’min, dan ini kafir”.[xxi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bentuk sikap wara’nya,  ia menyibukkan diri mengurus ternak demi menghindari fitnah. Putranya, Amir ibn Sa’ad, bercerita bahwa suatu waktu Sa’ad berada di tengah-tengah ternak ontanya. Saat itu datanglah putranya yang lain: Umar bin Sa’ad. Tatkala Sa’ad melihatnya, ia berkata: “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatan pengendara ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Umar turun dari kendaraannya, ia berkata kepada ayahnya: ”Apakah engkau sibuk mengurus onta dan dombamu, sedang kebanyakan orang sibuk membagi kekuasan di antara mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Sa’ad memukul dada Umar seraya berkata: Diam! Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Seseungguhnya Allah mencintai hambanya yang bertaqwa, kaya dan menyembunyikan diri”.[xxii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain, ia mengatakan kepada putranya: "Wahai anakku, apakah dalam urusan fitnah engkau menyuruh aku menjadi pimpinan? Demi Allah, tidak sama sekali; sampai aku diberi pedang yang jika aku pakai untuk memenggal orang beriman maka ia terpental, dan jika aku pakai untuk memenggal orang kafir maka ia membunuhnya. Aku  pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mencintai hamba-Nya yang bertaqwa, kaya dan menyembunyikan diri".[xxiii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ia mengisolir diri dari dua kelompok yang bertikai, ia tetap melarang mencela para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Ibn Musayyab bercerita bahwa ada seseorang yang mencela Ali, Thalhah dan Zubair. Maka Sa'ad melarangnya  dengan mengatakan: “Jangan kamu mencela saudara-saudaraku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi orang itu tidak mau menghentikannya. Maka Sa'ad shalat dua raka'at lalu berdoa kepada Allah atas orang tersebut. Sekonyong-konyong datanglah seekor onta dan menerobos ke tengah orang banyak. Onta itu lalu membanting orang tadi dan menginjak persis pada dadanya ke lantai. “Aku menyaksikan banyak orang mengikuti Sa'ad sambil mengatakan, ‘Berbahagialah wahai Abu Ishaq, doamu telah dikabulkan". Demikian cerita Ibn Musayyab.[xxiv]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang benar terhadap fitnah sebagaimana di atas merupakan manhaj praktis bagi setiap muslim sepanjang masa, yang rambu-rambunya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Ketika Sa'ad meminta pedang yang memiliki mulut, yang dapat menyampaikan kepadanya bahwa ini seorang muslim agar dapat dia hindari, dan bahwa ini seorang kafir agar ia dapat membunuhnya. Hal ini menunjukkan rasa takutnya  yang sangat tinggi untuk menumpahkan darah muslim.[xxv] Sebab saat fitnah dan kekacauan terjadi, serta bendera kebenaran menjadi kabur, maka sikap yang tepat adalah menjauhkan diri darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Rasulullah bersabda: "Muslim sejati adalah muslim yang semua kaum muslimin lainnya merasa selamat dari (perbuatan) lisan dan tangannya".[xxvi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap menghindar saat fitnah terjadi sama sekali bukan sikap lemah dan pengecut. Bahkan ia merupakan sikap bijak yang akan menyelamatkan seseorang dari jurang musytabihat. Hal ini tidak hanya berlaku dalam situasi pertarungan politik, atau saat terjadi peperangan; tetapi juga merupakan manhaj orang-orang shaleh dalam setiap perbedaan yang samar-samar yang terjadi di antara para ulama, atau para dai, bahkan di antara kelompok-kelompok Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara catatan yang penting di sini, bahwa sebagian orang yang tak berilmu dan yang di dalam hatinya terdapat penyakit, mereka tidak pernah tampil dalam amal-amal yang nyata dan disepakati. Mereka hanya muncul saat terjadi fitnah wal ‘iyazubillah. Sikap seperti ini merupakan bukti seseorang jauh dari rahmat dan taufiq dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali pernah menasehati salah seorang provokator fitnah. “Tatkala kesatuan kaum Muslim masih utuh,” kata Ali, “engkau tidak memberi sumbangsih kebaikan sama sekali. Namun tatkala fitnah terjadi, engkau muncul sebagai bintang seperti munculnya tanduk seekor kambing".[xxvii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.            Sa'ad mampu membedakan antara dua bendera besar: bendera jihad, yang dia  kenal dan ikut berjuang di jalan Allah demi tegaknya bendera tersebut; dan bendera fitnah. Bendera jihad adalah bendera suci yang tampak jelas barisan di dalamnya, jelas bentuk kebenarannya, dan merupakan sarana bagi orang-orang shaleh untuk bertaqarrub demi menggapai ridha Allah. Sedang bendera fitnah adalah bendera yang tidak jelas tujuannya, yang di dalamnya bercampur hawa nafsu dan dibumbuhi dengan kesesatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.            Sa'ad tidak memburu kekuasaan, tidak ambisi terhadap jabatan dan kehormatan dunia. Ia justru banyak mengasingkan diri dan menuntut akhirat. Jati diri seorang pahlawan biasanya tidak muncul saat  kesenangan melimpah, tapi akan tampak pada waktu-waktu sulit dan genting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa'ad bin Abi Waqqash di sini memberi suatu contoh yang dapat diteladani dalam pembinaan nilai-nilai tarbawiyah dan akhlak yang suci. Bahwa para  pejuang yang rabbani tidak mengharap sesuatu selain ridha Allah dan kebahagiaan hari akhirat. Dalam hal ini, mereka mengikuti petunjuk para nabi shallahu 'alaihim wasallam. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِين) (الشعراء : 109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ) (الأنعام :90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).’ Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda: "Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepas di tengah gembala kambing, lebih berbahaya daripada ambisi seseorang terhadap harta benda dan jabatan dengan mempertaruhkan agamanya".[xxviii]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.            Di antara kepandaian Sa'ad, ia selalu komitmen dengan nash syariat, sehingga sikapnya tidak berdasar pada logika semata. Tetapi merupakan hasil ijtihad yang dibangun di atas dasar petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berbahagialah orang yang senantiasa komitmen dengan Sunnah dan tidak melampau batasannya.[xxix]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaparan biografi para sahabat bukan hanya sekadar pelajaran sejarah atau sumber kebanggaan atas para leluhur. Namun seharusnya menjadi sumber inspirasi untuk menjadikan mereka sebagai panutan dalam berbagai sisi kehidupan. Dengan meneladani petunjuk akhlak dan etika mereka, serta mentransformasikan nilai-nilai tarbawiyah mereka dalam kehidupan kontemporer. Pemaparan biografi tersebut sekaligus menjadi sanggahan terhadap ahlul ahwa yang sering kali sengaja menjatuhkan nama baik dan mendiskreditkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[i] Diriwayatkan oleh Ahmad, III/209, no. 1675; dan Tirmidzi dalam Kitab al-Manaqib, no.3747. Arnauth dalam edit al-Musnad menulis: “Sanadnya kuat, sesuai dengan kriteria Muslim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ii] Diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Sa'ad pernah berkata: "Sungguh saya melihat diriku sebagai sepertiga (pemeluk) Islam." Juga perkataan Sa’ad: "Sungguh saya pernah tinggal selama sepekan, sedang saya sepertiga (pemeluk) Islam." (Shahih al-Bukhari, Kitab Fadha’il al-Shahabah, VIII/439, no. 3726 dan 3727.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[iii] Kata Sa'ad: "Kami pernah berperang bersama Rasulullah, sedang kami tidak memiliki makanan selain daun-daun pohon, sampai-sampai seseorang di antara kami makan sebagaimana onta atau kambing, makan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya." Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab Fadha’il al-Shahabah, VIII/439, no. 3728. Lihat juga: al-Maghazi wa al-Siyar, h. 194;  al-Rawdh al-Unuf, II/127-128.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[iv] Kata Sa'ad: "Sungguh akulah orang Arab pertama yang melemparkan panah fii sabilillah." Atsar diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Fadha’il al-Shahabah, VIII/439, no. 3728.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[v] Siyar A'lam al-Nubala', I/97. Lihat juga: Ibn Sa’ad, al-Thabaqat al-Kubra, III/142.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[vi] Ibn Sa’ad, “al-Thabaqat,” III/142.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[vii] Diriwayatkan oleh Bukhari  dalam Kitab al-Jihad wa al-Siyar, VIII/181, no. 2905.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[viii] Diriwayatkan oleh Tirmizi dalam Kitab al-Manaqib, no. 3752; dan dinilai shahih oleh Albani dalam Shahih al-Tirmidzi, no. 3752.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[ix] Demikian ungkapan Abdurrahman ibn ‘Auf ketika diminta pendapatnya oleh Umar ibn Khattab tentang pemimpin pasukan kaum Muslim ke Iraq. Lihat: al-Bidayah wa al-Nihayah, IX/614, ed. Dr. Abdullah al-Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[x]  Al-Bidayah wa al-Nihayah, X/10-12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xi]  Al-Maqrizi, al-Mawa’izh wa al-I’tibar, I/265.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xii] Al-Bayan al-Mugrib fii Akhbar al-Andalus wa al-Maghrib, II/8. Di antara yang menyedihkan, seorang pemimpin Kristen yang lain mendeskripsikan penduduk Spanyol setelah jatuhnya ke tangan mereka bahwa: “Mereka tidak beragama, pengecut dan tidak berakal.” Ibid., III/90. Dengan membandingkan dua kondisi tersebut, tampak jelas bagaimana proses suatu bangsa berjaya dan runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xiii] Diriwayatkan oleh Abdullah ibn Mubarak dalam Kitab al-Jihad, h. 61; dan Imam Bukhari dalam satu bab tersendiri dalam Kitab al-Jihad: Bab Amal Shaleh Sebelum Berperang, dan Perkataan Abu Darda’: “Kalian hanya berperang dangan amal-amal kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xiv] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-Adzan, II/651, no. 755.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xv] Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xvi] Ibid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xvii] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Fada’il al-Shahabah, VIII/404, no. 3700.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xviii] Diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Kitab al-Birr wa al-Shilah, no. 2032, dan dinilai hasan oleh Albani dalam Ghayatul Maram, h. 240.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xix] Siyar A’lam al-Nubala’, XIV/159; dan Tadzkirah al-Huffazh, III/705.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xx] Siyar A’lam al-Nubala’, I/122.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxi] Ibn Sa’ad, Al-Thabaqah al-Kubra’, III/143; dan Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliya’, I/94; dan oleh al-Haitsami, Majma’ al-Zawa’id, VII/299, hadits ini dirujuk kepada: al-Thabrani, al-Kabir. Selanjutnya ia mengatakan: “Rijal sanadnya shahih.” Tepatlah apa yang ia katakan, hanya saja sanadnya putus; tetapi ada syawahid yang membuat derajatnya terangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxii] Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Zuhdu wa al-Raqa’iq, IV/2277, no. 2965; Tirmizi mengatakan: “Yang dimaksud dengan ‘al-ghaniy/kaya’ adalah kaya jiwa, inilah kekayaan yang dicintai, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘ Tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya jiwa,’ sedang al-Qadhi mengisyaratkan bahwa kekayaan yang dimaksud adalah kekayaan harta.” Lihat: Syarh Shahih Muslim, XVIII/100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxiii] Diriwayatkan oleh Ahmad, III/112, no. 1529; dan dinilai shahih oleh Arnauth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxiv] Dinisbatkan oleh al-Haitsami sebagaimana dalam Majma’ al-Zawaid, IX/154, kepada al-Thabrani; dan ia mengatakan bahwa rijal sanadnya adalah rijal kitab al-Shahih. Diriwayatkan juga oleh al-Dzahabi, dengan sanadnya, dalam Siyar A’lam al-Nubala’, I/166; dan ia mengatakan: ”Kisah ini memiliki banyak jalur sanad, dan diriwayatkan oleh Ibn Abi al-Dun-ya dalam Mujabi al-Da’wah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxv] Abdullah ibn Umar berkata: “Di antara perkara yang membinasakan, yang tak ada jalan keluar bagi orang menjerumuskan diri masuk ke dalamnya, adalah menumpahkan darah yang haram, tanpa ada alasan yang menghalalkannya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-Diyat, no. 6863.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxvi] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-Iman, no. 10; dan Muslim dalam Muqaddimah-nya, no.41.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxvii] Siyar A’lam al-Nubala’, I/120.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxviii] Diriwayatkan oleh Tirmizi dalam Kitab al-Zuhd, no. 2376; dan ia mengatakan: ”Hasan shahih;” dan dinilai shahih oleh Albani dalam Shahih al-Tirmidzi, no. 2376.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[xxix] Dikutip dari perkataan Said ibn Jubair rahimahullah: “Orang yang berhenti pada apa yang ia dengar sungguh  telah bersikap yang benar.” Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab al-Iman, no. 220.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-643625158963556167?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/643625158963556167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/02/kehidupan-saad-ibn-abi-waqqash-tarbiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/643625158963556167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/643625158963556167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/02/kehidupan-saad-ibn-abi-waqqash-tarbiyah.html' title='KEHIDUPAN SA’AD IBN ABI WAQQASH: TARBIYAH BAGI PARA AGEN PERUBAHAN'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-4632336315096488689</id><published>2012-02-07T02:40:00.000-08:00</published><updated>2012-02-07T02:52:18.103-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Masyakil'/><title type='text'>Adakah Sahabat Nabi Yang Murtad?</title><content type='html'>Salah satu penyimpangan agama syi'ah adalah keyakinan (klaim) bahwa sebagian Sahabat Nabi Muhammad murtad dan berpaling dari Islam sepeninggal Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam. Oleh karena itulah mereka lebih memilih untuk hanya merujuk kepada Ahlul bait dariapada sahabat. Anehnya mereka membangun klaim, 'sahabat murtad' dengan hadits-hadits Shahih yang menjadi rujukan Ahlussunnah, seperti Shahih Bukhari. Salah satu hadits yang biasa dicatut adalah hadits Ibnu Abbas yang terdapat dalam   Shahih Bukhari, No. 3100 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا ثُمَّ قَرَأَ { كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ } وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ وَإِنَّ أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِي يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِي أَصْحَابِي فَيَقُولُ إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ { وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي إِلَى قَوْلِهِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu'man berkata telah bercerita kepadaku Sa'id bin Jubair dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya' ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta'ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 - 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana maksud hadits  di atas? Siapa Sahabat yang murtad. Berikut ini penjelasan Ust Sigit Pranowo dalam rubrik Tanya Jawab http://www.eramuslim.com/. Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;entang makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam hadits tersebut قَالَ فَيُقَال إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ "Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh al Mubarakhfuri didalam kitabnya “Tuhfah al Ahwadzi” mengutip perkataan an Nawawi dialam “Syarhnya” yang mengatakan bahwa terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang hal itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama &lt;/span&gt;: Bahwa maksudnya adalah orang-orang munafik dan orang-orang murtad yang bisa jadi dikumpulkan dikarenakan cahaya (bekas wudhu) lalu Nabi shalallahu alaihi wa sallam memanggil mereka dikarenakan tanda yang ada pada mereka namun dikatakan (kepada Nabi) bahwa mereka bukan termasuk orang-orang yang dijanjikan kepadamu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang telah mengganti (agamanya) setelahmu artinya bahwa mereka tidaklah mati diatas lahiriyahnya seperti saat kamu tinggalkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua &lt;/span&gt;: Bahwa maksudnya adalah orang yang ada pada zaman Nabi shalallahu alaihi wa sallam kemudian murtad sepeninggalnya lalu Nabi shalallahu alaihi wa sallam memanggil mereka meskipun tidak ada tanda wudhu pada diri mereka dikarenakan Nabi shalallahu alaihi wa sallam mengenalnya disaat hidupnya akan keislaman mereka lalu dikatakan kepada Nabi shalallhu alaihi wa sallam bahwa mereka telah murtad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt; : Bahwa mereka adalah para pelaku maksiat dan dosa besar yang meninggal diatas tauhid serta para pelaku bid’ah yang kebid’ahannya tidak mengeluarkan mereka dari islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Abdil Barr mengatakan bahwa setiap yang melakukan perbuatan baru didalam agama (bid’ah) termasuk orang-orang yang dihalau dari telaga (Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam), seperti : Khawarij, Rafdihah dan para pengikut hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengatakan,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Termasuk orang-orang zhalim yang berlebihan didalam kezhaliman, menghilangkan kebenaran dan mengumumkan dosa-dosa besarnya.”&lt;/span&gt; Dia berkata,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Setiap mereka dikhawatirkan termasuk dalam apa yang dimaksudkan didalam hadits.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Hajar didalam kitabnya “al Fath” menyebutkan bahwa yang terdapat didalam riwayat al Kusymihani “Lan Yazaaluu” serta didalam terjemah Maryam dari hadits-hadits tentang para Nabi. Al Farari berkata bahwa telah disebutkan dari Abu Abdillah al Bukhari dari Qabishah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang murtad pada masa Abu Bakar yang kemudian diperangi Abu Bakar hingga mereka terbunuh dan mati dalam keadaan kufur. Al Ismailiy juga telah menyambungkannya dari sisi lain dari Qabishah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Khattabi mengatakan,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Tak seorang pun dari sahabat yang murtad. Adapun yang murtad adalah orang-orang kasar dari kalangan badui yang tidak pernah membela agama (islam) dan hal ini tidaklah menjdikan aib bagi para sahabat yang masyhur. Hal itu ditunjukkan dengan perkataannya “Ushaihabii” dengan pola yang menunjukkan kecil ,maksudnya jumlah mereka adalah sedikit."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu at Tiin mengatakan,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Mengandung makna bahwa mereka adalah orang-orang munafik atau para pelaku dosa-dosa besar.”&lt;/span&gt; .. ad Dawawi mengatakan,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Tidak menutup kemungkinan termasuk pula para pelaku dosa besar dan perbuatan bid’ah.” &lt;/span&gt;(Fathul Bari 18/370)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-4632336315096488689?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/4632336315096488689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/02/adakah-sahabat-nabi-yang-murtad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4632336315096488689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4632336315096488689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/02/adakah-sahabat-nabi-yang-murtad.html' title='Adakah Sahabat Nabi Yang Murtad?'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-1049318864291309820</id><published>2012-02-05T00:24:00.000-08:00</published><updated>2012-02-05T00:38:44.720-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gaya islami'/><title type='text'>Memadu Kasih Di hari Valentine</title><content type='html'>Pada bulan februari ada satu hari yang disakralkan oleh para pemuda (i) di seantero dunia. Hari itu disakralkan karena dianggap sebagai hari kasih sayang. Perayaan yang diperingati pada tanggal 14 Februari itu sebenarnya berawal dari perayaan atas kematian seorang pendeta . Lalu bagaimana menjadikan hari tersebut sebagai hari mengikrarkan cinta kasih? Berikut ini tulisan Ust Muhammad Abduh Tuasikal yang dikutip langsung dari website pribadi beliau: &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;http://rumaysho.com.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selamat menbaca.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine's Day), pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat. Pada masa kini, hari raya ini berkembang bukan hanya para orang yang memadu kasih, tapi pada sahabat dan teman dekat. Namun mayoritas yang merayakannya adalah orang yang sedang jatuh cinta. Ini pun dianut saat ini dan semakin meluas di kalangan muda-mudi di negeri ini. Ketika hari tersebut ada yang memberikan coklat kepada kekasihnya atau kado spesial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaku umat Islam, tentu saja kita mesti menilik ulang perayaan tersebut. Ada beberapa tinjauan dalam perayaan tersebut yang bisa dikritisi. Di antaranya adalah tentang memadu kasih lewat pacaran dan hukum merayakan valentine serta memberikan hadiah ketika itu. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi kami untuk membahasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meninjau Fenomena Memadu Kasih Lewat Pacaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang menyangka bahwa jika seseorang ingin mengenal pasangannya mestilah lewat pacaran. Kami pun merasa aneh kenapa sampai dikatakan bahwa cara seperti ini adalah satu-satunya cara untuk mengenal pasangan. Saudaraku, jika kita telaah, bentuk pacaran pasti tidak lepas dari perkara-perkara berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;: Pacaran adalah jalan menuju zina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya pacaran adalah jalan menuju zina dan itu nyata. Awalnya mungkin hanya melakukan pembicaraan lewat telepon, sms, atau chating. Namun lambat laut akan janjian kencan. Lalu lama kelamaan pun bisa terjerumus dalam hubungan yang melampaui batas layaknya suami istri. Begitu banyak anak-anak yang duduk di bangku sekolah yang mengalami semacam ini sebagaimana berbagai info yang mungkin pernah kita dengar di berbagai media. Maka benarlah, Allah Ta’ala mewanti-wanti kita agar jangan mendekati zina. Mendekati dengan berbagai jalan saja tidak dibolehkan, apalagi jika sampai berzina. Semoga kita bisa merenungkan ayat yang mulia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32). Asy Syaukani&lt;span style="font-style: italic;"&gt; rahimahullah&lt;/span&gt; menjelaskan, “Allah melarang mendekati zina. Oleh karenanya, sekedar mencium lawan jenis saja otomatis terlarang. Karena segala jalan menuju sesuatu yang haram, maka jalan tersebut juga menjadi haram. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini.” Selanjutnya, kami akan tunjukkan beberapa jalan menuju zina yang tidak mungkin lepas dari aktivitas pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;:  Pacaran melanggar perintah Allah untuk menundukkan pandangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahall Allah Ta'ala perintahkan dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".”&lt;/span&gt; (QS. An Nur: 30). Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada para pria yang beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan yaitu wanita yang bukan mahrom. Namun jika ia tidak sengaja memandang wanita yang bukan mahrom, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannya. Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;: Pacaran seringnya berdua-duaan (berkholwat)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.”&lt;/span&gt; Berdua-duaan (kholwat) yang terlarang di sini tidak mesti dengan berdua-duan di kesepian di satu tempat, namun bisa pula bentuknya lewat pesan singkat (sms), lewat kata-kata mesra via chating dan lainnya. Seperti ini termasuk semi kholwat yang juga terlarang karena bisa pula sebagai jalan menuju sesuatu yang terlarang (yaitu zina).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;: Dalam pacaran, tangan pun ikut berzina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zina tangan adalah dengan menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom sehingga ini menunjukkan haramnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah beberapa pelanggaran ketika dua pasangan memadu kasih lewat pacaran. Adakah bentuk pacaran yang selamat dari hal-hal di atas? Lantas dari sini, bagaimanakah mungkin pacaran dikatakan halal? Dan bagaimana mungkin dikatakan ada pacaran islami padahal pelanggaran-pelanggaran di atas pun ditemukan? Jika kita berani mengatakan ada pacaran Islami, maka seharusnya kita berani pula mengatakan ada zina islami, judi islami, arak islami, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menikah, Solusi Terbaik untuk Memadu Kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi terbaik bagi yang ingin memadu kasih adalah dengan menikah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jalan yang terbaik bagi orang yang mampu menikah. Namun ingat, syaratnya adalah mampu yaitu telah mampu menafkahi keluarga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wahai para pemuda , barangsiapa yang memiliki baa-ah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagai obat pengekang baginya.”&lt;/span&gt;Yang dimaksud baa-ah dalam hadits ini boleh jadi jima’ yaitu mampu berhubungan badan. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud baa-ah adalah telah mampu memberi nafkah. Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullahh mengatakan bahwa kedua makna tadi kembali pada makna kemampuan memberi nafkah.  Itulah yang lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah solusi terbaik untuk orang yang akan memadu kasih. Bukan malah lewat jalan yang haram dan salah. Ingatlah, bahwa kerinduan pada si dia yang diidam-idamkan adalah penyakit. Obatnya tentu saja bukanlah ditambah dengan penyakit lagi. Obatnya adalah dengan menikah jika mampu. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sesungguhnya obat bagi orang yang saling mencintai adalah dengan menyatunya dua insan tersebut dalam jenjang pernikahan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Obat Bagi Yang Dimabuk Cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa obat bagi orang yang dimabuk cinta namun belum sanggup untuk menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama: &lt;/span&gt;Berusaha ikhlas dalam beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang benar-benar ikhlas menghadapkan diri pada Allah, maka Allah akan menolongnya dari penyakit rindu dengan cara yang tak pernah terbetik di hati sebelumnya. Cinta pada Allah dan nikmat dalam beribadah akan mengalahkan cinta-cinta lainnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang membahayakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Banyak memohon pada Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang berada dalam kesempitan dan dia bersungguh-sungguh dalam berdo’a, merasakan kebutuhannya pada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan do’anya. Termasuk di antaranya apabila seseorang memohon pada Allah agar dilepaskan dari penyakit rindu dan kasmaran yang terasa mengoyak-ngoyak hatinya. Penyakit yang menyebabkan dirinya gundah gulana, sedih dan sengsara. Ingatlah, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan Rabbmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu&lt;/span&gt;.” (QS. Al Mu’min: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ketiga:&lt;/span&gt; Rajin memenej pandangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang berulang-ulang adalah pemantik terbesar yang menyalakan api hingga terbakarlah api dengan kerinduan. Orang yang memandang dengan sepintas saja jarang yang mendapatkan rasa kasmaran. Namun pandangan yang berulang-ulanglah yang merupakan biang kehancuran. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan agar hati ini tetap terjaga. Lihatlah surat An Nur ayat 30 yang telah kami sebutkan sebelumnya. Mujahid mengatakan, “Menundukkan pandangan dari berbagai hal yang diharamkan oleh Allah akan menumbuhkan rasa cinta pada Allah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;: Lebih giat menyibukkan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi kosong kegiatan biasanya seseorang lebih mudah untuk berangan memikirkan orang yang ia cintai. Dalam keadaan sibuk luar biasa berbagai pikiran tersebut mudah untuk lenyap begitu saja. Ibnul Qayyim pernah menyebutkan nasehat seorang sufi yang ditujukan pada Imam Asy Syafi’i. Ia berkata, “Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kelima:&lt;/span&gt; Menjauhi musik dan film percintaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian dan film-film percintaan memiliki andil besar untuk mengobarkan kerinduan pada orang yang dicintai. Apalagi jika nyanyian tersebut dikemas dengan mengharu biru, mendayu-dayu tentu akan menggetarkan hati orang yang sedang ditimpa kerinduan. Akibatnya rasa rindu kepadanya semakin memuncak, berbagai angan-angan yang menyimpang pun terbetik dalam hati dan pikiran. Bila demikian, sudah layak jika nyanyian dan tontonan seperti ini dan secara umum ditinggalkan. Demi keselamatan dan kejernihan hati. Sehingga sempat diungkapkan oleh beberapa ulama nyanyian adalah mantera-mantera zina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Nyanyian dapat menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air dapat menumbuhkan sayuran.”&lt;/span&gt;  Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Nyanyian adalah mantera-mantera zina&lt;/span&gt;.” Adh Dhohak mengatakan,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kasih Sayang di Hari Valentine&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling memberi kado, saling memberi coklat dan hadiah, fenomena semacam inilah yang akan kita saksikan pada hari Valentine (14 Februari) dan hari ini pun disebut dengan hari kasih sayang. Jika ini didasari pada memadu kasih dengan pacaran, sudah kami jabarkan kekeliruannya di atas. Jika ini adalah kasih sayang secara umum, maka di antara kerusakan yang dilakukan adalah tasyabuh atau mengikuti budaya orang barat (orang kafir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebagian kaum muslimin tidak mengetahui bahwa sebenarnya perayaan ini berasal dari budaya barat untuk mengenang pendeta (santo) Valentinus. Paus Gelasius I menetapkan tanggal 14 Februari sebagai hari peringatan santo Valentinus. Kenapa tanggal 14 Februari bisa dihubungkan dengan santo Valentinus? Ada yang menceritakan bahwa sore hari sebelum santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati karena memperjuangkan cinta), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dari Valentinusmu".&lt;/span&gt; Pada kebanyakan versi menyatakan bahwa 14 Februari dihubungkan dengan kegugurannya sebagai martir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini menunjukkan bahwa perayaan Valentine bukan perayaan kaum muslimin, namun termasuk perayaan barat. Perayaan ini pun dimaksudkan untuk mengenang tokoh orang kafir yaitu santo Valentinus. Sehingga kerusakannya yang terlihat jelas adalah tasyabuh (meniru-niru) orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh). Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” &lt;/span&gt;Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal  perayaan, penampilan dan kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan ini adalah acara ritual agama lain. Hadiah yang diberikan sebagai ungkapan cinta, asalnya adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka. Sehingga dari sisi inilah pemberian hadiah valentine menjadi terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Peringatan dari Komisi Fatwa di Saudi Arabia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap Riset Ilmiyyah dan Fatwa, Saudi Arabia) telah menanggapi pertanyaan seputar ‘Idul Hubb (perayaan Hari Valentine). Para ulama yang duduk di sana menjawab, “Perayaan hari Valentine termasuk perayaan yang dikategorikan tasyabuh (meniru-niru) orang kafir dan termasuk salah satu hari besar dari kaum paganis Kristen. Karenanya, diharamkan bagi siapapun dari kaum muslimin, yang dia mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir, untuk mengambil bagian di dalamnya, termasuk memberi ucapan selamat (kepada seseorang pada saat itu). Sebaliknya, wajib baginya untuk menjauhi perayaan tersebut sebagai bentuk ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, dan menjaga jarak dirinya dari kemarahan Allah dan hukuman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula seorang muslim diharamkan untuk membantu dalam perayaan ini, atau perayaan lainya yang terlarang, baik membantu dengan makanan, minuman, jual, beli, produksi, ucapan terima kasih, surat-menyurat, pengumuman, dan lain lain. Semua ini termasuk bentuk tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran, serta termasuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah: 2). Demikian cuplikan dari fatwa Al Lajnah Ad Daimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, tidaklah pantas jika kaum muslimin ikut serta dalam perayaan ini baik dengan mengucapkan selamat Valentine lewat surat maupun lainnya, memberi hadiah dan coklat, serta mendukung dengan menjual berbagai hadiah untuk perayaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi taufik dan memperbaiki keadaan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan berkat nikmat Allah di Panggang-Gunung Kidul, 24 Shofar 1431 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-1049318864291309820?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/1049318864291309820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/02/memadu-kasih-di-hari-valentine.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/1049318864291309820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/1049318864291309820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/02/memadu-kasih-di-hari-valentine.html' title='Memadu Kasih Di hari Valentine'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-6590592884434414552</id><published>2012-01-28T05:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T14:53:23.920-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Firaq'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Thougst'/><title type='text'>Menagih Janji Kaum Syi'ah</title><content type='html'>Masih ingat artikel ust Adian Husaini di jurnal Islamia-Republika tanggal 19 januari lalu? esoknya tanggal 20 artikel tsb ditanggapi oleh Haidar Bagir direktur Mizan. Haidar setuju  dengan solusi damai yang ditawarkan ust Adian, hendaknya syi'ah menghentikan caci maki terhadap sahabat Nabi dan mengehentikan ambisi mensyiayahkan Indonesia. Haidar juga menegaskan, kecaman terhadap kau syi'ah terlalu dibesar-besarkan, pasalnya kalangan syi'ah sendiri telah merevisi pandangan2 lama mereka , termasuk persolan caci maki terhadap sahabat dan istri Nabi ? benarkah demikian? silahkan baca tanggapan balik dari Ust Adian yang kami copy-paste dari : http://insistnet.com&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, Jurnal Islamia-Republika, (hal. 23-26) – Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSISTS dan Harian Republika -- menurunkan kajian utama tentang Syiah di Indonesia. Artikel saya yang dimuat di Jurnal tersebut berjudul “Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, Jumat, 20 Januari 2012, Kajian Islamia-Republika itu mendapatkan tanggapan dari Haidar Bagir, Dirut Penerbit Mizan – yang dikenal sebagai salah satu penerbit buku Syiah di Indonesia. Artikel Haidar di Harian Republika itu diberi judul “Syiah dan Kerukunan Umat.” Dalam artikelnya, Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai yang saya tawarkan:  “Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini…. Itulah jalan damai untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Haidar Bagir, dia pernah bertemu secara pribadi dengan Syaikh Ali Taskhiri, seorang ulama terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali Faqih Ayatullah Ali Khamenei, serta wakil Dar al-Taqrib bayn al-Madzahib (Perkumpulan Pendekatan antar-Mazhab), yang dengan tegas menyatakan: “hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haidar Bagir juga menyampaikan imbauan di ujung artikelnya: “Khusus untuk orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal sikap terhadap para sahabat Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) -- yang menjadi langganan caci-maki kaum Syiah, Hadiar Bagir juga menulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sementara itu, banyak ulama Syiah Imamiyah atau Itsna ’Asyariyah yang telah merevisi pandangannya tentang ini. Hasil konferensi Majma’ Ahl al-Bayt di London pada 1995, mi sal nya, dengan tegas menyatakan menerima keabsahan kekhalifah an tiga khalifah terdahulu sebelum Khalifah Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, terkait dengan skandal pengutukan sahabat besar dan sebagian istri Nabi yang dilakukan oleh oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama Yasir al-Habib, Ayatullah Sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa yang dengan tegas melarang penghinaan terhadap orang-orang yang dihormati oleh para pemeluk Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber). Di antara isinya adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diharamkan menghina figur-figur/tokoh-tokoh (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, Ahlus-Sunnah, termasuk tuduhan terhadap istri Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)dengan hal-hal yang mencederai kehormatan mereka ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Benarkah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sesuai artikel Haidar Bagir di Republika tersebut,  ada dua hal pokok yang harus dilakukan oleh kaum Syiah untuk solusi damai bagi Ahlu Sunnah dan Syiah di Indonesia, yaitu (1) menghentikan caci maki terhadap sahabat-sahabat dan istri-istri  Nabi saw dan (2) menghentikan ambisi untuk meng-Syiahkan Indonesia, seperti ditegaskan oleh seorang ulama Syiah yang dijumpai Haidar Bagir: “hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah janji yang disampaikan Haidar Bagir tersebut bisa dipenuhi kaum Syiah? Tampaknya, itu tidaklah mudah. Seperti disebutkan dalam CAP-323 lalu, sejumlah fakta di lapangan menunjukkan banyaknya penerbitan Syiah di Indonesia yang masih mengumbar caci-maki dan fitnah terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad saw. Bahkan, salah satu buku terkenal yang mencaci-maki dan menfitnah sahabat dan istri Nabi Muhammad saw adalah buku terbitan Mizan, pimpinan Haidar Bagir sendiri, yang berjudul  “Dialog Sunnah – Syiah”  karya  Syarafuddin al Musawi, (Bandung: Mizan (cetakan pertama, 1983).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diklaim penulisnya sebagai kumpulan surat menyurat antara penulis dengan Syaikh Salim al-Bisyri al-Maliki, yang saat itu menjabat Rektor al Azhar, Mesir. Di dalamnya banyak berisi dialog yang menjelaskan antara lain: Kewajiban berpegang pada madzhab Ahlul Bait, adanya wasiat Nabi saw untuk Ali bin Abi Thalib r.a. sebagai penggantinya, para sahabat tidak ma’shum (infallible) dari dosa dan kesalahan yang berimplikasi ketidakpercayaan periwayatan dari mereka, dan bahasan lain yang mendukung pemahaman Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini, juga ditulis berbagai tuduhan bahwa Aisyah r.a. telah berbohong karena menceritakan Nabi Muhammad saw meninggal di pangkuannya, sehingga didoakan oleh penulisnya,  mudah-mudahan Allah memberikan ampunan untuk Aisyah r.a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Oh…., semoga Allah mengaruniakan ampunan-Nya bagi Ummul Mu’minin! Mengapa ia, ketika menggeser keutamaan ini dari Ali, tidak mengalihkannya kepada pribadi ayahnya saja! Bukankah yang demikian itu lebih utama dan lebih layak bagi kedudukan Nabi saw daripada apa yang didakwahkannya? Namun sayang ….., ayahnya – waktu itu – bertugas sebagai anggota pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, yang persiapannya telah diatur dan ditetapkan sendiri oleh Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) ; dan pada saat itu sedang berhenti dan berkumpul di sebuah desa bernama Juruf!”&lt;/span&gt; (hal. 353).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini juga dimuat cerita tentang provokasi Aisyah terhadap khalayak dengan  memerintahkan mereka agar membunuh Utsman bin Affan: “Bunuhlah Na’tsal, karena ia sudah menjadi kafir!” (Catatan: Na’tsal adalah orang tua yang pandir dan bodoh). (hal. 357). Di halaman yang sama, dimuat satu syair yang mengecam Aisyah r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Engkau yang memulai, engkau yang merusak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Angin dan hujan (kekacauan)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Semuanya berasal darimu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    Engkau yang memerintahkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    Pembunuhan atas diri sang Imam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    Engkau yang mengatakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    Kini dia sudah kafir.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(NB. Berbagai cercaan terhadap Aisyah radhiyallaahu 'anha  tersebut saya kutip dari buku  Dialog Sunnah-Syiah, edisi Oktober 2008. Jadi, sejak 1983 buku ini terus dicetak oleh Penerbit Mizan – yang Dirutnya adalah Haidar Bagir – sampai tahun 2008. Saya tidak tahu, apakah masih ada edisi buku tersebut setelah 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian isi buku “Dialog Sunnah-Syiah” terbitan Mizan. Pokok-pokok bahasan di dalam buku “Dialog Sunnah-Syiah”  tersebut telah dijelaskan kekeliruannya oleh Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus dalam karyanya Ensiklopedi Sunnah Syiah, Studi Perbandingan Aqidah dan Tafsir, yang diterbitkan Pustaka Al Kautsar (Jakarta, 1997). Buku ini diberi kata pengantar oleh Dr. Hidayat Nurwahid, yang juga dikenal sebagai pakar tentang Syiah lulusan  Universitas Islam Madinah. Dalam pengantarnya, Hidayat Nurwahid memuji keseriusan Prof. as-Salus yang berhasil menunjukkan, bahwa buku karya al-Musawi, yang aslinya berjudul al-Muraja’at,  hanyalah karangan al-Musawi belaka. Alias, dialognya adalah fiktif belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Prof. as-Salus menulis: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tetapi al-Musawi, seorang Syiah Rafidhah yang terkutuk ini, tanpa rasa sungkan dan malu ingin menjadikan seorang Syaikh al-Azhar yang kapabel dan kredibel sebagai murid kecil dan bodoh yang menerima ilmu pertama kali dari dia.”&lt;/span&gt; (hal. 249).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslim yang mencintai Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم), para sahabat beliau yang mulia, dan juga istri-istri beliau yang herhormat, pasti tidak ridho jika orang-orang yang mulia tersebut dihina, difitnah dan dilecehkan. Kita pun tidak rela jika orang yang kita hormati dan sayangi diperhinakan. Bagaimana jika yang dihina dan difitnah adalah para sahabat dan istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)? Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda: “Tidak beriman salah seorang  diantara kalian, hingga diriku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita bahwa Aisyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anha&lt;/span&gt; memerintahkan pembunuhan terhadap Utsman bin Affan adalah tuduhan keji dan dusta. Aisyah sendiri pernah dikonfirmasi tentang adanya surat atas nama Aisyah di Medir yang memerintahkan pembunuhan terhadap Utsman bin Affan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anhu&lt;/span&gt;.  Beliau bersumpah, bahwa beliau tidak pernah menulis surat seperti itu. Banyak riwayat dari Aisyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anha&lt;/span&gt; yang sudah mengklarifikasi masalah ini. Anehnya, orang-orang Syiah tidak mau tahu, dan selalu mengutip cerita-cerita bohong tersebut. (Lihat, Tarikh Khalifah bin Khayyath, hal. 176 &amp;amp; Tarikh al-Madinah, Ibn Syabbah 4:1224. Semuanya ada dalam Tahqiq Mawaqif al-Shahabah fil-Fitnah, karya Dr. Mahmud Umahzun, Dar Thayba, Riyadh, cet. I,  1994, vol.2/29-30. Data: Buku Fitnah Maqtal Utsman, karya Dr. Mhmmad al-Ghabban, Maktabah Obeikan, Riyadh, cet. I, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Aisyah dinistakan dan difitnah, kaum Muslim tentu sangat tidak ridha. Ummul mukminin, Aisyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anha&lt;/span&gt; sangat dicintai kaum Muslimin. Beliau adalah istri Nabi yang mulia. Nabi Muhammad saw wafat di pangkuan Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah pula. Aisyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anha&lt;/span&gt; adalah ulama wanita yang meriwayatkan 2210 hadits. Dari jumlah itu, 286 hadits tercantum dalam shahih Bukhari dan Muslim. Ada sekitar 150 ulama Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah. (Lihat, K.H. Ubaidillah Saiful Akhyar Lc, Aisyah, The Inspiring Woman, (Yogyakarta: Madania, 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus buku Dialog Sunnah-Syiah terbitan Mizan ini menjadi bukti nyata, bahwa ajakan Haidar Bagir untuk kerukunan Sunnah-Syiah masih perlu dipertanyakan. Bukankah buku yang mencaci maki sahabat-sahabat dan istri Nabi tersebut sudah diterbitkan oleh Penerbit Mizan selama hampir 30 tahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jalan Damai: Mungkinkah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak berbagai penerbitan kaum Syiah – termasuk terbitan Mizan – patut dipertanyakan, mungkinkah jalan damai Sunnah-Syiah itu bisa diwujudkan? Mungkinkah kaum Syiah memenuhi imbauan dari sebagian tokoh mereka: agar tidak berambisi men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci maki terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang itu tidak mudah. Sebab, tampak dalam berbagai penerbitan mereka, kebencian terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman, radhiyallaaahu ‘anhum, sudah begitu mendarah daging.  Sikap Syiah terhadap para sahabat Nabi itu sangat berbeda dengan sikap kaum Sunni yang menghormati semua sahabat, apalagi KhulafaaurRasyidin, termasuk Sayyidina Ali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anhu&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendapat satu brosur doa berjudul &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Ziarah Asyura”&lt;/span&gt;, terdiri atas enam halaman. Disamping berisi doa-doa untuk para Nabi Muhammad saw dan keluarganya,  doa ini diwarnai dengan kutukan dan laknat terhadap berbagai orang. Misalnya, di halaman 5, ditulis doa laknat: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Allahummal-‘an awwala dhaalimin dhalama haqqa Muhammadin wa-Aali Muhammadin…”. (Ya Allah, laknatlah orang-orang zalim yang awal-awal, yang menzalimi hak Nabi Muhammad dan keluarganya…”).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa ini diakhiri dengan kutipan perkataan Imam Muhammad Al-Baqir as., yang berkata kepada Alqamah: “Jika engkau mampu berziarah kepada beliau (Imam Husein as.) setiap hari dengan membaca doa ziarah ini (ziarah Asyura) di rumahmu, maka lakukanlah itu dan engkau akan mendapatkan semua pahala (berziarah).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah petikan doa &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Ziarah Asyuro”&lt;/span&gt; yang diedarkan di Indonesia. Siapakah yang dimaksud dengan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“orang-orang zalim”&lt;/span&gt;  yang disebutkan telah menzalimi hak Nabi dan keluarga Nabi?  Apakah mereka Abu Bakar, Umar bi Khathab, Utsman bin Affan, Aisyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anha&lt;/span&gt;, dan sebagainya?  Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus, dalam buku yang disebutkan terdahulu, telah mengklarifikasi masalah ini, dengan menunjukkan adanya riwayat dari Imam Zaid bin Hasan bin Ali bin Husain Radhiyallaahu ‘anhum, bahwa dia membenarkan apa yang dilakukan Abu Bakar r.a. terhadap Fathimah dalam soal waris keluarga Nabi.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jika saya pada posisinya (Abu Bakar) niscaya saya akan menetapkan hukum seperti yang ditetapkannya,”  kata Imam Zaid. Diriwayatkan juga dari saudara Imam Zaid, yaitu al-Baqir, bahwa dia pernah ditanya, “Apakah Abu Bakar dan Umar menzalimi sesuatu dari hak kalian?” Ia menjawab, “Tidak, demi Dzat yang menurunkan al-Quran kepada hamba-Nya agar menjadi peringatan bagi alam semesta, sungguh kami tidak dizalimi dari hak kami meskipun seberat biji sawi.”&lt;/span&gt; (as-Salus, hal. 297).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, polemik Ahlu Sunnah dan Syiah itu sudah berlangsung lebih dari 1.000 tahun. Apakah hal seperti ini yang diinginkan oleh kaum Syiah di Indonesia, dengan terus-menerus menebarkan kebencian kepada Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Aisyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anhum &lt;/span&gt;? Sampai kapan caci-maki semacam ini akan diakhiri? Karena itu, saya ingin mengakhiri CAP ini dengan ungkapan sama seperti dalam artikel di Jurnal Islamia-Republika (19/1/2012): &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Masih banyak lahan dakwah di muka bumi ini – jika hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah. Kecuali, jika kaum Syiah melihat Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tunggu realisasi janji kaum Syiah untuk tidak men-Syiahkan Indonesia dan menghentikan caci-maki kepada para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم)! (Walahu a’lam bil-shawab).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-6590592884434414552?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/6590592884434414552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/menagih-jajnji-kaum-syiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/6590592884434414552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/6590592884434414552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/menagih-jajnji-kaum-syiah.html' title='Menagih Janji Kaum Syi&apos;ah'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5752957732571454710</id><published>2012-01-24T18:16:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T18:21:52.332-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Thougst'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Word view'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teladan'/><title type='text'>Ibnu Taimiyah, Gagah Melawan Kemunkaran dengan Pena</title><content type='html'>Ibnu Taimiyah sebuah contoh, bahwa kebenaran harus terus ditegakkan apapun resikonya. Ketika masyarakat di sekitarnya tenggelam dalam berbagai bid’ah dan khurafat, Ibnu Taimiyah meluruskannya sekalipun berhadapan dengan kekuasaan yang lalu (sering) memenjarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sepenuh Perjuangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah lahir di Harran pada 22/1/1263 dan berasal dari keluarga ‘santri’. Syihabuddin Abdul Halim –ayah dia- adalah seorang hakim dan khatib. Sementara, kakeknya -Majibuddin Abdus-Salam- adalah ulama yang hafidz dan menguasai beragam ilmu serta memiliki sejumlah karya besar di bidang fiqh dan tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Ibnu Taimiyah dibesarkan di tengah-tengah para ulama. Dia punya kesempatan membaca kitab-kitab yang bermanfaat. Seluruh waktunya dipakai belajar. Dia belajar banyak cabang ilmu kepada para ulama, hafidz dan ahli hadits. Dia belajar –antara lain- hadits, ushul fiqih, nahwu, khat (ilmu tulis-menulis Arab), dan matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tanda-tanda bahwa dia cerdas tampak sejak kecil. Dia dikenal sebagai orang yang mudah hafal dan sukar lupa. Ada kesaksian, bahwa tak sehurufpun dari Al-Qur’an maupun ilmu lain yang dia hafal lalu lupa. Maka, tak heran, bahwa dalam usia sangat muda, dia telah hafal Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika umurnya sekitar sepuluh tahun, dia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan mendalami bidang-bidang tafsir, hadits, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Musnad Imam Ahmad&lt;/span&gt; sampai beberapa kali, kemudian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kutubu Sittah&lt;/span&gt; dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun –ketika itu- berusia sangat muda, Ibnu Taimiyah rajin menghadiri berbagai pertemuan ilmiah. Di sana dia tak canggung duduk bersama hadirin lainnya yang rata-rata telah dewasa. Di forum-forum seperti itu dia aktif berdiskusi, bahkan dengan para ulama. Tak pernah dia kalah saat berdiskusi. Jika menjawab pertanyaan, dia selalu menjawab lebih dari yang dibutuhkan si penanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memelajari hadits sangat berguna baginya. Ia memahami semua hadits yang termuat dalam Kutubus Sittah dan Al-Musnad. Tentu saja, karena dia intens belajar hadits –dan apalagi hafal Al-Qur’an-, maka pada saat menjelaskan aneka masalah agama dia tampak luar biasa dalam berhujjah atau berdalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usianya belum dua puluh tahun dia telah mulai memberi fatwa. Ibnu Taimiyah lalu menjadi pusat tempat bertanya tentang banyak masalah, terutama tentang hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghadapi berbagai penyimpangan ajaran Islam, dia tegas. Ahli bid’ah dan khurafat adalah musuhnya. Dia berani membersihkan Islam dari ajaran sesat. Itu dilakukannya konsisten di manapun dia berada. Di Mesir, misalnya, dia memerangi bid’ah, khurafat, serta berbagai penyelewengan penafsiran Al-Qur’an dan Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah saat, para pengikut Ibnu Taimiyah ‘bergerak’ melawan pemerintah yang mereka nilai tak kuasa membendung ajaran sesat di wilayahnya. Akibatnya, Ibnu Taimiyah dipenjarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, serangan-serangannya kepada ahli bid’ah dan khurafat menumbuhkan dendam sebagian orang. Berkali-kali dia difitnah karena keberaniannya berpendapat yang bertentangan dengan banyak orang. Berulang-kali pula dia ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam penjara dia merasa mendapat banyak kesempatan untuk membaca dan menulis. Misal, pada tahun 728, setelah setahun dipenjara, dia telah menyelesaikan tulisan berupa bantahan kepada pihak yang dinilainya menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah tipe pejuang dakwah yang lengkap. Saat melihat kemunkaran, dia tampil meluruskannya dengan berbagai media. Jika dipandang perlu, dia berangus langsung seperti yang dia tunjukkan saat melihat sejumlah orang berkumpul berjudi dan berpesta minuman keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mengusir penjajah Tartar, dia lakukan dengan lisan dan senjata. Dengan lisan dia memompa semangat jihad kaum muslimin termasuk untuk berinfaq sebagai dana perang. Pada saat yang sama, dia pun mengharamkan mereka yang lari dari gelanggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jejak Itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali secara fisik -dan termasuk dengan lisan- Ibnu Taimiyah juga memerangi mereka yang menyimpang dengan diplomasi dan pena. Bahkan, dia yakin bahwa pena lebih mempan untuk melawan bid’ah dan khurafat ketimbang dengan senjata. Dia menulis banyak buku, termasuk ketika dia ada di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat menulis, Ibnu Taimiyah pandai menyusun kerangka tulisan dan indah memilih kata-kata. Tiap hari Ibnu Taimiyah rajin menulis. Aneka tema yang ditulisnya, seperti tafsir, fiqh, atau ilmu ushul. Sekitar empat buah buku kecil yang memuat berbagai pendapatnya di bidang keislaman bisa dibuatnya dalam sehari. Maka, ketika wafat di dalam penjara pada 1328, secara keseluruhan dia mewariskan sekitar lima ratus judul buku karangannya. Majmu' Fatawa yang berisi fatwa-fatwa dalam agama adalah salah satu di antara yang paling masyhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat-saat akhir kehidupannya, ruang gerak dia dipersempit. Di dalam penjara, dirampas semua buku, kertas, tinta dan pena miliknya. Situasi itu telah membuatnya terkekang, karena dia tak bisa lagi membaca dan menulis. Berbeda dengan ketika dia masih diperbolehkan membawa ‘benda-benda’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, terutama di saat-saat penjara masih memberinya kelonggaran membaca dan menulis, Ibnu Taimiyah tak pernah bersedih. Baginya, ini ketentuan Allah yang tak boleh disesali. Dia merasa, cukup banyak kebaikan yang didapat di dalamnya, misalnya, ada waktu sangat luang untuk belajar dan beribadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perjuangan Ibnu Taimiyah dalam menegakkan kebenaran yang dilakukannya secara tegas dan tanpa kompromi, memang banyak yang memusuhinya. Namun, tak sedikit pula yang mendukung dan menyayanginya, dan itu dari beragam kalangan, seperti orang shalih, tentara, pedagang, rakyat awam dan lain-lain. Lihatlah saat Ibnu Taimiyah wafat, dunia Islam berduka. Banyak rakyat di Damaskus, Mesir, serta di lain-lain tempat menangis. Lalu, mereka yang mampu, berduyun-duyun menyalati jenazah Ibnu Taimiyah. Saat iring-iringan jenazah diantar ke pemakaman, panjangnya bisa menandingi seperti saat Imam Ahmad bin Hanbal –guru Ibnu Taimiyah- dikebumikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai Ibnu Taimiyah, semoga kami bisa menjejaki langkah-langkahmu![ Dicopy Paste dari M.Anwar Djaelani di http://www.inpasonline.com]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5752957732571454710?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5752957732571454710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/ibnu-taimiyah-gagah-melawan-kemunkaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5752957732571454710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5752957732571454710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/ibnu-taimiyah-gagah-melawan-kemunkaran.html' title='Ibnu Taimiyah, Gagah Melawan Kemunkaran dengan Pena'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5396110174102239293</id><published>2012-01-21T20:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T20:19:45.060-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taushiyah'/><title type='text'>Nikmat (Pujilah Allah)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah bersama kami:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang laki-laki ingin menjual rumahnya untuk pindah ke sebuah rumah yang lebih baik. Maka dia pergi menuju salah seorang temannya yang profesional dalam bidang pemasaran. Diapun meminta darinya untuk membantunya dalam menulis iklan untuk menjual rumah. Ahli tersebut telah mengenal rumahnya dengan baik, maka diapun menulis ciri-ciri rumah tersebut dengan rinci; dia cantumkan di dalam iklan tersebut bahwa rumah itu berada ditempat yang indah, sangat luas, dengan arsitektur yang indah, kemudian dia berbicara tentang kebun, kolam renang dan seterusnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia selesai mengerjakannya, dia membaca kata-kata iklan tersebut kepada pemilik rumah yang mendengarkannya dengan penuh perhatian. Setelah dia selesai membaca iklan tersebut, pemilik rumah meminta kepadanya untuk mengulangi pembacaannya untuk kedua kalinya. Saat pembuat iklan tersebut selesai membaca pemilik rumah menyeru: “Sungguh indah rumah itu, sungguh tidak henti-hentinya sepanjang umurku mengangan-angankan untuk menikmati rumah seperti itu, dan selama ini aku tidak tahu kalau aku telah tinggal didalamnya hingga aku mendengarmu memberikan ciri-ciri dari rumahku.” Kemudian dia tersenyum dan meminta kepada temannya tersebut untuk tidak menyebarkan iklan tersebut, dan memberitahunya bahwa rumah tersebut tidak lagi dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, hitunglah nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada anda, kemudian tulislah satu persatu, maka anda akan mendapati diri anda lebih banyak berbahagia daripada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kita lupa bersyukur kepada Allah, dikarenakan kita tidak memperhatikan nikmat-nikmat tersebut, dan kita tidak menghitung apa yang kita miliki. Dan karena kita melihat berbagai kesusahan-kesusahan kemudian kita marah, dan tidak melihat kepada kebaikan-kebaikan yang sekarang kita berada didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan bahwa sesungguhnya kita mengeluh karena Allah menjadikan duri-duri dibawah bunga mawar, padahal yang lebih pantas kita lakukan adalah kita bersyukur kepada Allah, karena Dia telah menjadikan bunga mawar diatas duri-duri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan pula, Aku sangat merasa susah saat aku mendapati diriku telanjang kaki, akan tetapi aku banyak bersyukur kepada Allah, saat aku mendapati orang lain tidak memiliki dua kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi-Mulah segala puji, wahati Tuhanku, hingga Engkau ridha, dan bagi-Mu segala puji saat Engkau ridha, bagi-Mu segala puji setelah keridhaan-Mu. Ridha-Mu kuharap terlimpah atasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah kepada kelembutan Allah terhadapmu disaat tidurmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikirlah tentang dirimu sekali saja, apa yang akan terjadi seandainya satu pantat tidak berfungsi bekerja saat engkau tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat engkau tidur Allah Subhanahu wa Ta’ala menjagamu dan menyelamatkanmu dari bahaya, oleh karena itulah memujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah membolak-balikkanmu sekali dalam 7 menit untuk merubah tempatmu saat tidurmu hingga kulitmu yang lembut tidak terkena iritasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah Allah karena nikmat lidah yang membuka celah bagi air liur kental yang terkumpul di mulutmu saat engkau tidur tidak sadar hingga engkau tidak tercekik dan tersedak air liur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah Allah yang Maha Lembut Lagi Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya atas nikmatnya mimpi indah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai pembersih ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, dan permasalahan-permasalahan yang memenuhi pikiranmu. Itu semua untuk menjaga kelayakan akalmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah Allah atas nikmat tidak terkenanya dirimu radang otak yang disertai demam tinggi saat bersamaan dengan tidur panjang yang setelahnya engkau tidak merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;احمد الله سبحانه على نعمة انك لاتعاني من نوبات الهلع الليلي والهلوسة الشديدة والهذيان المتلاحق بسبب ماتراه من احلام وتصورات اثناء نومك&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah Allah atas nikmat tidak terkenanya kamu penyakit tidur tiba-tiba yang akan menjadikanmu tidur di tempat mana saja, dan dalam keadaan apa saja, apakah saat kamu dalam keadaan tidur, atau menyetir mobil atau juga menaiki tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;احمد الله سبحانه ايضا على نعمة عدم اصابتك بمتلازمة الرجلين التوهمي والذي يجعل رجلاك تنتفخان اثناء نومك&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah alah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat tidak mengompol yang kadang menimpa manusia sekalipun dia sudah dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah Allah atas nikmat tidak terkenanya kamu kelumpuhan sementara (tindien) saat tidur yang menimpa persendian tubuh secara tiba-tiba untuk masa yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala atas teraturnya dengkurmu, dan tidak terkenanya kamu keterputusan nafas saat tidur yang menjadikan suara dengkurmu mengagetkan sampai pada tingkat kekuatan dengkurnya mampu membangunkan orang yang tidur di kamar lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segenap nikmat-Nya yang tidak akan habis, dan atas karunia-Nya yang tidak terhitung, yang senantiasa menjagamu saat engkau tidur, menjagamu saat engkau duduk, menjagamu saat bangun dan menjagamu dalam setiap keadaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan YA, atau TIDAK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Apakah engkau memiliki rumah yang melindungimu, tempat tinggal yang engkau bisa tidur di dalmnya dan makanan yang engkau makan?&lt;br /&gt;  2. Apakah engkau punya uang disakumu yang darinya engkau akan memenuhi kebutuhanmu?&lt;br /&gt;  3. Apakah hari ini merasa sehat walafiat?&lt;br /&gt;  4. Apakah engkau pernah merasakan kehidupan perang, atau merasakan pahitnya penjara atau merasakan pedihnya penyiksaan?&lt;br /&gt;  5. Apakah engkau bisa shalat tanpa takut penangkapan, atau penyiksaan atau penahanan?&lt;br /&gt;  6. Apakah kedua orang tuamu masih hidup dan keduanya hidup bersama tanpa perceraian?&lt;br /&gt;7. Apakah sekarang kamu bisa tersenyum dan mengucapkan alhamdulillah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau menjawab YA atas pertanyaan pertama, maka engkau adalah orang yang terkaya dari 75% penduduk dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau menjawab YA atas pertanyaan kedua, maka engkau termasuk salah seorang dari 8% orang-orang kaya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIka engkau menjawab YA atas pertanyaan ketiga, maka engkau lebih utama dari sejuta manusia yang tidak akan hidup lebih panjang dari seminggu karena penyakit mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau menjawab TIDAK atas pertanyaan keempat, maka engkau lebih utama dari 500 juta orang yang berada di permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau menjawab TIDAK atas pertanyaa kelima, maka engkau berada dalam sebuah nikmat yang tidak dikenal oleh 3 milyar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau menjawab YA atas pertanyaan keenam, maka engkau jarang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau menjawab YA atas pertanyaan ketujuh, maka engkau berada didalam sebuah nikmat yang mampu dilakukan oleh banyak orang namun mereka tidak melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau membaca pertanyaan-pertanyaan ini, maka engkau adalah orang lebih baik dari dua milyar manusia yang tidak mampu membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah (bersyukurlah) kepada Rabb mu, dikarenakan Dialah yang telah menciptakan kamu dengan sebaik-sebaik penciptaan, dan menistimewakanmu dengan akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah (bersyukurlah) rabbmu, dikarenakan Dialah yang menjadikanmu seorang HAMBA, pujilah rabbmu, dikarenakan Dialah yang menjadikanmu umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Dialah yang telah memberimu rizqi Islam tanpa engkau pernah meminta kepada-Nya dan sebelum engkau berbuat dzalim terhadap dirimu sendiri dalam agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau senang hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabbmu saat engkau hendak pergi tidur dalam keadaan nyaman dan tenang, dan ingatlah bahwa ada orang yang tidak bisa nyaman tidur, adakalanya karena penyakit dan rasa sakitnya, atau juga karena peperangan dan kefaqiran yang menyebabkan mereka berlarian, tidak nyaman dengan kehidupan yang tenang dan damai, hingga tidurpun mereka diharamkan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau senang hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabbmu saat engkau terbangun dari tidur, dikarenakan Allah lah yang telah mengembalikan rohmu setelah Dia menggenggamnya. Mudah-mudahan engkau melakukan kebaikan yang bisa menambah kebaikan-kebaikanmu. Maka seandainya Allah menggenggam rohmu, yakni mematikanmu, maka engkau tidak pernah tahu kemana tempat kembalimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan (menidurkan) kami dan kepada-Nyalah tempat kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ رَدَّ عَلَيَّ رَوْحِيْ وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan rohku atasku dan mengizinkan aku mengingat-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِيْ نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسَتْرٍ فَأَتْمِمْ  نِعْمَتَكَ عَلَيَّ وَعَافِيَتَكَ وَسَتْرَكَ فيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sesungguhnya karena-Mu di pagi hari ini aku berada dalam nikmat, sehat dan tertutupi (dari aib). Maka sempurnakanlah nikmat, keselamatan, dan penutupan-Mu (dari aib) atasku di dunia dan akhirat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabb-mu saat engkau mendapatkan apa yang engkau makan, maka selainmu tidak mendapatkan sesuatu yang bisa menutup nafas kehidupannya, dia tidak mendapatkan apa yang bisa dia makan dan menguatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabbmu saat engkau berdiri untuk shalat, shalat adalah sebuah nikmat dari sisi Allah yang telah memberimu rizqi untuk bisa menunaikan kewajiban tersebut. Maka hendaknya kamu benar-benar bersyukur dan berdo’a kepada-Nya. Nikmat manakah yang lebih utama dari nikmat ini? shalat adalah tiang agama, kunci sorga, dan shalat adalah pertemuan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang disela-selanya jiwa menjadi tenang dari kesusahan dan kesempitan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, pujilah rabbmu saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengilhamkan kepadamu do’a, do’a adalah nikmat yang teramat agung. Maka mintalalah karunia Allah, dikarenakan Allah senang mendengar suara hamba-Nya, dan Dia cinta dengan seorang hamba yang mendesak dalam berdo’a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللّٰهُمَّ أَعِنِّيْ عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa bisa mengingatmu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagusi ibadahku kepada-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah Allah jika engkau sakit, karena dengannya Allah ingin membersihkan dirimu dari dosa-dosa, dan mengampunimu, serta menjadikan buku catatanmu putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah Allah saat engkau tertimpa musibah, dikarenakan saat itu Allah menjadi dekat dari-Mu, Dia ingin meringankan dosa-dosamu maka setelah adanya kesulitan, ada kemudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Seandainya bukan karena musibah-musibah di dunia, maka kita akan datang pada hari kiamat dalam keadaan bangkrut.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah Allah dikarenakan engkau hidup diantara keluargamu, maka selainmu diharamkan dari yang demikian. Kadang mereka dalam keadaan yatim, atau terpenjara, atau dalam pelarian, atau tertawan dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah Allah saat engkau mendengar kebaikan yang menggembirakanmu, dan sujud syukurlah, dikarenakan selainmu dalam keadaan cemas dan gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau ingin hidup dalam kehidupan yang baik, maka pujilah rabbmu, dikarenakan Dia akan menghisabmu pada hari kiamat, dan tidak ada seorangpun selain-Nya. Dikarenakan Dialah Dzat Yang Maha Adil, Maha Bijaksana, Dia adalah sebaik-baik Hakim dan sebaik-baik Dzat Yang Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللّٰهُمَّ حَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيْرًا يَا اللهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikarenakan seandainya yang menghisabmu adalah selain-Nya, maka bisa jadi dia akan mendzalimimu, tidak akan merahmatimu, tidak akan berbuat adil kepadamu, dan tidak akan memberikan hakmu. Dan ingatlah bahwa rahmat Allah itu luas, yang lebih luas dari segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa memuji rabbmu, dikarenakan engkau termasuk orang risalahku ini telah sampai kepadamu. Pujilah rabbmu dikarenakan engkau tengah membaca risalah ini, akan tetapi sesungguhnya engkau Insya Allah, akan berkata alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, bagimu segala puji sebagaimana yang layak bagi keagunan wajah-Mu dan kerajaan-Mu. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu didalam shalat dan do’aku keberkahan yang dengannya Engkau sucikan hatiku, Engkau singkap kesusahanku, Engkau ampuni dosaku, Engkau perbaiki urusan-urusanku, Engkau cukupkan aku dari kefaqiranku, Engkau hilangkan kesusahanku, engkau singkap kegundahan dan kegelisahanku, Engkau sembuhkan sakitku, Engkau bayarkan hutangku, Engkau hibur kesedihanku, Engkau kumpulkan hajat-hajatku, dan Engkau putihkan wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, lindungilah aku dari fitnah dunia, dan tunjukilah aku kepada apa-apa yang engkau cintai dan ridhai. Teguhkanlah aku dengan ucapan yang teguh di dunia dan di akhirat. Jadilah Engkau sebagai pelindung, penjaga dan penolongku. Amin ya rabbal ‘Alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disalin dari tulisan  Ummu Mariah Iman Zuhair pada Majalah Qiblati Edisi 7 Tahun I)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5396110174102239293?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5396110174102239293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/nikmat-pujilah-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5396110174102239293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5396110174102239293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/nikmat-pujilah-allah.html' title='Nikmat (Pujilah Allah)'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5007393445641514575</id><published>2012-01-18T19:06:00.000-08:00</published><updated>2012-01-18T19:15:34.097-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Firaq'/><title type='text'>Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah</title><content type='html'>Pada 29 Desember 2011, terjadi peristiwa menggemparkan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.  Sebuah mushala dan beberapa rumah warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang,  diserbu dan dibakar massa. Rumah dan mushalla itu adalah milik kelompok Syiah yang dipimpin oleh Tajul Muluk Ma’mun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Sampang Madura itu  mulai membuka mata banyak orang, bahwa ada masalah serius dalam soal hubungan antara orang-orang Muslim Sunni dan kelompok Syiah  di Indonesia. Sebelumnya, berbagai kasus serupa – dalam skala kecil – sudah terjadi di berbagai tempat.  Benih-benih konflik itu seperti sudah menyebar. Kasus Syiah Sampang itu, tentu saja, patut disesalkan, sebab konflik semacam ini harusnya bisa diredam jauh-jauh sebelumnya. Banyak pihak yang kemudian menuding bahwa kasus itu adalah cerminan buruknya iklim kebebasan beragama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, analisis semacam itu terlalu parsial dan liberal. Semua masalah hubungan antar atau internal agama hanya dilihat dari satu aspek saja, yaitu aspek HAM dan “kebebasan beragama”. Padahal, yang kadangkala diabaikan dalam analisis soal keagamaan adalah soal “sensitivitas” yang sudah menyentuh aspek keyakinan. Seperti dalam kasus hubungan Muslim Sunni dan kelompok Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Syiah Sampang, Madura, misalnya, sudah berlarut-larut selama bertahun-tahun.  Pada 20 Februari 2006, lebih dari 50 orang ulama Madura mengeluarkan pernyataan, bahwa aliran Syiah yang disebarkan oleh Tajul Muluk Ma’mun di Madura tergolong Syi’ah Ghulah (Rofidloh). Salah satu ajaran yang membuat hati kaum Muslim Sunni di Madura tersakiti adalah ajaran yang melecehkan para sahabat Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar masalah&lt;br /&gt;Pernyataan para ulama Madura itu membuktikan bahwa kasus Syiah di Sampang, adalah laksana bara dalam sekam. Kasus ini tidak segera diselesaikan, sehingga “bara” itu akhirnya meledak, dan mengagetkan banyak orang. Muncullah opini seolah-olah kelompok Syiah di Indonesia tidak mendapatkan hak kebebasan beragama dari kaum Muslim Indonesia; bahwa  mereka terzalimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Sampang ini tentu memerlukan kajian dan penelitian yang serius. Yang jelas di Indonesia, kelompok Syiah terbukti sangat agresif dalam menyerang ajaran-ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas Muslim di Indonesia. Ini sulit dipisahkan dari sejarah kelahiran kelompok Syiah itu sendiri, yang menganggap hak kekhalifahan Ali radhiyallaahu 'anha dirampas oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhum. Tidak heran, jika ketiga sahabat utama Rasulullah saw itu sering menjadi bulan-bulanan caci maki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ummul mukminin, Aisyah radhiyallaahu 'anha yang sangat dicintai kaum Muslimin tak lepas dari berbagai fitnah dan cemoohan kaum Syiah. Padahal, Aisyah adalah istri Nabi yang mulia. Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam wafat di pangkuan Aisyah dan dikuburkan di rumah Aisyah pula. Aisyah r.a. adalah ulama wanita yang meriwayatkan 2210 hadits. Dari jumlah itu, 286 hadits tercantum dalam shahih Bukhari dan Muslim. Ada sekitar 150 ulama Tabi’in yang menimba ilmu dari Aisyah. (Lihat, K.H. Ubaidillah Saiful Akhyar Lc, Aisyah, The Inspiring Woman, (Yogyakarta: Madania, 2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, keutamaan Aisyah radhiyallaahu 'anhu sudah begitu masyhur dan disampaikan sendiri oleh Nabi Muhammad saw. Sangat wajar, jika kaum Muslim akan terluka hatinya jika wanita yang sangat mulia dan agung ini dicaci-maki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, di Indonesia, berbagai penerbitan kaum Syiah terbukti sulit menyembunyikan caci-maki terhadap para sahabat dan istri Nabi yang mulia tersebut. Padahal, dalam buku-buku tersebut, kadangkala disebutkan, bahwa penulis buku Syiah itu  mengaku ingin membangun persaudaraan dengan kaum Muslim Sunni. Sebut satu contoh, buku berjudul The Shia, Mazhab Syiah, Asasl-usul dan Perkembangannya karya Hashim al-Musawi (Jakarta: Lentera, 2008). Secara halus, buku ini juga mendiskreditkan Abu Bakar dan Umar radhiyallaahu 'anhu. Misalnya, dalam hal pencatatan sabda Nabi Muhammad shallallaahu 'alahi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sumber-sumber historis mengindikasikan beragam pendapat berbeda mengenai penulisan kata-kata Nabi. Para Imam Ahlulbait Nabi yakin perlunya menulis atau mencatat kata-kata Nabi dan menjaganya dari hilang atau didistorsi. Imam Ali beserta putranya, al-Hasan, memerintahkan pencatatan sabda Nabi dan pendokumentasian sumber-sumbernya. Menurut ad-Dailami, Imam Ali berkata: “Bila kamu mencatat sebuah sabda, sebutkan juga sumbernya.” (Catatan kaki: Hasan ash-Shadr, asy-Syiah wa Finun al-Islam). Imam Ali sendiri mencatat sabda-sabda Nabi dalam sebuah surat gulungan, dan surat gulungan ini diwarisi oleh para imam keturunan Imam Ali. Sementara itu, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar melarang pencatatan sabda Nabi, dan para penguasa Umayah juga memberlakukan larangan ini sampai Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah dan mengirim pesan berikut ini kepada warga Madinah… (Catatan kaki: Ahmad bin Ali Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari be Syarh Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Ihya at-Turats al-Arabi, ed. Ke-4, 1408 (1988)).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah paham&lt;br /&gt;Cara kelompok Syiah dalam mengkritik Abu Bakar dan Umar bin Khatab dalam soal pembakaran hadits Nabi itu tentu saja tidak fair dan tidak sesuai dengan fakta. Masalah pencatatan hadits di kalangan sahabat Nabi juga sudah dibahas dengan sangat mendalam oleh Dr. M. Musthafa al-A’zhami dalam bukunya, “Studies in Early Hadits Literature” (Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 2000). Dalam buku yang merupakan disertasi doktornya di Cambridge University ini, al-A’zhami menunjukkan data adanya 50 sahabat Nabi yang melakukan pencatatan hadits. Termasuk Abu Bakar dan Umar bin Khathab radhiyallaahu 'anhu Berita tentang Abu Bakar yang membakar kumpulan haditsnya diragukan keabsahannya oleh adh-Dhahabi. Bukti lain yang meragukan riwayat pembakaran hadits tersebut adalah bahwasanya, Abu Bakar sendiri mengirim surat kepada ‘Amr bin al-Ash, yang memuat sejumlah ucapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.  Surat senada yang mengandung hadits Nabi juga dikirim Abu Bakar kepada Gubernur Anas bin Malik di Bahrain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat tentang kasus pembakaran hadits oleh Umar bin Khathab juga diragukan kebenarannya. Al-A’zhami menelusuri tiga jalur riwayat berita tersebut, dan dia menemukan, semuanya mursal.  Artinya, rangkaian cerita itu terputus, tidak sampai pada Umar bin Khathab. Juga, faktanya, Umar bin Khathab mengirimkan Ibn Mas’ud dan Abu Darda’ sebagai guru ke Kufah, padahal keduanya dilaporkan memiliki catatan hadits  sebanyak 848 dan 280 buah. Umar sendiri juga terbiasa mengutip hadits-hadits Nabi  dalam surat-surat resminya sebagai kepala negara. (hal. 34-60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tuduhan kelompok Syiah akan kejahatan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu yang – katanya – menghalang-halangi pencatatan hadits Nabi perlu dijernihkan. Tuduhan semacam itu sangatlah tidak bersahabat dan membangun perdamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2009, sebuah kelompok penyebar Syiah di Indonesia  menerbitkan sebuah buku berjudul “40 Masalah Syiah”.  Buku ini ditulis dengan tujuan untuk: “tumbuhnya saling pengertian di antara mazhab-mazhab dalam Islam.”  Itu tujuan yang tertulis dalam sampul belakangnya. Tetapi, jika disimak isi bukunya, buku ini justru mengejek dan melecehkan kaum Muslim Indonesia yang Sunni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak!  Lagi-lagi, buku semacam ini juga tak bisa lepas dari caci maki terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman bin Affan. Padahal kaum Muslim sangat menghormati Ali radhiyallaahu 'anha dan Ahlulbait. Fakta sejarahnya, Ali bin Abi Thalib pun tidak mencerca Abu Bakar, Umar, Utsman, juga Aisyah radhiyallaahu 'anha.  Dalam bab berjudul “Syiah Melaknat Sahabat” disebutkan, bahwa Syiah tidak melaknat siapa pun kecuali yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya. Salah satu cara menggambarkan buruknya perilaku Utsman bin Affan adalah penghormatannya kepada al- Hakam bin abi al-ash. Padahal, orang ini sudah dilaknat Rasulullah saw. “Ketika Utsman menjadi khalifah, ia menyambutnya dengan segala kemuliaan dan kehormatan. Utsman memberinya hadiah 1000 dirham dan mengangkat anaknya sebagai orang kepercayaannya.” (hal. 89).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini pun memaparkan bid’ah-bid’ah – versi Syiah -- yang dibuat oleh Abu Bakar r.a. seperti: Menghapus hak “muallafatu qulubuhum” dan melarang penulisan hadits dan membakarnya. Sedangkan bid’ah-bid’ah yang dibuat oleh Umar bin Khathab antara lain: Menentang Rasulullah saw untuk menuliskan wasiatnya dan melarang nikah mut’ah. (hal. 235).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dalam kasus pencatatan hadits, tuduhan-tuduhan kelompok Syiah terhadap Utsman bin Affan juga sangat berlebihan. Kadangkala fakta ditafsirkan lain, sehingga seolah-olah, Abu Bakar, Umar, dan Utsman r.a. telah melakukan  persekongkolan jahat melawan Nabi. Ibnul Arabi, dalam Kitabnya, al-Awashim wal-Qawashim,  menjelaskan, kasus al-Hakam terkait dengan kesaksian Utsman r,a., bahwa Rasulullah saw telah memberikan izin kepada al-Hakam untuk kembali ke Madinah. Tetapi, Abu Bakar dan Umar tidak menerima saksi lain selain dari Utsman bin Affan, sehingga permintaan Utsman ditolak. Tetapi tidak diberitakan, saat menjadi Khalifah, Utsman menyambutnya dengan segala kemuliaan. Mengutip Ibn Taymiyah dalam Minhaj al-Sunnah,  Dr. Muhammad al-Ghabban menjelaskan melalui bukunya, Kitab Fitnah Maqtal Utsman,  bahwa semua riwayat tentang pengusiran Hakam adalah mursal, jadi sanadnya lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Damai&lt;br /&gt;Mungkin, karena kebencian terhadap Abu Bhakar, Umar, dan Utsman, maka kelompok Syiah – termasuk di Indonesia – tidak dapat menyembunyikan pikirannya untuk mencerca para sahabat Nabi yang mulia tersebut.  Itulah fakta ajaran Syiah yang disebarkan di Indonesia melalui berbagai penerbitan mereka.  Jika manusia-manusia yang begitu mulia dan dihormati oleh kaum Muslim – seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, dan Aisyah r.a. -- dicerca dan diperhinakan oleh kaum Syiah, apakah umat Islam bisa terima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tentu berbeda dengan Muslim Sunni yang menghormati semua sahabat Nabi saw. Ulama dan tokoh sufi terkemuka, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dalam kitabnya, al-Ghunyah Lithaalibi Thariqil Haq, menguraikan kesesatan ajaran Syiah dan memberikan penjelasan terhadap keabsahan kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab,  Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.  Mereka semua adalah pemimpin yang mulia yang dikaruniai petunjuk Allah SWT (al-khulafa al-rasyidun).  (Lihat, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Buku Pintar Akidah Ahlusunnah Waljamaah (Terj.), (Jakarta: Zaman, 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum Muslim sangat mencintai Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya yang mulia. Tidak sepatutnya, ada orang yang menyimpan dendam abadi kepada manusia-manusia terbaik  yang dididik oleh Rasulullah sendiri. Bahkan, Abu Bakar, Umar bin Khathab adalah mertua Rasulullah saw. Sementara Utsman bin Affan adalah menantu Rasulullah saw.  Kaum Muslim yang masih memiliki kesadaran keimanan, tentu tidak ridha jika para sahabat Nabi yang mulia itu difitnah dan dicaci-maki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri Muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini. Masih banyak lahan dakwah di muka bumi ini – jika hendak di-Syiahkan.  Itulah jalan damai untuk  Muslim Sunni dan kelompok Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali, jika kaum Syiah melihat Muslim Sunni adalah aliran sesat yang wajib di-Syiahkan! Walahu a’lambil-shawab.&lt;br /&gt;(Adian Husaini /http://www.insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=299%3Asolusi-damai-muslim-sunni-syiah&amp;catid=1%3Aadian-husaini&amp;Itemid=27)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5007393445641514575?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5007393445641514575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/solusi-damai-muslim-sunni-syiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5007393445641514575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5007393445641514575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/solusi-damai-muslim-sunni-syiah.html' title='Solusi Damai Muslim Sunni-Syiah'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-1919070036747772070</id><published>2012-01-14T19:55:00.000-08:00</published><updated>2012-01-14T19:58:02.195-08:00</updated><title type='text'>MENJADI ABDAN SYAKUURAA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;“Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ikhwan fillah, berapa kali kita mendengar ayat tadi dibacakan? Allah memberi kita nikmat dalam jumlah tak terbilang. Allah tidak meminta kita menghitung seberapa banyak nikmat kita peroleh. Tidak bakal berkesudahan.&lt;br /&gt;وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya&lt;/span&gt;.  (Q.S an Nahl : 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, mari kita berhitung. Barangkali tidak terlalu sulit jika kita hitung berapa kali kita mensyukuri nikmat yang Allah beri pada kita dalam satu hari ini.&lt;br /&gt;Tahun baru, kelahiran, panen melimpah, naik jabatan, memperoleh hadiah, selalu dijadikan alasan melakukan syukur. Berapa sering kita mendapatkan alasan-alasan ini? Tahun baru hanya sekali setahun. Seorang ibu rata-rata melahirkan sekali dalam dua tahun. Naik jabatan? Panen besar?. Betapa mudah kita hitung wujud syukur kita. Betapa sedikit kita bersyukur. Sementara nikmat Allah selalu hadir dalam setiap tarikan nafas kita sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita undang teman makan-makan untuk merayakan promosi yang kita peroleh. Orang tua merayakan kelahiran setiap anaknya. Ada yang melarung sesaji sebagai syukur atas tangkapan yang melimpah. Bagaimana seharusnya kita ungkapan rasa syukur kita?&lt;br /&gt;Imam asy-Syaukani menyebutkan bahwa ungkapan rasa syukur keluar dari tiga sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; lisan atau ucapan. Dalam sebuah hadits dikatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“seorang hamba mengucapkan ‘alhamdulillah’ ketika memperoleh suatu nikmat. Sungguh ucapannya ini bahkan lebih utama dari nikmat yang ia peroleh tersebut.”&lt;/span&gt; ((HR. Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; sumber ungkapan syukur adalah hati. Ikhwah fillaah! Allah maha tahu setiap niat perbuatan kita. Lisan bisa terdengar manis dan menipu.  Kepada siapa dan untuk siapa kita layangkan syukur kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; sumber ungkapan syukur adalah amal atau perbuatan. Akhlak seorang muslim selalu selaras antara tiga hal ini yakni lisan, hati atau niat dan perbuatan. Mensyukuri nikmat Allah diwujudkan dengan ketaatan kita terhadap jalan hidup Allah tetapkan bagi kita. Abu Hazim Salamah bin Dinar berkata:”perumpamaan orang yang memuji syukur kapada Allah hanya dengan lisan, namun tidak dengan ketaatannya, ia seibarat orang yang memakai penutup kepala dan kaki tapi tidak menutupi seluruh badanya.  Bisakah pakaian begini melindunginya dari panas dan dingin?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah. Allah memberi kita nikmat sebagai sebuah amanah. Jika kita meyakini bahwa segala yang kita miliki adalah pemberianNya, akankah kita risau jika jika suatu saat nikmat yang kita miliki hilang dan berpindah? Kita bisa bersetuju dengan pendapat bahwa risau ini wajar dan manusiawi. Atau barangkali kita bisa memilih yakin bahwa meyakini kebesaran dan janji Allah adalah sisi lain kemanusiaan kita? Bersyukurlah, niscaya Allah akan melipat gandakan nikmatnya. Dalam QS Ibrahim ayat 7 Allah berfirman,” Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat kami) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya adzabku sangat pedih”.&lt;br /&gt;Bersyukur merupakan kewajiban kita sebagai hamba Allah. Tidak ada satu pun alasan bagi manusia untuk tidak bersyukur. Bahkan nabi sekalipun, yang sudah dijanjikan maksum, tetap mewajibkan diri beliau untuk senantiasa mengaplikasikan rasa syukur dalam hidup beliau baik lisan, hati dan amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari aisyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anha&lt;/span&gt; ia berkata ; sesungguhnya nabi saw selalu bangun untuk mengerjakan salat malam  sampai kedua kakinya bengkak,Aisyah bertanya ; wahai rasulullah mengapa engkau berbuat demikian , sedangkan Allah telah mengampuni semua dosamu baik yang telah lampau maupun yang akan datang ? ;Beliau menjawab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'apakah tidak sepantasnya jika aku menjadi seorang hambah yang slalu bersyukur&lt;/span&gt; (HR bukhari dan muslim).&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah. Sering kita lupa begitu banyak nikmat yang wajib kita syukuri. Nikmat selalu saja kita ukur dengan materi: jumlah harta yang kita miliki, jumlah orang yang mencintai kita. Bahkan yang berupa fisik pun sering kita sadari setelah kita kehilangan. Kita baru menyadari betapa nikmatnya bernafas setelah salah satu hidung kita tersumbat. Kita baru tahu berharganya kesehatan badan setelah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah. Ada dua nikmat yang paling sering kita lupakan yakni nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Sebuah hadits mengatakan,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”ada dua kenikmatan yang mengakibatkan banyak orang merugi (karena melalaikannya): nikmat sehat dan nikmat waktu luang&lt;/span&gt;” (HR Imam Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sering kita mengeluh dengan cobaan yang menimpa diri kita. Kesempitan, rasa sakit, kehilangan, selalu menjadi alasan bagi kita untuk mengeluh. Kita mengeluh melihat orang lain Nampak bernasib lebih baik dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah. Semakin besar kita ingat begitu melimpahnya nikmat yang kita peroleh, semakin kecil kemungkinan kita mengeluhkan segala macam ujian yang menimpa kita. Kita akan bersabar. Kita perlu menguatkan diri kita menjalani sikap sabar ini. Suatu ketika Rasulullah berwasiat pada Muadz, “wahai Muadz, aku berpesan. Janganlah kamu tinggalkan pada tiap-tiap habis shalat berdoa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika’&lt;/span&gt;. (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah tolonglah aku agar aku senantiasa ingat kepadaMu, senantiasa mensyukuri nikmatMu dan senantiasa baik dalam beribadah kepadaMu&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;Dalam hadits lain Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shallallaahu ‘alaihi wasallam &lt;/span&gt;bersabda, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;''Perkara orang Mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya, semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang Mukmin. Bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.'' &lt;/span&gt;(HR Muslim No 5318).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Maka nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustakan&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;Ikhwah fillah. Senantiasa mengingat nikmat Allah dan bersabar adalah kewajiban kita. Semua nikmat yang kita miliki adalah amanah. Semua amanah yang ada pada kita akan diminta pertanggungjawab oleh Allah. Dalam QS at Takatsur Allah berfirman,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “ Kemudian pastilah kalian akan ditanya pada hari itu tentang nikmat (yang kamu peroleh)”&lt;/span&gt;. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk senantiasa mampu mensyukuri segala nikmat yang kita peroleh. Allah telah menjanjikan kepada hambanya untuk senantiasa menambah nikamatNya, selama kita senantiasa bersyukur sepenuh hati kita, sejernih lisan kita dan sebaik perbuatan kita. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;wallaahu ‘alamu bishshawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Abd Rauf Haris)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-1919070036747772070?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/1919070036747772070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/menjadi-abdan-syakuuraa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/1919070036747772070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/1919070036747772070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2012/01/menjadi-abdan-syakuuraa.html' title='MENJADI ABDAN SYAKUURAA'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-2878201348971618044</id><published>2011-12-30T02:56:00.000-08:00</published><updated>2011-12-30T03:03:50.663-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Word view'/><title type='text'>CATATAN PERGANTIAN TAHUN</title><content type='html'>Perayaan tahun baru memang telah lama menjadi tradisi dan ditetapkan sebagai hari libur umum nasional di berbagai Negara. Di Amerika Serikat, umumnya perayaan dilakukan pada tanggal 31 malam bulan Desember, saat di mana orang-orang berpesta dan berkumpul di jantung kota seperti di New York. Pada saat lonceng tengah malam berdentang, sirene dibunyikan, kembang api diledakkan, orang-orang menyerukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Happy New Year”&lt;/span&gt; dan menyanyikan lagu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Auld Lang Syne.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perayaan Tahun Baru di Dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa umat agama lain pun merayakan hari tahun barunya sendiri, seperti tahun baru umat Yahudi, Rosh Hashanah, biasanya dalam kalender Masehi, jatuh sekitar bulan September-Oktober. Hari raya ini juga seringkali disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yom Teruah&lt;/span&gt; (Hari Meniup Shofar). Shofar adalah semacam serunai yang ditiup sepanjang hari di Sinagog pada perayaan tersebut. Selain itu, ada juga tahun baru Saka, tahun baru umat Hindu dan tahun baru Imlek (tahun baru Cina).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita, kaum Muslimin berpegangan pada at-taqwim al-hijri atau kalender hiriyah, yakni kalender yang digunakan oleh umat Islam dalam menentukan tanggal atau bulan yang berkaitan dengan ibadah, seperti puasa Ramadhan dan Haji serta ibadah-ibadah sunnah lainnya. Dinamakan Kalender Hijriyah, karena pada tahun pertama kalender ini adalah tahun dimana terjadi peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah, yakni pada tahun 622 M. Berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran Matahari, Kalender Islam menggunakan peredaran Bulan sebagai acuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun sistem penanggalan yang umumnya digunakan di dunia disebut juga dengan kalender Gregorian. Jika dicermati, asal-usul nama-nama bulan dalam kalender tersebut juga sarat dengan pengaruh kepercayaan polytheist bangsa romawi kuno. Bulan Januari yang terdiri dari 31 hari diambil dari nama Janus, Dewa permulaan dan akhir bangsa Romawi. Bulan Februari, yang terdiri dari 28/29 hari diambil dari kata Februus, nama Dewa kematian dan pemurnian Romawi, yang juga menjadi dewa bangsa Etruskan. Maret, dari kata Mars, nama Dewa perang Romawi. Bulan Mei dari kata Maia Maiestas nama Dewi Romawi. Bulan Juni dari nama Juno, Istri Jupiter dalam mitologi Romawi. Bulan Juli dari nama diktator Romawi, Julius Caesar, bulan ini sebelumnya disebut Quintilis, dan bulan Agustus dari Augustus, nama Kaisar Romawi pertama (bulan ini sebelumnya disebut Sextilis, bulan ke-6 kalender Romawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekilas sejarah perjalanan waktu, perayaan-perayaan dan penggunaan istilah yang sangat kental pengaruh keagamaannya. Dari pemaparan di atas, tersirat makna yang penting bagi kita untuk dapat mencermati dan menyikapi momen pergantian waktu dengan pandangan Islami (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islamic worldview&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam, seperti yang kita yakini, adalah agama yang syumul, artinya ajaran ini mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia; dari pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara; dari semua bidang; sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, lingkungan, pendidikan hingga kebudayaan; dari etnis Arab ke Parsi hingga seluruh etnis manusia, dari kepercayaan, sistem hingga akhlak; dari Adam hingga manusia terakhir; dari sejak kita bangun tidur hingga kita tidur kembali; dari kehidupan dunia hingga kehidupan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cakupan Islam dapat kita lihat dari beberapa dimensi; yaitu dimensi waktu, dimensi demografis, dimensi geografis dan dimensi kehidupan. intinya, semua dimensi hidup Muslim telah dibuatkan aturannya oleh ar-Rahmaan. Oleh sebab itu apapun yang akan kita lakukan kita hendaknya berpandukan ajaran agama yang suci ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perayaan malam tahun baru, Maksiat satu malam?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu situs berita online ibukota mencatat, Indonesia merupakan pasar kembang api terbesar di dunia. Berdasarkan data tahun lalu, salah seorang importir kembang api membeberkan bahwa pasar kembang api di Indonesia dalam satu tahun menembus angka Rp 1,8 triliun. Ia bahkan tidak percaya jika Indonesia disebut sebagai negara miskin, karena kenyataannya, pasar kembang api dominan di kalangan masyarakat menengah bawah.&lt;br /&gt;Meski pada momen pergantian tahun terjadi kenaikan harga, namun hal tersebut tidak mengurangi minat pembeli yang cukup banyak. Berbagai tipe dan model kembang api pun dinyalakan dan meledak di angkasa. Tentu harganya juga bervariasi, tergantung kemampuan isi kantong, mulai yang Rp 5.000 hingga Rp 15 juta per pak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kenyataan di atas patut membuat kita tercengang, jika membandingkan dengan realitas nasib mayoritas bangsa kita yang berada di bawah garis kemiskinan. Diantara isu yang paling sering mengemuka adalah masalah pendidikan dan pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman, yang artinya:&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” &lt;/span&gt;(QS. Al Isra [17]: 26-27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada alasan syar’i.&lt;br /&gt;Maka dari sini dapat dipahami bahwa pengharaman perayaan malam tahun baru buat umat Islam oleh sebagian Ulama adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai Orang Kafir?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”&lt;/span&gt; (Al-Hadits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain, bahkan disebutkan lebih spesifik bahwasanya Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara/metode) orang-orang sebelum kamu, sejengkal-demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga andaikata mereka menelusuri lubang masuk ‘Dhabb’ (binatang khusus padang sahara, sejenis biawak), niscaya kalian akan menelusurinya pula”. Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (apakah mereka itu) orang-orang Yahudi dan Nashrani?”. Beliau bersabda: “Siapa lagi (kalau bukan mereka-red)”.&lt;/span&gt; (H.R. Al-Bukhary dari sahabat Abu Sa’id Al Khudry).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani atau pun agama lainnya.&lt;br /&gt;Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke Eropa, beragam budaya paganis (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir nabi Isa. Maka, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari besar agama non muslim (baca: kafir). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A’lam. &lt;/span&gt;[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-2878201348971618044?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/2878201348971618044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/catatan-pergantian-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2878201348971618044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2878201348971618044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/catatan-pergantian-tahun.html' title='CATATAN PERGANTIAN TAHUN'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-2836175729995360564</id><published>2011-12-20T06:10:00.000-08:00</published><updated>2011-12-20T06:23:51.053-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Thougst'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Word view'/><title type='text'>Toleransi Umar</title><content type='html'>JIKA barometer toleransi abad 20 ini dideteksi di setiap penjuru dunia, maka Jerussalem mungkin adalah yang terburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir tahun 1987 saya sempat berkunjung ke kota Jerussalem lama. Kota kuno di atas bukit yang dikelilingi tembok raksasa itu menyimpan tempat suci utama tiga agama. Ketiganya adalah Masjid al-Aqsa, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wailing Wall &lt;/span&gt;(Dinding Ratapan) dan Gereja Holy Sepulchre (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kanisat al-Qiyamah&lt;/span&gt;). Di zaman modern tempat ini adalah daerah konflik yang paling menegangkan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menapaki jalan-jalan di kota tua itu banyak perisiwa menegangkan. Saya menyaksikan seorang pendeta Katholik dan seorang rabbi Yahudi saling memaki dan sumpah serapah, nyaris saling bunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lorong-lorong pasar saya melihat ceceran darah segar Yahudi dan Palestina. Di pintu masuk dinding ratapan saya bertemu seorang Yahudi Canada. Dengan pongah dan percaya diri dia teriak, "I come here to kill Muslims". Di pintu gerbang masjid Aqsa, seorang tentara Palestina menangis selamatkan masjid al-Aqsa! Selamatkan masjid al-Aqsa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika deteksi toleransi itu dialihkan abad ke 7 dan seterusnya mungkin Jerussalem justru yang terbaik. Setidaknya sejak Muslim memimpin dan melindungi kota ini. Jika kita menelurusi lorong via dolorosa menuju Gereja Holy Sepulchre orang akan tersentak dengan bangunan masjid Umar. Masjid Umar itu terletak persis didepan gereja yang diyakini sebagai makam Jesus. Di situ semua sekte berhak melakukan kebaktian. Melihat lay-out dua bangunan tua ini orang akan segera berkhayal “ini pasti lambang konflik dimasa lalu”. Tapi khayalan itu ternyata salah. Fakta sejarah membuktikan masjid itu justru simbol toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarahnya, umat Islam dibawah pimpinan Umar ibn Khattab mengambil alih kekuasaan Jerussalem dari penguasa Byzantium pada bulan Februari 638. Mungkin karena terkenal wibawa dan watak kerasnya Umar memasuki kota itu tanpa peperangan. Begitu Umar datang, Patriarch Sophronius, penguasa Jerussalem saat itu, segera “menyerahkan kunci” kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahdan diceritakan ketika Umar bersama Sophronius menginspeksi gereja tua itu ia ditawari shalat di dalam gereja. Tapi ia menolak dan berkata: “jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka, hanya karena saya pernah shalat disitu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Ditempat batu itu jatuh ia kemudian melakukan shalat. Umar kemudian menjamin bahwa Gereja Holy Sepulchre tidak akan diambil atau dirusak pengikutnya, sampai kapanpun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristiani. Itulah toleransi Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toleransi ini kemudian diabadikan Umar dalam bentuk Piagam Perdamaian. Piagam yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah itu mirip dengan piagam Madinah. Dibawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piagam itu di antaranya berisi sbb: Umar amir al-mu’minin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama.  Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Penduduk Ilia (maksudnya Jerussalem) harus membayar pajak (jizya) sebagaimana penduduk lainnya; dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya Sophorinus juga menyatakan jaminannya. “kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru dikota dan pinggiran kota kami;..Kami juga akan menerima musafir Muslim kerumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam… kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam”.  (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab Trans. Yohanan Fiedmann, Albany, 1992, p. 191)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu. Salah satu poin dalam Piagam itu melarang Yahudi masuk ke wilayah Jerussalem. Ini atas usulan Sophorinus. Namun Umar meminta ini dihapus dan  Sophorinus pun setuju. Umar lalu mengundang 70 keluarga Yahudi dari Tiberias untuk tinggal di Jerussalam dan mendirikan synagogue. Konon Umar bahkan mengajak Sophorinus membersihkan synagog yang penuh dengan sampah. Itulah toleransi Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piagam Umar ternyata terus dilaksanakan dari sau khalifah ke khalifah lainnya. Umat Islam tetap menjadi juru damai antara Yahudi  dan Kristen serta antara sekte-sekte dalam Kristen. Ceritanya, karena sering terjadi perselisihan antar sekte di gereja Holy Sepulchre tentara Islam diminta berjaga-jaga di dalam gereja. Sama seperti Umar, para tentara juru damai itu pun ditawari shalat dalam gereja dan juga menolak. Untuk praktisnya mereka shalat dimana Umar dulu shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat itulah kemudian Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193, membangun masjid permanen. Jadi masjid Umar inilah saksi toleransi Islam di Jerussalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kini Jerussalem yang damai tinggal cerita lama. Belum ada jalan kembali menjadi kota toleransi. Lebih-lebih makna toleransi seperti dulu sudah mati oleh liberalisasi. Umar maupun Sophorinus tidak mungkin akan dinobatkan menjadi “Bapak pluralisme”. Sebab menghormati agama orang lain kini tidak memenuhi syarat toleransi. Toleransi kini ditambah maknanya menjadi menghormati dan mengimani kebenaran agama lain. Tapi “ini salah” kata Muhammad Lagenhausen. Kenneth R. Samples, pun sama “Ini penghinaan terhadap klaim kebenaran Kristen”. Biang keladinya adalah humanis sekuler yang ateis dan paham pluralisme agama&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (The Challenge of Religious Pluralism, Christian Research Journal)&lt;/span&gt;. Bagi saya toleransi model pluralisme ini adalah utopia keberagamaan liberal yang paling utopis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber:Tulisan Ust  Dr. Hamid Fahmi Zarkasy Direktur Program PKU ISID pada Jurnal ISLAMIA-Republika edisi Kamis 15 Desember 2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-2836175729995360564?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/2836175729995360564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/toleransi-umar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2836175729995360564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2836175729995360564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/toleransi-umar.html' title='Toleransi Umar'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-557884795438694332</id><published>2011-12-18T01:59:00.000-08:00</published><updated>2011-12-18T02:11:01.678-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Thougst'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Word view'/><title type='text'>WAHDAH ISLAMIYAH, GERAKAN PURIFIKASI AKIDAH</title><content type='html'>&lt;div style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;Oleh: Rahmat Abd. Rahman&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;Ketua Lembaga Kajian dan Konsultasi Syariah Makassar&lt;br /&gt;(Fajar, Opini Sabtu 17 Desember 2011)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahdah Islamiyah menggelar sebuah hajatan besar, yaitu muktamar kedua di Kota Makassar. Momen empat tahunan ini berfungsi sebagai ajang evaluasi terhadap seluruh program kerja pasca muktamar pertama lalu, dan juga revisi terhadap pedoman dasar organisasi, termasuk Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, serta tidak kalah pentingnya, berwenang untuk menyusun kepengurusan baru di tingkat pusat, di antaranya adalah Pimpinan Umum organisasi dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribuan anggota, kader dan keluarga Wahdah Islamiyah dari seluruh tanah air telah berdatangan ke Kota Anging Mammiri buat berpartisipasi dalam hajatan besar ini, sebagian sebagai peserta penuh dan sebagian lainnya sebagai pendukung dan penggembira, bahkan ada yang hanya sekedar menghadiri acara pembukaan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahdah Islamiyah menjadi organisasi Islam satu-satunya pada saat ini yang berpusat di Kota Makassar dan telah memiliki amal usaha dakwah, pendidikan dan sosial yang tersebar di wilayah-wilayah nusantara. Didirikan pada tahun 2002 lalu, usia Wahdah Islamiyah tergolong masih belia, jika diibaratkan manusia, maka organisasi ini baru menginjak paruh pertama jenjang pendidikan dasar. Sejarah dan latar belakang the founding father atau pendiri organisasi ini sebagai kader atau peserta pengajian-pengajian organisasi Islam lain, seperti Muhammadiyah, tidak dapat dipungkiri memberi warna terhadap perjalanan Wahdah Islamiyah, namun kemapanan dan gerakan perjuangan memiliki corak tersendiri. Mengusung slogan &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Memandu Kebangkitan Islam dengan Ilmu Syar’i”,&lt;/span&gt; Wahdah Islamiyah menganut pola dan konsep Ahlussunnah Waljamaah dalam gerakan perjuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman dan pengamalan beragama seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan ulama salaf saleh, yaitu para sahabat, tabiin dan tabi’ tabiin, menjadi pondasi buat melakukan gerakan perbaikan umat. Wahdah Islamiyah menyadari dengan baik, bahwa Rasulullah saw. dan ulama salaf saleh telah mewariskan kekayaan (sarwah) ilmiah dan amaliah yang tidak pernah usang dimakan zaman, nas-nas Alquran dan hadis diimplementasikan dalam pemahaman dan pengamalan yang sempurna. Menurut Imam Malik bin Anas (al-Wajiz, 2002), umat Islam zaman sekarang akan menjadi baik, apabila konsisten dengan ajaran yang menjadikan umat Islam zaman dahulu juga baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Ahlussunnah Waljamaah yang dikembangkan oleh Wahdah Islamiyah bersifat konsisten dan dinamis. Konsisten dalam menjadikan pemahaman ulama salaf saleh yang berdasarkan atas nas-nas Alquran dan hadis sebagai acuan gerakan perbaikan umat, dan dinamis dalam realisasi pengamalan beragama dan berdakwah sesuai kaidah-kaidah yang bersumber dari Alquran dan hadis pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan zaman di bidang informasi, teknologi dan bidang-bidang lainnya menuntut agar kaidah-kaidah agama diterapkan dengan pemahaman dan metodologi yang benar dan bijak. Nilai-nilai kemuliaan yang ada pada zaman Rasulullah saw. berupaya diwujudkan kembali oleh gerakan Wahdah Islamiyah secara bersih dengan menjaga keseimbangan zaman dan lingkungan keberadaannya. Perilaku umat Islam pada zaman itu berupaya ditransformasikan pada kondisi kekinian dengan mengacu pada prinsip utama beragama, yaitu ajaran tauhid atau kemurnian ibadah kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Organisasi dan Purifikasi Akidah Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan dakwah Wahdah Islamiyah adalah gerakan purifikasi atau pemurnian dan penyucian sifat tauhid dan akidah umat Islam dari segala kemusyrikan, berbentuk seruan kepada segenap lapisan masyarakat agar menjalankan kalimat syahadat yang telah mereka ikrarkan secara konsisten. Kalimat syahadat dan keislaman bukan sebatas identitas, namun dilalui sebagai jalan untuk sampai kepada Allah swt. Konsekwensi keislaman seseorang berupa pengamalan terhadap syariat agama, diserukan oleh ulama dan dai Wahdah Islamiyah dengan cara yang bijak, yaitu penyampaian dalil-dalil agama secara dalam dan memberikan solusi terhadap permasalahan yang terjadi di tengah umat Islam, serta menghindari perbuatan menghujat dan memojokkan sesama aktivis dakwah atau elemen umat yang berjuang buat kemajuan kaum muslimin, kecuali apabila terjadi penyimpangan nyata terhadap prinsip agama, maka akan dijelaskan sisi penyimpangannya tanpa menyebut pelakunya secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemurnian tauhid dan akidah Islam menjadi seruan prioritas dalam berdakwah, merupakan ruh yang selalu ditiupkan ke dalam jiwa setiap kader dan aktivis Wahdah Islamiyah. Berpedoman kepada Rasulullah saw. yang memulai gerakan dakwah dengan penyadaran terhadap Kemahaesaan Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala.&lt;/span&gt; untuk disembah, segenap permasalahan pada masa Jahiliyah dihubungkan dengan kerusakan visi Ketuhanan mereka yang berwujud pada kemusyrikan, sehingga perbaikan sistem bermasyarakat dimulai dari titik sentral tauhid dan akidah. Sahabat Rasulullah saw. yang mendapatkan tugas berdakwah di luar kota Madinah juga mendapatkan wasiat serupa, sebagaimana yang dituturkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu 'anhuma&lt;/span&gt;., bahwa Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wasallam&lt;/span&gt;. berwasiat kepada Mu’az bin Jabal radhiyallaahu 'anhu. yang diutus ke Negeri Yaman untuk mendakwahkan dua kalimat syahadat sebelum syariat Islam lainnya. (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat tauhid dan akidah Islam yang bersih membuat visi hidup setiap manusia menjadi lurus, kehidupan akan dilalui dengan kegiatan yang memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Visi kehidupan yang lurus berarti pemahaman terhadap maksud dan tujuan hidup di alam dunia, serta menyiapkan perbekalan buat sampai kepada kehidupan akhirat. Bekal ini berupa ketakwaan yang terwujud dalam segala bentuk kebaikan di semua lini kehidupan, yaitu ibadah ritual, sistem sosial dan ekonomi, sistem pendidikan dan budaya, hingga sistem politik dan tata negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat tauhid menjadi sumbu dalam kehidupan seorang manusia dan masyarakat, segala aktivitas yang dihasilkan oleh sifat ini akan berbuah baik dan membuat arus pusaran kebaikan pada lingkungan yang ada di sekelilingnya. Perumpamaan kalimat tauhid di dalam Alquran, adalah ibarat pohon tinggi menjulang ke langit dan berakar tunjang menghunjam ke dalam perut bumi, buahnya dapat dinikmati setiap saat oleh siapapun yang melewatinya (QS. Ibrahim/14: 24-25), atau ibarat pelita yang menerangi kegelapan (QS. al-An’am/6: 122).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan purifikasi akidah yang dikembangkan oleh Wahdah Islamiyah berlaku pada perbaikan mental, perilaku dan sistem beragama secara menyeluruh. Ajaran Islam yang telah sempurna tidak mungkin disikapi dengan pemurnian tauhid saja terlebih dahulu dan meninggalkan syariat lain sebagaimana periodisasi pada zaman Rasulullah saw., namun gerakan purifikasi akidah ini dilakukan secara sinergis dan integral dalam pelaksanaan sistem Islam di segala bidang dan lini kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahdah Islamiyah telah melembagakan gerakan purifikasi akidah ini dalam sistem pembinaan secara integral pada lini kehidupan yang dikelolanya. Sistem dakwah, pendidikan, sosial, ekonomi dan lingkungan hidup, telah menjadi satu kesatuan dalam gerakan yang terorganisir menuju peradaban yang tinggi seperti yang pernah dibuktikan oleh kaum muslimin pada zaman keemasannya, yaitu abad-abad awal hijriyah. Visi 2015 Wahdah Islamiyah untuk eksis di seluruh kabupaten sepulau Sulawesi dan ibukota propinsi di seluruh Indonesia, dimaknai sebagai media buat mengukuhkan gerakan purifikasi akidah ini, organisasi bagi aktivis Wahdah Islamiyah adalah sarana buat menyebarkan sistem kebaikan yang berdasarkan atas sifat tauhid dan kemurnian akidah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, selamat bermuktamar bagi keluarga Wahdah Islamiyah, semoga dapat mewujudkan tema: &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Memantapkan Peran Dakwah Wahdah Islamiyah yang Bijak Menuju Masyarakat Berperadaban, pasca muktamar ini.&lt;/span&gt; Amin. (sumber:www.wahdah.or.id)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-557884795438694332?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/557884795438694332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/wahdah-islamiyah-gerakan-purifikasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/557884795438694332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/557884795438694332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/wahdah-islamiyah-gerakan-purifikasi.html' title='WAHDAH ISLAMIYAH, GERAKAN PURIFIKASI AKIDAH'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-348380502497211530</id><published>2011-12-15T19:29:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T19:35:09.338-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Himmah'/><title type='text'>Sepucuk Surat Perjuangan; Teruntuk Jiwa-Jiwa Perindu Kemenangan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;(Dalam Rangka Mendukung Semangat Muktamar II Wahdah Islamiyah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bismillahirrahmanirrahim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu…!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji itu hanya menjadi hak Allah. Dialah Dzat yang memunculkan para ulama yang masih saja tersisa di setiap zaman. Para ulama tersebut mendakwahi orang yang tersesat kepada hidayah, dan mereka bersabar atas berbagai gangguan. Dengan kitab Allah, mereka hidupkan orang-orang yang hatinya sudah mati. Mereka perlihatkan cahaya Allah kepada orang yang buta mata hatinya. Betapa banyak korban iblis yang berhasil mereka selamatkan. Betapa banyak orang yang tersesat dan bingung berhasil mereka tunjuki jalan yang benar. Betapa bagus pengaruh mereka di tengah-tengah manusia dan betapa jelek balasan manusia terhadap mereka. Para ulamalah yang mengingkari penyelewengan makna Al-Qur’an yang dilakukan oleh orang-orang yang berlebih-lebihan serta pemalsuan yang dibuat oleh para pembela kebatilan. Yaitu, orang-orang yang memasang tali bid’ah dan mengencangkan ikatan fitnah. Mereka memperdebatkan kitabullah, menyelisihi Alquran, dan sepakat untuk keluar dari aturan Alquran. Mereka berbicara atas nama Allah, tentang Allah, dan tentang kitabullah, tanpa dalil. Mereka membicarakan tentang hal yang rancu dan menipu manusia-manusia bodoh dengan kerancuan berpikir yang mereka sebarkan. Kami berlindung kepada Allah dari ujian karena orang-orang yang sesat. (Mukadimah yang disampaikan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya, Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah wa Az-Zanadiqah). Shalawat dan salam tercurah untuk Rasulullah, para keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang tunduk lagi taat kepada beliau. Amma ba’du ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” &lt;/span&gt;(Terjemah al-Qur’an Al-Hujuraat(49): 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Abdullah, yaitu Khabbab bin Aratti Radhiyallahu ‘Anhu, katanya: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kita mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau ketika itu meletakkan pakaian burdahnya di bawah kepalanya sebagai bantal dan berada di naungan Ka’bah, kita berkata: “Mengapa Tuan tidak memohonkan pertolongan – kepada Allah – untuk kita, sehingga kita menang? Mengapa Tuan tidak berdoa sedemikian itu untuk kita?” Beliau lalu bersabda: “Pernah terjadi terhadap orang-orang sebelummu – yakni zaman Nabi-nabi yang lalu, yaitu ada seorang yang diambil – oleh musuhnya, karena ia beriman, kemudian digalikanlah tanah untuknya dan ia diletakkan di dalam tanah tadi, selanjutnya didatangkanlah sebuah gergaji dan ini diletakkan di atas kepalanya, seterusnya kepalanya itu dibelah menjadi dua. Selain itu iapun disisir dengan sisir yang terbuat dari besi yang dikenakan di bawah daging dan tulangnya, semua siksaan itu tidak memalingkan ia dari agamanya -yakni ia tetap beriman kepada Allah. Demi Allah niscayalah Allah sungguh akan menyempurnakan perkara ini – yakni Agama Islam, sehingga seseorang yang berkendaraan yang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak ada yang ditakuti melainkan Allah atau karena takut pada serigala atas kambingnya – sebab takut sedemikian ini lumrah saja. Tetapi engkau semua itu hendak bercepat-cepat saja.”&lt;/span&gt; (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, mengatakan;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Ketahuilah semoga Allah senantiasa memperbaiki diri kalian, ni’mat terbesar bagi orang yang Allah kehendaki pada dirinya adalah ketika Allah menghidupkannya sekarang ini, zaman ketika Allah tengah memperbaharui agama-Nya. Dia menghidupkan kembali syiar kaum muslimin. Dia menghidupkan ihwal kaum mu’minin dan para mujahidin, sehingga keadaannya mirip dengan Assabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka siapa saja yang melaksanakan semua ini di zaman sekarang, berarti ia termasuk orang-orang yang mengikuti jejak mereka dalam kebaikan. Maka sudah selayaknya kaum mukminin bersyukur kepada Allah atas ujian yang pada hakikatnya adalah anugerah dari Allah ini. Seharusnya mereka mensyukuri terjadinya fitnah yang didalamnya terdapat nikmat besar. Hingga seandainya para sahabat Assabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan yang lainnya Radiyallahu ‘anhum ajmain, mereka hadir ditempat ini, tentu amalan yang mereka lakukan adalah berjuang melawan orang-orang jahat itu. Dan tidak ada yang ketinggalan dari peperangan seperti ini selain orang yang merugi perdagangannya, dungu jiwanya, dan diharamkan untuk mendapatkan bagian besar dari Dunia dan Akhirat.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai jiwa-jiwa yang takut pada Rabb yang Menguasai jiwa. Tertunduk hina pada Rabb, yang kepada-Nya makhluk bersujud. Duhai jiwa-jiwa yang suka mengadu pada Rabb, yang sempurna nama-nama-Nya.Duhai  jiwa-jiwa yang merasakan indahnya munajat. Menautkan hati pada jalan perjuangan. Duhai jiwa-jiwa yang saling mencintai karena Allah. Merindukan kemenangan terindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai para generasi pejuang. Duhai para generasi pemenang. Kepada kalian diwariskan kesucian Islam. Kepada kalian diwariskan risalah ilmu. Kepada kalian diwariskan risalah amal. Kepada kalian diwariskan risalah dakwah. Karena kesucian Islam tidak mungkin diperjuangkan pada mereka generasi pecundang. Pada mereka generasi bodoh. Pada mereka generasi pengkhianat. Pada mereka generasi pembeo. Pada mereka generasi pezina. Pada mereka generasi pemalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai jiwa-jiwa perindu kemenangan. Bersiaplah, kemenangan itu telah dekat. Bersiaplah dengan aqidah yang kokoh. Bersiaplah dengan al bashirah. Bersiaplah dengan kekuatan azzam yang lurus. Duhai jiwa-jiwa pejuang. Nikmatilah, angin kemenangan telah berhembus. Nikmatilah, melangkah pada setiap kerikil tajam yang mengoyak. Jalan yang panjang lagi bertabur duri. Nikmatilah, merayap pada setiap kawat siap menyayat kulit. Nikmatilah, dengan semangat dan mujahadah. Dengan air mata curhat di hadapan Allah. Nikmatilah, dengan senyuman indah di hadapan manusia. Nikmatilah, dengan pengorbanan dan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai jiwa-jiwa perindu kemenangan. Lihatlah, bendera kemenangan sudah berada di depan mata. Lihatlah, ada kilauan mutiara yang hendak mengalihkan perhatianmu. Ada kesenangan dunia yang hendak melenakanmu. Lihatlah, ada godaan syahwat yang terus meronrong imanmu. Ada kenikmatan semu yang hendak membuaimu. Lihatlah, ada rengekan istri-istrimu yang meminta ditemani. Ada tangis anak-anakmu yang meminta dibelikan mainan. Lihatlah, ada tuntutan orang tuamu untuk membuatnya tersenyum. Lihatlah, syaithan bersarang dalam dada mengalir dalam darah. Lihatlah, syaithan masuk dalam semua lini tuk membuatmu berkata; “Apa gunanya aku memperjuangkan ini? Apa yang kudapat di jalan ini? Yang ada hanya kelaparan dan rasa takut. Yang ada hanya penderitaan dan kesedihan. Sungguh terlalu berat beban yang harus ditanggung. Toh masih ada orang lain. Mengapa mesti aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah lelah di jalan ini. Aku tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 255, 51);"&gt;” Akhirnya engkau mengatakan; “Aku mundur dari jalan ini…”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian menghilang tanpa jejak. Hingga, engkau ditemukan tanpa beda dengan para pengejar dunia. Habiskan waktu hanya untuk uang dan uang. Tak beda dengan para preman. Habiskan waktu untuk merusak. Tak beda dengan para hidung belang. Mata jelalatan. Tak beda dengan para pelacur. Berpakaian tapi telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak beda dengan penyembah kuburan. Beribadah tapi juga ke dukun. Tak beda dengan orang kafir. Bahkan juga ikut menghancurkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai jiwa-jiwa perindu kemenangan. Sudah teguhkah azzam yang kau pancang? Benarkah perjuanganmu karena Allah? Mundurlah, dan luruskan kembali niatmu. Jika, nafsu masih merajaimu. Kilauan permata masih menyilaukanmu Kesenangan dunia masih melenakanmu Syaithan masih bersarang di dadamu dan menjadi teman setiamu. Kenikmatan semu masih membuaimu dan menutup mata batinmu. Percayalah, semua itu adalah keindahan sesaat yang akan menggoyahkan tekadmu. Allah Azza Wa Jalla sengaja ciptakan itu sebagai ujian bagimu! Berbahagialah jika kau menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan akhirmu, puncak kerinduanmu. Dan jadilah sebagai orang-orang yang beruntung! Untukmu, duhai jiwa-jiwa perindu kemenangan. Untukmu setiap diri yang mengaku penuntut ilmu. Untukmu setiap diri yang mengaku ahli ibadah. Untukmu setiap diri yang mengaku sebagai pejuang. Untukmu setiap diri yang mengaku aktivis dakwah, mengajak kepada jalan yang lurus. Ketika jalan ini mulai terasa berat dan melelahkan. Maka ingatlah azzam yang dipancangkan sebelumnya. Luruskan kembali niat. Apakah dunia yang fana lebih kau cintai daripada kampung akhirat yang kekal abadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dakwah telah memanggilmu! Umat menunggu pencerahan darimu! Letih sudah mata ini menyaksikan kemaksiatan merajalela. Lelah sudah kaki melangkah, karena setiap jengkal yang dipijak, bumi merasa terdzolimi oleh manusia-manusia tak beradab. Lunglai tubuh ini ketika mendapati hukum-hukum Allah diganti dengan hukum-hukum makhluk yang hanya menebar kerusakan. Perih hati ini ketika menemukan thoghut-thoghut bersarang di dalamnya. Menangis batin ini menyaksikan saudara-saudara seiman, seislam, dan seaqidah saling caci, saling menyalahkan, saling bermusuhan. Lalu ke mana perginya ukhuwah? Apakah ukhuwah hanya berlaku pada segolongan atau sekelompok umat yang bernaung dalam satu jamaah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukmu, jiwa-jiwa perindu kemenangan dipersembahkan sepucuk surat perjuangan ini. Jangan pernah engkau tinggalkan jalan ini. Jangan pernah engkau tanggalkan pakaian perjuangan yang telah engkau pakai. Sebagai penutup dengarkanlah khutbah Ibnul Jauzy:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   “Wahai Manusia, mengapa kalian melupakan agama kalian? Mengapakah kalian menanggalkan harga diri kalian? Mengapa kalian tidak mau menolong agama Allah, Sehingga Allah pun tidak menolong kalian? Kalian kira harga diri (‘izzah) itu milik orang musyrik, padahal Allah telah jadikan harga diri itu milik Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Celakalah kalian! Tidak pedih dan terlukalah hati kalian melihat musuh-musuh Allah dan musuh kalian menyerang tanah air kalian yang telah disuburkan oleh bapak-bapak kalian dengan darah? Musuh menghina dan memperbudak kalian. Padahal dulu kalian adalah para pemimpin dunia! Tidaklah hati kalian bergetar dan emosi kalian meledak menyaksikan saudara-daudara kalian dkepung dan disiksa dengan berbagai siksaan dari musuh? Hanya makan minum dan bernikmat-nikmat dengan kelezatan hidup sajakah kalian. Sementara saudara-saudara mu disana berselimutkan jilatan api. Bergelut dengan kobarannya dan tidur diatas bara?&lt;br /&gt;   Wahai Manusia! Sungguh perang suci telah dimulai. Penyeru jihad telah memanggil. Pintu-Pintu langit telah terbuka. Jika kalian tidak mau menjadi pasukan berkuda dalam perang. Bukalah jalan untuk kaum wanita agar mereka bisa berperang! Pergi sajalah kalian dan ambillah kerikil dan celak mata. Wahai wanita bersurban dan berjenggot! Jika tidak, pergilah mengambil kuda-kuda. Inilah dia tali kekangnya untuk kalian…..! Wahai manusia, tahukah kalian dari apa tali kekang ini dibuat? Kaum wanita telah memintalnya dari rambut mereka. Karena mereka tidak punya apa-apa selain itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Demi Allah, Ini adalah gelungan rambut wanita-wanita pingitan yang belum pernah tersentuh oleh sinar matahari. Karena mereka sangat menjaga dan melindunginya; mereka terpaksa memotongnya karena zaman bercinta sudah selesai dan babak perang suci telah dimulai,babak baru perang di jalan Allah! Jika kalian masih tidak sanggup mengendalikan kuda, ambil saja tali kekang ini dan jadikanlah sebagai kucir dan gelang rambut kalian, Sebab tali kekang itu terbuat dari rambut wanita!&lt;br /&gt;   Sungguh, berarti tidak ada lagi perasaan dalam diri kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Setelah itu Ibnul Jauzi melempar tali kekang itu dari atas mimbar dihadapan khalayak ramai seraya berteriak lantang.&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 102, 255);"&gt; “Bergeraklah wahai tiang-tiang masjid. Retakkanlah wahai bebatuan, dan terbakarlah wahai hati! Sungguh hati ini sakit dan terbakar, para lelaki telah menanggalkan kejantanan mereka!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sudut Serambi Madinah; Subhan Husain (www.wimakassar.org)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-348380502497211530?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/348380502497211530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/sepucuk-surat-perjuangan-teruntuk-jiwa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/348380502497211530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/348380502497211530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/sepucuk-surat-perjuangan-teruntuk-jiwa.html' title='Sepucuk Surat Perjuangan; Teruntuk Jiwa-Jiwa Perindu Kemenangan'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-8477972847351084290</id><published>2011-12-15T19:21:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T19:27:06.971-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Thougst'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Word view'/><title type='text'>Membangun Peradaban Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila ada yang bertanya apa salahnya peradaban kita hari ini sehingga kalian begitu bersikeras ingin membangun peradaban yang ‘baru’?? Maka jawabannya peradaban kita hari ini begitu ambruk, jatuh, berantakan, tak terkendali dan tidak manusiawi. Sehingga untuk alas an kehidupan yang lebih baik, harus segera dikembalikan ke peradaban yang kuat, tinggi, teratur, terkendali dan manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas hidup yang kita saksikan setiap saat di media-media bahkan di lingkungan kita sebagai bukti itu semua. Penindasan, kesemena-menaan, korupsi, kesenjangan social, manipulasi, legalitas zina, dan yang paling parah kesyirikan yang merajalela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arti peradaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah populer dalam kalangan akademis, istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya”. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai “seni, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”. Namun, dalam definisi yang paling banyak digunakan, peradaban adalah istilah tentang penggabaran yang relatif dan kompleks untuk pertanian dan budaya kota. Peradaban dapat dibedakan dari budaya lain oleh kompleksitas dan organisasi sosial serta beragam kegiatan ekonomi dan budaya.&lt;br /&gt;Dari sini telah dapat dipahami bagaimana sebuah perdaban yang unggul itu seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/span&gt; dalam potongan haditsnya yang diriwayatkan imam Ahmad dan imam Addaarimiy tentang ketika datang kepada beliau seseorang yang ingin bertanya apa itu kebaikan dan dosa, maka beliau berkata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“istafti qalbaka!&lt;/span&gt; Bertanyalah pada hatimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, maka sekarang bertanyalah pada hati kita, bagaimana budaya kita? Bagaimana nilai seni, adat istiadat, kebiasaan dan kepercayaan masyarakat kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya kita hari ini adalah budaya yang sangat dipengaruhi oleh keyakinan dan gaya hidup orang kafir. Begitu pula seni, adat istiadat, kebiasaan bahkan pengamalan agama pun ikut-ikutan terpengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas hidup yang kami sebutkan di atas sama sekali bukan budaya kita, bukan adat kita, bukan ajaran agama kita. Namun itulah realitas, dan itu itulah peradaban yang hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam &lt;/span&gt;membangun peradaban&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kita harus kembali membuka lembaran sejarah untuk belajar bagaimana dahulu Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt; dalam membangun peradaban Islam. Dan dari sanalah kita harus belajar sebab sebagaimana kata imam Malik –rahimahullah-, la yasluhu hadzihil ‘ummah illa bima sholuhat awwaluhaa. Tidak mungkin bisa baik ummat hari ini, kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi yang awal. Dan masa itu diawali dengan peristiwa hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama generasi-generasi awal Islam menuju kota madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya dua pelajaran besar harus kita petik dari peristiwa ini, agar tidak salah langkah dan cita-cita kita terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Memakmurkan Masjid.&lt;/span&gt; Tak dapat disangkal, bahwa betapa besar perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan masjid, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar mengoptimalkan fungsi masjid. Bukan hanya untuk melakukan, sholat, mengaji, zikir, I’tikaf dll, akan tetapi disana pulalah pusat dakwah, pusat pendidikan dan pengajaran bahkan di masjid pula terkadang Rasululllah menyelesaikan masalah-masalah bahkan menjadi pusat komando prajurit bila terjadi peperangan. Hal ini menunjukkan bahwa untuk membangun beradaban yang gemilang maka ummat ini harus digiring untuk senantiasa memakmurkan masjid. Dan sebaliknya bila masjid telah ditinggalkan dan kita sibuk dengan rumah kita, toko kita, kantor kita, untuk segala urusan, maka hati akan saling berjauhan, berpisah-pisah, maka lahirlah nafsi-nafsi yang ujungnya adalah kehidupan manusia yang mirip realitas kita hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membangun persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah)&lt;/span&gt; guna tercapainya persatuan Islam (wahdah Islamiyah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diawal hijrahnya, langsung mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar sehingga terjadilah hubungan sosial yang baik, solidaritas yang kuat, perasaan sepenanggungan dan yang lebih hebat, sikap tolong-menolong yang begitu kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat persaudaraan mereka adalah persaudaraan agama, bukan lagi persaudaraan berdasarkan kesukuan sebagaimana yang berjalan sebelum itu. Melalui semangat persaudaraan Islam ini, maka persatuan Islam (wahdah Islamiyah) begitu kokoh, hasilnya, gelinding peradaban Islam yang mulia pun tak dapat dibendung oleh kekuasaan apapun saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini penting diperhatikan. Sebab realita tak dapat berkata dusta. Hari ini kita melihat kelompok-kelompok Islam sudah mulai berlebih-lebihan dalam mengidentifikasi diri. Hampir bila tidak tampak ukhuwah Islamiyah diantara mereka. Masing-masing merasa jalannya yang paling benar menuju penegakan Islam. Bahkan ada aroma kebanggaan “kullu hisbin bima ladaihim farihum” yang mulai terasa. Ini terlihat dari berbagai perseteruan yang kerap terjadi antara kelompok-kelompok Islam, dibanding usaha riil menuju persatuan (maaf aliran sesat tidak masuk dalam konteks pembicaraan). Sesama gerakan dakwah saling serang dan saling bantah. Aktivitas yang benar-benar menguras tenaga, mematikan potensi, dan melumpuhkan kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, dalam hal ini, harus ada usaha penyatuan yang khusus untuk mengikis runcingnya bilah perbedaan penyebab perseteruan. Kesatuan ummat Islam untuk sebuah peradaban yang maju akan terwujud cepat bila masing-masing memiliki kesadaran untuk memprioritaskan kesatuan dan lebih banyak mencari persamaan ketimbang  perbedaan. Lalu setelah itu bersama-sama menegakkan dien dalam ikatan persatuan yang kokoh. Karena untuk tercapainya iqomatuddien, membutuhkan banyak potensi yang bisa diarahkan pada satu ujung tombak perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membangun peradaban butuh pejuang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perbuatan yang dilakukan manusia, mengandung konsekuensi dipuji atau dicela. Dipuji oleh satu pihak dan dicela oleh pihak yang lain. Tak ada satupun tindakan yang dipuji oleh semua manusia meskipun itu tindakan yang sangat-sangat baik. Dan satupun juga tindakan yang dibenci oleh semua manusia di dunia, meskipun itu tindakan yang jelas-jelas jahat dan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu dalam membangun peradaban Islami dibutuhkan dari ummat ini orang-orang yang bermental pejuang yang tak haus pujian manusia, yang tak gemar memburu ridha manusia meski membuat Allah marah. Dan pula sabar menghadapi tantangan. Karena demikianlah kemenangan dijanjikan dengan kesabaran.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran itu dan bersiap-siagalah dan bertaqwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu meraih kemenangan.”&lt;/span&gt; (Terjemah QS. Ali Imran : 200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan mewujudkan peradaban Islam, peradaban yang bermartabat, yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya memerlukan waktu yang panjang. Untuk dapat menaklukkan konstantinopel, ummat Islam membutuhkan waktu sekitar 800 tahun. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam wafat sekitar tahun 636 M. semasa hidup beliau pernah mengabarkan bahwa Islam suatu ketika akan menaklukkan Konstantinopel. Ternyata penaklukan Konstantinopel baru terjadi pada tahun 1453 lalu pada tahun 1099 M, kota Yerussalem kembali jatuh ke tangan pasukan salib. Umat Islam baru merebut kembali kota Yerussalaem pada tahun 1187 M. itu artinya, umat Islam harus menunggu waktu selama 88 tahun untuk merebut kembali Yerussalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kini para pejuang harus sadar, bahwa perjuangan itu panjang, dibutuhkan pula nafas panjang agar bias tetap eksis di jalan perjuangan. Nafas itu harus terus bersambung dari generasi ke generasi, maka pendahulu harus mengkader generasi penggantinya ager benar-benar nafas perjuangan itu sampai di saat yang Allah tetapkan sebagai era indah dalam kehidupan manusia dibawah panji Islam dengan peradaban hidup yang madani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka seorang muslim pejuang harus terus berjuang betapapun keadaannya lebih sulit dari sebelumnya. Adapun kesulitan-kesulitan tidak selayaknya menghentikan dia untuk berjuang. Bahkan dia harus berjuang lebih gigih dari pada waktu lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Mohammad Natsir, pada 17 Agustus 1951 menulis sebuah artikel berjudul “Jangan berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.” kami kutip dari tulisan Dr. Adian Husaini majalah Islam ar-risalah, Desember 2009 hal. 32 beliau berpesan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dahulu mereka riang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu Negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan berates tahun yang lampau…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;    Semua orang menghitung pengorbanannya, dan minta dihargai. Sengaja ditonjol-tonjolkan kemuka apa yang telah dikorbankannya itu, dan menunntut supaya dihargai oleh masyarakat. Dahulu, mereka berikan pengorbanan untuk masyarakat dan sekarang dari masyarakat itu pula mereka mengharapkan pembalasannya  yang setimpal… sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat-sifat serakah. Orang bekerja tidak sepenuh hati lagi. Orang sudah keberatan memberikan keringatnya sekalipun untuk tugasnya sendiri. Segala kekurangan dan yang dipandang tidak sempurna, dibiarkan begitu saja. Tak ada semangat dan keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang diluar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Copy Paste dari tulisan Ust Syahrullah Hamid yang Diterbitkan di Buletin al-Balagh edisi 03 Muharram 1433 H dan http://wimakassar.org/wp/2011/12/16/membangun-peradaban-islam/)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-8477972847351084290?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/8477972847351084290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/membangun-peradaban-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8477972847351084290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8477972847351084290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/membangun-peradaban-islam.html' title='Membangun Peradaban Islam'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-8003967797422920560</id><published>2011-12-15T05:25:00.000-08:00</published><updated>2011-12-15T05:39:18.562-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Thougst'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Word view'/><title type='text'>Rahmatan Lil Alamin</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak lama setelah Nabi wafat Ummat Islam “mengusir” tentara Romawi dan “menduduki” Syria. Di zaman Umar Ibn Khatab kekaisaran Persia “ditaklukan” dan Palestina “dikuasai”. Pada awal abad VIII Spanyol dibawah kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth “ditundukkan” oleh Thariq bin Ziad. Di Mesidr ummat Muslim yang berada dibawah komando Amr bin al-As “memukul mundur” pasukan Bizantium dan “menguasai” orang-orang Kristen Koptik. Pada abad XV kota Kostantinople, salahsatu bagian dari kekaisaran Romawi “ditaklukan” panglima muda al-Fatih. Di dunia Melayu ummat Islam “mengusir” kepercayaan animisme, dinamisme dan agama-agama kultural lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah-istilah mengusir, menduduki, menaklukan, menguasai, mendesak dan sebagainya adalah bahasa politik dan bersifat negatif. Tapi apa yang sebenarnya terjadi  jauh dari kesan itu. Sebab, ketika Islam masuk Syria orang-orang Kristen merasa selamat dari Romawi dan Yunani. Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui “Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi”.&lt;br /&gt;Ketika pasukan Muslim dibawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya. Isinya “kami lebih bersimpati kepada saudara daripada orang-orang Romawi, meskipun seagama dengan kami ... Pemerintah Islam lebih adil dari pemerintah Byzantium”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menadatangani perjanjian. Diantara isinya:” ... gereja tidak akan berubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, ... salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu ... dan tidak seorangpun dintara mereka akan dianiaya”. Orang tidak pernah konflik dengan ummat Kristen. Justru konflik antar sekte di Gereja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Holy Sepulrchre, atau the Chuch of the Resurrection &lt;/span&gt; didamaikan oleh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Aziz Marwan Gubernur Mesir memberi izin orang-orang Kristen pegawai istana untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen, Yahudi hidup damai bertahun-tahun. Seorang specialist sastara Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Ornament of the Word &lt;/span&gt;(2003) berterus terang. Ia menulis “Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non Muslim lebih baik daripada dibawah Kristen Eropah”.Tapi berakhirnya kekuasaan Islam, berakhir pula  toleransi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika fakta-fakta ini dicermati, istilah menguasai, menaklukan, mengusir, dan bahkan menjajah tidak layak untuk dipakai. Yang lebih cocok, sesuai dengan namanya,Islam ‘menyelamatkan’  atau ‘membebaskan’ bangsa-bangsa tertindas. Maka tidak heran jika Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menyatakan:”Kemenangan kaum Muslimin berarti kebebasan beragama (bagi non Muslim), sesuatu yang  telah berabad-abad mereka dambakan”. Anehnya Bernard Lewis menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal-usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat Islam yang lain ada dalam keseluruhan ajarannya. Syariatnya menjaga jiwa, keturunan, agama, harta dan akal manusia dari kehancuran. Ritual peribadatannya menyentuh aspek jiwa dan raga, aspek sosial dan individual, aspek spritual dan material. Prinsip hidupnya seimbang tidak materialis tidak spritualis, tidak melulu dunia atau melulu akhirat. Sayyid Qutb mensifatinya dengan istilah tawazun.  Pengharagaannya pada orang kaya dan orang miskin, pria dan wanita sama meski tidak harus memakai toeri gender dan diklaim sosialistis atau feministis.&lt;br /&gt;Konsep Tuahannya “transenden” artinya jauh dan tak terjangkau. Tidak serupa apapun, karena itu tidak bisa diberhalakan. Tapi juga “immanen”, lebih dekat dari urat nadi kita. Dan yang terpenting Allah dalam Islam  bersifat Alim  (Maha Tahu). Karena itu wahyu yang diturunkan-Nya sarat dengan perintah berfikir dan mencari ilmu. Dari kitab suci itupula lahir berbagai disiplin ilmu. Ulum Al Qur’an, Tafsir, Hadits, Fiqih, Kalam, Tasawuf, mawarits, Nahwu dan sharaf lahir dari sebab memahami al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah rahaisianya mengapa Islam menjadi rahmat  dunia dengan ilmu. Dengan iman dan ilmu khazanah keilmuan Yanani, Persia, India, Mesir dan sebagainya  dihidupkan. Dari India Muslim menemukan angka nol. Asas bagi matematik dan ilmu komputer masa kini. Di Pesria Ibnu Syatir mengembangkan astronomi yang buku-bukunya mengispirasi Coperniscus menemukan teori heliosentrisme. Di Baghdad Ibn Haitham menemukan teori optick.Tanpa teori ini camera tidak akan pernah wujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Umayyah di Spanyol dan Abbasiyah di Baghdad budaya ilmunay sangat tinggi. Di Cordoba saja terdapat 75 perpustakaan. Lebih ramai dari mall di zaman postmodern. Di Baghdad koleksi seorang Ulama mencapai 400 judul  buku. Menjadi ulama lebih bergengsi daripada menjadi pengusaha. Inilah peradaban ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ilmu bukan sekadar ilmu, tapi juga menjadi amal alias teknologi.Di Spanyol waktu itu irigasinya tercanggih di dunia. Hasil panennya memberi makan orang Spanyol yang kelaparan dan tertindas. Tatakotanya tidak ada duanya di Eropah. Menurut Tertius Chandler dalam, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census&lt;/span&gt; populasi Cordoba waktu itu sekitar 500 ribu, mengalahkan Konstantinopel. Kemakmurannya mengalahkan penduduk Eropah. Sains dan teknologi yang lahir karena  al-Qur’an dan kecerdasan jiwa-jiwa yang beriman dan betauhid. Itulah “misykat” kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid inilah yang digambarkan dalam al-Qur’an surah Ibrahim (24-25) sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“kalimat tayyibah”&lt;/span&gt; (kalimat yang baik), dan peradaban ilmunya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“syajarah tayyibah&lt;/span&gt;” (pohn yang baik). Pohon itu memberi makan atau menghidupi orang pada setiap musimnya, dengan izin Tuhannya. Tujuannya satu, “agar mereka ingat nikmat Tuhannya”. Tapi begitulah manusia, banyak yang telah memakan buah (rahmat) peradaban Islam dan banyak yang tidak ingat. Allah Maha Besar.(Disalin dari tulisan Dr Hamid Fahmi Zarkasyi (Direktur INSISTS) di Jurnal Pemikiran Islam Republika-ISLAMIA Edisi Kamis,23 Oktober 2011,hlm.26).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-8003967797422920560?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/8003967797422920560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/rahmatan-lil-alamin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8003967797422920560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8003967797422920560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/12/rahmatan-lil-alamin.html' title='Rahmatan Lil Alamin'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5511755048485346163</id><published>2011-11-27T17:57:00.000-08:00</published><updated>2011-11-27T18:02:40.536-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buletin al Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Thougst'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islamic Word view'/><title type='text'>Belajar Fisika Secara Islami</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“Apakah Ilmu Fisika mungkin dipelajari tidak secara islami?”  Dengan kata lain,  “Apakah ada cara mempelajari Fisika yang Islami atau tidak Islami?”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, terutama karena ada kesalahfahaman yang menggelayuti banyak orang tentang konsep dan proses Islamisasi ilmu kontemporer. Masih ada saja yang membayangkan bahwa Islamisasi sains berarti membuat&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “pesawat terbang Islam”&lt;/span&gt;, atau&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “mesin islam”&lt;/span&gt;. Atau, masih ada juga yang mengira bahwa Islamisasi hanyalah semata-mata berarti “mencocok-cocokkan” atau menjustifikasi ayat al-Qur’an dengan temuan sains  atau sebaliknya (lihat tulisan Budi Handrianto “Meluruskan Konsep Islamisasi Sains”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang ada cara tertentu untuk mempelajari Fisika secara Islami,  pertanyaan selanjutnya, &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;“Apa perlunya mempelajari ilmu Fisika secara Islami? &lt;/span&gt;Hal ini dapat dijawab dari dua sisi. &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama, &lt;/span&gt; bahwa dalam Islam, tujuan utama dari setiap pendidikan dan ilmu adalah tercapainya ma’rifatullah (mengenal Allah, Sang Pencipta), serta lahirnya manusia beradab, yakni manusia yang mampu mengenal segala sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terkecuali saat seorang Muslim mempelajari Ilmu Fisika. Ia tak hanya bertujuan semata-mata untuk menghasilkan terobosan-terobosan sains atau temuan-temuan ilmiah baru; bukan pula menghasilkan tumpukan jurnal-jurnal ilmiah semata-mata atau gelimang harta kekayaan saja. Tapi, lebih dari itu, seorang Muslim melihat alam semesta sebagai ayat-ayat Alllah. “Ayat” adalah tanda.Tanda untuk menuntun kepada yang ditandai, yakni wujudnya al-Khaliq. Allah menurunkan ayat-ayat-Nya kepada manusia dalam dua bentuk, yaitu ayat tanziliyah (wahyu yang verbal, seperti al-Quran) dan ayat-ayat kauniyah, yakni alam semesta. Bahkan, dalam tubuh manusia itu sendiri, terdapat ayat-ayat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang tidak mampu menggunakan potensi inderawi dan akalnya untuk mengenal Sang Pencipta. Mereka disebut sebagai calon penghuni neraka jahannam dan disejajarkan kedudukannya dengan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi (QS 7:179).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang ternak bekerja secara profesional sesuai bidangnya masing-masing. Dengan itu, ia mendapat imbalan untuk menuruti syahwat-syahwatnya. Makan kenyang, bersenang-senang, istirahat, lalu mati. “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan (di dunia) seperti layaknya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS 47:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua, &lt;/span&gt;tujuan pendidikan nasional adalah bahwa ia harus menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,..”. Pertanyaannya, “Apakah pendidikan dan pengajaran sains sudah ditujukan membentuk manusia beriman, bertakwa dan berakhlak mulia?”, “Apakah buku-buku pelajaran dan buku-buku teks Fisika sudah ditujukan untuk hal tersebut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Mempelajari Ilmu Fisika secara Islami dimulai dari Islami atau tidaknya fikiran seorang fisikawan. Bagaimana cara pandang seorang fisikawan terhadap alam, bagaimana konsep ia tentang ilmu, dan bagaimana konsepnya tentang Tuhan. Cara pandang inilah yang menentukan apakah ia mempelajari sains secara islami atau tidak, dan cara pandang inilah yang dikenal sebagai pandangan-alam (worldview). Fikiran seorang fisikawan akan memahami benar bahwa ada keterkaitan yang erat antara ilmu (‘ilm), alam (‘alam), dan Pencipta (al-Khaliq).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘ilm sendiri berasal dari kata dasar yang terdiri, ‘a-l-m, atau ‘alam. Makna yang dikandungnya adalah ‘alaamah, yang berarti “petunjuk arah”. Menurut al-Raghib al-Isfahani al-‘alam adalah “al-atsar alladzi yu’lam bihi syai’” (jejak yang dengannya diketahui sesuatu). Dalam karyanya Knowledge Triumphant The Concept of Knowledge in Medieval Islam,  Rosenthal  memberikan pandangan tentang adanya keterkaitan erat secara bahasa antara ilmu pengetahuan dengan petunjuk jalan yaitu bahwa, the meaning of “to know” is an extension, peculiar to Arabic, of an original concrete term, namely, “way sign.”…the connection between “way sign” and “knowledge” is particularly close and takes on especial significance in the Arabian environment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai keterkaitan antara adanya Pencipta dengan alam, sangat menarik jika kita simak pandangan Dr. Mohd. Zaidi Ismail, pakar Islamic Science, bahwa prototipe dari Natural Science khususnya dalam arti modernnya, dalam tradisi keilmuan dan sains Islam disebut sebagai ‘ilm al-tabii’ah (the science of nature). Kata al-tabii’ah tidak seperti kata bahasa Inggris “nature (alam)” yang menyiratkan keabadian dunia, diambil dari akar kata t-b-’a atau tab’a, yang berarti “dampak atas sesuatu (ta’thir fii…), “penutup (seal), atau “jejak (stamp)” (khatm), maka ia menyiratkan “sifat atau kecenderungan yang dengannya makhluk diciptakan” (al-sajiyyah allatii jubila ‘alayha). Semua arti tersebut “mengasumsikan” adanya Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi alam tidak dipelajari semata-mata karena alam itu sendiri, namun alam diteliti karena ia menunjukkan pada sesuatu yang dituju yaitu mengenal Pencipta alam tersebut. Sebab alam adalah “ayat” (tanda).  Fisikawan yang mempelajari alam lalu berhenti pada fakta-fakta dan data-data  ilmiah, tak ubahnya seperti pengendara yang memperhatikan petunjuk jalan, lalu ia hanya memperhatikan detail-detail tulisan dan warna rambu-rambu itu. Ia lupa bahwa rambu-rambu itu sedang menunjukkannya pada sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sejalan dengan makna ilmu dalam Islam seperti ditunjukkan oleh Jurjani dalam at-Ta’rifaat bahwa ilmu adalah “hushuul shurat asy-Syai’ fi al-‘Aql” (sampainya makna sesuatu pada akal) namun juga “wushul an-nafs ilaa ma’na asy-syai’” (tibanya jiwa pada makna sesuatu). Sejalan dengan hal ini, pakar Filsafat Sains, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menjelaskan:&lt;br /&gt;“Pada hakikatnya sesuatu itu, seperti juga kata, adalah sebuah petunjuk (tanda) atau simbol, dan petunjuk atau simbol adalah sesuatu yang dzhair dan tak terpisahkan dari sesuatu yang lain yang tak dzahir. Sehingga tatkala yang pertama itu sudah dapat ditangkap, dan yang bersifat dengan sifat yang sama dengan yang pertama itu tadi dapat diketahui. Oleh sebab itu kami telah mendefisnisikan ilmu secara epistemologis sebagai sampainya arti sesuatu itu ke dalam jiwa, atau sampainya jiwa pada arti sesuatu itu. “Arti sesuatu itu” berarti artinya benar, dan apa yang kami anggap sebagai arti yang ”benar” itu, pada pandangan kami ditentukan oleh pandangan Islam (Islamic vision) tentang hakikat dan kebenaran sebagaimana yang diproyeksikan oleh sistem konseptual al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketercerabutan “makna” dan peran alam sebagai “ayat”, sesungguhnya merupakan dampak dari sekularisme sebagaimana disebutkan Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam karya besarnya,  Islam and Secularism. Sekularisme telah menyebabkan dicabutnya kesakralan alam dan hilangnya pesona dari alam tabii (disenchantment of nature). Akibatnya alam tak lebih dari sekedar objek, tak punya makna dan tak ada nilai spiritual (lebih lanjut lihat tulisan Wendi Zarman “Fisika dan Metafisika Islam Perlu Disatukan Lagi”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep-konsep inilah yang akan membentuk cara pandang Fisikawan Muslim, dan dari pandangan-alam (worldview) inilah Fisika bisa dipelajari secara Islami. Aspek-aspek lain dalam dunia ilmiah seperti kejujuran ilmiah, “objektifitas”, sikap ilmiah seperti menerima kritik, mengakui kesalahan dan menerima kebenaran, lahir dari pandangan-alam ini. Sikap ilmiah dalam Islam bukan lahir semata-mata dari etika ilmiah itu sendiri, namun ia lahir dari suatu pandangan-alam (worldview) dan sebagai hasil dari pengenalannya terhadap Pencipta alam (ma’rifatullah). Worldview inilah yang telah membentuk pribadi para saintis Muslim terdahulu beserta karya-karya besar mereka yang gemilang (lihat “Fisikawan Muslim Mengukir Sejarah”, John Adler).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Konsep Adab terhadap alam juga kemudian lahir dari pandangan-alam Islam (Islamic worldview) ini. Dengannya,  seorang saintis akan memperlakukan dan memanfaatkan alam dengan adab yang benar. Lalu lahirlah konsep sikap ramah lingkungan yang Islami, yang didasarkan bukan semata-mata karena alasan keterbatasan sumber daya alam, namun kesadaran bahwa alam ini bukanlah milik manusia, namun ia adalah amanah dan sekaligus juga ayat-ayat Allah. Hanya dengan pandangan-alam seperti inilah, akan lahir manusia beradab dan berakhlak, seperti yang dicita-citakan dalam tujuan pendidikan kita saat ini.&lt;br /&gt;Prof. Naquib al-Attas mengingatkan, bahwa hilangnya adab terhadap alam – sebagai ayat-ayat Allah – inilah yang telah menyebabkan kerusakan besar di alam semesta. Belum pernah terjadi dalam sejarah manusia, alam mengalami kerusakan seperti saat ini, di mana ilmu pengetahuan sekuler merajai dunia ilmu pengetahuan. Akar kerusakan ini adalah ilmu pengetahuan (knowledge)  yang disebarkan Barat, yang telah kehilangan tujuan yang benar.&lt;br /&gt;Ilmu yang salah itulah yang menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang membawa perdamaian dan keadilan; ilmu yang seolah-olah benar, padahal memproduksi kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism). Bahkan ilmu pengetahuan sekuler ini untuk pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam ‘the Three Kingdom of Nature’ yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral.  &lt;br /&gt;Menurut al-Attas, dalam peradaban Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat dan menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan. (Man is deified and Deity humanised).  (Lihat, Jennifer  M. Webb (ed.), Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society,  (Victoria, The Cranlana Program, 2002), 2:231-240).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu bidang ilmu pengetahuan yang mengalami perkembangan sangat pesat, Ilmu Fisika terbukti telah membawa banyak manfaat bagi umat manusia.  Wajib sebagian kaum Muslim menguasai ilmu ini. Tetapi, cara pandang dan cara belajar seorang Muslim akan berbeda dengan yang lain. Sebab, bagi Muslim, alam semesta adalah ayat-ayat Allah, yang dipelajari – bukan sekedar untuk mengungkap temuan-temuan baru – tetapi juga untuk mengenal Sang Pancipta. (http://insistnet.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=164%3Abelajar-fisika-secara-islami&amp;amp;catid=22%3Asains-islam&amp;amp;Itemid=21)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5511755048485346163?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5511755048485346163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/belajar-fisika-secara-islami.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5511755048485346163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5511755048485346163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/belajar-fisika-secara-islami.html' title='Belajar Fisika Secara Islami'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-2181511265351590318</id><published>2011-11-24T14:53:00.000-08:00</published><updated>2011-11-24T14:56:58.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ayat Kauniyah'/><title type='text'>Perisai Yang Retak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;    Bumi diciptakan Allah sebagai tempat tinggal manusia yang paling nyaman. Ada tanah sebagai tempat berpijak , air untuk minum, serta udara untuk bernafas. Allah pula yang menciptakan matahari sebagai sumber panas alami, yang memberkn energy bagi setiao kehidupan di bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;    Dan demi kenyamanan manusia pula, Allah menciptakan lapisan ozon yang menyelimuti bumi. Lapisan yang terbentuk dari rangkaian tiga atom oksigen ini adalah  selimut pelindung yang mencegah masuknya sinar ultraviolet matahari. Meski sangat tipis dibandingkan dengan lapisan atmosfer, namun lapisan ozon ibarat perisai yang menyelamatkan kehidupan di bumi. Sebab, sinar ultraviolet memiliki efek yang sangat merusak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;    Sayangnya, perilaku manusia semakin lama justru semakin merusak lapisan ozon. Perisai pelindung bumi ini terancam berlubang . Bahkan, di kutub selatan , lubangnya sudah mencapai 27 juta kilometer persegi. Luas ini lebih besar dibandingkan dengan luas daratan Amerika Utara yang hanya 25 juta kilometer persegi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;    Lubang ozon adalah sebutan bagi kondisi menipisnya lapisan ozon. Adalah  gas kimia pencemar udara  yang memicu menipisnya lapisan ozon.Bahan-bahan kimia perusak lapisan ozon ini terutama berasal dari chlorofluorocarbons (CFC) yang digunakan dalam berbagai produk proses seperti lemari es , pendingin udara, dan proses pembuatan busa lembut sebagai cairan pembersih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;    Bahan-bahan pencemar tersebut dihasilkan oleh manusia yang ingin hidup lebih nyaman. Namun, akibat jangka panjangnya justru membuat kehidupan bumi terancam bahaya. Sebab, menipisnya lapisan ozon berarti menambah jumlah ultraviolet matahari yang bisa meusak kehidupan bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: arial;"&gt;“Telah nyata kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt; (QS:Ar-Rum:41)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-2181511265351590318?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/2181511265351590318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/perisai-yang-retak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2181511265351590318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2181511265351590318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/perisai-yang-retak.html' title='Perisai Yang Retak'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5888040301082669214</id><published>2011-11-07T03:41:00.000-08:00</published><updated>2011-11-07T03:46:18.207-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sirah'/><title type='text'>Ibrahim Sang Teladan</title><content type='html'>Setiap memasuki bulan Dzulhijjah (idul adha), memori sejarah kita kembali membuka dirinya. Ia mengajak kita mengenang kembali satu manusia agung yang menciptakan arus besar sejarah ummat manusia dan membentuk arah kehidupan kita. Dialah Ibrahim ‘alaihissalam, salah seorang Rasul Ulul Azmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua keutamaan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, beliau adalah seorang Nabi yang disebut Allah sebagai &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;“ummat”&lt;/span&gt;. Allah Ta’ala berfirman: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang ummat (imam) yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”&lt;/span&gt; [QS. al-Nahl: 120].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Yang kedua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;,&lt;/span&gt; Allah juga menyebut Ibrahim sebagai qudwah, teladan. Dalam Al Qur’an, hanya dua sosok yang disebutkan secara tegas sebagai teladan, yaitu Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam (QS al Ahzab: 21) dan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (QS Al Mumtahanah: 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dua pertimbangan tersebut, kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi sangat penting diperhatikan. Banyak hal yang dapat diteladani dari kehidupan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam Artikel ini akan menguraikan empat hal yang hendaknya diteladani dari kehidupan Nabi bergelar khaliilullah (kekasih Allah) tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; Ketundukan secara Total kepada Ketentuan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ibrahim diperintahkan Allah membawa keluarganya ke Makkah yang saat itu belum dihuni seorang manusia pun. Beliau bersama anak dan istri tercinta menempuh jarak yang tidak dekat. Namun rasa penat belum lagi hilang, keringat belum mengering, beliau diperintahkan Allah pergi meninggalkan keluarganya di lembah tandus tak berpenghuni.&lt;br /&gt;Beliau pergi dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah. Sikap taat ini tidak hanya dimiliki Ibrahim, tetapi tertanam pula di dalam sanubari sang istri dan mengalir dalam darah dan daging sang anak, Ismail ‘alaihissalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki seorang Muslim. Senantisa tunduk dan patuh kepada setiap perintah Allah. Inilah hakikat dan bukti komitmen keislaman kita. Sebab, hakikat Islam adalah ketundukan secara total kepada sang Pencipta. Seorang Muslim ketika berhadapan dengan perintah Allah, maka yang terbesit dalam pikirannya adalah usaha menunaikan perintah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua;&lt;/span&gt; Konsistensi dalam Memegang Prinsip.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim ‘alaihissalam adalah teladan dalam keteguhan memegang prinsip dan aqidah yang diyakininya. Demi mempertahanan keyakinannya, beliau berhadapan dengan seorang penguasa dzalim yang memaksakan pemahaman yang bertentangan dengan nilai-nilai tauhid. Bahkan beliau dilemparkan ke dalam kobaran api,sebagai balasan yang harus beliau rasakan setelah menghancurkan patung-patung yang disembah oleh kaumnya.Ibrahim melakukan hal itu dalam usia yang masih sangat muda. Hal ini sebagaimana diabadikan dalam ayat Al Qur’an :&lt;span style="font-style: italic;"&gt;” Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, namanya Ibrahim&lt;/span&gt; (QS Al Anbiya :58-60).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian yang dihadapi Nabi Ibrahim tidak hanya berasal dari luar. Bahkan ujian dalam keluarga juga menjadi bagian dari cobaan yang harus dilewati oleh Ibrahim ‘alaihissalam dalam mempertahankan dan memperjuangkan idealisme aqidah tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat Al Qur’an Allah mengabadikan dialog antara Ibrahim dengan ayahnya yang penyembah bahan pembuat berhala. Azar, ayah Ibrahim, mengancam akan merajam Ibrahim jika beliau tidak menghentikan da’wah tauhidnya. Dialog tersebut dapat kita baca dalam QS:Maryam: 46.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim adalah sosok yang teguh mempertahankan idealism,bukan hanya disaat masih muda. Tetapi beliau terus mempertahankan idealismenya higga usia tua bahkan sampai mati.Hal tersebut Nampak dengan jelas ketika beliau mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putra tercinta ,Ismail ,anak satu-satunya yang telah dinantikan kehadirannya semenjak bertahun-tahun. Ibrahim ‘alaihissalam menaati perintah Allah tersebut yang secara psikologis terasa lebihberat dari sekadar meluluhtantakkan berhala. Ini membuktikkan kepada kita Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang sangat dibutuhkan dalam membangun bangsa ini. Jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya mengkritik system tetapi diusia tuanya menjadi bagian dari siste rusak yang dahulu sewaktu Mahasiswa selalu dikrtiknya.Jangan sampai ada aktivis pegrerakan yang getol menentang kezaliman, tapi ketika ia berkuasa pada usia yang lebih tua justeru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia berkuasa di usianya yang sudah semakin tua justeru ia sendiri yang melakukan korupsi, padahal dahulu sangat ditentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemuda dan mahasiswa muslim hendaknya meneladani Nabi Ibrahim dalam mempertahankan keyakinan. Bersabar saat diuji dengan kesulitan dan bersabar pula tatkala duji dengan kemudahan dan kemewahan. Banyak orang yang sanggup bertahan ketika diuji dengan kesulitan, tetapi tidak berdaya saat diuji dengan kemudahan. Sering kita dengar, mantan aktivis organisasi mahasiswa menjadi pragmatis setelah hidup mapan. Padahal sewaktu kuliah mereka dikenal sebagai aktivis dengan idealisme yang kokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu menjadi anggota &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“parlemen jalanan”&lt;/span&gt; mereka begitu vocal menyampaikan kritik terhadap penguasa,tetapi ketika menjadi anggota parlmen sungguhan ,mereka justru mengamini bahkan mendukung berbagai kebijakan penguasa yang tidak memihak kepada kepentingan ummat.Padahal dahulu merekalah yang paling nyaring suaranya mengkritik hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari renungkan peringatan Nabi Muhammad &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt; dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidziy dalam Sunannya :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Janganlah kamu menjadi imma’ah (orang yang ikut-ikutan) dengan mengatakan kalau orang lain berbuat baik, kamipun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kamipun akan berbuat zalim. Tetapi teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan kami berbuat kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan kami tidak akan melakukannya&lt;/span&gt;" (HR. Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;Peka Problem.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim ‘alaihissalam adalah sosok yang peka problem. Ketika tidak ada orang yang peduli bahkan larut pada penyimpangan aqidah di masyarakat seperti menyembah bintang dan berhala, sensitifitas Ibrahim sebagai seorang yang bertauhid muncul. Ia bangkit mengubah penyimpangan aqidah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditempuhnya berbagai macam cara dan sarana untuk memperbaiki kondisi masyarakat. Ia berdialog dengan hikmah, debat dengan cara terbaik (ahsan) bahkan sampai melakukan tindakan secara fisik (mengubah dengan tangan). Patung-patung yang disembah kaumnya dengan kapak hingga hancur berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemuda dan mahasiswa Muslim yang memiliki idealisme, harusnya peka terhadap berbagai problem yang melanda Ummat Islam. Peka problem juga bermakna pemuda Muslim harus mampu mengendus problem paling krusial yang menimpa ummat.&lt;br /&gt;Sesungguhnya problem paling pelik yang menimpa ummat Islam hari ini tidak berbeda dengan masalah yang dihadapi nabi ibrahim yaitu masalah kerusakan aqidah. Upaya perusakan aqidah tersebut diusung dengan jargon-jargon yang kelihatannya ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya dekontrusi syari’ah, liberalisasi, bahkan sampai desakralisasi kitab suci disebarkan dengan kemasan yang mengatasnamakan pembaharuan dan pencerahan.&lt;br /&gt;Pemuda Muslim seharusnya berada di garda terdepan dalam menghadang berbagai upaya penodaan dan perusakan terhap Islam. Sebagaimana dahulu Nabi Ibrahim memberantas kerusakan aqidah di tengah-tengah ummatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keempat,&lt;/span&gt; Bertindak Cerdas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘alaihissalam &lt;/span&gt;telah memadukan antara sikap kritis dan peka problem dengan kecerdikan dalam bertindak. Sikap kritis tidak lantas membuat beliau bertindak tanpa perhitungan. Betul, beliau menghancurkan patung-patung yang disembah oleh Namruz dan rakyatnya. Tetapi beliau telah menyiapkan argumen yang cerdas untuk menjawab tuduhan dan tuntutan para penyembah berhala tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tidak menghancurkan semua patung yang ada. Beliau masih menyisakan satu patung yang paling besar dan meletakkan kapak di leher patung tersebut. Maksudnya adalah la’allahum ilaihi yarji’uun, agar mereka kembali kepadanya. Ibrahim hendak menghentak kesadaran mereka bahwa apa yang mereka lakukan sebenarnya keliru dan bertentangan dengan fitrah serta akal sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian tersadar bahwa sesembahan yang mereka ibadahi adalah Dzat yang tidak pantas untuk disembah. Berhala-berhala tersebut tidak sanggup memberi manfaat dan menolak mudharat. Berhala-berhala itu tidak kuasa membela diri ketika dihancurkan Nabi Ibrahim, bahkan hanya untuk sekadar berkata-kata. Jadi, Ibrahim tidak sekadar menghancurkan sarana kesyirikan, tetapi mengajak para pelaku kesyirikan untuk merenung mengakui kesalahan mereka. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallaahu waliyyuttaufiyq&lt;/span&gt;.[Bogor 8/Dzulhijjah/1432 H]&lt;br /&gt;(Dimuat di Eramuslim.com pada tanggal 11 dzulhijjah 1432 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5888040301082669214?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5888040301082669214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/ibrahim-sang-teladan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5888040301082669214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5888040301082669214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/ibrahim-sang-teladan.html' title='Ibrahim Sang Teladan'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-8519005606618633435</id><published>2011-11-06T07:38:00.000-08:00</published><updated>2011-11-06T07:56:45.653-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Usrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Abawiyah'/><title type='text'>Setetes Darah Istri Tercinta</title><content type='html'>SUBUH itu kami baru saja menikmati sahur pertama bulan Ramadhan, ketika tiba-tiba istri saya mengeluh sakit perutnya. Sempat muncul tanda tanya apakah istri saya akan melahirkan, tetapi kami sempat ragu karena HPL-nya masih 11 hari lagi. Agar tak salah penanganan, kami segera memeriksakan diri ke bidan terdekat di Tambak¬beras, Jombang. Ternyata, bidan Sri Subijanto melarang pulang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sudah bukaan lima,”&lt;/span&gt; kata Bu Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Sri mendampingi beberapa saat. Barangkali dirasa masih agak lama, Bu Sri meninggalkan ruangan bersalin. Meski hanya sebentar, tapi ternyata inilah saatnya bayi saya lahir. Dengan ditemani seorang pembantu bidan dan Bu Lik (tante), saya mendampingi istri melewati saat-saat yang mendebarkan. Di saat-saat terakhir, istri saya nyaris kehabisan tenaga. Tak berdaya. Ingin sekali saya mengusap keringat di keningnya, tetapi tak ada saputangan di saku saya. Lalu, saya coba menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan psikis. Saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi saya lihat ada semangat yang bangkit lagi. Sedangkan di matanya, kulihat airmata yang hampir menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin sekali rasanya berlari memanggil bidan, tapi tak tega meninggalkannya. Saya hanya berharap Allah akan memberi pertolongan. Alhamdulillah, hanya satu jam di ruang bersalin, anak saya lahir. Seorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedih, tidak gembira. Hanya perasaan haru yang menyentuh ketika saya membersihkan kain yang penuh dengan darah dan kotoran istri. Setetes darah istriku telah mengalir untuk lahirnya anakku ini. Ia merelakan rasa sakitnya untuk melahirkan. Ia telah mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan anaknya. Maka, apakah aku akan membiarkan anak-anakku hanya tumbuh besar begitu saja tanpa pendidikan yang betul-betul baik dan terarah? Rasanya, terlalu berharga pengorbanan istriku jika aku tak serius membesarkan anak-anak yang dilahirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam kupandangi anakku. Ingin kusentuh ia dengan tanganku. Tetapi aku harus bersabar dulu. Setelah asisten bidan selesai mengurusinya, kurengkuh ia dalam pelukanku. Lalu kuperdengarkan di telinganya azan dan iqamah yang kuucapkan dengan suara terbata-bata. Semoga ucapan awal ini membekas dalam hati dan jiwanya, sehingga kalimat ini memberi warna bagi kehidupannya. Konon ungkapan-ungkapan awal pada masa komunikasi pra-simbolik ini akan banyak menentukan anak di masa-masa beri¬kutnya. Begitu bunyi teori komunikasi anak yang pernah saya pinjam saat menulis buku Bersikap terhadap Anak (Titian Ilahi Press, Jakarta, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kupandangi anakku. Tubuhnya yang masih sangat lemah, terbungkus kain yang saya bawa dari rumah. Hatiku terasa gemetar melihatnya. Saya teringat, ada satu peringatan Allah agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Allah Ta’ala meng¬gunakan perkataan, “… hendaklah kamu takut….” Tetapi saya dapati dalam diri saya, masih amat tipis rasa takut itu. Lalu dengan apa kujaminkan nasib mereka jika rasa ta¬kut ini masih belum menebal juga? Ya Allah, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, dan aku dapati diriku ini masih termasuk orang-orang yang zalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam kupandangi anakku sekali lagi. Kuusap-usap kepalanya. Kukecup keningnya, seraya dalam hati aku mohonkan kepada Allah keselamatan dan kemuliaan hidupnya. Pengalaman menemani istri di detik-detik persalinannya telah mengajarkan kepadaku sesuatu yang sangat berharga, &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;“Anak yang dilahirkan dengan darah dan air¬mata ini, jangan pernah disia-siakan. Ibu yang melahirkan anak ini, jangan pernah dinis¬takan.”&lt;/span&gt; Mereka adalah amanat yang telah kuambil dengan kalimat Allah, dan semoga Allah memampukanku untuk mempertanggungjawabkannya di hari kiamat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasakan pengalaman mendampingi detik-detik persalinan istri, saya merasa sangat heran terhadap para suami yang masih tega menampar istri atau menyia-nyiakan anaknya. Saya juga merasa sangat heran terhadap sebagian rumah sakit yang masih saja melarang suami terlibat langsung dalam proses persalinan istrinya, sebagaimana ketika istri saya melahirkan anak pertama saya di Kendari. Padahal keterlibatan suami dalam proses persalinan dari awal sampai akhir, sangat besar manfaatnya. Baik bagi istri maupun bagi hubungan ayah dengan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan psikis (attachment) antara ayah dengan anak akan lebih mudah terben¬tuk apabila ayah berkesempatan menyaksikan secara langsung detik-detik persalinan itu. Di sisi lain, saya kira seorang istri akan merasa sangat berbahagia kalau suaminya bersedia men¬dampinginya di saat ia sangat membutuhkan dukungan psikis dan kehangatan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah istri saya lebih bahagia dengan kehadiran saya mendampinginya. Tetapi saya kira Anda –para ummahat— akan lebih senang jika suami Anda bersedia mendampingi persalinan Anda. Bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Fauzil Adhim/www.hidayatullah.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-8519005606618633435?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/8519005606618633435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/setetes-darah-istri-tercinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8519005606618633435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8519005606618633435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/setetes-darah-istri-tercinta.html' title='Setetes Darah Istri Tercinta'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-3305809641237677114</id><published>2011-11-03T19:28:00.000-07:00</published><updated>2011-11-03T19:49:30.740-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Teladan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khutbah &apos;Ied'/><title type='text'>MEMBANGUN JIWA KEPEMIMPINAN DENGAN SIFAT TAUHID DAN SEMANGAT PENGORBANAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;(Khutbah Seragam  Idul Adha 1432 H Wahdah Islamiyah)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.&lt;br /&gt;( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )&lt;br /&gt;( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) &lt;br /&gt;( يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا )&lt;br /&gt;أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tiada ungkapan yang paling indah pada pagi hari ini melebihi kesyukuran kepada Allah&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Ta'ala&lt;/span&gt;  dengan melantunkan takbir, tahmid dan tahlil. Semangat berkurban yang merasuk ke dalam jiwa kaum mukminin, membangkitkan keimanan untuk senantiasa beramal saleh dan berbuat untuk agama Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;. Semuanya dilakukan atas dasar bakti dan syukur kepada Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala&lt;/span&gt; , sehingga berbuah kebahagiaan yang bermuara pada ungkapan Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu, Walillahi al-Hamdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penyembelihan hewan kurban pada setiap Idul Adha senantiasa mengingatkan umat Islam pada perintah AllahTa'ala  kepada kekasih dan rasul utusanNya, yaitu Nabi Ibrahim   untuk menyembelih anak semata wayangnya pada saat itu, yaitu Ismail  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt;  sebagai ujian terberat dalam kehidupannya. Perintah ini dipatuhi oleh Nabi Ibrahim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt;, namun penyembelihan anak kesayangannya pada akhirnya terganti dengan seekor domba jantan, maka syariat ini dikekalkan hingga akhir zaman. Kepatuhan terhadap perintah Allah Ta'ala  mengantar Nabi Ibrahim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt; menjadi sosok pemimpin yang kuat. Keteguhan Nabi Ibrahim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt; dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta'alamengukuhkannya sebagai tokoh yang patut diteladani, sebagaimana firman Allah Ta'ala :&lt;br /&gt;إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan senantiasa berpegang kepada kebenaran. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” QS. al-Nahl(16): 120.&lt;br /&gt;    Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu pelajaran penting dari sosok Nabi Ibrahim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt;. Sifat ini membuat Nabi Ibrahim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt; sebagai qudwah (teladan) di dalam menjalankan agama secara sempurna. Allah Ta'ala  mengisahkan di dalam Alquran sifat utama Nabi Ibrahim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt; ini dalam menyikapi pelanggaran terhadap ajaran agama, khususnya perkara kesyirikan yang dilakukan oleh penguasa, masyarakat atau bahkan hingga oleh ayahnya sekalipun. Dialog antara Nabi Ibrahim as. dengan ayahnya, dan dengan Raja Namruz di dalam Alquran menegaskan jiwa kepemimpinan yang kuat ini, sehingga Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt; dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata.” QS. al-Mumtahanah(60): 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang berbahagia,&lt;br /&gt;Jiwa kepemimpinan yang kuat menjadikan penguasa suatu bangsa sejajar dengan penguasa bangsa lain atau bahkan lebih mulia, sehingga tidak mudah didikte oleh bangsa manapun kecuali jika sejalan dengan keinginan Allah Ta'ala. Kisah Nabi Sulaiman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt; dengan Ratu Balqis yang memiliki kekuasaan agung adalah contoh dari sifat ini, Nabi Sulaiman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alaihissalam&lt;/span&gt; tanpa ragu dan rasa takut meminta kepada Ratu Balqis untuk datang menjumpainya dan mengikuti ajaran tauhid yang dibawanya, “Janganlah kalian bersikap sombong kepadaku, namun datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. Atau Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; yang berkirim surat kepada para penguasa di negara-negara adidaya pada zamannya dan mengajak mereka untuk memeluk Islam sebagai agamanya, “Saya mengajak anda untuk menganut agama Islam, niscaya anda akan selamat (di dunia dan akhirat) dan kekuasaan anda akan bertahan”, demikian seruan Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt;   kepada para penguasa ini, di antaranya adalah Kaisar Romawi dan Persia.&lt;br /&gt;Jiwa kepemimpinan menjadikan seseorang sebagai qudwah (teladan) bagi sesama umat manusia di dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala&lt;/span&gt; sebagai doa orang-orang beriman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”&lt;/span&gt;. QS. al-Furqan(25): 74.&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Abbas  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallaahu anhuma&lt;/span&gt;, yaitu pemimpin yang diteladani dalam kebaikan.&lt;br /&gt;Keteladanan sikap dan perilaku yang sesuai dengan perkataan, merupakan nilai moral yang dibutuhkan oleh suatu bangsa untuk maju dan disegani. Tumbuhnya kepercayaan dalam diri setiap anggota masyarakat terhadap pemimpinnya disebabkan oleh sifat keteladanannya, sehingga menjadi dasar terhadap pelaksanaan segala kebijakan yang bertujuan membangun kesejahteraan mereka.&lt;br /&gt;    Jiwa kepemimpinan juga menjadikan suatu bangsa dapat membangun peradaban yang tinggi dan mampu bertahan dengan peradaban itu. Tidaklah peradaban bangsa-bangsa besar pada zaman dahulu dapat terbangun dan bertahan kecuali karena mereka memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Kekuasaan masing-masing bangsa terbentuk menjadi suatu kekaisaran (imperium) yang memiliki wilayah begitu luas, demikian pula umat Islam yang memiliki wilayah pemerintahan sangat luas dan pengendalian yang kuat terhadap wilayah-wilayah tersebut, khususnya pada masa pemerintahan khulafa’ rasyidun. Pemerintah Islam pada zaman itu berhasil membangun peradaban dunia yang berlandaskan pada ajaran Alquran, berkat jiwa kepemimpinan para khalifahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang berbahagia,&lt;br /&gt;    Kehilangan atau kelemahan jiwa kepemimpinan akan membuat suatu bangsa inferior (merasa rendah diri) di hadapan bangsa lain, sehingga hanya dapat membeo terhadap segala keinginan bangsa tersebut. Kondisi ini juga bisa membuat bangsa ini menggadaikan kedaulatannya kepada bangsa tersebut dengan tidak langsung, seperti mengadopsi sistem politik, atau menjiplak sistem ekonomi dan budaya secara mutlak. Dampaknya berujung pada kesejahteraan masyarakat, mereka tidak memiliki kemerdekaan penuh dalam pengelolaan sumber daya alam, atau dalam sistem berpolitik dan berbudaya yang bersumber pada nilai-nilai kemuliaan, sehingga tingkat kehidupan mereka tidak mengalami pertumbuhan seiring berkurangnya potensi alam yang ada, tetapi tetap berada di bawah garis kesejahteraan pada bidang ekonomi, atau tetap latah dengan gaya hidup orang lain yang tidak menunjukkan kemuliaan sebagai manusia apalagi sebagai seorang muslim.&lt;br /&gt;    Krisis panutan adalah dampak lain dari hilangnya jiwa kepemimpinan di tengah masyarakat. Tidak mudah mencari orang yang selaras perbuatan dengan perkataannya, atau begitu mahal nilai sebuah kejujuran, sehingga menemukan seorang yang jujur menjadi ibarat oase di tengah luasnya gurun tandus kedustaan. Berita tentang seorang yang jujur menjadi luar biasa, media-media informasi meraup keuntungan besar karena menyebarkannya, seorang pejabat penting masyarakat bahkan hingga harus rela berjalan kaki buat menemui orang yang diberitakan jujur tersebut. Mencari panutan pada saat jiwa kepemimpinan telah hilang, ibarat mencari butiran emas di pasir bebatuan sungai, tidak mudah dan paling sering tidak menemukannya. Harapan yang besar biasanya memberi gambaran fatamorgana yang tidak memiliki kebenaran, sehingga pada saat dibutuhkan, yang terjadi hanyalah segudang kekecewaan karena tertipu dengan gambaran lahiriyah tanpa hakikat. Begitulah kondisi suatu masyarakat yang tidak memiliki orang-orang berjiwa pemimpin.&lt;br /&gt;    Berbagai kasus di negeri ini menimbulkan kekhawatiran dan keprihatinan akan krisis jiwa kepemimpinan di kalangan anak bangsa. Kasus perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri dan tidak memberikan kontribusi pendapatan yang wajar kepada negara dan bangsa bahkan terhadap masyarakat sekitarnya sekalipun, kasus penanganan terorisme dan korupsi yang terkesan tebang pilih, hingga kasus separatisme yang merebak di tanah Papua dan upaya campur tangan lembaga asing buat penyelesaiannya. Masyarakat tidak mendapatkan teladan yang baik dari para penanggungjawab permasalahan-permasalahan ini, sehingga cenderung bersikap putus asa dan berlepas tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang berbahagia,&lt;br /&gt;    Kondisi krisis seperti ini tidak dapat dibiarkan, harus ada upaya membangun kembali jiwa kepemimpinan pada diri setiap masyarakat, khususnya kaum muslimin sebagai penduduk mayoritas negeri ini. Upaya yang dilakukan itu sepatutnya bersumber pada sejarah perjuangan Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; dalam membina pribadi para sahabat. Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; merupakan teladan utama dalam pembinaan dan para sahabat adalah teladan terbaik dalam jiwa kepemimpinan, bukan hanya sahabat yang memiliki kekuasaan politik seperti khulafa’ rasyidun, namun secara umum para sahabat yang dibina langsung oleh Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt;, masing-masing mereka memiliki sifat ini, sehingga setiap sahabat tersebut menjadi pemimpin di bidangnya. Kondisi ini membuat peradaban kaum muslimin pada masa itu berkembang sangat pesat hingga meruntuhkan peradaban lain yang lebih dulu ada, seperti Persia dan Romawi.&lt;br /&gt;    Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; memulai pembinaan pribadi para sahabat pada permasalahan akidah dan tauhid, penegasan terhadap Kemahaesaan Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;untuk disembah dan penolakan terhadap segala bentuk perbuatan kesyirikan. Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; menanamkan ke dalam diri para sahabat butir-butir keimanan kepada hari akhirat dan meluruskan visi hidup setiap mereka, sehingga amal perbuatan para sahabat dapat bertujuan ukhrawi meskipun amal itu bersifat duniawi. Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; juga meniupkan ke dalam jiwa para sahabat ruh kemerdekaan dan kebebasan dari segala bentuk penghambaan kecuali hanya kepada Allah  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala  &lt;/span&gt;dan bahwa semua manusia dan semua bangsa adalah sama di hadapan Allah  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala  &lt;/span&gt; kecuali yang bertakwa, maka dialah yang termulia.&lt;br /&gt;    Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; selanjutnya membina jiwa kepemimpinan dalam diri para sahabat dengan menanamkam semangat pengorbanan (tadhiyah). Pengorbanan dengan segala potensi diri yang dimiliki, waktu, harta, perhatian bahkan jiwa, demi menggapai cita-cita termulia yaitu keridaan Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala  &lt;/span&gt; (mardhatullah). Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; mendidik para sahabat untuk bersabar dalam pengorbanan ini, semuanya buat hasil terindah berupa surga Allah  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;. Sebagaimana ungkapan Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam &lt;/span&gt; kepada keluarga Yasir  yang disiksa oleh bangsa Quraisy pada zaman awal agama Islam disebarkan:&lt;br /&gt;اصْبِرُوا آلَ يَاسِرٍ مَوْعِدُكُمُ الْجَنَّةُ&lt;br /&gt;“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat yang dijanjikan buat kalian adalah surga”&lt;br /&gt;Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; senantiasa mengingatkan para sahabat bahwa cita-cita yang tinggi tidak dapat diraih kecuali dengan pengorbanan dan kesabaran di dalamnya. Segala ujian, berupa kesempitan dan kelapangan, kesusahan dan kelancaran adalah dinamika kehidupan yang harus dilalui oleh siapapun yang telah memilih keimanan sebagai jalannya menuju Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Keyakinan terhadap ajaran tauhid menjadi pondasi dari bangunan jiwa kepemimpinan yang kuat, karena dapat memberikan kepada seorang manusia kemerdekaan dari penghambaan dan ketundukan kepada sesama makhluk, sehingga dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;, tidak tunduk kecuali hanya kepada aturan yang datang dari Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala  &lt;/span&gt; atau yang sesuai dengannya. Sifat pengorbanan di jalan Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt; menjadi landasan operasional buat membentuk pemimpin yang kuat, karena sifat ini akan menempa seorang manusia menjadi pribadi yang tegar dan tahan terhadap segala ujian, dan juga menghindarkannya dari sifat kikir dan cinta kepada dunia yang berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;Kedua sifat ini, yaitu keyakinan yang kokoh dan pengorbanan dengan penuh kesabaran adalah jalan untuk membangun jiwa kepemimpinan yang kuat, sebagaimana firman Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ&lt;br /&gt;“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. QS. al-Sajdah(32): 24.&lt;br /&gt;Namun, kedua sifat ini juga tidak dapat diwujudkan dan dipelihara kecuali dengan proses tarbiyah (pembinaan) yang dijalankan secara berkesinambungan dan mengacu kepada sunnah Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt;  bersama para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;    Kepada segenap dai dan ulama, anda sekalian adalah pemimpin sejati bagi umat manusia, Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;telah menjadikan setiap anda sebagai teladan di dalam kehidupan, olehnya itu, jadilah teladan yang baik bagi umat manusia, serukanlah kebenaran dan jangan pernah takut atau ragu untuk menyuarakannya. Sampaikanlah agama, binalah umat ini dengan nilai-nilai kemuliaan yang berdasarkan ajaran tauhid (keesaan Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;) dan dakwahkanlah Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta dengan penuh amanah dan kesantunan, semoga dengan itu kesadaran umat untuk menjalankan agama semakin membaik.&lt;br /&gt;Kepada segenap pengelola negara, kami tidak pernah berhenti menyerukan untuk menegakkan keadilan dengan ajaran Islam. Agama Islam diturunkan oleh Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt; untuk dilaksanakan dan memberikan kesejahteraan kepada umat manusia, olehnya itu jalankanlah tuntunan agama ini dengan penuh keyakinan dan kejujuran, raihlah kemuliaan dan kebanggaan sebagai pemimpin bangsa dengan menjadikan agama sebagai panduan, tegakkanlah kewibawaan bangsa ini karena agama adalah identitasnya, niscaya kewibawaan itu disegani oleh bangsa lain.&lt;br /&gt;    Kepada segenap orang tua dan kaum pendidik, kami mengingatkan besarnya tanggungjawab terhadap generasi muda, olehnya itu didiklah anak-anak anda sekalian untuk cinta kepada Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;, kepada Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; dan kepada agamanya. Tanamkanlah sejak dini ke dalam diri mereka jiwa kepemimpinan yang kuat, dengan memperkokoh akidah tauhid dan memotivasi semangat mereka untuk melakukan ketaatan terhadap perintah-perintah Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;, hindarkanlah mereka dari perkara-perkara yang dapat merusak agama, semoga Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt; mengaruniakan anda sekalian generasi yang saleh.&lt;br /&gt;Kepada segenap kaum wanita, kami menyerukan untuk memelihara kemuliaan dengan berjilbab yang benar, berbusana yang sopan dan jauh dari kesan menjadi fitnah bagi kaum laki-laki, jagalah sikap dan pergaulan agar tetap menunjukkan identitas sebagai wanita muslimah. Janganlah tertipu dengan gemerlap kehidupan dunia seperti yang ditampilkan oleh para artis atau selebritis, karena kadang hal itu tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Jadilah diri sendiri dan lakukanlah kebaikan untuk kemaslahatan diri dan keluarga, semoga anda diberkati menjadi muslimah yang salehah.&lt;br /&gt;    Kepada segenap generasi muda Islam, tuntutlah ilmu yang bermanfaat setinggi-tingginya dan berbuatlah yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga buat bangsa, negara dan umat Islam. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya dengan beribadah kepada Allah  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala  &lt;/span&gt;dan jangan disia-siakan dengan bersenda gurau tanpa manfaat atau dihabiskan dengan begadang malam di tempat-tempat maksiat. Bersiaplah menjadi pemimpin di masa depan dengan menjadi muslim sejati, semoga Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala  &lt;/span&gt; memberkati hari-hari anda sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang Berbahagia,&lt;br /&gt;Mari berkurban sesuai tuntunan Rasulullah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shallallaahu 'alaihi wa sallam&lt;/span&gt; , hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.&lt;br /&gt;Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi dia bisa mewakilkannya kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah. Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya.&lt;br /&gt;Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Nilai pahala hewan kurban seseorang di sisi Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala  &lt;/span&gt; tidak hanya diukur dengan banyaknya daging yang dihasilkan atau banyaknya darah yang dikucurkan, tetapi sifat keikhlasan pemiliknya, olehnya itu luruskanlah niat hanya mengharap balasan dariNya semata.&lt;br /&gt;Akhirnya, pada hari yang mulia ini, marilah kita sekali lagi memuji dan bersyukur kepada Allah seraya menundukkan hati, pandangan dan wajah kita, berdo’a dan bermunajat kepada Allah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ta'ala &lt;/span&gt;,&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم&lt;br /&gt;Ya Allah, Engakulah Penguasa langit dan bumi, Penguasa dunia dan akhirat, kami datang kepadaMu pada hari yang penuh berkah ini mengadukan beratnya dosa yang telah kami lakukan. Kami sadar bahwa nikmat pemberianMu belumlah dapat kami syukuri dengan sebenarnya, kami mengaku kesalahan kami lebih banyak dari kebaikan kami, namun kami yakin bahwa Engkau adalah Zat Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang, maka kami berharap kepada-Mu, Ya Allah ampunkanlah segala dosa dan kesalahan kami.&lt;br /&gt;Ya Allah, kedua ayah dan ibu kami adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami, memperkenalkan kami kepada-Mu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, Ya Allah tak ada yang mampu kami berikan kepada mereka kecuali seuntai doa kepada-Mu untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjukilah mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti kepada mereka sesuai tuntunan-Mu, Engkaulah Zat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.&lt;br /&gt;Ya Allah berkahilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dengan ketaatan kepada-Mu, yang akan mengundang curahan rahmat-Mu. Lindungilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari busuknya dosa dan pengingkaran atas syariat-Mu. Ya Allah janganlah Engkau timpakan azab atas kami karena kezaliman sebagian orang di antara kami. Berikankanlah pemimpin-pemimpin kami keyakinan dan kemampuan untuk menjalankan syariat-Mu, yang dengannya mereka membimbing kami menuju keselamatan di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.&lt;br /&gt;رَبَّناَ لاَ تُزِغْ  قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ،&lt;br /&gt;رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-3305809641237677114?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/3305809641237677114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/membangun-jiwa-kepemimpinan-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/3305809641237677114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/3305809641237677114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/11/membangun-jiwa-kepemimpinan-dengan.html' title='MEMBANGUN JIWA KEPEMIMPINAN DENGAN SIFAT TAUHID DAN SEMANGAT PENGORBANAN'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-8248680680667382326</id><published>2011-10-15T18:36:00.000-07:00</published><updated>2011-10-15T18:41:30.329-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Da&apos;wah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Antara Wahabi dan Isu Terorisme</title><content type='html'>Pasca serangan bom bunuh diri di GBIS Kepunton Solo, perbincangan mengenai kaitan antara terorisme dan doktrin Wahabi kembali mencuat di media massa. Setidaknya hal itu tercermin dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj pada harian Republika (3/10/2011). Artikel berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Radikalisme, Hukum, dan Dakwah”&lt;/span&gt; ini menarik untuk dicermati, karena KH Said Aqil telah mengaitkan antara pergerakan dakwah Wahabi dengan radikalisme. Beliau bahkan membuat istilah baru tentang dakwah Wahabi, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ideologi puritanisme radikal.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu bersyukur, seorang ketua umum sebuah organisasi massa besar seperti KH Said Aqil Siradj begitu peduli terhadap teror bom yang banyak menimbulkan korban dari masyarakat yang tak bersalah. Bahkan sebenarnya bukan hanya KH Said Aqil Siradj, tokoh yang sering dikait-kaitkan dengan kasus terorisme seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir (ABB) pun mengecam aksi bom di Cirebon dan Solo sebagai tindakan ngawur yang jauh dari pemahaman syariat. Pada beberapa kesempatan, ABB menyatakan bahwa Indonesia adalah wilayah aman yang karenanya Islam harus ditegakkan lewat cara-cara damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari artikel Kiai Said di atas, yang terkesan seperti menabur angin, mengenai siapa saja yang dianggap sebagai Wahabi. Dalam beberapa alineanya, artikel tersebut bahkan seperti mengumbar stigma yang gebyah uyah. Jika tak dikritisi, tulisan tersebut bisa menimbulkan ragam penafsiran di masyarakat dan generalisasi terhadap kelompok yang dituduh mengusung dakwah Wahabi. Sehingga hal ini bisa berpotensi memicu konflik sosial di akar rumput, sebagaimana terjadi pada sebuah pengajian hadits di Klaten, Jawa Tengah, yang nyaris dipaksa bubar karena dianggap bagian dari dakwah Wahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kalimat yang bisa menimbulkan bias pemahaman dan stigma dari tulisan KH Said Aqil adalah, “Kita bisa mencermati pergerakan paham Wahabi di negeri kita yang secara mengendap-endap telah memasuki wilayah pendidikan dengan menyuntikkan ideologi puritanisme radikal, semisal penyesatan terhadap kelompok lain hanya karena soal beda masalah ibadah lainnya. Di berbagai daerah bahkan sudah terjadi ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tawuran&lt;/span&gt;’ akibat model dakwah Wahabi yang tak menghargai perbedaan pandangan antar-muslim. Model dakwah semacam ini bisa berpotensi menjadi ‘&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cikal bakal’ radikalisme&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada alinea lain, KH Said Aqil mengusulkan agar dilakukan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sterilisasi” &lt;/span&gt;masjid-masjid yang berpotensi menjadi sarang kelompok puritan radikal, sebuah kelompok yang menurutnya seringkali menimbulkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“tawuran”&lt;/span&gt; di tengah masyarakat. Dalam kesempatan lain, KH Said Aqil bahkan meminta masyarakat untuk mewaspadai 12 yayasan dari Timur Tengah yang ditengarai mendapat suntikan dana dari kelompok Wahabi. Tulisan KH. Said Aqil Siradj yang dimuat dalam harian ini seolah menyatakan bahwa memerangi ideologi teror sama dengan memerangi ideologi puritan radikal yang diusung oleh kelompok yang ia sebut sebagai Wahabi. Kelompok yang saat ini menurutnya mengendap-endap di dunia pendidikan, membawa suntikan beracun berisi “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ideologi puritan radikal”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Antara Wahabi dan Terorisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma Wahabi merujuk pada sosok ulama abad ke-18 bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimy An-Najdi. Gerakan dakwahnya mengusung tajdid dan tashfiyah (pembaharuan dan pemurnian) akidah kaum muslimin dari beragam kemusyrikan dan amaliah yang tidak diajarkan oleh Islam. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang dai yang tak pernah menyebut kiprah dakwahnya dengan penamaan dakwah Wahabi atau tak pernah mendirikan organisasi dakwah bernama Wahabi. Istilah Wahabi baru muncul belakangan, itupun dengan tujuan stigmatisasi oleh mereka yang tak setuju dengan pemikiran yang diusung dalam dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, stigma Wahabi juga pernah dilekatkan pada ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis). Tokoh-tokoh seperti KH Ahmad Dahlan, Syaikh Ahmad Soorkati, A. Hassan, dianggap sebagai pengusung paham Wahabi di Indonesia. Bahkan, jauh sebelum itu, pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol pun pernah disebut sebagai pengusung dakwah Wahabi. Baik Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ataupun generasi dakwah selanjutnya di seluruh dunia yang sepaham dengan pemikirannya tak pernah ada yang dengan tegas menyatakan dirinya sebagai Wahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KH. Said Aqil Siradj dalam tulisannya tak menjelaskan siapa saja atau kelompok mana saja yang masuk dalam kategori puritan radikal pengusung dakwah Wahabi. Ia hanya menjelaskan, kelompok tersebut tak menghargai perbedaan dan mudah memberikan label sesat pada sesama Muslim lainnya. Sama tak jelasnya, ketika ia melontarkan pernyataan bahwa ada 12 yayasan milik Wahabi yang perlu diwaspadai yang kini beroperasi di Indonesia. Apa saja yayasan itu, kenapa perlu diwaspadai, adakah pelanggaran baik dari sisi hukum nasional ataupun hukum Islam dari 12 yayasan tersebut sehingga layak untuk diwaspadai tak pernah dijabarkan. Sekali lagi, apa yang dilontarkan KH Said Aqil seperti menabur angin, menerpa siapa saja yang dianggap sebagai Wahabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merujuk pada banyak kasus yang terjadi di basis-basis NU, maka kelompok puritan radikal atau Wahabi yang dimaksud KH Said Aqil adalah mereka yang membid’ahkan tahlilan, tawassul, ziarah kubur, maulid Nabi, dan amaliah lainnya yang menjadi tradisi di kalangan Nahdhiyyin. Kriteria inilah yang sering diungkapkan oleh KH Said Aqil di media massa ketika menyoroti kiprah kelompok yang ia sebut sebagai “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahabi”&lt;/span&gt;. Namun, adakah kaitannya antara kelompok yang berdakwah untuk menjauhi bid’ah dalam urusan ibadah dengan kelompok teroris?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya seluruh ormas Islam di Indonesia, baik yang meyakini bolehnya tahlilan atau tidak, sepakat bahwa aksi pengeboman di zona damai adalah perbuatan yang diharamkan Islam, apalagi pemboman yang terjadi di tempat ibadah. Bom yang dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan jihad tentu mencoreng nama Islam. Islam mengajarkan syariat jihad dengan batasan dan aturan yang ketat dan rinci. Jihad tidak mengedepankan hawa nafsu dan serampangan. Jihad sangat menghargai nilai-nilai dan hak asasi manusia, termasuk di dalamnya hak-hak sipil. Dalam perang, musuh yang menjadi target adalah para combatan dan basis-basis militer, bukan orang-orang sipil, fasilitas umum, dan tempat-tempat ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirul kalam, menyebut dakwah Wahabi sebagai kontributor aksi teror bom tak pernah bisa dibuktikan dengan jelas. Stigmatisasi itu tak lebih daripada memukul bayang-bayang. Kita tentu tak sepakat dengan sekelompok orang yang mudah mengkafirkan muslim lainnya hanya karena urusan khilafiyah. Kita juga tak setuju dengan pola-pola dakwah yang eksklusif, merasa paling benar, dan jauh dari nilai-nilai akhlakul karimah. Jika ada perbedaan dalam urusan dakwah, maka selesaikan dengan jalan dialog. Begitupun jika terjadi perbedaan pendapat dalam hal furu’iyah maka kedepankanlah sikap tasamuh (toleran). Stigmatisasi yang tak jelas di tengah prahara terorisme akan menambah beban masalah yang melebar ke mana-mana. Selain persoalan ideologi yang menyimpang, akar dari terorisme adalah ketidakadilan global yang melanda negeri-negeri Muslim. (Disalin dari tulisan Ust  Heri Nurdi di Harian Republika, 7 Oktober, 2011)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-8248680680667382326?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/8248680680667382326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/10/antara-wahabi-dan-isu-terorisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8248680680667382326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8248680680667382326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/10/antara-wahabi-dan-isu-terorisme.html' title='Antara Wahabi dan Isu Terorisme'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-4816413384061677167</id><published>2011-10-10T07:42:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T07:47:07.102-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitabah'/><title type='text'>Membungkam Kerancuan Pluralisme Dengan Logika Sederhana</title><content type='html'>&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Judul Buku: Kemi,Cinta  Kebebasan Yang Tersesat&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penulis       :  Adian Husaini&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Penerbit      : Gema Insani&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tahun         :  Terbitan kedua 1432 H/2011&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tebal           :  316 Halaman&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;            Dr Adian Husaini MA dikenal  sebagai tokoh yang gigih penyebaran berbagai pemikiran destruktif yang  merusak aqidah ummat.Beliau selalu berada di gardaterdepan dalam  membendung arus liberalisme di tanah air.Salah kontribusi beliau dalam  menjawab berbagai syubuhat yang merusak aqidah adalah dengan menulis  buku dan atikel-artikel ilmiyah. Diantara buku yang telah beliau susun  adalah;&lt;em&gt;Islam Liberal,Sejarah,Konsepsi,Penyimpangan dan  Jawabannya,Wajah peradaban barat, Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi  Sekuler  Liberal,Hegemoni Kristen –Barat Dalam Studi Islam Di Perguruan  Tinggi,Membendung Arus Liberalisme (Kumpuan CAP di &lt;/em&gt;www.hidayatullah.com),&lt;em&gt;   Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam,Muslimah Daripada Liberal &lt;/em&gt;dan  sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;               Sebenarnya kajian   liberalisme,pluralisme dan pemikiran destruktif lainnya termasuk kajian  yang cukup  berat.Tetapi dalam karya –karya Dr Adian kita akan memahami dan  menjawab dengan mudah argumen-argumen kaum liberalis tersebut .Salah  satu karya beliau yang beirisi trik-trik praktis untuk menjawab argumen  kaum liberal adalah sebuah novel yang berjudul,&lt;em&gt;Kemi ,Cinta kebebsan  yang Tersesat.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;               Novel ini  bercerita tentang kisah pergolakan pemikiran seorang santri bernama Kemi  yang terjangkiti virus SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme, dan  Liberalisme). SEPILIS adalah Virus Pemikiran yang telah difatwa haram  oleh Majelis Ulama Indonesia. Cerita berawal ketika Kemi meninggalkan  ponpes Minhajul Abidin, tempatnya menimba ilmu agama selama  bertahun-tahun. Ia keluar pesantren atas ajakan Farsan, kakak kelasnya  yang telah bergabung dengan sebuah jaringan yang bergerak dalam  menyebarkan paham Sekularisme, pluralisme, dan Liberalisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;                Tokoh  lain yang dikisahkan dalam cerita ini adalah Rahmat, seorang santri  yang masih merupakan rekan Kemi di pesantren. Rahmat dikenal cerdas dan  istiqamah. Kyai Rais mengutusnya untuk menyelamatkan Kemi dan membawanya  kembali ke Pesantren.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;                 Untuk menjalankan misi tersebut,  Rahmat mendaftar sebagai mahasiswa di Institut Damai Sentosa, kampus  yang menjadi corong penyebaran paham Sekularisme, pluralisme,  liberalisme, multikuralisme, kesetaraan gender, bahkan dekontruksi kitab  suci.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;                  Adapula tokoh lain yang bernama Siti,  Putri Kyai terkenal yang terjebak dalam pemahaman femisime liberal. Ia  terperangkap dalam jejaring kebebasan yang semu. Namun semenjak bertemu  dengan Rahmat, ia mengalami pergolakan dalam batinnya. Ia mulai  mempertanyakan makna dan hakikat kebebasan yang selama ini  diperjuangkannya. Pada saat yang sama, naluri kewanitaannya muncul.  Diam-diam ia jatuh cinta kepada Rahmat, bahkan cintanya tak terbendung.  Namun, di sisi lain ia tidak kuasa menghapus bayang-bayang dosa dan  kesalahan yang terus menghantuinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;                Melalui dialog antartokoh  dalam novel ini, Ustadz Adian menyingkap satu persatu argumen para  pengusung ide pluralisme dan relativisme. Seperti dalam salah satu  fragmen dialog antara toko Kemi dan Rahmat berikut ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;             “Tetapi, coba kita berdiskusi lebih menukik... soal Tuhan, misalnya.  Menurut saya, yang penting adalah substansinya. Apalah arti sebuah nama.  Tuhan itu satu. Tetapi manusia mempersepsikan dan memanggilnya dengan  persepsi dan lingkungan budaya masing-masing. Orang Islam memanggil  Allah, orang Yahudi memanggil Yahweh, orang Kristen memanggil Yesus,  orang Hindu memanggil Brahman dan sebagainya. Nama Tuhan memang  berbeda-beda, tetapi Tuhan  tetap satu. ‘Berbeda-beda tetapi tetap  satu’. Kata professor John Hick, kamu tahu kan dia, &lt;em&gt;God had many  names. &lt;/em&gt;Itu judul buka yang ia tulis. Ya kan, Rahmat...?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;             “Kalau memang masalah nama tidak penting, kenapa kamu tidak berdoa  saja, ’’Wahai Yahweh, Wahai Tuhan Yesus?” Menurut saya, kamu sudah cukup  &lt;em&gt;keblinger. &lt;/em&gt;Harusnya sebagai orang Islam, kamu sudah paham  masalah ini. Coba, mau &lt;em&gt;nggak  &lt;/em&gt;kamu  baca syahadat  tidak ada  Tuhan selain Yahweh... Tidak ada Tuhan selain Dewata Agung. Ayo,  ...................” (hal:59-60).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;            Hal yang sama juga  nampak ketika Rahmat menaklukan Profesor Malikan di ruang kuliah  (Hal:164-173). Demikian pula ketika santri andalan Kyai Rais tersebut  mempermalukan Kyai Dulpikir di ruang seminar (Hal:238-243). Bahkan Kyai  tersebut meninggal usai seminar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;            Dari novel ini,  pembaca dapat belajar cara mudah mematahkan argumentasi pluralisme,  liberalisme, relativisme, multikulturalisme dan pemahaman menyimpang  lainnya. Buku ini sangat mudah dipahami  karena disajikan dengan gaya  bercerita dan dialog. Pembaca tidak perlu mengerutkan kening untuk  menyerap isi dan pesan dari novel yang mendapatkan pujian dari Taufik  Ismail ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;            Oleh karena itu, novel ini penting dibaca  para santri, mahasiswa, da’i dan semua pihak yang memiliki kepedulian  untuk menjaga keimanan dan keislamannya serta menghendaki terbentenginya  aqidah ummat dari berbagai pemahaman dan pemikiran destruktif yang  semakin gencar menyerang ummat Islam.(&lt;em&gt;Syams&lt;/em&gt;,Bogor  11/11/1432 H)&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-4816413384061677167?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/4816413384061677167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/10/membungkam-kerancuan-pluralisme-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4816413384061677167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4816413384061677167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/10/membungkam-kerancuan-pluralisme-dengan.html' title='Membungkam Kerancuan Pluralisme Dengan Logika Sederhana'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-2721576391326245315</id><published>2011-09-29T18:50:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T19:00:44.335-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tazkiyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanmiyah'/><title type='text'>Hidayah Lambat Karena Adat</title><content type='html'>Allah tidak pernah terlambat memberikan hidayah. Allah Mahatahu, kapan waktu yang paling tepat untuk menurunkannya. Sebagaimana Allah juga Mahatahu, siapa yang layak didahulukan atau diakhirkan hidayahnya, atau bahkan yang tidak layak memperolah secercahpun hidayah dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau ada yang diperlambat datangnya hidayah, bukan karena Dia kikir atau pelit, sungguh Dia Maha Penyayang lagi Maha Pemurah. Keterlambatan, atau bahkan terhalangya seseorang dari hidayah itu disebabkan oleh ulah dan sikap manusia dalam menerima dan menyambutnya. Atau dominasi hawa nafsu yang menguasai diri, sehingga menampik datangnya hidayah. Baik hidayah Islam secara global, ataupun hidayah tafshil (yang rinci), berupa menjalankan berbagai perintah, dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adat, Hambatan Paling Berat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat cahaya Islam pertama kali menyapa kaum Arab Quraisy, tak serta merta disambut dengan gegap gempita. Bahkan lebih banyak penentang katimbang pendukungnya. Alasan paling populer dari para penentang adalah, karena Islam tak sejalan dengan adat dan agama nenek moyang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taklid kepada leluhur lebih mereka utamakan dari ajakan Allah dan Rasul-Nya, meskipun hati kecil mereka meyakininya. Tak ada penghalang yang lebih berat bagi Abu Abu Thalib, paman Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, selain beban untuk berpegang kepada agama leluhurnya. Adalah Abu Jahal yang memprovokasi Abu Thalib di ujung hayatnya. Dia membujuk, “Apakah engkau hendak meninggalkan agama Abdul Muthallib?” Hingga akhirnya Abu Thalib mati dalam keadaan musyrik. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi, sebelum meninggal, dia mengulang-ulang sya’irnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku tahu bahwa agama Muhammad terbaik bagi manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalau saja bukan karena agama nenak moyang yang dicela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Niscaya engkau dapatkan aku menerima dengan sukarela&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sikap ini mewakili sekian banyak orang yang menampik hidayah, juga enggan untuk tunduk terhadap titah Allah dan Rasul-Nya. Karakter para penentang ini dikisahkan dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila dikatakan kepada mereka:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. &lt;/span&gt;(QS. Al Maidah:104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka diajak menjalankan agama Allah dan syariatnya, menjalankan kewajiban dan apa yang diharamkannya, mereka menjawab, ”cukup bagi kami mengikuti cara dan jalan yang telah ditempuh oleh bapak dan kakek kami.” Demikian dijelaskan tafsirnya oleh Ibnu Katsier rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan al-Qur’an masih hangat turun ke bumi. Betapa alasan ini sangat populer kita dapati. Tatkala didatangkan dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, baik tentang larangan yang tak boleh dijamah, atau perintah yang mesti dilakukan, seringkali kandas ketika dalil itu tak sejalan dengan kebiasaan yang telah berjalan. ”Jangan merubah adat…!  Ini sudah tradisi para leluhur…! Biasanya memang begini…!” dan ungkapan lain yang mengindikasikan ketidakrelaan mereka jika adat diganti dengan syariat. Ungkapan seperti ini tak jarang muncul dari lisan orang yang telah menyatakan dirinya Islam, yang telah mengikrarkan bahwa ia rela Allah sebagai Rabbnya, Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, dan Islam sebagai agamanya. Tapi begitu syariat tidak sejalan dengan adat, adat lebih mereka utamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak kita akan tahu bahwa, masih banyak warisan adat leluhur yang ternyata bertentangan dengan syariat, bahkan jika dirunut, tak hanya warisan nenek moyang masyarakat Indonesia, tapi warisan penyembah berhala di era jahiliyah Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesesatan yang Dilestarikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama melanggengkan nilai-nilai luhur tradisi nenek moyang, budaya sesaji masih tetap lestari. Dari yang hanya sekedar mempersembahkan menu ’wajib’ berupa hewan sembelihan, maupun yang berupai kemenyan, buah-buahan dan ’tetek bengek’ lain sebagai menu tambahan. Semua itu ditujukan kepada sesuatu yang diagungkan, apakah jin penunggu, arwah leluhur atau dewa yang diyakini keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi ini mengiringi momen-momen penting dalam kehidupan manusia, seperti peringatan kelahiran, kematian, upacara pernikahan, peresmian gedung atau jembatan, peringatan hari besar, juga untuk tujuan insidental seperti mencegah terjadinya marabahaya. Tak ketinggalan pula masyarakat kita yang mengaku dirinya muslim. Mereka turut membudayakannya dengan sedikit modivikasi dan dikemas dengan simbol-simbol Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, sejak kapan tradisi sesaji bermula di negeri ini. Paling-paling kita harus puas dengan jawaban, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”itu sudah menjadi adat nenek moyang sejak dahulu.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditelisik, sesaji tak hanya menjadi tradisi Hindu atau penganut animisme maupun dinamisme di Indonesia saja. Tapi juga merupakan adat jahiliyah Arab, yang kemudian disapu bersih dengan hadirnya Islam. Ini terlihat dari banyaknya ayat dan hadits yang melarang sembelihan untuk selain Allah, juga ancaman bagi yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, orang biasa Arab biasa menyembelih hewan di sisi kuburan, lalu Islam melarangnya. Sebagaimana hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam&lt;br /&gt;لاَ عَقْرَ فِي الإِسْلاَمِ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ: كَانُوا يَعْقِرُونَ عِنْدَ الْقَبْرِ بَقَرَةً أَوْ شَاةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak boleh ada ‘aqr (menyembelih di kuburan) dalam Islam.&lt;/span&gt;” (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrazzaq yang meriwayatkan hadits tersebut berkata; dahulu mereka menyembelih sapi atau kambing di kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan mengikuti adat, tradisi itupun masih dilestarikan dengan istilah bedah bumi (‘meminta ijin’ untuk menggali liang kuburan), atau sebagai penghormatan kepada orang yang telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal secara tegas Nabi shallallaahu 'alaihi wasallambersabda,&lt;br /&gt;وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.”&lt;/span&gt; (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jimat untuk kesaktian dan penangkal bahaya, juga menjadi warisan orang musyrik terdahulu. Suatu kali, sahabat Hudzaifah bin Yaman menengok orang sakit. Beliau melihat di lengan si sakit ada gelang (untuk jimat). Maka beliau langsung melepasnya sembari membaca firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah ( dengan sembahan-sembahan lain ).”&lt;/span&gt;(QS. Yusuf:106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah praktik ini sering kita jumpai dalam bentuk rajah di pintu rumah, di warung, kendaraan, atau jimat lain berupa gelang, kalung atau cincin yang dianggap memiliki khasiat bisa mendatangkan manfaat dan mencegah madharat. Inilah keyakinan syirik warisan jahiliyah, di mana Islam datang untuk membersihkan dan menghilangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi berbagai keyakinan khurafat yang masih subur dan diwariskan turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meninggalkan Adat Demi Syariat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran tauhid mengharuskan penganutnya bersih dari syirik, meski itu berupa adat yang mendarah daging dan mengakar kuat. Wajar, jika dakwah Nabi SAW oleh orang Arab diidentikkan dengan dakwah untuk meninggalkan adat nenek moyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heraklius, Kaisar Romawi yang beragama Nasrani pernah bertanya kepada Abu Sufyan saat masih musyrik, ”Apa yang Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam serukan atas kalian?” Abu Sufyan menjawab,&lt;br /&gt;يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ ، وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ ، وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلاَةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beliau mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Hendaklah kalian hanya beribadah kepada Allah saja, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hendaknya kalian meninggalkan pendapat nenek moyang kalian, dia juga menyuruh kami shalat, berlaku jujur, menjaga kehormatan dan menjalin persaudaraan.” &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelisihi kebiasaann nenek moyang bukanlah cela. Melanggar adat tak juga membuat kita kualat. Bahkan orang yang kualat dan mendapat ganjaran berupa siksa yang berat adalah mereka yang mempelopori adat yang sesat, juga para pengikutnya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di dalam hadits Bukhari, Nabi juga bersabda, ”Aku mengetahui, siapakah orang pertama yang merubah ajaran (tauhid) Ibrahim alaihis salam.”&lt;/span&gt; Para sahabat bertanya,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ”Siapakah dia wahai Rasulullah?”&lt;/span&gt; Beliau menjawab,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ”Dia adalah Amru bin Luhay, saudara Bani Ka’ab. Aku melihatnya dia menyeret usus-ususnya di neraka, hingga penduduk neraka yang lain terganggu oleh bau busuknya.” &lt;/span&gt;(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah ganjaran bagi orang yang membawa berhala ke negeri Arab, yang tadinya telah dibersihkan oleh kapak dan dakwah tauhid Ibrahim alaihis salam. Apakah kita tetap akan membanggakan para leluhur meski memiliki kemiripan dengan Amru bin Luhay?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teladanilah sikap yang diambil oleh seorang tabi’in, Syuraih al-Qadhi ketika beliau ditanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Dari kaum manakah Anda?”&lt;/span&gt; Beliau menjawab, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Dari kaum yang Allah telah karuniakan Islam atasnya. Sedangkan orangtuaku dari Kindah.” &lt;/span&gt;Beliau lebih suka menisbahkan dirinya kepada Islam, katimbang membanggakan sukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena beliau tahu, suku atau keturunan siapa tak akan membuatnya mulia atau hina, tidak pula menolongnya kelak di akhirat. Nenek moyang tak mampu menyediakan surga baginya, bahkan, jika mereka sesat, mereka sendiri dalam keadaan hina. Simaklah kabar Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam  tentang mereka,&lt;br /&gt;لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجِعْلاَنِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتِنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maka, hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap kaumnya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahannam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari ji’lan (kumbang kotoran) yang mendorong kotoran dengan hidungnya.&lt;/span&gt;” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tak semua adat itu sesat, sehingga wajib kita mengukurnya dengan barometer syariat. Jika memang bertentangan, janganh ragu meningalkannya, demi merealisasikan ajaran Islam yang hanif. (Abu Umar Abdillah/http://www.arrisalah.net/kolom/2010/09/hidayah-lambat-karena-adat.html)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-2721576391326245315?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/2721576391326245315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/hidayah-lambat-karena-adat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2721576391326245315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2721576391326245315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/hidayah-lambat-karena-adat.html' title='Hidayah Lambat Karena Adat'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-8323924781568833644</id><published>2011-09-29T18:04:00.000-07:00</published><updated>2011-09-29T18:09:10.978-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarikh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tanmiyah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tasyji&apos;'/><title type='text'>Bahtera Pena Para Ulama</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Ust DR Ahmad Zain An Najah MA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alhamdulillah washsholatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Umat Islam mencapai kejayaannya, manakala para generasinya bekerja  keras, tanpa kenal lelah untuk menggapai cita-citanya. Hal ini terbukti  pada zaman keemasan Islam di mana para ulama telah menorehkan berbagai  karya agung yang mereka toreh dengan keringat, air mata dan darah  mereka. Karya-karya besar mereka sebagiannya sudah sampai kepada kita,  sehingga kita bisa ikut merasakan manfaatnya yang begitu besar khususnya  di dalam memahami ajaran agama kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai generasi yang datang terakhir, hendaknya kita mengambil  pelajaran dari karya-karya tersebut, bagaimana mereka menorehnya,  bagaimana mereka mengerjakan pekerjaan yang besar tersebut, padahal  kemampuan mereka sebagai manusia bisa dikatakan sama dengan kemampuan  kita. Tetapi mereka bisa membuktikannya, sedang kita belum bisa  membuktikannya. Apa yang membedakan antara mereka dengan kita ? Bukankah  mereka adalah manusia yang juga makan dan minum sebagaimana kita makan  dan minum ? Bahkan pada masa mereka sarana kehidupan sangat sederhana  dan terbatas, sedang sarana kehidupan kita saat ini sangat banyak,  beragam dan serba canggih ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam tulisan berikut ini, akan kita temukan bahwa mereka mampu  berkarya, karena mereka mempunyai kemauan yang kuat dan cita-cita yang  tinggi. Mereka benar-benar mengejar cita-cita tersebut dengan keringat,  air mata dan darah. Mereka tinggalkan segala bentuk kesenangan yang  membuaikan dan meninakbobokan, mereka tiggalkan segala bentuk permainan  dan senda gurau yang melupakan, mereka tinggalkan segala bentuk kegiatan  yang tidak mendukung cita-cita mereka. Mereka kerahkan seluruh potensi  yang ada di dalam diri mereka, mereka bekerja semaksimal dan seoptimal  mungkin. Mereka sangat menghargai waktu, detik demi detik, menit demi  menit, jam demi jam untuk meraih cita-cita tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiada kata berhenti di dalam hidup mereka, tiada kata istirahat di  dalam kegiatan mereka. Mereka terus bekerja, bergerak dan berkarya  sampai ajal menyemput mereka. Salah seorang dari mereka, yaitu Imam  Ahmad ketika ditanya oleh kawan-kawannya ; “ Wahai Imam…kenapa anda  terus menerus belajar ? kenapa tidak istirahat sejenak ? “ . Beliau  menjawab : “ wahai teman, istirahatnya nanti ketika kita di syurga “&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak ayal karya-karya mereka telah memenuhi bumi ini, bagaikan udara  yang memenuhi seluruh ruangan. Ibnu Aqil salah satu dari mereka yang  memiliki karya tulis yang beraneka ragam dan yang paling spektakuler  adalah kitab “ &lt;em&gt;Al-Funun “, sebuah ensiklopedia yang &lt;/em&gt; memuat  beragam ilmu yang sangat berharga, terdapat di dalamnya berbagai macam  nasehat, tafsir, fiqih, ushul fiqih, aqidah, bahasa Arab, sya’ir,  sejarah,  bahkan juga hikayat.  Kitab “ &lt;em&gt;Al-funun&lt;/em&gt;  “ ini terdiri  dari 800 jilid. Kitab ini hanya salah satu karya beliau saja. Beliau  juga mempunyai karya-karya lain yang sangat banyak. . Berkata Imam Ad-  Dzahabi : ” Belum ada buku di dunia ini yang lebih tebal dari buku &lt;em&gt;” Al Funun ” . &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lain lagi dengan Ibnu Jauzi, seorang ulama yang menulis berbagai  bidang ilmu dan buku-bukunya yang sangat banyak menghiasi perpustakaan  Islam. Dalam kitab &lt;em&gt;Tatimmatul Mukhtashor fi Akhbaril Basyar,&lt;/em&gt;   Ibnul Warid mengatakan : “ Bila lembaran-lembaran buku yang berhasil  ditulis oleh Ibnul Jauzi dikumpulkan, lalu dikalkulasi dengan umur yang  beliau miliki, maka ditetapkan bahwa beliau menulis dalam sehari  sebanyak sembilan buah buku seukuran buku tulis.”  Diceritakan juga  bahwa bekas rautan pena Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air  yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, itupun masih tersisa.  Setelah diadakan kalkulasi judul-judul tulisannya, ternyata karya Ibnul  Jauzi mencapai 519 buku. Al-Muwafiq mengatakan bahwa Ibnul Jauzi  senantiasa menulis dalam sehari setara empat buku tulis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang ulama mutakhirin Imam Muhammad bin Ali, atau yang lebih terkenal dengan Asy-Syaukani, pengarang kitab &lt;em&gt;“ Nailul Authar&lt;/em&gt;  “ adalah seorang ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih, dan ahli ushul  fiqh. Beliau dilahirkan pada tahun 1173 H di daerah Syaukan bagian dari  wilayah Yaman, dan wafat tahun 1250 H. Beliau mewariskan 114 karya  tulis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Abdul Hayyi Al-Laknawi Al-Hindi yang baru wafat sekitar 100  tahun yang lalu, yaitu pada tahun 1304 H. Dalam umurnya yang ke 39  tahun, tulisan beliau telah mencapai 110 kitab.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikh India Maulana Hakimatul Ummah Asyraf Ali At-Tahanawi, yang  wafat tahun 1362 H dalam usia 81 tahun. Beliau telah menghasilkan 1000  buah karya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kisah-kisah di atas menunjukkan kepada kita betapa besar dan  banyaknya karya tulis mereka. Bisakah kita sebagai generasi penerus  mengikuti jejak mereka ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menulis Apa Yang Ada Di Benak   &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama menulis apa saja yang mereka dapatkan, dan menulis apa  saja yang mereka miliki. Mereka tidak mau ilmu yang pernah mereka  dapatkan berlalu begitu saja. Bahkan apa yang terlintas di dalam benak  mereka, segera mereka tulis jangan sampai hilang, karena di dalamnya  mengandung ide-ide yang cemerlang, sayang kalau dibuang begitu saja,  karena kadang-kadang ide-ide tersebut tidak datang lagi. Lihat   umpamanya&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Bukhori, beliau pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia  pun menyalakan lampu dan mencatat ilmunya yang terlintas di benaknya,  lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian ia bangun lagi dan melakukan  hal yang sama. Demikian, sampai hal itu terjadi kurang lebih dua puluh  kali.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Muhammad bin Yusuf berkata, “Suatu malam, aku berada di rumah  Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori. Aku memperhatikannya bangun, lalu ia  menyalakan lampu untuk mengingat sesuatu, dan mencatatnya sebanyak  delapan belas kali.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Isma’il bin Ayyasy salah seorang ulama besar, ketika sedang sholat,  beliau sempat menghentikan shalatnya, sekedar untuk menulis hadits.  Beliau bercerita : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ Saat itu aku sedang shalat, maka aku pun membaca  beberapa ayat. Lalu aku teringat sebuah hadits dalam salah satu bab yang  aku keluarkan. Maka aku pun menghentikan shalat,  lalu aku segera  menulisnya, dan kemudian aku kembali shalat.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu ketika Syaikh Alauddien masuk ke kamar mandi yang berada di  pintu Az-Zahumah. Ketika di pertengahan mandi, beliau beranjak ke ujung  kamar mandi tempat melepas pakaian pakaian. Beliau minta diambilkan  tinta, pena dan kertas. Lalu beliau langsung menyusun tulisan dalam soal  denyut nadi hingga selesai. Setelah itu beliau kembali ke kamar mandi  dan menyempurnakan mandinya.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Luar biasa bukan ? Bisakah kita mengikuti jejak mereka ? Saya teringat dengan kata-kata pepatah orang-orang dahulu :&lt;/p&gt; &lt;p dir="rtl"&gt;إذا كانت النفوس كبارا       تعبت في مرادها الأجسام&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;“ Jika jiwa itu mempunyai cita-cita tinggi        Maka badan ini akan capai mengikuti kemauannya. ” &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;strong&gt;Kapan Mereka Menulis  ? &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika kita mendapatkan karya para ulama yang begitu banyak dan  menakjubkan, kadang-kadang timbul rasa penasaran di dalam benak kita : “  Kapan dan bagaimana mereka menulis “ ? Padahal kalau dilihat dari umur  dan kesibukan mereka mengajar, sepertinya tidak mungkin mereka berkarya  sebanyak itu, bahkan sebagian ulama jika dibandingkan banyak  karya-karyanya dengan umur yang mereka miliki rasanya tidak sebanding,  bahkan bisa dikatakan mustahil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi setelah ditelusuri kehidupan mereka secara lebih mendetail,  ternyata mereka telah menggunakan waktu mereka sebaik mungkin, mereka  tidak rela sedetik waktu yang mereka miliki dibuang sia-sia tanpa ada  kegiatan menulis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Marilah kita tengok sebagian dari keahlian mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk berkarya dan menulis .  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Di Dalam Perjalanan&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perjalanan banyak menyita waktu di dalam kehidupan manusia. Bahkan  kehidupan di kota-kota besar seperti Jakarta, yang terkenal dengan  kemacetannya. Membuat banyak orang stress, karena mereka harus berangkat  kerja pagi- pagi benar, kemudian malam baru bisa pulang, mereka sering  terjebak dalam kemacetan panjang, yang membuat umur mereka habis di  jalan. Kapan mereka akan menulis dan berkarya ?  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama tidak mau kenal menyerah di dalam menempuh cita-cita  mereka, di dalam perjalananpun mereka menyempatkan diri untuk berkarya  dengan menggoreskan pena-pena mereka, mengukir ilmu, mewariskan banyak  manfaat untuk kehidupan manusia. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sa’id bin Jubair,  seorang tabi’in yang wafat tahun 95 H pernah berkata : &lt;em&gt;“Aku  berjalan bersama Ibnu Abbas di suatu jalan di Mekkah di malam hari.  Beliau menyampaikan hadits kepadaku, dan aku menulisnya di tengah pelana  unta. Sehingga datanglah waktu pagi, lalu aku menulisnya kembali.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara itu Ibnu Qayim al Jauziyah, konon di dalam perjalanan  hajinya bisa menyelesaikan buku yang spektakuler tentang kehidupan dan  petunjuk seorang nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam  yang diberinya judul “ &lt;span style="font-style: italic;"&gt; Zaadul Ma’aad  “&lt;/span&gt; Buku ini terdiri dari enam jilid besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu ketika seorang ulama Timur Tengah kontemporer yang hingga kini  masih hidup. Dr. Yusuf Qardhawi datang ke Indonesia, dan ditanya tentang  tulisan-tulisannya yang begitu banyak, sampai-sampai yang sudah  diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia mencapai 40 buku lebih. Beliau  ditanya kapan menulis buku-bukui tersebut, beliau menjawab : &lt;em&gt;“ Di dalam perjalanan dari rumah ke kantor, atau dalam perjalan menuju ke tempat-tempat lain. &lt;/em&gt;“.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada 1950, Buya Hamka mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab  sesudah menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya. Sepulang dari  lawatan ini ia mengarang beberapa buku roman, yaitu Mandi Cahaya di  Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Anda juga bisa seperti mereka, ketika anda punya sopir pribadi, maka  dalam perjalanan anda bisa mengetik dengan laptop atau alat tulis yang  lebih kecil. Begitu juga ketika anda dalam perjalanan menggunakan  angkutan umum seperti bis dan kereta, apalagi pesawat, jangan biarkan  anda melamun atau bengong, tapi gunakanlah untuk membaca atau menulis.  Kebanyakan orang sekarang mengisi kekosongan mereka  dalam perjalanan  dengan bermain hp dan membuka internet, kenapa anda tidak gunakan untuk  berkarya dan menulis ?  Di tengah-tengah kemacetan kenapa anda  tidak  memnafaatkan untuk membaca, menghafal, merenung, berfikir, serta mencari  ide-ide cemerlang ?   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mengurangi Waktu Makan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Manusia hidup perlu makan. Tapi kadang proses untuk dapat makanan   banyak menyita waktu seseroang. Lihatlah ibu-ibu yang harus belanja  sayur-sayuran ke pasar, beberapa jam mereka di pasar, kemudian setelah  pulang mereka harus mengolahnya kemudian memasaknya. Berapa jam mereka  membutuhkan waktu itu semua ? Bukankah untuk menyediakan makanan menyita  banyak waktu dari hidup kita ?  Kapan ibu-ibu itu punya waktu untuk   menulis jika pekerjaan seharian terus-menerus seperti itu ?  Adakah  cara yang lebih praktis dan efesien untuk mendapatkan makanan, sehingga  sisa waktunya bisa dipakai untuk menulis dan berkarya ?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para ulama mempunyai trik-trik sendiri untuk menghindari makan yang  banyak menghabiskan waktu. Sebagai contoh kita dapatkan Ubaid bin Ya’is  teryata untuk efesien waktu, beliau  tidak pernah makan dengan kedua  tangannya sendiri. &lt;em&gt;Beliau selalu disuapi saudaranya perempuan selama 30 tahun, karena sibuk menulis. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Suhnun, seorang ulama Malikiyah yang sangat terkenal tersebut  juga sering disuapi budaknya, karena tidak ada waktu untuk makan. Beliau  sedang sibuk menyusun buku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Diriwayatkan juga bahwa Abu Al Wafa’ bin Uqail Al Hambali adalah  seorang ulama dari madzhab Hambali yang sangat ketat di dalam menjaga  waktunya. Jika mulut , lidah , dan matanya capai karena banyaknya yang  dibaca, dia terdiam merenung dan merancang apa saja yang perlu ditulis,  maka ketika ia duduk atau berbaring, kecuali beliau telah menghasilkan  banyak hal-hal yang bisa dicatat dalam buku. Bahkan beliau memilih-milih  makanan yang paling praktis dan cepat dimakan, untuk kemudian sisa  waktunya digunakan untuk membaca dan menulis.&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Diriwayatkan bahwa beliau memilih roti  yang agak basah dari pada  roti yang kering. Tentunya waktu untuk mengunyah roti yang basah jauh  lebih sedikit dibanding waktu yang dibutuhkan untuk mengunyah roti yang  kering. Jeda waktu antara keduanya bisa beliau manfaatkan untuk membaca  dan menulis. Subhanallah, tidak kaget kalau karya-karya beliau sampai  800 jilid lebih.   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Di Pengasingan dan Penjara &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Syamsudin As-Syarkhasi telah mampu menulis kitab &lt;em&gt;“ Al Mabsuth “,&lt;/em&gt;  sebuah buku spektakuler yang dijadikan rujukan ulama Hanafiyah. Buku  ini terdiri dari 30 jilid besar, kebetulan saya mempunyai buku tersebut.  Beliau menulis buku tersebut di dalam penjara dengan cara mendiktekan  kepada murid-muridnya. Beliau dimasukkan penjara karena memberikan  nasehat kepada salah satu penguasa pada waktu itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibnu Taimiyah sering keluar masuk penjara, karena menyampaikan  kebenaran apa adanya, banyak orang yang hasad kepadanya. Beliau difitnah  sehingga dijebloskan penjara oleh penguasa.  Selama di dalam penjara,  beliau manfaatkan untuk menulis. Tatkala beliau dijebloskan kembali ke  dalam penjara yang berada di dalam benteng selama dua puluh bulan lebih,  beliau dilarang untuk menulis dan menelaah kitab. Orang orang yang  hasad dengan beliau tak membiarkan ada buku tulis maupun tinta di sisi  beliau, karena tulisan-tulisannya bisa mempengaruhi banyak orang. Beliau  dalam keadaan seperti itu beberapa bulan lamanya, sehingga beliau mulai  berkonsentrasi untuk beribadah dengan membaca al-Qur’an, sholat  tahajjud, serta berdzikir hingga beliau wafat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Konon Buya Hamka, tokoh kelahiran Maninjau, Sumatra Barat, 16  Februari 1908, ini hanya sempat masuk sekolah desa selama tiga tahun dan  sekolah-sekolah agama di Padangpanjang dan Parabek (dekat Bukittinggi)  selama kurang lebih tiga tahun. Pada 27 Januari 1964, Hamka ditangkap  oleh pemerintahan Soekarno. Dalam tahanan Orde Lama ini ia menyelesaikan  kitab Tafsir al-Azhar (30 Juz). Ia keluar dari tahanan setelah Orde  Lama tumbang.. Nama beliau dikenal luas berkat karya-karyanya. Tafsir  yang beliau beri nama Tafsir Al Azhar tersebut sekarang menjadi rujukan  masyarakat Indonesia dan Malaysia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sayyid Quthb, seorang tokoh Muslim yang juga berhasil menyelesaikan  penulisan tafsir Alquran Fi Dzilalil Qur’an di dalam penjara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Di Waktu Sepertiga Akhir Malam &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Malam hari, khususnya sepertiga akhir malam merupakan waktu yang  penuh barakah. Oleh karenanya, kita diperintahkan  bangun dari tidur  untuk melaksanakan sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah swt.  Para  ulama menyebutkan jika seseorang bangun malam diberi dua pilihan antara  sholat atau belajar. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Al-Mufassir Abu Tsana’ Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Alusi  Al-Baghdadi, seorang mufti sekaligus penutup para ahli tafsir, lahir  pada tahun 1217 H dan wafat tahun 1270 H. Di setiap akhir malam beliau  memanfaatkan untuk menulis lembaran demi lembaran tentang tafsir.  Sehingga, pada keesokan pagi harinya, tulisan itu beliau serahkan kepada  para juru tulis yang ditugaskan dirumah beliau. Mereka tidak mampu  menyelesaikan tulisan itu secara baik, kecuali dalam rentang waktu  sepuluh jam. Beliau terus saja menulis hingga saat sakit beliau yang  terakhir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Antara Sholat Lima Waktu &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Allah Ta'ala telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk melaksanakan  sholat dalam lima waktu yang terpisah-pisah  dalam satu hari.    Barangsiapa yang mampu memanfaatkan waktu-waktu tersebut insya Allah  akan diberkati amalannya. Imam Abdul Ghani Al-Maqdisi telah berhasil  memanfaatkan waktu-waktu tersebut untuk menulis. Setelah shalat shubuh ,  beliau mengajarkan al-Qur’an atau terkadang mengajarkan hadits. Lalu  beliau berwudhu dan shalat sebanyak 300 rakaat dangan membaca al-fatihah  dan mu’awwadzataini, hingga mendekati waktu dzuhur. Kemudian, beliau  tidur ringan, lalu bangun untuk shalat dzuhur, dan kemudian sibuk  menyimak atau menyalin tulisan hingga datang waktu maghrib.”&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menggunakan Sarana Yang Terjangkau &lt;/strong&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam kitabnya &lt;em&gt;Al-Intiqa fi Fadha’ilits Tsalasatil A’immatil fuqaha’ &lt;/em&gt; dengan  sanadnya yang sampai kepada Imam Syafi’I, bahwa Imam Syafi’I  menuturkan, “Aku tidak mempunyai harta. Aku menuntut ilmu dalam usia  muda yaitu sebelum  13 tahun . Aku pergi ke kantor meminta kertas bekas  untuk menulis.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;” Maksudnya, kertas bekas yang sebelahnya telah dipakai  dan sebelahnya belum terpakai. Kemiskinan tidaklah menghalangi beliau,  untuk terus menulis ilmu. Sehingga beliau termasuk Imam Madzhab yang  paling banyak karyanya dibanding dengan ketiga imam madzhab yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menulis tidak harus menunggu punya computer atau laptop, menulislah  di buku-buku tulis, atau di kertas-kertas bekas, sebagaimana para ulama  menulis. Menulis dengan bulpen, dengan pencil, dengan spidol, dengan apa  saja, yang penting anda menulis. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menulis Sambil Makan  &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Hafidz Dzahabi berkata di dalam &lt;em&gt;Tsadzkiratul Hufadz, &lt;/em&gt;tentang  biografi Al-Hafidz Abu Bakar Abdullah Bin Imam Al-Hafidz Abu Daud  As-Sijistani, ia berkata, “Aku memasuki kota kuffah dan hanya mempunyai  uang satu dirham. Dengannya aku membeli 30 mud kacang-kacangan . Aku  makan darinya dan menulis hadits dari Al-Asyaj –yakni Abdullah bin Sa’id  Al-Kindi, ahli hadits kuffah-. Kacang-kacangan tersebut belum habis,  hingga aku mampu menulis darinya 30.000 hadits , baik yang &lt;em&gt;maqthu’ &lt;/em&gt;maupun yang &lt;em&gt;mursal.”&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Al-Barqani menuturkan, “ Aku memasuki kota Isfirayin, sedangkan aku  berbekal uang tiga dinar dan satu dirham. Tiga dinar tersebut hilang,  dan yang tersisa hanyalah satu dirham. Aku memberikannya kepada tukang  roti. Setiap harinya aku menerima darinya dua potong roti. Aku mengambil  satu jilid buku dari Bisyr bin Ahmad, lalu aku menyalinnya dan  menyelesaikannya di petang hari. Aku telah menyalin 30 jilid kitab,  sedangkan jatahku dari tukang roti telah habis. Maka, aku pun  melanjutkan melanjutkan perjalanan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menulis Cepat &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Abu Isma’il Al-Anshari berkata : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;” Seorang ahli hadits harus memiliki  sifat cepat dalam berjalan, cepat dalam menulis, cepat dalam membaca.”&lt;/span&gt;   Perlu ditambah satu lagi, yaitu cepat dalam makan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kenapa harus cepat berjalan ? Karena dengan cepat berjalan, waktu  akan lebih efesien dan lebih cepat sampai kepada tujuan. Bisa diartikan  lebih cepat kepada syekh atau guru, sehingga ilmu yang akan di dapat  lebi banyak. Untuk zaman sekarang, bisa diterapkan dengan menggunakan  pesawat, walaupun mahal sedikit, tapi bisa efesien waktu, apalagi di  dalam perjalanan bisa dimanfaatkan untuk menulis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kenapa harus cepat menulis ? Karena seseorang yang bisa menulis  cepat, berarti dia bisa menulis lebih banyak, sehingga menjadi  produktif. Oleh karenanya dianjurkan bagi siapa saja yang ingin menulis,  hendaknya dia menulis yang ada di dalam benaknya dan yang ia kuasai.  Jika ingin menambahkan dari beberapa referensi, hendaknya mencari  referensi yang terjangkau dan mudah dipahami, sehingga tidak menghambat  proses penulisan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kenapa harus membaca cepat ? Karena dengan membaca cepat, maka  maklumat yang ia dapatkan jauh lebih banyak, sehingga membantunya untuk  mempercepat tulisannya. Karena tulisan seseorang tergantung kepada  maklumat yang dimilikinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kenapa cepat dalam makan ?  Kalau seseorang bisa makan cepat, waktu  yang tersisa bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, terutama  membaca dan menulis.  Di bawah ini dijelaskan bagaimana para ulama yang  produktif, ternyata mereka menulis dengan cepat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Imam Burhanuddin Ibrahim Ar-Rasyid berkata,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “jika Ala’ bin Nafis  ingin mengarang sebuah kitab, maka beliau pun meletakkan pena-pena yang  telah dirautnya, lalu beliau berputar menghadapkan wajahnya kearah  dinding. Kemudian beliau menulis dari berbagai ide yang terbetik dalam  benaknya. Beliau menulis ibarat air yang mengalir. Bila penanya tumpul  dan tidak jelas tulisannya, maka beliau mencampakkannya dan menggunakan  yang lainnya, agar waktunya tidak terbuang untuk meraut pena yang tumpul  .&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam usia 57 tahun adalah beliau  menghasilkan sekitar 500 jilid karya tulis. Beliau mampu mengarang dalam  sehari sebanding dengan jumlah lembar tulisan seorang juru tulis pada  zaman itu yang ditulis selama sepekan atau bahkan lebih banyak lagi.  Biasanya saat menyampaikan fatwa, beliau mampu menulis sejumlah masalah  dangan tulisan yang sangat cepat, disertai penjelasan dan penjabaran  hal-hal yang sulit.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam sehari semalam beliau mampu menulis masalah tafsir atau fiqih,  atau masalah-masalah ushul fiqih, ushul kalam, dan tauhid, atau  memberikan bantahan terhadap kalangan filosof dan ahli takwil, sekitar  empat buku tulis atau lebih. Maka tak berlebihan jika karya beliau  hingga sekarang mencapai 500 jilid. Dalam sejumlah masalah, beliau  memiliki karya tersendiri. Beliau seorang yang pandai menulis secepat  kilat dan laksana hujan deras yang tak henti-hentinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beliau mampu menulis tentang satu masalah hingga tak ada batasnya.  Beliau mampu menulis dua atau tiga lembar dalam sekali duduk. Syaikh  Ibnu Qoyyim telah menulis sebuah risalah yang berisi nama-nama karya  Ibnu Taimiyah, hingga mencapai 22 halaman.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adalah Al- Khatib Al Baghdadi pernah berkata : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;” Saya mendengar dari  Al-Simsi yang menceritakan bahwa Ibnu Jarir At Tobari selama 40 tahun,  menulis setiap harinya 40 lembar . Bahkan salah seorang murid Ibnu Jarir  yang bernama  Al Farghani mengatakan bahwa para murid Ibnu Jarir telah  mendata kehidupan beliau sejak baligh hingga meninggal dunia pada umur  86 tahun. Kemudian mereka mengumpulkan seluruh karya-karya beliau, dan  jika dibandingkan dengan umur beliau, ternyata didapatkan bahwa beliau  menulia setiap harinya 14 lembar. Dan ini tidak akan mampu dilakukan  oleh seseorang kecuali atas inayah Allah Ta'ala. Dan jika dihitung-hitung  lembaran karya tulisnya maka didapatkan jumlahnya sekitar 358.000  lembar.&lt;/span&gt; Wallahu A’lam&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Sumber:http://www.ahmadzain.com/read/penulis/268/bahtera-pena-para-ulama/)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-8323924781568833644?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/8323924781568833644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/bahtera-pena-para-ulama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8323924781568833644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8323924781568833644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/bahtera-pena-para-ulama.html' title='Bahtera Pena Para Ulama'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-6937017124959706992</id><published>2011-09-27T07:36:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T07:42:22.968-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Kritik Atas Manhaj Takfir</title><content type='html'>Kajian ini berisi kritik atas manhaj pelaku dakwah yang mudah mengafirkan (takfir) kelompok lain yang berbeda pendapat dengannya. Padahal perbedaan itu masih di wilayah ijtihadiy sehingga sangat mungkin terjadi perbedaan, dan perbedaan itu sah menurut para ulama. Sikap berlebih-lebihan dalam masalah takfir (mengafirkan orang, mengeluarkan kaum muslimin dari agama Islam dan memerangi mereka), bila dibiarkan akan mengganggu hubungan persaudaraan (ukhuwah) di antara kaum muslimin. Dan hal tersebut selain menyebabkan kegagalan misi dakwah, juga menimbulkan citra yang buruk bagi pelaku dakwah dan umat Islam secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan takfir, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid dalam bukunya Dar’ul Fitnah ’an Ahli Sunnah memberikan beberapa rambu dan peringatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Takfir adalah hukum syari’at yang tidak boleh didasarkan pada ra’yu (akal) semata, karena masalah ini termasuk masalah syar’i, bukan masalah aqliyah. Oleh karena itu, pendapat yang benar dalam masalah ini adalah bahwa takfir merupakan hak Allah semata, dan tidak ada seorang pun di antara hamba-hamba-Nya yang berhak menentukannya. Maka orang kafir adalah orang yang dikafirkan Allah dan rasul-Nya, bukan yang lain. Demikian juga menghukumi seseorang sebagai orang adil, darahnya terjaga dan termasuk orang yang berbahagia di dunia dan akhirat merupakan masalah syar’i, oleh karena itu ra’yu tidak boleh masuk ke dalamnya. Hukum untuk menentukan itu adalah hak milik Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Untuk menghukumi sesuatu sebagai riddah dan kufr harus ada sebab-sebab adanya hukum riddah dan kufr yaitu perkara-perkara yang membatalkan keislaman dan keimanan, baik berupa keyakinan, perkataan, perbuatan, keraguan, atau meninggalkan suatu perbuatan, yang menurut dalil yang jelas dan keterangan yang terang dari al-Kitab, sunnah dan ijma’ bahwa hal ini merupakan pembatal-pembatal iman yang mu’tabar. Maka dalil yang dlaif  (lemah) tidak cukup untuk dijadikan sandaran, demikian juga dalil yang masih samar. Dan tidak boleh mengambil pendapat seorang pun jika pendapatnya itu tidak didasari dalil yang jelas dan shahih. Para ulama telah menjelaskan sebab-sebab kekufuran di dalam kitab-kitab akidah, dan dalam sub bab hukum orang murtad dalam kitab-kitab fikih. Sebagaimana adanya faktor-faktor yang harus ada untuk menentukan hukum riddah dan kekufuran, maka dia juga memiliki beberapa syarat dan penghalang. Syaratnya adalah harus ada penegakan hujjah risalah yang dapat menghilangkan syubhat, dan tidak adanya penghalang-penghalang seperti takwil, kebodohan, kesalahan dan paksaan. Pada sebagian syarat tersebut ada perinciannya yang cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Harus dibedakan antara takfir mutlak dan takfir mu’ayyan. Takfir mutlak adalah tindakan mengafirkan secara umum terhadap orang yang melakukan salah satu pembatal keislaman. Sesungguhnya keyakinan, perkataan, perbuatan, keraguan ataupun meninggalkan satu perbuatan itu jika termasuk kekufuran, maka perkataan yang mutlak itu adalah dengan mengafirkan orang yang melakukan perbuatan itu atau mengucapkan perkataan tersebut dan seterusnya. Tanpa menentukan orang per orangnya. Adapun takfir mu’ayyan adalah jika ada orang yang mengucapkan perkataan itu atau melakukan perbuatan kufur, maka sebelum menghukumi bahwa orang itu kafir harus dilihat terlebih dahulu terpenuhinya syarat-syaratnya dan tidak adanya penghalang. Dia dihukumi sebagai kafir dan murtad, lalu diminta untuk bertaubat, maka jika dia bertaubat, dia bebas. Dan jika tidak mau bertaubat, dia dibunuh menurut ketentuan syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Pendapat yang benar adalah tidak mengafirkan setiap orang yang menyelisihi ahlussunnah wal jama’ah karena penyimpangannya. Tetapi hukumnya didudukkan sesuai dengan jenis penyimpangannya, apakah termasuk kekufuran, bid’ah, fasik atau maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Demikianlah pendapat ahlussunnah wal jama’ah, yaitu tidak mengafirkan setiap orang yang menyelisihi mereka. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki ilmu, iman, sikap adil, dan kasih sayang kepada sesama makhluk. Ini berbeda dengan ahlul hawa’, yang kebanyakan mereka mengafirkan orang yang menyelisihi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Sebagaimana iman itu bercabang-cabang dan tingkatannya berbeda-beda (yang paling tinggi adalah ucapan laa ilaa haillallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu itu termasuk salah satu cabang iman), maka demikian juga dengan kekufuran, yang merupakan lawan dari iman, dia juga bercabang-cabang dan tingkatannya berbeda-beda. Yang paling buruk adalah kekufuran yang dapat mengeluarkan pelakunya dari agama, seperti kufur kepada Allah dan mendustakan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Ada juga yang disebut kufur duna kufrin (kekufuran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama). Dan ada pula sebagian perbuatan maksiat yang dinamai dengan kekufuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Oleh karena itu, para ulama tafsir, para pensyarah hadits dan para penulis ilmu bahasa Arab dan kata-kata yang memiliki lebih dari satu makna mengingatkan, bahwa lafazh kufur yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah itu memiliki beberapa makna: ada yang termasuk kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama, kufr duna kufrin, kufur nikmat, bebas dari tuduhan, juhud (ingkar) dan menutupi (sesuai dengan asal maknanya menurut bahasa). Berdasarkan hal ini, maka jika ada seorang hamba yang melakukan salah satu cabang kekufuran, dia tidak serta merta menjadi kafir secara mutlak yang mengeluarkannya dari agama, sehingga dia melakukan pokok kekufuran, yang berupa salah satu pembatal keislaman, baik yang berupa keyakinan, perkataan ataupun perbuatan yang keterangannya bersumber dari Allah dan rasul-Nya, bukan dari yang lain. Maka yang wajib dilakukan adalah meletakkan nash-nash sesuai pada tempatnya, dan menafsirkannya sesuai dengan yang dimaksud nash tersebut berdasarkan penjelasan para ulama amilin yang ilmunya mendalam. Kekeliruan dalam masalah ini sering terjadi dalam tataran praktik dan penafsiran nash, maka hendaknya orang yang ingin adil pada dirinya menyadari bahwa ini merupakan perkara yang pelik dan rinci, dan hendaknya dia berhenti pada batas-batasnya dan menyerahkan ilmu kepada orang yang menguasainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.   Menetapkan hukum kafir itu bukan merupakan hak setiap orang, namun penetapan hukum ini diserahkan kepada para ulama yang memahami ilmu syar’i secara mendalam dan mendapat pengakuan dalam hal ilmu, kebaikan dan keutamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Adanya peringatan keras dan larangan berburuk sangka kepada seorang muslim, apalagi mencacinya dan mengafirkannya, menghukuminya sebagai orang murtad dan tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan dalam masalah itu tanpa didasari hujjah dan penjelasan dari al-Qur’an dan sunnah[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sangat hati-hati ketika memberikan status kafir kepada kelompok-kelompok sesat. Hal itu bukan lain karena besarnya akibat yang muncul dari status kafir. Berikut beberapa pendapat ulama tentang hal tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Khatabi, dalam kitab Ma’alim as-Sunan-nya, ketika mensyarahi hadits perpecahan umat, mengatakan:”Di dalam hadits tersebut ada dilalah yang menunjukkan bahwa kelompok-kelompok itu semua tidak keluar dari agama, karena Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam telah menjadikan mereka semua bagian dari umatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Yusuf al-Qardhawi mengatakan bahwa semua golongan ahli sunnah, baik itu mazhab Asy’ari, Maturidi, Hambali, Mutakallimin, Ahli hadits, para ulama fiqih maupun sufi, tak satupun yang mengafirkan golongan-golongan yang mereka pandang sebagai pelaku bid’ah. Mereka tidak mengafirkan golongan Khawarij dan Muktazilah serta golongan lainnya. Mereka tidak menganggap golongan yang melakukan bid’ah itu keluar dari Islam. Mereka hanya memberikan hukum bahwa golongan tersebut adalah golongan pembuat bid’ah saja, tidak lebih.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang pendapat Syaikh Islam Taqiyuddin As-Subki tentang ahli bid’ah (dalam hal akidah) tertuang dalam kitab Al-Yawaqit wa al-Jawahir, karya Asy-Sya’rani. Imam As-Subki berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa keberanian mengafirkan orang-orang yang beriman adalah sesuatu yang amat serius. Setiap orang yang menyimpan keimanan dalam kalbunya, akan merasa sangat takut melontarkan ucapan pengkafiran terhadap para ahli bid'ah itu, sementara telah mengikrarkan kalimat La ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah. Sungguh, pengkafiran adalah perkara yang amat serius dan sangat berbahaya. Maka demi menjaga adab dan sikap lurus, setiap orang Mukmin hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan mengafirkan siapa pun dari para ahli bid'ah itu, kecuali apabila mereka secara terang-terangan berlawanan dengan nash-nash yang jelas dan pasti dan yang tidak mengandung kemungkinan untuk ditakwilkan."[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abdul Hadi Al-Mishri, mengutip dari Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, Ahli Sunnah wa al-Jama’ah berpendapat bahwa bid’ah yang menentang Sunnah ada yang terjadi dalam perkara-perkara yang samar, dan ada juga yang terjadi berkenaan dengan perkara-perkara prinsip yang besar. Oleh sebab itu, pelaku-pelaku bid’ah bersama pendukungnya mempunyai tingkat penyimpangan yang berbeda-beda terhadap Sunnah. Sebagian mereka berselisih dalam soal lafazh dan asma. Sebagian lagi berselisih dalam soal makna dan hakikat segala sesuatu.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (salah seorang ulama bermadzhab hambali) di dalam Majmu’atur Rasail wa al-Masail juz 5 halaman 199 dan 201, mengatakan bahwa tidak boleh mengafirkan seorang muslim dengan alasan dosa yang telah dilakukannya atau kesalahan yang pernah ia lakukan, seperti dalam masalah-masalah yang memang terjadi perbedaan diantara ahli kiblat (umat Islam). Orang-orang Khawarij yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk memerangi mereka, dan amirul mukminin Ali bin Abi Thalib pun telah berperang dengan mereka serta telah terjadi kesepakatan di antara para imam di antara kaum muslimin mulai zaman shahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya untuk memerangi mereka, namun Shahabat Ali bin Abi Thalib, Sa’ad bin Abi Waqqash dan para shahabat lainnya tidak menganggap mereka kafir. Mereka tetap sebagai muslim, tetapi harus diperangi. Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib tidak memerangi mereka kecuali setelah mereka menumpahkan darah terlebih dahulu dan merampas harta kaum muslimin. Jadi Amirul mukminin memerangi mereka dalam rangka untuk menumpas kedzaliman mereka, dan bukan karena mereka termasuk orang-orang kafir. Karenanya istri-istri mereka tidak dijadikan sebagai tawanan perang, demikian juga harta-harta mereka juga tidak dijadikan sebagai rampasan perang (ghanimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau orang Khawarij yang telah ditetapkan oleh nash dan ijma’ sebagai kelompok yang sesat dan harus diperangi tidak dianggap sebagai kelompok yang kafir, lalu bagaimana dengan kelompok-kelompok yang berbeda pendapat, yaitu kelompok yang tidak mengetahui sesuatu yang benar terhadap beberapa hal, yang orang sebelum mereka (yang lebih memahami tentang agama ini) juga salah dalam hal itu? Maka tidak diperbolehkan (la yahillu) saling mengafirkan di antara mereka, karena barangkali mereka sendiri yang lebih banyak berbuat bid’ah dibanding kelompok yang mereka kafirkan. Secara umum bisa dikatakan bahwa mereka semua adalah orang-orang yang tidak tahu hakekat sebenarnya tentang masalah yang diperselisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah, harta, dan harga diri kaum muslimin hukum asalnya adalah haram bagi kaum muslimin yang lain. Hukum itu tidak bisa berubah menjadi halal kecuali atas izin Allah dan rasul-Nya. Ketika ada seorang muslim yang dianggap (muta-awwal) harus diperangi atau dihukumi kafir, tidak otomatis dia menjadi kafir sebab anggapan itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khattab kepada Hatib bin Abi Balta’ah,”Wahai Rasulullah, biarkanlah saya memenggal leher munafik ini.” Rasulullah saw menjawab,”Dia adalah termasuk ahli Badr (orang yang ikut perang Badar). Tahukah kamu bagaimana sikap Allah kepada Ahli Badr? Allah berfirman,’Berbuatlah semau kalian, karena kalian sudah diampuni.’ Dan kisah ini terdapat dalam Shahihain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain yaitu pada peristiwa ifiq. Usaid bin Hudlair berkata kepada Sa’ad bin Ubadah,”Kamu itu orang munafik yang mengolok-olok orang-orang munafik.” Akhirnya terjadilah permusuhan di antara mereka. Kemudian Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam mengishlahkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat: 9-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ayat di atas, sungguh Allah ta’ala telah menjelaskan bahwa mereka, meskipun saling berperang dan saling menganiaya, tetap sebagai saudara seiman. Karenanya, Allah memerintahkan untuk ishlah di antara mereka dengan adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy-Syatibi (salah satu ulama bermadzhab maliky) di dalam kitab Al-I’tishom juga membicarakan tentang para pengikut hawa nafsu (ahlul hawa) dan para pelaku bid’ah (ahlul bid’ah) yang sering mengambil sikap yang berbeda dengan umat Islam, seperti kelompok Khawarij dan lainnya. Beliau berkata,”Umat (para ulamanya) berbeda pendapat tentang status para pelaku bid’ah yang besar (al-bida’ al-’udzma), apakah mereka kafir atau tidak. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat adalah tidak menghukumi mereka sebagai kafir. Dalilnya adalah tindakan ulama salaf terhadap mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan sikap ’Ali radliyallahu ’anhu terhadap kelompok Khawarij, ketika beliau memperlakukan mereka---meskipun memerangi mereka---sebagaimana memperlakukan umat Islam. Sesuai dengan firman Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi (salah satu ulama bermadzhab Syafi’iy) di dalam Syarh Muslim berkata,”Ahli kiblat (seorang muslim) tidak menjadi kafir karena suatu dosa yang dilakukannya. Para pengikut hawa nafsu dan bid’ah (seperti Khawarij, Mu’tazilah dan Rafidlah) juga tidak kafir. Adapun orang yang menentang/menolak terhadap apa –apa (dari agama) yang telah diketahui dengan pasti, maka ia dihukumi murtad dan kafir, kecuali ia baru masuk Islam atau berada di daerah yang sangat jauh/pelosok sehingga tidak ada informasi tentang agama Islam ke daerah tersebut. Demikian juga (dihukumi kafir) orang yang menghalalkan zina, khomr, membunuh atau lainnya yang memang diharamkan secara pasti oleh agama.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ghazali (salah seorang ulama bermadzhab syafi’iy sekaligus asy-’ary) setelah membicarakan tentang Mu’tazilah, Musyabbihah dan kelompok-kelompok pembuat bid’ah di dalam agama serta kelompok-kelompok yang salah dalam melakukan ta’wil, beliau berkata,”Yang seyogyanya dilakukan adalah menahan diri untuk mengklaim kafir, selama ditemukan suatu alasan. Karena menghalalkan darah dan harta orang Islam yang sholat menghadap kiblat dan jelas-jelas membaca kalimat laa ilaaha illaah adalah suatu kesalahan. Dan kesalahan membiarkan hidup seribu orang kafir lebih ringan bila dibandingkan kesalahan mengalirkan darah seorang muslim. Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam, berkata, ’Aku diperintah untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan laa ilaaha illallah Muhammad rasulullah. Maka ketika mereka telah mengucapkannya, berarti telah menjaga darah dan harta mereka dari saya.’”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah al-Maqdisy juga menegaskan bahwa ia tidak mengafirkan seorang pun dari ahli qiblat sebab dosanya dan juga tidak mengeluarkannya dari Islam sebab perbuatannya.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang berkaitan dengan hukum kafir terhadap orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, Abu Nashar as-Sajzi mengemukakan dua pendapat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk, maka dia kafir yang mengeluarkannya dari agama. Inilah pendapat kebanyakan ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; dia kafir tetapi tidak mengeluarkannya dari agama. Maka dari itu Al-Khaththabi berkata,”Ini mereka katakan dalam rangka untuk menyalahkan orang-orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk itu, dengan kesalahan yang berat. Begitu juga para ulama terakhir dari sahabat-sahabat kami juga berselisih pendapat dalam mengafirkan mereka secara abadi. Sebagian besar mereka mengabadikannya seperti yang dinukil dari sekelompok ulama hadits klasik seperti Abu Hatim, Abu Zar’ah dan lain-lain. Tetapi sebagian lain menolak bahwa mereka kafir selamanya.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ulama-ulama di atas jelas sekali bagaimana kehati-hatian mereka dalam menghukumi kafir pada kelompok lain. Itu karena mereka menyadari hukum yang akan mengenai seseorang ketika ia murtad/kafir. Padahal kelompok-kelompok yang disebutkan oleh para ulama di atas, sebagian besar adalah kelompok-kelompok yang sudah dianggap sesat oleh para ulama. Lalu apa dalilnya, sehingga kita berani menganggap kafir kepada kelompok lain yang berbeda dengan kita, padahal jumhur ulama pun tidak menganggap kelompok itu sebagai kelompok sesat apalagi kelompok kafir? Wallahu a’lamu bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-‘Utsaimin, Syarh Lum’atul I’tiqad, Riyadl: Maktabah Thabariyyah, 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali, Iqtishod  fi al-I’tiqod, cet. 1, Beirut: Dar Al-Minhaj, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mishri, Muhammad Abdul Hadi, Manhaj dan Aqidah Ahlussunnah wal jam’ah: menurut pemahaman ulama salaf, penerjemah: Abu Fahmi, dkk, cet. 1, Jakarta: Gema Insani Press, t.t.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qahthani, Sa’id bin Musfir, Buku Putih Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, terjemahan oleh Munirul Abidin, cetakan kelima, Jakarta: Darul Falah, 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qaradlawi, Yusuf, Fiqih Peradaban: Sunnah sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan, Terjemahan oleh Faizah Firdaus, Surabaya: Dunia Ilmu, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawi, Shahih Muslim Syarh Nawawi, juz 1, Kairo: Dar al-Manar,  2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marzuki (ed), Nasihat Salaf untuk Salafi, Klaten: Wafa Press, 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (Sumber: Abdul Hakim, S.Si, Apt(Peneliti InPAS dan Dosen UIN Maliki Malang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-6937017124959706992?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/6937017124959706992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/kritik-atas-manhaj-takfir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/6937017124959706992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/6937017124959706992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/kritik-atas-manhaj-takfir.html' title='Kritik Atas Manhaj Takfir'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5990375713546710211</id><published>2011-09-25T05:05:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T05:08:31.157-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhbar'/><title type='text'>Waspadai Kristenisasi via Pacaran &amp; Hamilisasi (Belajar dari Kasus Bantul)</title><content type='html'>Cinta memang membutakan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love is Blind&lt;/span&gt;. Begitulah sebuah ungkapan. Ketika cinta sudah merasuk ke dalam dada, maka mata tidak bisa melihat sebuah kebenaran. Apapun akan dikorbankan untuk mendapatkan yang dicintainya. Tidak peduli akan melanggar norma agama ataupun harus mengorbankan kebahagiaan hakiki di akhirat. Naudzubillahi min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pengalaman berharga dialami Mawar, bukan nama sebenarnya, muslimah penduduk Bambanglipuro Bantul Jogjakarta. Bambanglipuro adalah sebuah kecamatan yang cukup banyak komunitas nasraninya hasil proyek penjajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pendidikan yang dialami mawar cukup memada. Dari TK hingga SMK di sekolah Muhammadiyah, bukan merupakan jaminan bagi gadis berusia 18 tahun ini untuk mempertahankan akidahnya ketika suatu saat ia berkenalan dengan seorang pemuda Katolik. Dengan usia masih sangat belia, Mawar berkenalan dengan Alex, lajang yang cukup berumur 33 tahun. Kesenjangan usia yang cukup jauh bukanlah hambatan. Cinta pun tumbuh seiring perkembangan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-style: italic;"&gt; .&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;..Alex datang dengan ditemani tokoh Nasrani setempat mengatakan kalau mawar sudah hamil, maka mereka harus segera dinikahkah di gereja...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu ketika, di awal bulan September 2011, Alex datang dengan ditemani tokoh Nasrani setempat mengatakan kalau mawar sudah hamil, maka mereka harus segera dinikahkah di gereja. Pak Amir, ayah Mawar pun linglung tak tahu harus berbuat apa. Maka ketika disodori surat kesediaan untuk menikahkan putrinya yang hamil di gereja, Pak Amir menyetujuinya dengan membubuhkan tanda tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa hari, Pak Amir mulai berpikir. Ia tidak rela mengorbankan anak dan keterunannya ke dalam lembah kesusahan yang tiada berkesudahan dalam keyakinan kafir, berpindah akidah. “Meskipun dari awal Mawar mengatakan ingin tetap istiqamah dalam Islam, tapi itu tidak mungkin. Bagaimana kebahagiaan di dunia dan di akhirat akan dicapai dengan perbedaan konsep hidup beragama yang berbeda. Tidak mungkin!” ujarnya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;...Cara apapun mereka tempuh untuk memurtadkan umat Islam...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dibantu segenap tokoh agama, tokoh masyarakat setempat dan beberapa ormas Islam, akhirnya Pak Amir mencabut surat pernikahan anaknya di gereja. Proses pencabutan berlangsung cukup cepat. Beberapa orang berkumpul di parkir samping gereja  membuat warga sekitar gereja kaget hingga beberapa personel polisi datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya penyadaran terhadap Mawar terus dilakukan. Ruqyah, dan pendampingan serta penambahan pemahaman kepada keluarga Pak Amir. Bu Amir yang berada di luar kota pun pulang untuk melihat keadaan anak dan suaminya karena beberapa kali Bu Amir diteror pemuda gereja tentang keselamatan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, para pemuda gereja juga menghembuskan berita bohong bahwa ormas Islam menggropyok gereja ketika melakukan pencabutan pembatalan pernikahan dengan menggunakan 3 truk. Padahal saat itu rombongan datang hanya beberapa orang tidak menggunakan truk. Datang dengan baik-baik dengan sebuah mobil dan puluhan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;...Alex bersama tokoh agama Nasrani setempat menipu dengan mengatakan kalau mawar sudah hamil 3 bulan, agar pihak keluarga merestui pernikahan di gereja...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ketika Alex, pacar korban datang dengan tokoh agama Nasrani setempat mereka sudah menipu dengan mengatakan kalau mawar sudah hamil 3 bulan dengan maksud agar pihak keluarga (ayah korban) segera memberikan restu untuk dinikahkan di gereja. Tindakan ngawur untuk mengelabuhi korban. Cara apapun mereka tempuh untuk memurtadkan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian di atas semoga menjadi pelajaran bagi para muslimah dalam mencari calon suami. Dan bagi para orangtua untuk senantiasa memperhatikan pergaulan anaknya. Jauhi pergaulan beda agama yang mengarah pada pacaran dan pernikahan. Karena hubungan ini rawan Kristenisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan kepada kita menempuh kehidupan ini dijalan-Nya, meskipun banyak persoalan berkaitan dengan akidah seringkali ada. [http://www.voa-islam.com/counter/christology/2011/09/20/16146/waspadai-kristenisasi-via-pacaran-hamilisasi-belajar-dari-kasus-bantul/]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5990375713546710211?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5990375713546710211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/waspadai-kristenisasi-via-pacaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5990375713546710211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5990375713546710211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/waspadai-kristenisasi-via-pacaran.html' title='Waspadai Kristenisasi via Pacaran &amp; Hamilisasi (Belajar dari Kasus Bantul)'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-8036062687185584074</id><published>2011-09-09T02:36:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T02:38:16.580-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhbar'/><title type='text'>Muslim Teheran Dilarang Syi'ah Shalat Idul Fitri</title><content type='html'>Warga Muslim yang tinggal di ibukota Iran, Teheran, dilarang menyelenggarakan shalat Idul Fitri pada 1 Syawal kemarin (31/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iran memerintahkan penganut Islam Sunni (selanjutnya disebut Muslim) yang merupakan minoritas di negara beragama Syi'ah itu, untuk tidak menyelenggarakan shalat Idul Fitri secara terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan polisi diterjunkan di ibukota untuk mencegah orang-orang Muslim memasuki gedung atau rumah yang mereka sewa untuk menggelar shalat Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Syi'ah Iran senantiasa menolak permohonan warga Muslim untuk mendirikan masjid mereka sendiri di Teheran. Sekarang ini tidak ada satu pun masjid di Teheran milik umat Islam Sunni. Padahal, di kota itu terdapat gereja-gereja dan sinagog-sinagog untuk orang Kristen dan Yahudi yang jumlah populasinya lebih sedikit daripada Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Polisi Teheran mencegah jamaah Sunni dari melaksanakan shalat Id di berbagai tempat di ibukota," tulis situs komunitas Muslim di Iran, SunniOnline.us. "Mereka mengepung rumah-rumah di mana Sunni melakukan shalat dan menghalangi jamaah yang ingin masuk ke dalam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dilansir Guardian, ribuan warga Syi'ah hari Rabu (31/8), berbaris di belakang pemimpin spiritual tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei, yang memimpin shalat Idul Fitri ala Syi'ah di Universitas Teheran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim Iran menggunakan shalat Idul Fitri untuk menunjukkan kepada publik bahwa tokoh-tokoh politik negeri itu  bersatu di belakang pemimpinnya. Politisi dari berbagai kelompok yang berbeda diwajibkan menghadiri acara itu. Jika mereka absen, maka ketidakhadirannya dianggap sebagai pembangkangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan konstitusi Iran, kelompok minoritas agama harus dihormati dan memiliki perwakilan di parlemen. Dua hari sebelum Idul Fitri (29/8), beberapa anggota parlemen dari kelompok Muslim menulis surat kepada Presiden Mahmud Ahmadinejad untuk meminta izin agar komunitas mereka diperbolehkan menggelar shalat Idul Fitri yang terpisah dari Syi'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim Teheran sejak beberapa pekan sebelumnya telah diperintahkan pejabat berwenang untuk membuat pernyataan tertulis berisi jaminan bahwa warga Muslim tidak akan menggelar shalat Idul Fitri di ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syiekh Abdul Hamid Ismail Zehi, imam Muslim di Zahedan, sebuah kota di kawasan tenggara Iran, mengkritik rezim Iran dalam khutbahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ingin meminta kepada pemimpin tertinggi agar menghentikan langkah-langkah diskriminatif dan ilegal dari sejumlah pejabat, karena mereka melarang minoritas Sunni di kota-kota besar Iran menggelar shalat khususnya shalat Id dan shalat Jum'at. Ini adalah permintaan seluruh Sunni di Iran," katanya sebagaimana dikutip SunniOnline.us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iran kerap membual bahwa penduduk Syi'ah dan Muslim di negaranya hidup berdampingan dengan damai. Namun, warga Muslim beberapa tahun belakangan mengeluhkan tindakan keras yang dilakukan rezim Syi'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rezim Syi'ah menuding Muslim yang bertanggungjawab atas pemboman belum lama ini di daerah selatan Iran. Syi'ah menuding Muslim bersama negara-negara Islam di Timur Tengah yang melakukan kejahatan itu.(http://www.hidayatullah.com/read/18773/09/09/2011/muslim-teheran-dilarang-syi%27ah-shalat-idul-fitri.html).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-8036062687185584074?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/8036062687185584074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/muslim-teheran-dilarang-syiah-shalat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8036062687185584074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8036062687185584074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/muslim-teheran-dilarang-syiah-shalat.html' title='Muslim Teheran Dilarang Syi&apos;ah Shalat Idul Fitri'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5570492969830326708</id><published>2011-09-09T02:29:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T02:32:23.142-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sya&apos;ir'/><title type='text'>Perokok Adalah Serdadu Berani Mati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://inoy3009.files.wordpress.com/2010/12/rokok.jpg?w=471&amp;amp;h=427"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 471px; height: 416px;" src="http://inoy3009.files.wordpress.com/2010/12/rokok.jpg?w=471&amp;amp;h=427" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh : Taufiq Ismail  &lt;/span&gt;                                                                        &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                                                           &lt;br /&gt;Para perokok adalah pejuang gagah berani.&lt;br /&gt;Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini.&lt;br /&gt;Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati.&lt;br /&gt;Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi&lt;br /&gt;Dan Perang Melawan Diri Sendiri.                           &lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;Perhatikanlah upacara mereka menyalakan belerang berapi.&lt;br /&gt;Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari.&lt;br /&gt;Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti.&lt;br /&gt;Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi. &lt;br /&gt;Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.        &lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati.&lt;br /&gt;Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri.&lt;br /&gt;Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali.&lt;br /&gt;Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari.&lt;br /&gt;Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.    &lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani.&lt;br /&gt;Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit&lt;br /&gt;yang dengan gembira menanti-menanti.&lt;br /&gt;Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.             &lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema.&lt;br /&gt;Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembuluh &lt;br /&gt;darah otak. Kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan&lt;br /&gt;rongga hidung. Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung. Radang pankreas,&lt;br /&gt;hati, ginjal, ureter dan kandung kemih. Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas&lt;br /&gt;dan impotensi. Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis)&lt;br /&gt;penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.&lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;Nama aslinya penyakit rokok.                       &lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi.&lt;br /&gt;4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti. Untuk orgamus nikotin 5 &lt;br /&gt;menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak &lt;br /&gt;yang masih memerlukan pencarian rezeki.&lt;br /&gt;Terhadap bagaimana telantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri.&lt;br /&gt;Atau nasib duda yang dulu namanya suami.&lt;br /&gt;Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri.&lt;br /&gt;Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.         &lt;br /&gt;                                                                           &lt;br /&gt;Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5570492969830326708?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5570492969830326708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/perokok-adalah-serdadu-berani-mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5570492969830326708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5570492969830326708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/perokok-adalah-serdadu-berani-mati.html' title='Perokok Adalah Serdadu Berani Mati'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5230604329327489318</id><published>2011-09-06T00:34:00.000-07:00</published><updated>2011-09-06T00:34:21.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fikrah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kitabah'/><title type='text'>Menantikan Lahirnya Generasi Shalahuddin</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.inpasonline.com/images/stories/buku%20misteri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.inpasonline.com/images/stories/buku%20misteri.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Judul buku: Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib: Refleksi 50 tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Asli: Hakadza zhahara Jil Shalahuddin wa hakadza adat al-quds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Dr. Majid Irsan Al-KilaniAlih Bahasa: Asep Sobari, Lc. dan Amaluddin, Lc. M.A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: Kalam Aulia Mediatama, 2007,xvi + 360 hlm. ; 15x23&lt;br /&gt;Peresensi: M. Masykur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang menyangkal, kekalahan kaum Muslimin dari pasukan Salib pada akhir abad 5 Hijriah, merupakan salah satu tragedi terbesar yang dialami umat Islam. Hal itu terjadi tidak lain karena kesalahan umat Islam sendiri. Sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, bahwa sebelum terjadi invasi pasukan Salib kondisi umat Islam berada dalam kemunduran dan kerusakan yang parah. Para penguasa meninggalkan amanat yang diemban dan gila dengan kemewahan serta kekuasaan, bahkan mereka berlaku dzolim kepada rakyat. Para ulama pun banyak yang menjadi &lt;i&gt;“ulama dunia”&lt;/i&gt; dengan mencari muka di depan para penguasa demi sebuah simpati atau jabatan dan bahkan tidak jarang terjadi permusuhan dan saling menjatuhkan antar ulama. Singkatnya, ada arus penyimpangan kolektif yang dilakukan oleh berbagai lapisan umat setelah ditinggalkan oleh tiga generasi emas (shalafus shalih). Penyimpangan yang merambah semua kalangan umat baik pemerintah, ulama, tentara, kaum kaya dan masyarakat biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun fakta sejarah berbicara, sekitar 90 tahun kemudian, tampil Shalahuddin Al-Ayyubi yang memimpin pasukannya merebut Hitthin sebaga pembuka jalan untuk merebut Palestina kembali. Apa gerangan yang terjadi? Apakah Shalahuddin Al-Ayyubi seoran utusan langit yang datang begitu saja untuk menyelamatkan umat? Apakah Shalahuddin seorang pahlawan tunggal yang berjuang sendirian dan mengandalkan segala keistimewaan pribadinya? Jawabannya tentu tidak. Sejak awal Shalahuddin “hanya” seorang anak didik Nuruddin Zanki yang sudah menyiapkan mibar baru untuk Masjidil Aqsha jauh sebelum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, sejarah tidak mungkin melupakan karya dan peran signifikan sejumlah ulama dan tokoh umat Islam yang hidup dalam kurun waktu tersebut, seperti Al-Ghazali, Abdul Qodir al-Jilani, Ibnu Qudamah al-Madisi dan sederetan nama lainnya yang berhasil melakukan perubahan radikal pada paradigma pemikiran dan pendidikan umat. Mereka berhasil mengikis virus-virus yang menggerogoti imunitas internal umat berupa hegemoni filsafat, aliran kebatinan, dikotomi fiqih dan tasawuf, mazhabisme dan lain-lainnya, sebelum melahirkan sebuah generasi baru yang mengimplementasikan nilai-nilai nilai-nilai Islam dan mengusung panji kejayaannya saat berhadapan denan lawan-lawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, dalam buku ini dinyatakan bahwa shalahuddin hanya seoran juru bicara resmi dari sebuah generasi yang telah mengalami proses penggodokan dan perubahan. Sebuah generasi yang telah berhasil melampaui kesalahan-kesalahan masa lalu yang ditorehkan oleh para pendahulunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini seakan menjadi sindiran kepada kita semua, umat Islam generasi sekarang. Masjid Al-Aqsha sudah dikuasi oleh pasukan Israel, mereka memperlakukan umat Islam di Palestina dengan semena-mena. Masihkah kita belum berpikir untuk bangkit dan merebut kembali Palestina? Jika generasi Shalahuddin mampu merebut kembali Palestina dari pasukan Salib, mengapa kita tidak mampu melakukan hal yang sama? Apa yang salah dari generasi kita? Buku ini akan memberi petunjuk pada kita, bagaimana melahirkan generasi yang mampu meninggikan izzah Islam dan menyongsong peradaban Islam yang gemilang. (http://www.inpasonline.com/images/stories/buku misteri.jpg)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5230604329327489318?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5230604329327489318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/menantikan-lahirnya-generasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5230604329327489318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5230604329327489318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/menantikan-lahirnya-generasi.html' title='Menantikan Lahirnya Generasi Shalahuddin'/><author><name>MUNA-WI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13164645042757109207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-4352406188074645277</id><published>2011-09-05T02:45:00.000-07:00</published><updated>2011-09-05T22:16:25.362-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><title type='text'>Renungan Pasca Ramadhan</title><content type='html'>Sungguh tidak terasa, begitu cepatnya Ramadhan meninggalkan kita, terasa baru kemarin kita berkumpul shalat berjam`ah shalat tarawih,buka bersama ,dan mengikuti kajian-kajian menarik. Ingin rasanya kita menangis ,goresan yang ditorehkan Ramadhan di dalam hati ini terasa masih segar, goresan yang tidak berdarah namun berair mata. itulah goresan kerinduan yang terukir karena kecintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak ,Ramadhan adalah bulan jihad ,bulan perjuangan,bulan kesabaran,bulan yang menjadi symbol kemenangan melawan nafsu setan ,buan yang  penuh dengan rahmah, berkah dan magfirah, bulan semangat: semangat shalat jama`ah , shalat sunnah, puasa, baca al¬-Qur`an, berzikir dan semangat berukhwah. Bulan yang di dalamnya pintu surge di buka lebar, pintu neraka di tutup rapat , setan di belenggu, malaikat di turunkan, pahala dilipat gandakan, rahmat dibentangkan. Sungguh bahagialah orang yang menatap Ramadhan dengan wajahnya ,menyambut dengan tangannya dan memeluk dengan kuatnya. Ya Allah terimalah semua amalan baik kami dan ampunilah segalah kesalahan dan dosa kami, dan luluslkan kami dari madrasah taqwa, madrasah Ramadhan, amin…, Ada sekelompok orang yang sanggat rugi dan celaka , hati keras, tidak mendapat ampunan, mendapat laknat Allah, yaitu orang yang penuh dengan debu maksiat dan kotoran dosa, yang setelah masukkan ke  dalam madrasah Ramadhan ini atau di godok dan di cuci dalam mesin cuci Ramadhan, ternyata ia masih teteap seperti semula, tidak bersih dan tidak berubah menjadi putih. Setelah Ramadhan ia masih tetap malas beribadah dan giat melakukan maksiat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;i&gt; “ Barang siapa menjumpai Ramadhan dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika ia mati akan masuk neraka”&lt;/i&gt; ( Hadits shahih riwayat ibnu Khuzaimah dan ibn Hibban). Karena itu ketika  malaikat Jibril berkata kepada Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam:                                            “ &lt;i&gt;sungguh hina orang yang menjumpai Ramadhan ternyata ia tidak mendapatkan ampunan,&lt;/i&gt;”maka Nabi berkata, &lt;i&gt;“Amin (semoga hina orang tersebut)&lt;/i&gt;.” (HR Imam Ismail al-Qadhi, di sahihkan oleh Al-Blbani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tanda orang yang lulus Ramadhan adalah yang giat  beribada sesudah Ramadhan seperti giat di dalam bulan Ramadhan, dan orang yang sabar menahan diri dari maksiat di luar Ramadhan seperti ia sabar menahannya di dalam bulan Ramadhan. Mengapa demikian..?, karena yang mukmin pasti akan mengatakan baha wa: &lt;br /&gt;•    Allah, Tuhan yang kita sembah, kita taati dan kita takuti serta yang kita cintai di dalam bulan Ramadhan, Dia juga  yang menjadi Tuhan penguasa di luar Ramadhan. &lt;br /&gt;•    Tuhan yang memberikana rahmat dan nikmat yang harus di sukuri di dalam Ramadhan  Dia juga &lt;br /&gt;yang harus di sukuri di luar Ramadhan. &lt;br /&gt;•    jikaRamadhan telah usai maka amalan mukmin belum dan tidak usai kecuali dengan datangnya kematian Allah Ta’ala berfirman:“&lt;i&gt;Dan sembahlah Tuhanmu hingga ajal menjemputmu&lt;/i&gt;.”(QS. Al-Hijr: 99) &lt;br /&gt;Allah  Ta’ala Berfirman; &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“ Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kamu meniggal dunia kecuali dalam kedan muslim .”&lt;/i&gt; (Ali Imran: 102) &lt;br /&gt;Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam  bersabda:                    &lt;i&gt;“Apabila seseorang hamba telah mati maka putuslah amalnya”&lt;/i&gt;.(HR  Muslim Abu Daud, Nasai dan Bukhari dalam al-adab al-Mufrad) Nabi &lt;i&gt;shallallaahu 'alaihi wasallam &lt;/i&gt;tidak menjadikan batas akhir dari amal kecuali kematian. &lt;br /&gt;Semua ibadah yang ada di bulan Ramadhan ada yang harus kita lakukan di luar Ramadhan, di antaranya antara lain: &lt;br /&gt;1.    Majelis ilmu dan kajian -kajian &lt;br /&gt;2.    Shalat berjama’ah &lt;br /&gt;3.    Puasa sunnah &lt;br /&gt;4.    Infaq dan shadaqah &lt;br /&gt;5.    Tilawatul Qur’an &lt;br /&gt;6.    Qiyamul lail &lt;br /&gt;7.    I’tikaf memakmurkan masjid &lt;br /&gt;8.    Jihad memerangi nafsu dan setan &lt;br /&gt;9.    Semangat ukhuwah Islamiyah &lt;br /&gt;10.    Shalat sunnah, wirid dan do’a &lt;br /&gt;11.    Silaturahim &lt;br /&gt;Abu Ja’far Muhammad Ibn Ali meriwayatkan secara marfu’ bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: “&lt;i&gt;Barangsiapa menjumpai Ramadhan dalam keadan sehat dan muslim lalu ia puasa di siang harinya, shalat rutin di sebagian malamnya menjaga pandangan matanya, menjaga kemaluan, lisan dan tanganya, menjaga shalat berjama’ah dan bersegera pergi (pagi-pagi) menuju jum’ahnya maka ia telah berpuasa sebulan penuh, mendapatkan pahala secara utuh, mendapatkan lailatul Qadar dan berhasil memboyong piala dari Allah penguasa yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.”&lt;/i&gt;(HR. Ibn Abi al-dunya) &lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian meneruskannya dengan (puasa) enam hari dari bulan Syawwal maka (pahalanya) seperti puasa satu tahun.”&lt;/i&gt;(HR. Muslim,dan hadits yang mirip dengan ini di riwayatkan oleh Darimi, Ibn Majah, Ahmad dan Bazzar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa catatan penting mengenai puasa Syawwal dan Qadha Ramadhan: &lt;br /&gt;1.    Orang yang masih menanggung hutang  puasa Ramadhan harus mengqadha’ dulu, baru kemudian baru kemudian puasa Syawwal, karena: &lt;br /&gt;(a)    . Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;i&gt;“ Barang siapa puasa Ramadhan”&lt;/i&gt;, ini berarti Ramadhan secara keseluruhan. Kemudian Nabi berasbda: “ &lt;i&gt;lalu ia teruskan dengan Syawwal&lt;/i&gt;.” Artinya enam Syawwal ini datang setelah selesainya keseluruha Ramadhan &lt;br /&gt;(b)    .Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Barang siapa menjumpai Ramadhan sementara ia masih terbebani oleh sebagian tanggungan Ramadhan lalu, maka tidak akan di terima daripadanya hingga ia mengqadhanya.&lt;/i&gt;”(HR. Ahmad dari Abu Hurairah, hadits hasan) &lt;br /&gt;2    Dari sini dapat di simpulkan pula bahwa tidak boleh berniat puasa Qadha dan Syawwala sekaligus, tetepi harus di tunaikan secara terpisah. &lt;br /&gt;3    Puasa enam hari Syawwal boleh berurutan dan boleh juga di lakukan secara terpisah-pisah, dengan mengutamakan pada hari Senin dan Kamis, sebab Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt; “Amal-amal manusia itu di laporkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka bila amalku dilaporkan saat aku berpuasa.”&lt;/i&gt; (HR. tirmidzi dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;4    Yang menyamai fadhilah puasa Ramadhan dan enam Syawwal adalah puasa tiga hari setiap bulan. Rasulullah &lt;i&gt;shallallaahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt;&amp;nbsp; bersabda: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“ Tiga hari dari setiap bulan dan Ramadhan ke Ramadhan ( berikutnya), ini adalah puasa setahun penuh:”&lt;/i&gt;(HR.Muslim dan Ahmad) &lt;br /&gt;Inilah puasa yang di wasiatkan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallallaahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; kepada Abu Hurairah ra, dan yang paling utama tiga hari tersebut adalah hari-hari purnama, yaitu tanggal 13,14,dan,15.(Hadits Abu Dzar, riwayat Ahmad dan Nasa’i). &lt;br /&gt;Di antara ibadha-ibadha yang harus di kerjakan di luar Ramadhan adalah apa yang di nyatakan oleh Rasulullah &lt;i&gt;shallallaahu 'alaihi wasallam&lt;/i&gt; berikut ini: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkanlah tali kekerabatan, sahalatlah di waktu malam  saat manusia dalam tidur panjang kamu pasti masuk surga dengan aman.&lt;/i&gt;” (HR.Tirmidzi, Hasan Shahih). &lt;br /&gt;Karena itu wahai saudara-saudaraku, bersemangatlah dalam melakukan ketaatan dan berjihadlah dalam menjauhi kemaksiatan agar mendapatkan kemenangan hakiki dan kebahagiaan abadi, kehidupan yang baik duniawi dan ukhrawi, serta pahala yang melimpah tiada henti. &lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;&lt;i&gt;“ Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keada beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami  beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”&lt;/i&gt;(QS. Al-Nahl:97).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Allah tetapkanlah hati kami dalam keimanan, tegakkan semangat Ramadhan di hati kami ,bimbinglah  kami ke jalan ridha-Mu, hidupkanlah kami dalam kehidupan yang indah penuh arti dan kumpulkanlah kami kedalam barisan orang-orang yang shalih.(Disalin Dari Majalah Qiblati Edisi Khusus 12/VI Syawwal –Dzulqa’dah 1432H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-4352406188074645277?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/4352406188074645277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/renungan-pasca-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4352406188074645277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4352406188074645277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/renungan-pasca-ramadhan.html' title='Renungan Pasca Ramadhan'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-4358551833926526059</id><published>2011-09-05T02:12:00.000-07:00</published><updated>2011-09-05T02:28:05.820-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><title type='text'>"Warna-Warni Idul Fithri"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Oleh: Dr. Adian Husaini&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Senin (29/8/2011) pagi itu, saat saya menonton TV bersama-sama anak saya, muncullah berita: Jamaah Naqshabandiyah di Sumatera Barat sudah merayakan Idul Fithri 1432 H. Anak-anak saya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar langsung bertanya: “Sekarang sudah lebaran?” Saya jelaskan pada mereka, “Itu kelompok yang menyimpang. Yang aneh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh memang, setidaknya, saya sempat melihat tiga stasiun TV menyiarkan Idul Fithri kelompok Naqshabandiyah itu. Sayangnya, tanpa ada penjelasan apa pun dari otoritas keagamaan di Indonesia,apakah dari MUI atau pengurus Tarekat Mu’tabarah. Segera saya mengirim SMS ke sejumlah pimpinan MUI, mohon agar mereka mengklarifikasi aktivitas Jamaah Naqshabandiyah tersebut. Dijawab oleh seorang pimpinan MUI, bahwa tadi pagi Sekjen MUI sudah memberikan penjelasan. Entah TV-TV itu yang tidak tahu atau sengaja tidak memuat klarifikasi MUI. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya maklum, dalam kredo jurnalistik lama masih berlaku jargon “anjing menggigit manusia bukan berita, tetapi manusia menggigit anjing itu baru berita.” Dalam pepatah Arab juga ada ungkapan: “bul zamzam tu’raf!”, kencingilah sumur zamzam, maka kamu akan terkenal!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, dari sudut pandang Islam, berita tentang Idul Fithri kelompok Naqshabandiyah itu, sangat tidak mendidik. Dan itu juga bertentangan dengan salah satu fungsi jurnalistik, yakni fungsi edukasi. Berita itu memang “aneh”, menarik, dan “nyeleneh”, tapi seharusnya pendapat sekelompok orang yang ‘nyeleneh’, tidak bisa disejajarkan derajatnya dengan pendapat jumhur umat Islam. Dalam dunian ilmu pengetahuan dan jurnalistik pun, dipegang kualitas dan kredibilitas nara sumber.&lt;br /&gt;Kita maklum, ini Negara demokrasi! Kata sebagian penganutnya: suara rakyat adalah suara Tuhan! Meskipun suara rakyat Israel yang setuju menjajah Palestina, jelas suara setan!&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan munculnya beberapa kali tayangan berita Idul Fithri Naqshabandiyah, muncul pula berita berjalan “running text” di beberapa stasiun TV: “PP Muhammadiyah menetapkan Idul Fithri 1432 H, jatuh pada Hari Selasa (30/8/2011)”. Anak-anak saya bertanya lagi: “Jadi besok kita lebaran?” Anak saya yang duduk di bangku kelas 3 SD hari itu sudah merengek-rengek minta batal, karena kehausan. Saya bilang, “Ya sudah, kamu besok boleh tidak puasa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga habis magrib, anak-anak lainnya masih terus bertanya, “Jadi besok kita lebaran?” Saya katakan: “Kita nunggu pengumuman pemerintah.” Istri saya ikut menjelaskan: “Tunggu pengumuman Presiden!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, Senin itu cukup mengasyikkan.Bukan hanya menjawab pertanyaan anak-anak. Puluhan SMS juga datang bertubi-tubi menanyakan, kapan kita Idul Fithri? Kepada mereka saya jawab: “Saya menunggu sidang itsbat.” Saya hanya mewakili pribadi. Bukan mewakili pendapat satu ormas atau lembaga tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang tidak puas dengan jawaban saya. Seorang professor, kolega saya, menyatakan, bahwa pemerintah Indonesia kan bukan pemerintah Islam. Jadi tidak bisa dijadikan pegangan. Saya jawab: “Memangnya sekarang ini ada pemerintahan Islam?” Maaf, setahu saya, -- mungkin saya keliru – di Mesir, Ikhwanul Muslimin tidak mengumumkan Id sendiri, meskipun rezim Mesir tak henti-hentinya menindas mereka. Meskipun beroposisi, setahu saya, Partai PAS di Malaysia juga tidak mengumumkan Id sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, tibalah saatnya Sidang Itsbat berlangsung! Jujur, baru kali ini saya menyaksikan secara langsung dan lengkap jalannya Sidang Itsbat di Kementerian Agama. Bagi saya, itu sangat menarik. Begitu “demokratisnya” Indonesia. Dipimpin langsung oleh Menteri Agama, jalannya sidang itu bisa disaksikan secara langsung oleh seluruh rakyat Indonesia. Dugaan saya, mekanisme seperti ini tidak dijumpai di negara-negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sidang Itsbat itu, MUI -- melalui salah satu ketuanya, KH Ma’ruf Amin -- mengantarkan, bahwa sudah ada fatwa MUI tahun 2004, yang menyatakan, umat Islam Indonesia wajib mengikuti keputusan pemerintah dalam soal penetapan awal Ramadhan, Idul Fithri, dan Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oohhh, ternyata sudah ada fatwa itu. Tapi, ternyata, tidak bergigi! Tentu, banyak sebabnya. Mungkin, kelemahan itu ada dipihak MUI, di pihak pemerintah, atau mungkin pula di pihak Ormas-ormas Islam. Di sini, tak cukup tempat untuk menelusurinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh asyik menonton Sidang Itsbat malam itu! Meskipun anak-anak saya tidak sabar menunggu, dan pergi satu persatu dari depan layar TV. Mereka hanya mau keputusan: “Kita Lebaran kapan? Itu saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asyiknya, sidang itu bukan hanya dihadiri oleh wakil-wakil Ormas Islam, tetapi juga sejumlah pakar astronomi terkemuka di Indonesia. Di situ pula dibacakan semua laporan yang masuk, baik yang mengaku melihat hilal (bulan sabit) maupun yang tidak! Sebagian besar mengaku tidak melihat hilal. Berdasarkan pendapat beberapa ulama yang dibacakan oleh Ketua MUI, maka kesaksian yang bertentangan dengan kesepakatan ahli hisab atau astronomi yang sudah diyakini kebenarannya, tidak dapat diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus terang menikmati acara sidang itsbat itu. Mungkin, itu satu-satunya di dunia Islam. Berbagai aspirasi disampaikan secara langsung. Terbuka. Akhirnya, sekitar pukul 20.00, berdasarkan mayoritas suara peserta sidang Itsbat – Menteri Agama memutuskan: Idul Fithri 1432 H di Indonesia jatuh pada hari Rabu (31/8/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah saat yang menentukan! Saya harus menjelaskan kepada anak-anak saya, kapan saya ber-Idul Fithri 1432 H. Berpuluh tahun saya terlibat dalam polemik masalah ini. Malam itu, saya menggunakan logika sederhana saja. Saya lihat semua tokoh yang berbeda pendapat selalu mengimbau agar umat Islam bisa menerima perbedaan, karena yang berlebaran hari Selasa atau pun Hari Rabu, sama-sama benar. Hanya kriteria yang digunakan berbeda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, ucapan para pemimpin Ormas Islam itu tulus ikhlas. Sama antara mulut dan hatinya. Karena itu, saya putuskan, saya ber-Idul Fithri 1432 H, Hari Rabu (31/8/2011). Sebab, keduanya berdasarkan dalil. Keduanya sama-sama benar. Dengan memilih Rabu, saya punya kesempatan menambah ibadah Ramadhan 1 (satu) hari lagi. Lumayan….!&lt;br /&gt;Lalu, saya ajak anak-anak saya shalat Isya’ dan tarowih berjamaah. Anak saya yang kelas 3 SD ikut shalat tarawih juga. Tapi, esoknya dia tetap konsisten, tidak puasa. Katanya, ikut lebaran dengan yang lain. Kami hanya tersenyum… Dan Alhamdulillah, sejumlah tetangga kami juga ikut ber-Idul Fithri hari Selasa. Berbeda-beda, tetapi tetap berukhuwah!&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 27 Ramadhan 1432 H, sekelompok professional Muslim Indonesia mengeluarkan sebuah petisi bertajuk “PETISI UKHUWAH DAN PERSATUAN”. Sebuah slogan dikumandangkan: “BEDA BOLEH! SATU LEBIH BAIK! SATU LEBIH INDAH! “ (http://www.petitiononline.com/ukhuwwah/).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajakan itu menarik. Dalam beberapa hari, ratusan orang kemudian menandatangani petisi tersebut. Mereka rindu persatuan! Disebutkan dalam Petisi, bahwa ulama terkenal, Dr. Yusuf Qaradhawi pernah berpendapat, jika kaum Muslim tidak mampu mencapai kesepakatan pada tingkat global, minimal mereka wajib berobsesi untuk bersatu dalam satu kawasan. Kata Syekh Qaradhawi, tidak boleh terjadi di satu negara atau satu kota kaum Muslim terpecah-pecah; beda pendapat dalam penentuan awal Ramadhan atau Hari Raya. Kaum Muslim di negara itu harus mengikuti keputusan pemerintahnya, meskipun berbeda dengan negara lain. Sebab, itu termasuk ketaatan terhadap yang ma’ruf. (Yusuf Qaradhawi, Fatwa-Fatwa Kontemporer Jld II (terj), Jakarta :GIP, 1995 , hal. 315).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah Ushul Fiqih menyatakan: “Al-khurûj minal khilâf mustahabbun” (Menghindar dari perpecahan itu lebih dicintai (sunnah).” (Lihat, Abu Bakar al-Ahdal asy-Syafii, al-Faraid al-Bahiyah fil-Qawaid al-Fiiqhiyyah, (Semarang: Toha Putra, 1997, hal. 24, kaedah no. 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Isi Petisi itu. Dan saya ikut tandatangan tanda setuju!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pimpinan salah satu Ormas Islam (Ust Muhammad Zaitun Rasmin Lc, MA [ketua DPP Wahdah Islamiyah]), dalam Sidang Itsbat di Kemenag, Senin malam itu, membacakan satu hadits Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam  yang indah, yang mengajak kaum Muslimin berpuasa dan ber-Hari Raya pada saat masyarakat melakukannya. Hadits ini, katanya, memberikan isyarat bahwa seharusnya kaum Muslimin di satu lokasi tidak boleh merayakan Idul Fithri pada hari yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju! Tampaknya, salah satu hikmah Idul Fithri adalah persatuan umat. Di hari yang sama, semua kaum Muslimin bersama-sama merayakan kemenangan. Soal perhitungan yang “jlimet-jlimet” dalam perhitungan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;wujudul hilal&lt;/span&gt;” atau “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;imkanur-ru’yat&lt;/span&gt;” adalah metodologi yang tak habis-habisnya dibahas. Sudah ratusan tahun masalah ini diperdebatkan di antara para ulama. Toh, ujung-ujungnya, semua tetap dengan pendapatnya masing-masing. Maka, dalam soal ini, yang penting dan menjadi keputusan akhir adalah “Keputusan Ulil Amri”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para jamaah haji sedunia tak pernah mempersoalkan akurasi keputusan Pemerintah Saudi saat penentuan wukuf! Pemerintah Saudi juga tidak menggelar Sidang Itsbat, seperti di Indonesia. Yang penting, semua berwukuf pada hari yang sama! Padahal, banyak pihak yang menilai, pemerintahan Saudi pun tidak sesuai dengan sistem Islam! Jika secara astronomi pemerintah Saudi salah ambil keputusan, jamaah haji juga tidak wajib mengulang ibadahnya. Meskipun tahun ini kita ber-Idul Fithri 20 jam lebih lambat dari Saudi, toh kita tidak juga menggeser shalat Jumat kita menjadi 20 jam kemudian, pasca shalat Jumat di Saudi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tampaknya, Ibadah Idul Fithri dan Idul Adha memang dimaksudkan agar kita semakin cinta kepada persatuan dan persaudaraan sesama Muslim. Jika kita mau, InsyaAllah kita mampu bersatu. Kita tentu tidak hanya mengaku cinta persatuan di mulut, tetapi dalam hati bercerai-berai dan saling mendendam.&lt;br /&gt;Terlepas soal perbedaan, apa pun Harinya, sejatinya kita tetap ber-Idul Fithri 1 Syawal. Tidak ada yang 2 Syawal! Minal ‘Aidin wal-Faizin, Mohon Maaf lahir dan batin. Taqabbalallahu minna waminkum. Wallahu a’lam bil-shawab.*/ (Disalin dari CAP Adian Husaini di :)http://www.hidayatullah.com/read/18695/04/09/2011/.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-4358551833926526059?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/4358551833926526059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/warna-warni-idul-fithri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4358551833926526059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4358551833926526059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/09/warna-warni-idul-fithri.html' title='&quot;Warna-Warni Idul Fithri&quot;'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-1676961226650471643</id><published>2011-08-29T00:31:00.000-07:00</published><updated>2011-08-29T00:36:44.294-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Khutbah &apos;Ied'/><title type='text'>KEBENARAN PASTI MENANG (KHUTBAH IDUL FITRI 1432 H)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Khutbah Idul Fitri 1432H&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْراً وَنَذِيْراً بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِنَّهُ لاَ يَضُرُّ إَلاَّ نَفْسَهُ وَلاَ يَضُرُّ اللهَ شَيْئاً . &lt;br /&gt;( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) &lt;br /&gt;( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )&amp;nbsp; &lt;br /&gt;( يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا )&lt;br /&gt;أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ . &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu.&lt;br /&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah&lt;br /&gt;Lantunan takbir, tahlil dan tahmid kembali bergempita di pagi hari bahagia ini. Pertanda kemenangan dan sukacita setelah menyelesaikan ibadah puasa beserta ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Sekalipun di lubuk hati masih tersisa kesedihan berpisah dengan bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, namun kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan patut dirayakan pada hari ini sebagaimana perintah Allah Ta'ala: &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة : 185]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”&lt;/i&gt; QS. al-Baqarah (02):185.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesempurnaan ibadah pada bulan Ramadhan lalu juga diiringi dengan harapan yang penuh kepada Allah Rabb al-‘Izzah agar berkenan menerima segala yang telah dipersembahkan untuk-Nya berupa ibadah puasa, shalat tarawih, bacaan Alquran, zakat dan sedekah serta ibadah lainnya. Hanya pada-Nya tempat memohon dan segala harapan dipanjatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang Berbahagia,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bulan suci Ramadhan yang baru saja berlalu ini memberikan pelajaran-pelajaran berharga bagi kita semua, kaum muslimin. Di antaranya adalah sikap optimisme menghadapi permasalahan-permasalahan bangsa, bersama keyakinan yang kuat bahwa segala ketidakbenaran yang saat ini masih dominan pasti akan tersisih. Ibadah puasa dan shalat tarawih mendidik kita untuk bersabar menghadapi beratnya cobaan yang akan berujung pada kemenangan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;Sepanjang tahun ini, kita disuguhi peristiwa-peristiwa yang memilukan hati khususnya sebagai anak bangsa. Kasus-kasus mega korupsi tidak pernah berhenti, bahkan mengguncang institusi-institusi penting di negara ini, sehingga menimbulkan kerusakan tatanan sosial bermasyarakat dan berbangsa. Sebutlah sebagai contoh, kasus Bank Century, kasus mafia pajak, kasus penggelapan dana nasabah salah satu bank swasta, hingga yang terbaru gonjang-ganjing kasus Nazaruddin dan mafia anggaran. Kecurangan dan manipulasi juga ikut menghiasi peristiwa yang disuguhkan, mulai yang terjadi di dunia politik, seperti pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi, hingga yang terjadi di dunia pendidikan, seperti nyontek massal pada saat Ujian Nasional (UN). Kebenaran dan kebatilan yang dibolak-balik juga terjadi di bidang keagamaan, kerusuhan Cikeusik yang melibatkan jemaah Ahmadiyah dan masyarakat setempat digambarkan sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Pembelaan terhadap ajaran Islam yang dinodai oleh pemahaman menyimpang seperti yang dilakukan Ahmadiyah dan Syiah justru dianggap sebagai kekeliruan karena bertentangan dengan kebebasan beragama. &lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa ini membuat sebagian masyarakat merasa pesimis menghadapi masa depan bangsa. Bayangan buram dari kondisi ini memunculkan rasa takut terhadap kemandirian negara, generasi pengusung kebenaran sekalipun bertambah namun tidak sebanding dengan derasnya arus kemungkaran. Kondisi politik yang dipenuhi intrik tidak baik dan fenomena partai politik yang saling memasung antara satu dengan yang lain, penegakan hukum yang tidak tegas dan terkesan tebang pilih, keadaan sosial dan kesejahteraan masyarakat yang mengalami ketimpangan, tak pelak menjadikan sebagian tokoh negeri ini khawatir akan nasib anak bangsa yang seakan-akan tetap didominasi oleh ketidak adilan dan ketidak jujuran.&lt;br /&gt;Tetapi apapun yang terjadi, sifat pesimis dan ketakutan tidak boleh menenggelamkan rasa percaya dan optimisme kita semua akan tegaknya kebenaran atau membenamkan rasa yakin kita akan datangnya janji Allah Ta'ala . Tegaknya nilai-nilai kejayaan dan kejujuran adalah suatu keniscayaan, kebenaran pasti akan datang dengan segala cahayanya sekuat apapun pengusung kebatilan menyembunyikannya. Optimisme adalah sifat orang beriman, kekuatan husnu zhan (prasangka baik) kepada Allah&amp;nbsp; Ta'ala menjadi pondasi buat membangun kepercayaan diri agar berbuat yang terbaik dan menyingkirkan bayang-bayang kemunduran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang Berbahagia,&lt;br /&gt;Sifat optimis akan tegaknya kebenaran diajarkan oleh Alquran dan sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [الصف : 8]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci.”&lt;/i&gt; QS. al-Shaf (61):8&lt;br /&gt;Derasnya upaya pengusung kebatilan buat memadamkan cahaya kebenaran tidak akan membuahkan hasil sedikitpun kecuali hanya pada sementara waktu. Kebenaran nampak redup ibarat lilin tertiup angin malam, terbawa ke kiri dan kanan hingga akhirnya kembali ke posisi tegaknya dengan lebih kokoh. Kesempurnaan cahaya kebenaran tidak akan terhalangi oleh kabut kegelapan seberapapun tebalnya. Allah Ta'ala&amp;nbsp; menguatkan orang-orang beriman dengan ayat ini agar meyakini kemenangan kebenaran dalam pertarungannya melawan kebatilan. &lt;br /&gt;Pada ayat lain, Allah Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [يوسف : 21]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Dan Allah berkuasa terhadap urusanNya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.”&lt;/i&gt; QS. Yusuf (12):21&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebenaran datang dari Allah&amp;nbsp; Ta'ala dan Dia berjanji dalam ayat ini bahwa kebenaran pasti menang meskipun orang tidak meyakininya. Allah tidak pernah dan tidak mungkin mengingkari janjiNya. Suatu pelajaran optimisme yang kuat buat menghilangkan segala keraguan akan dominasi kebatilan atas kebenaran pada saat seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dalam hadis yang dikeluarkan oleh Imam al-Thabrani disebutkan kisah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada saat menggali parit dalam peristiwa Perang Ahzab atau Perang Sekutu, menghadapi tekanan kuat kaum sekutu yang dipelopori oleh Suku Quraisy dan mengepung Kota Madinah. Di tengah penggalian parit yang akan menjadi penghalang kaum sekutu untuk masuk menerjang Kota Madinah, terdapat sebongkah batu karang yang besar menghalangi kelanjutan penggalian, hingga Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam turun tangan dan berusaha memecahkan batu itu. Pada pukulan pertama, terpancar percikan sinar yang tinggi dan terdengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dengan suara keras berkata: &lt;i&gt;“Allahu Akbar, demi Allah (aku melihat) istana-istana Bangsa Romawi.”&lt;/i&gt; Dilanjutkan dengan pukulan kedua, kembali terpancar percikan sinar dan Rasulullah&amp;nbsp; shallallaahu 'alaihi wasallam berteriak: “&lt;i&gt;Allahu Akbar, demi Allah (aku melihat) istana-istana bangsa Persia.”&lt;/i&gt; Kaum Munafik menimpali: &lt;i&gt;“Ia menjanjikan kita (penaklukan) Bangsa Romawi dan Bangsa Persia padahal kita sedang berupaya mempertahankan kota ini dengan parit ?”. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam menanamkan ke dalam dada para sahabat pada saat itu sifat optimisme di tengah kondisi yang mencekam mereka sebagai warga Kota Madinah dan terkepung oleh pasukan kaum sekutu. Berpandangan jauh melampaui kondisi kekinian dan obsesi yang tinggi melebihi angan-angan memberikan hembusan kuat ke dalam diri akan keyakinan tegaknya kebenaran hanya tinggal menunggu waktu. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebenaran pasti menang dan kebatilan akan tersisih seperti yang digambarkan oleh Allah Ta'ala di dalam Alquran, terjemahnya:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Allah telah menurunkan air hujan dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus akan membawa buih yang mengembang. Dan dari logam yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu. akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”&lt;/i&gt; QS. al-Ra’du (13):17&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebenaran memiliki kekuatan perubahan, kuatnya budaya jahiliyah di zaman dahulu berhasil diluluh-lantakkan oleh dakwah tauhid yang menjadi pondasi terkuat gerakan kebenaran. Kebenaran membawa manfaat bagi umat manusia, maka kebenaran ini akan kekal sekekal bumi dan langit. Kebenaran adalah cahaya seterang mentari, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat meredupkannya. Kebenaran datang dari Allah Ta'ala, maka jangan sekali-kali ragu atau khawatir terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin yang Berbahagia,&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebenaran akan tegak adalah suatu keniscayaan, namun dalam kehidupan dunia berlaku sunnatullah dan sunnatullah tidak mengalami perubahan. Segala yang diharapkan menang maka harus diperjuangkan, demikian pula dengan kebenaran ini, para pengusungnya mesti konsisten memperjuangkan nilai-nilainya. Sedikitnya ada dua sifat yang harus ada pada diri pengusung kebenaran, yaitu: kesungguhan dan kesabaran. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesungguhan (al-jiddiyah) berarti memahami esensi kebenaran, menegakkan dan memperjuangkannya dengan penuh keseriusan. Berbuat yang benar secara jujur&amp;nbsp; meski mendapatkan rintangan atau menyampaikan nilai-nilai kebenaran sekuat-kuatnya sekalipun menemui tantangan dari orang banyak. Berlaku profesional (itqan) dalam memperjuangkan kebenaran dengan menjaga amanah dan menghindari sikap ceroboh atau menggampang-gampangkan urusan, juga menjadi bagian dari kesungguhan (al-jiddiyah) ini.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kesabaran menjadi sifat selanjutnya yang mesti ada dalam diri pengusung kebenaran. Kesabaran berwujud pada konsistensi (istiqamah) mengamalkan kebenaran dan memperjuangkannya tanpa pernah mengenal kata putus atau mundur sekalipun cobaan mendera bertubi-tubi. Keteladanan para rasul utusan Allah Ta'ala dan pengikut setia mereka (sahabat) dalam hal ini menjadi pelita. Beratnya cobaan, hingga dari orang terdekat sekalipun, tidak menyurutkan upaya setiap mereka menyampaikan risalah Ilahiyah ini dan menunjuki umatnya ke jalan yang diridhai Allah Ta'ala. Nasihat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam kepada para sahabat dalam berbuat kebenaran dan menyebarluaskannya adalah tidak tergesa-gesa. Bersabar dalam perjuangan menjadikan kebenaran sebagai warna dalam kehidupan masyarakat dan bersabar menunggu perubahan apabila upaya ke arah itu telah benar. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kedua sifat ini, kesungguhan dan kesabaran juga menjadi buah dari internalisasi (penanaman) Islam dalam diri setiap pribadi. Pembinaan pribadi (tarbiyah) yang lurus, terarah dan konsisten adalah proses penanaman nilai yang mesti diperhatikan. Kecemerlangan generasi sahabat Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pada zaman keemasan Islam merupakan contoh hasil pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam&amp;nbsp; secara konsisten. Generasi sahabat&amp;nbsp; berhasil menampilkan kebenaran yang integral dalam diri setiap mereka dan dengan konsistensi memperjuangkannya akhirnya kebenaran itu tegak dan dirasakan oleh masyarakat sebagai kesejahteraan. &lt;br /&gt;Kondisi ini menjadi ajakan untuk mewarnai diri dan hidup kita dengan nilai-nilai kebenaran serta memperjuangkannya sepenuh hati secara terus menerus dan tanpa putus harapan. Optimisme diwujudkan dalam bentuk upaya yang berproses tanpa henti dan upaya itu dimulai dari diri kita masing-masing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ajakan kepada para pejuang kebenaran dan ulama Islam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, kami mengajak untuk bersatu dan bersama menyampaikan agama Islam dengan hikmah. Pelayanan kepada masyarakat dengan mengenalkan agama Islam kepada mereka adalah bagian dari amanah ilmu syar’i yang kita emban. Allah Ta'ala&amp;nbsp; memerintahkan untuk menyampaikan ilmu ini kepada semua umat manusia dengan jujur dan tidak menutupinya. Kebutuhan umat manusia terhadap ulama Islam tetap tinggi, karena hanya Islam yang dapat memberi jawaban terhadap permasalahan-permasalahan hidup mereka, olehnya itu penyampaian ilmu Islam secara sempurna dan mudah dipahami oleh masyarakat menjadi suatu tuntutan. Kejujuran dalam mengemban amanah dakwah juga berarti tidak berfatwa tanpa ilmu atau menjawab pertanyaan dengan mengada-ada tanpa memastikan dalil pendukungnya dari Alquran dan sunnah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. Wahai para ulama Islam dan pejuang kebenaran, sikap bijak&amp;nbsp; dalam melakukan dakwah dan menyebarkan ilmu Islam dengan pondasi keikhlasan insya Allah dapat mengangkat derajat umat Islam kepada kedudukan yang lebih bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Seruan kepada penguasa,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; kami sebagai anak bangsa hanya menghendaki negara ini dikelola dengan penuh keadilan. Kebenaran dijunjung tinggi dan ditegakkan selurus-lurusnya, kebatilan diperangi dan tidak diberi tempat di tengah masyarakat. Keadilan ilahiyah yang merupakan tiang penegak kehidupan adalah jaminan kesejahteraan dan keamanan negeri. Keadilan ilahiyah ini telah pernah ditegakkan oleh pemerintah umat Islam pada zaman-zaman lampau, seperti yang dilakukan oleh ‘Umar bin ‘Abdul Azis dan Harun al-Rasyid hingga mampu memberikan kepada masyarakatnya tingkat kesejahteraan yang tinggi. Lembaran sejarah mengabadikan limpahan harta yang banyak pada zaman itu hingga tidak ada seorangpun yang mau menerima zakat dan sedekah, bahkan gudang penyimpanan bahan makanan milik negara tidak mampu menampung harta yang masuk. Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis memerintahkan untuk menyebarkan bahan makanan itu ke segenap penjuru negeri buat dikonsumsi oleh hewan dan burung-burung yang beterbangan, seraya berseru: “Agar bangsa lain dapat menilai, tidak ada seekor burungpun yang menderita kelaparan di negeri kaum muslimin”. Kemiskinan sangat kurang dan kesejahteraan meningkat sebagai buah dari tegaknya keadilan dan kuatnya akar keimanan di tengah masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;i&gt;Nasihat kepada segenap orang tua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, kami mengingatkan bahwa kebaikan dan keburukan bangsa ditentukan oleh kualitas generasi yang tumbuh di dalam rumah. Maka, jadilah orang tua yang membina anak-anaknya sebagai generasi yang saleh, mengenali Allah, Rasulullah dan agama Islam serta mencintainya dengan sepenuh hati. Peliharalah adab-adab Islam di dalam rumah tangga, segera menunaikan shalat begitu tiba waktunya, memakmurkan rumah tangga dengan bacaan Alquran dan tradisi menuntut ilmu, menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda. Rumah tangga adalah tempat pembinaan pertama setiap anak, maka mari menjadikan rumah tangga kita masing-masing sebagai madrasah unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Nasihat kepada kaum wanita,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; kemuliaan dan kehormatan seorang wanita ditentukan oleh iman dan rasa malu dalam dirinya. Agama Islam telah membimbing kaum wanita agar menjaga kemuliaannya dengan busana yang menutup aurat dan pergaulan yang sopan atas dasar rasa malu. Maka wahai kaum wanita muslimah, tutuplah aurat anda sekalian dengan jilbab dan pakaian muslimah, peliharalah rasa malu anda sekalian dengan iman dan pergaulan yang baik. Jagalah tuntunan agama Islam dalam setiap perkataan dan tingkah laku, janganlah mengumbar harga diri hingga mempermalukan orang tua, keluarga dan masyarakat. Tanamkan rasa bangga sebagai muslimah ke dalam hati dan berbuatlah yang terbaik buat umat Islam bukan seperti yang diinginkan oleh kaum feminis dengan seruan emansipasinya. Persamaan hak antara anda dan kaum lelaki di hadapan Allah adalah sebagai hamba yang diperintahkan beribadah, masing-masing sesuai kodrat dan fitrahnya. Wahai kaum wanita muslimah, jagalah shalat, banyaklah bersedekah dan hindarilah ghibah (menceritakan keburukan orang lain) serta mencela atau mengejek sesama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;b&gt;&lt;i&gt;Nasihat kepada segenap generasi muda Islam, &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;masa muda adalah waktu terbaik buat menuntut ilmu dan berkarya untuk kegemilangan hari esok. Tuntutlah ilmu yang bermanfaat setinggi-tingginya dan berbuatlah yang terbaik bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga buat bangsa, negara dan umat Islam. Manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya dengan beribadah kepada Allah Ta'ala dan jangan disia-siakan dengan bersenda gurau tanpa manfaat atau dihabiskan dengan begadang malam di tempat-tempat maksiat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahi al-Hamdu&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kaum Muslimin yang Berbahagia,&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Menyambung ibadah dengan ibadah adalah suatu kemuliaan. Berpuasa di bulan suci Ramadhan telah berlalu, namun dianjurkan bagi setiap muslim untuk berpuasa di bulan Syawal ini sebanyak 6 hari. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالَ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْرَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu berpuasa 6 hari pada bulan Syawal, maka seakan-akan ia telah berpuasa setahun lamanya”&lt;/i&gt;.( HR. Muslim)&lt;br /&gt;Pelaksanaannya dapat dilakukan berturut-turut atau berpisah-pisah. Bagi yang memiliki utang puasa Ramadhan, maka sebaiknya ia mengganti terlebih dahulu puasa itu, lalu berpuasa 6 hari bulan Syawal, kecuali jika waktu untuk berpuasa tidak mencukupi semuanya, maka dibolehkan berpuasa Syawal dan mengganti utang puasa Ramadhan pada bulan-bulan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, di hari yang mulia ini, marilah kita sekali lagi memuji dan bersyukur kepada Allah seraya menundukkan hati, pandangan dan wajah kita, berdo’a dan bermunajat kepada Allah Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين و على آله وصحبه والتابعين،&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إِنَّا نَحْمَدُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُحْمَد وَنَشْكُرُكَ بِأَنَّكَ أَهْلٌ أَنْ تُشْكَر وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ كُلَّهُ فَإِنَّكَ أَنْتَ أَهْلُ الْمَجْدِ وَالثَّناَءِ ، رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ ظُلْماً كَثِيْراَ وَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْ لَناَ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْناَ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَحِيْم&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engakulah Penguasa langit dan bumi, Penguasa dunia dan akhirat, kami datang kepadaMu di hari yang penuh berkah ini mengadukan beratnya dosa yang telah kami lakukan. Kami sadar bahwa nikmat pemberianMu belumlah dapat kami syukuri dengan sebenarnya, kami mengaku kesalahan kami lebih banyak dari kebaikan kami, namun kami yakin bahwa Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang, maka kami berharap kepada-Mu, Ya Allah ampunkanlah segala dosa dan kesalahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Tuhan kami Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, hanya kepada-Mu kami adukan beratnya kondisi kami saat ini, bimbinglah kami agar selalu berjalan di jalan-Mu, mendapat kasih sayang-Mu, menggapai cinta dan ridha-Mu. Ya Allah, kami adalah makhluk dan hamba-Mu yang selalu bergantung kepada-Mu, butuh akan rahmat dan petunjuk-Mu, Ya Allah kasihilah kami, tunjukilah kami ke jalan yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kedua ayah ibu kami adalah orang yang pertama kali berjasa kepada kami, memperkenalkan kami kepada-Mu, merawat, mendidik dan membimbing kami dengan penuh kesabaran, tak jarang airmata mereka tumpah karena ulah kami, Ya Allah tak ada yang mampu kami berikan kepada mereka kecuali seuntai doa kepada-Mu untuk mengampunkan kekhilafan dan kesalahan mereka, melimpahkan kasih sayang dan rahmat kepada mereka, ampunkan mereka yang telah wafat, bimbing dan tunjukilah mereka yang masih bersama kami dan jadikanlah kami orang yang mampu berbakti kepada mereka sesuai tuntunan-Mu, Engkaulah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan Doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kami sadar bahwa mengatur hajat hidup orang banyak tidaklah mudah, butuh kekuatan dan kesabaran, terkadang harapan berbuat kebaikan tidaklah berbuah kebaikan di kenyataan, Ya Allah tunjukilah para pemimpin kami kepada jalan-Mu yang lurus, bimbinglah mereka agar senantiasa berbuat adil dengan syari’at-Mu, tuntunlah mereka agar lebih sayang kepada masyarakatnya dan berilah kami semua kesabaran melewati segala cobaan yang engkau timpakan kepada kami lewat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah berkahilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dengan ketaatan kepada-Mu, yang akan mengundang curahan rahmat-Mu. Lindungilah negeri kami ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari busuknya dosa dan pengingkaran atas syari’at-Mu. Ya Allah janganlah Engkau timpakan azab atas kami karena kezaliman sebagian orang di antara kami. Berikankanlah pemimpin-pemimpin kami keyakinan dan kemampuan untuk menjalankan syari’at-Mu, yang dengannya mereka membimbing kami menuju keselamatan di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah berkahi dan tuntunlah para ustadz dan guru-guru kami yang tak kenal lelah mengajar dan membimbing kami menggapai ridha-Mu, sucikanlah hati mereka, lapangkanlah rezki mereka, hindarkanlah mereka dari setiap marabahaya dan lindungilah mereka dari tipu daya dan makar musuh-musuh-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, di sini di hari ini kami bergembira, hati kami dipenuhi rasa suka dan cita, namun sepenggal hati kami ini pula diselimuti duka dan kesedihan bila mengingat ada sebagian saudara kami di sana tak mampu seperti kami merayakan hari ini, mereka terusir dari tanah tempat tinggal mereka, terkekang oleh tirani jahat yang tak pernah rela akan agamaMu, terintimidasi oleh kekuatan zalim yang gemar keangkuhan dan kepongahan, atau terkungkung dalam kemiskinan dan kelaparan, di Irak, di Afghanistan, di Palestina dan di Somalia ! Ya Allah curahkanlah pertolongan-Mu pada kami dan saudara-saudara kami di Pelestina, Irak dan Afghanistan, yang berjuang dan mempertaruhkan nyawa demi keagungan tauhid-Mu, yang rela terpenjara di negerinya sendiri demi mempertahankan agama dan kehormatannya. Ya Allah bebaskanlah masjid al-Aqsha dari penjajahan musuh-musuhMu. Ya Allah turunkanlah rahmat dan berkah-Mu kepada saudara-saudara kami di Somalia, curahkanlah kasih sayang-Mu buat mereka dan cukupilah mereka dengan rezki dan karunia dari-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, masukkanlah rasa gembira ke dalam hati saudara-saudara kami sebagaimana yang Engkau berikan kepada kami walaupun hanya setetes, sampaikanlah kepada mereka bahwa sukacita kami hari ini dikabungi duka nestapa mereka, Ya Allah hanya kepada-Mu kami adukan besarnya kezhaliman musuh-musuh-Mu atas saudara-saudara kami, balaslah mereka dengan balasan setimpal, hancurkanlah kekuatan mereka dan timpakanlah atas mereka apa yang telah mereka timpakan atas kami, Ya Allah Engkaulah satu-satunya Penolong dan Pelindung kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Dzat Yang Maha Mengabulkan Doa, terima dan kabulkanlah segala amal ibadah kami di bulan Ramadhan lalu dan berikanlah kami kekuatan untuk mempertahankan amal ibadah tersebut di bulan ini dan bulan-bulan selanjutnya. Kabulkanlah doa kami ini Ya Allah, penuhilah permintaan kami ini, kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;اللَّهُمَّ رَبَّناَ لاَ تُزِغْ&amp;nbsp; قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ، &lt;br /&gt;رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-1676961226650471643?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/1676961226650471643/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/kebenaran-pasti-menang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/1676961226650471643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/1676961226650471643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/kebenaran-pasti-menang.html' title='KEBENARAN PASTI MENANG (KHUTBAH IDUL FITRI 1432 H)'/><author><name>MUNA-WI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13164645042757109207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5217800567282772753</id><published>2011-08-22T01:25:00.000-07:00</published><updated>2011-08-22T01:29:04.520-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><title type='text'>TUNTUNAN PUASA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sebagaimana diajarkan Rasulullah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEUTAMAAN RAMADHAN  DAN HUKUM PUASA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Definisi Puasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibadah kepada Allah Ta’ala dalam bentuk meninggalkan sesuatu yang membatalkan (puasa) sejak terbit fajar hinga terbenam matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hukum Puasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Ramadhan merupakan salah satu kewajiban setiap muslim yang baligh, berakal, mampu melakukannya dan menetap (tidak sedang bepergian).&lt;br /&gt;      Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” &lt;/span&gt;(QS. Al-Baqarah: 183)&lt;br /&gt;         Rasulullah        bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tidak ada ilah (Tuhan yang disembah) kecuali Allah dan (bersaksi) bahwa Nabi Muhammad adalah Rasulullah, Mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadhan dan pergi haji ke Baitullahil Haram.”    &lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;                                                                                                                           (Muttafaq alaih)&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keutamaan Bulan Ramadhan Dan Ibadah Puasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.    Al-Qur’an diturunkan didalamnya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil) &lt;/span&gt; (QS. Al-Baqarah: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.    Di dalamnya terdapat Lailatul Qadar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan( Lailatul Qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadar : 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Terkabulnya do’a orang yang berpuasa.&lt;br /&gt;Rasulullah          bersabda:&lt;br /&gt;“Ada tiga do’a yang dikabulkan: Do’a orang yang berpuasa, doa orang yang dizhalimi dan doa orang yang safar.” (Riwayat Baihaqi)&lt;br /&gt;4.    Para setan diikat, semua pintu surga dibuka, dan semua pintu neraka di tutup.&lt;br /&gt;Rasulullah        bersabda:&lt;br /&gt;“Jika datang bulan Ramadhan, semua pintu surga dibuka, dan semua pintu neraka di tutup  dan Para setan diikat.” ( Riwayat Ahmad)&lt;br /&gt;5.    Puasa adalah sarana menjaga kesucian diri (‘Iffah)&lt;br /&gt;Puasa sangat besar pengaruhnya dalam menjaga anggota badan (dari perbuatan maksiat) dan memberikan kekuatan batin. Karena itu Rasulullah         bersabda:&lt;br /&gt;“Wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah mampu, maka menikahlah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Siapa yang tidak mampu (menikah), maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa merupakan pelindung.” (Muttafaq alaih)&lt;br /&gt;6.    Puasa sebagai pelindung dari neraka.&lt;br /&gt;Rasulullah         bersabda:&lt;br /&gt;“Puasa adalah tameng, orang yang sedang berpuasa berlindung dengannya dari api neraka.” (Riwayat Ahmad)&lt;br /&gt;7.    Puasa merupakan sebab masuk surga&lt;br /&gt;Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah    : “Ya Rasulullah tunjukkanlah kepada ku perbuatan yang dapat memasukkan aku ke syurga.” Maka beliau bersabda:&lt;br /&gt;“ Hendaklah kamu puasa, tidak ada yang sebanding dengannya.” (Riwayat An-Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim)&lt;br /&gt;8.    Puasa dapat menjadi syafaat.&lt;br /&gt;Rasulullah        bersabda:&lt;br /&gt;“Puasa dan Al-Qur’an menjadi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata: “ Yaa Rabb, aku telah mencegahnya dari makan dan syahwat, jadikanlah aku syafaat baginya.” Sedangkan Al-Qur’an berkata: “Ya Rabb, aku telah mencegahnya tidur pada waktu malam, jadikanlah aku syafaat baginya.” Allah berfirman: “ Mereka berdua dapat memberi syafaat.” ( Riwayat Ahmad dan Hakim).&lt;br /&gt;9.    Ar-Rayyan bagi orang yang berpuasa&lt;br /&gt;Rasulullah            bersabda:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di surga terdapat pintu yang bernama Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa, pada hari kiamat akan masuk dari pintu itu dan tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk kedalamnya. Jika mereka telah masuk maka pintu itu di tutup dan tidak ada seorang pun yang masuk.” (muttafaq alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.    Orang yang berpuasa diberi pahala tanpa batas&lt;br /&gt;Rasulullah             bersabda:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya tuhan kalian berfirman: “ Setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat. Puasa adalah untukku dan akulah yang membalasnya” (Riwayat Tirmizi).&lt;br /&gt;11.    Puasa adalah ibadah yang tidak tampak kecuali Allah Ta’ala&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman (Hadist Qudsi):&lt;br /&gt;“Puasa  untukku dan akulah yang akan membalasnya,dan meninggalkan syahwat dan makan hanya karena-Ku.”( Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;12.    Puasa melahirkan ketaqwaan.&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;“wahai orang-orang yang beriman,telah diwajibkan kepada kalian bepuasa sebagaimana telah  diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS.Al-Baqarah: 183)&lt;br /&gt;13.    Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah dari aroma minyak kesturi. (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;14.    Ampunan bagi orang yang berpuasa atas dosa-dosanya yang lalu.&lt;br /&gt;Rasulullah        bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang puasa dibulan ramadhan dengan iman dan ikhlas maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (Muttafaq alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Golongan manusia pada bulan Ramadhan&lt;br /&gt;1.    Muslim baligh, berakal dan menetap. Wajib baginya puasa jika dia mampu melakukannya dan tidak ada halangan padanya.&lt;br /&gt;2.    Anak kecil yang belum baligh. Tidak diwajibkan puasa baginya, akan tetapi orang tuanya supaya melatihnya berpuasa agar terbiasa.&lt;br /&gt;3.    Orang yang tidak mampu berpuasa karena sebab yang tetap, seperti orang tua atau orang sakit yang sudah tidak ada harapan lagi kesembuhannya.&lt;br /&gt;4.    Orang sakit yang diharapkan kesembuhannya. Jika berat baginya berpuasa, dia boleh berbuka dan menggantinya (qadha) setelah sembuh.&lt;br /&gt;5.    Wanita haid dan nifas.: Tidak boleh baginya berpuasa dan wajib mengganti puasa yang ditinggalkan (diwaktu lain).&lt;br /&gt;6.    Orang hamil dan menyusui. Jika berat baginya berpuasa karena hamil atau menyusui atau khawatir akan kondisi anaknya, dia dapat berbuka dan menggantinya tatkala keadaannya sudah pulih dan kekhawatirannya telah hilang.&lt;br /&gt;7.    Musafir. Dia dapat terus berpuasa atau berbuka sesuai keinginannya. Akan tetspi jika berat dan lelah maka berbuka lebih utama berdasarkan firman Allah ta’ala:&lt;br /&gt;“ Allah menginginkan suatu kalian kemudahan dan tidak menginginkan untuk kalian kesusahan .” (QS. Al-Baqarah: 185)&lt;br /&gt;Bagi yang berbuka, dia harus menggantinya, apakah safarnya sesaat seperti umrah atau tetep seperti sopir taksi.&lt;br /&gt;8.    Orang yang terpaksa berbuka karena harus menyelamatkan sesorang yang harus di selamatkan, seperti tenggelam atau terjebak kebakaran. Dia boleh berbuka namun, harus menggantinya suatu saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menyambut Ramadhan.?&lt;br /&gt;1.    Mensucikan diri sebelum bertemu dengan Ramadhan.&lt;br /&gt;Hal tersebut dilakukan dengan bertaubat kepada Allah dari segala dosa serta meninggalkan maksiat.&lt;br /&gt;Siapa yang durhaka kepada orang tuanya hendaklah dia berusaha meminta ridha keduanya. Siapa yang memutus silaturrahim hendaklah dia menyambungkan. Siapa yang biasa mendengar lagu-lagu dan musik, dia harus menghentikannya dan menggantinya dengan mendengarkan Al-Quran, siapa yang melakukan riba hendaklah dia menghentikannya dan tidak makan kecuali dari hasil yang halal. Setiap orang hendaklah mengoreksi lembaran kehidupannya sebelum Ramadhan tiba.&lt;br /&gt;2.    Menyusun agenda kegiatan yang akan dilakukan selama bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;Seorang pedagang yang cerdik saat perdagangan sedang ramai, dia akan menggunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Maka begitu jugalah seharusnya seorang muslim, dia menyusun agenda kegiatan yang terpadu dalam rangka beramal shaleh dan dilakukannya dengan disiplinselama bulan rmadhan sehingga dia dapat mngambil keuntungan yang terdapat didalamnya, disamping, hal tersebut juga memudahkannya untuk melakukan intropeksi dipenghujung bulan mulia yang berlalu hanya sekali setahun itu.&lt;br /&gt;3.    Berdoa dengan penuh permohonan&lt;br /&gt;Semoga Allah memberinya kemudahan dalam melakukan puasa, beribadah didalamnya serta melakukan setiap perbuatan yang diridhoi-Nya dan dijauhkan dari segala sesuatu yang dapat merusak puasanya, atau mengurangi pahalanya.&lt;br /&gt; Rasulullah          bersabda: “Doa adalah ibadah.”&lt;br /&gt;4.    Saat Melihat Hilal ( bulan tgl satu Hijriah)&lt;br /&gt;Saat melihat Hilal hedaklah seorang muslim mengucapkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya Allah tampakkanlah bulan tanggal satu itu dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan islam, tuhanku dan tuhanmu adalah Allah, (semoga) hilal tersebut (pertanda) petunjuk dan kebaikan.” (Riwayat Tirmizi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membatalkan puasa&lt;br /&gt;1.    Jima’ (bersetubuh)&lt;br /&gt;Orang yang bersetubuh pada siang hari bulan Ramadhan, puasanya batal dan dia wajib mengqadha (mengganti)-nya, dan juga wajib membayar kaffarat (denda) yang berat,yaitu: memerdekakan budak beriman, jika tidak mampu, wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turu, jika dia tidak mampu maka dia harus member makan enam puluh orang miskin.&lt;br /&gt;2.    Makan dan minum&lt;br /&gt;Adapun bentuk makan dan minumnya.&lt;br /&gt;3.    Melakukan suntikan yang mengandung zat makanan.&lt;br /&gt;4.    Keluarnya darah haid dan nifas&lt;br /&gt;5.    Mengeluarkan darah.&lt;br /&gt;Adapun keluar darah dengan sendirinya, seperti mimisan, tidak membatalkan.&lt;br /&gt;6.    Muntah dengan sengaja&lt;br /&gt;Jika muntah tanpa sengaja tidaklah membatalkan.&lt;br /&gt;7.    Keluar mani dalam keadaaan terjaga.&lt;br /&gt;Misalnya: onani, bercumbu, mencium atau semacamnya. Jika keluar mani ketika tidur, tidaklah membatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat batalnya puasa&lt;br /&gt;1.    Mengetahui hukumnya&lt;br /&gt;Jika sesorang melakukan perbuatan yang membatalkan karena ketidaktahuannya maka tidaklah membatalkan. Berdasarkan Allah ta’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padnya ,tetapi yang (ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.” (QS. Al-AHzab: 5)&lt;br /&gt;2.    Sadar&lt;br /&gt;Jika seseorang lupa melakukan perbuatan yang membatalkan, maka puasanya sah dan dia tidak perlu mengqadhanya.&lt;br /&gt;3.    Kehendak sendiri&lt;br /&gt;Jika seseorang dipaksa (untuk berbuka) maka puasanya sah dan tidak mengqadha, sebagaimana hadist Rasulullah&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah melampaui (mengampuni ummatnya yang kesalahan, lupa dan yang terpaksa.”&lt;br /&gt;              (Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi. Imam Nawawi menyatakan hadist ini Hasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hukum-hukum puasa&lt;br /&gt;1.    Wajib melakukan niat pada malam harinyasebelum terbit fajar.&lt;br /&gt;Jika telah jelas telah masuk bulan Ramadhan, maka wajib baginya bagi setiap muslim yang baligh untuk berniat pada malam harinya.&lt;br /&gt;Rasulullah          bersabda:&lt;br /&gt;“siapa yang tidak niat berpuasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.&lt;br /&gt;                                        (Riwayat Abu Daud, Ibnu Khusaimah, Baihaqi, Nasa’I, dan Tirmizi)&lt;br /&gt;Niat tempanya dalam hati dan tidak diucapkan.&lt;br /&gt;2.    Keutamaan sahur dan mengakhirkannya.&lt;br /&gt;Rasululah       telah memrintahkan sahur untuk membedakan antara puasanya kita dengan ahli kitab.&lt;br /&gt;Beliau bersabda                  :&lt;br /&gt;“Yang membedakan antara puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.”                              &lt;br /&gt;                                                                                                                  (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;Disunahkan mengakhirkan sahur hingga beberapa saat sebelum fajar.&lt;br /&gt;Terdapat riwayat dari Zaid, dia berkata:&lt;br /&gt;“Kami sahur bersama nabi, setelah itu kami bangkit untuk melaksanakan shalat. Beliau ditanya: “berapa lama jarak antara azan dan sahur?.” Dia menjawab: “sekedar             ( membaca) lima puluh ayat.”                                                                      (muttafaq alaih)&lt;br /&gt;3.    Puasa bukan sekedar menahan makan dan minum.&lt;br /&gt;Puasa juga berarti (menahan) anggota badan dari setiap perbuatan dosa. Maka sebagaimana makan dan minum membatalkan puasa, begitu juga perbuatan dosa dapat menghapus pahala dan merusak nilai puasa hingga menjadikannya bagaikan orang yang tidak berpuasa.&lt;br /&gt;4.    Disunahkan bersiwak saat berpuasa.&lt;br /&gt;Rasulullah          bersabda:&lt;br /&gt;“Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya akan aku perintahkan ummatku untuk bersiwak setiap hendak berwudhu.”                                                            (Muttafaq alaih)&lt;br /&gt;Hadist ini tidak mengkhususkan puasa dari yang lainnya. Oleh karenanya ini merupakan dalil bahwa siwak tetap disunahkan bagi orang yang berwudhu atau setiap hendak shalat. Baik dia sedang puasa atau tidak, dan sifatnya umum untuk semua waktu, baik sebelum waktu zuhur ataupun sesudahnya.&lt;br /&gt;5.    Tidak bersungguh-sunguh memasukkan air kedalam hidung(ketika berwudhu).&lt;br /&gt;Rasulullah          bersabda:&lt;br /&gt;“Bersungguh-sungguhlah memasukan air kedalam hidung(ketika berwudhu) kecuali jika kamu dalam keadaan puasa.”&lt;br /&gt;                (Riwayat Tirmizi, Abu Daud, Ibnu Majah,An- nasa’I,  dengan Sanad yang Shahih).&lt;br /&gt;6.    Sah puasa orang waktu masuk shubuh dalam keadaan junub (berhadast besar)&lt;br /&gt;“Pernah terjadi pada Rasulullah, beliau memasuki waktu fajar dalam keadaan junub setelah mendatangi istrinya, kemudaian beliau mandi setelah fajar dan meneruskan puasanya.”                                                                                                 (Muttafaq alaih)&lt;br /&gt;7.    Mempecepat ifthar (berbuka puasa)&lt;br /&gt;Ifhtar hendaknya dilakukan saat matahari terbenam. Adanya mega yang sangat merah di ufuk bukanlah halangan untuk mempercepat ifthar.&lt;br /&gt;Hal ini merupakan sunnah Rasulullah         , karena beliau bersabda :&lt;br /&gt;“Ummatku akan selalu berada dalam sunnahku selama dia tidak menunggu bintang-bintang(waktu malam )untuk berbuka.”                                         ( Riwayat Ibnu Hibban).&lt;br /&gt;8.    Memberi makan berbuka puasa.&lt;br /&gt;Hendaknya setiap orang berupaya untuk memberikan makan bagi orang yang hendak berbuka, karena didalamnya terdapat pahala yang besar dan kebaikan yang banyak&lt;br /&gt;Rasulullah           bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang memberi makan orang yang berbuka puasa maka baginya (pahala puasa) orang itu, tanpa mengurangi pahala orang yang puasa tersebut.”                                                                  &lt;br /&gt;                                                                                                (Riwayat Ahmad, Tirmizi dll)&lt;br /&gt;9.    “Adalah Rasulullah dahulu berbuka dengan beberapa ruthab (korma muda) sebelum shalat. Jika tidak ada, maka dengan beberapa tamr (korma matang). Jika tidak ada, maka dia minum beberapa teguk air.”        (Riwayat Shahih Dari Ahmad, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah)&lt;br /&gt;Jika berbuka beliau membaca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah hilang dahaga dan urat-urat telah basah dan pahala telah tetap insya Allah.”&lt;br /&gt;Ketika berbuka perbanyaklah berdoa, karena berdoa pada saat itu doa akan terkabul (mustajabah).Rasulullah        bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tiga golongan yang doanya tidak ditolak: orang yang puasa saat dia iftor (berbuka), imam yang adil, doa orang dizholimi.” (Riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan yang tidak membatalkan puasa.&lt;br /&gt;    Melakukan periksa darah dan suntik yang tujuannya untuk tidak memasukkan zat makanan. Semua itu tidaklah membatalkan.&lt;br /&gt;    Mencicipi masakan. Dengan syarat tidak sampai masuk kedalam tenggorokan.&lt;br /&gt;Terdapat riwayat dari Ibnu Abbas : “ tidak mengapa mencicipi cuka atau sesuatu disaat dia sedang puasa selama tidak masuk ke tenggorokannya.”&lt;br /&gt;    Boleh menggunakan celak mata atau tetes mata atau semacamnya yang dimasukkan kedalam mata. Hal tersebut tidak membatalkan puasa, baik orang tersebut merasakan ditenggorokan nya atau tidak.&lt;br /&gt;    Boleh menuangkan air dingin iatas kepala atau mandi dengannya.&lt;br /&gt;Terdapat riwayat dari Rasulullah       bahwa:&lt;br /&gt;“Beliau menuangkan air keatas kepalanya saat dia sedang puasa karena kehausan atau kepanasan.”&lt;br /&gt;                                                                                                (Riwayat Abu Daud dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan yang harus dijauhi saat berpuasa&lt;br /&gt;    Berkata dusta&lt;br /&gt;Rasulullahshallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka tidak ada bagi Allah ta’ala nilainya dia meninggalkan makanan dan minumannya.”        (Riwayat Bukhari).&lt;br /&gt;    Berbuat sia-sia dan berkata kotor.&lt;br /&gt;Rasulullah  shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Puasa bukan hanya (menahan) makan dan minum saja,akan tetapi puasa juga (menahan diri) dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                                                                                     (Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Hakim)&lt;br /&gt;Oleh karena itu terdapat ancaman yang berat bagi mereka yang melakukan hal tersebut, yaitu mereka yang akan digolongkan orang-orang yang Rasulullah katakan dalam hadistnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun yang dia dapatkan dari puasanya hanya lapar dan dahaga.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                   (Riwayat Ibnu Majah,Ad-Darimi, Ahmad dan Baihaqi dengan Sanad yang Sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                        (Alih Bahasa : Abdullah Haidir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5217800567282772753?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5217800567282772753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/tuntunan-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5217800567282772753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5217800567282772753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/tuntunan-puasa.html' title='TUNTUNAN PUASA'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-1175192339781637174</id><published>2011-08-21T18:54:00.000-07:00</published><updated>2011-08-21T19:00:08.597-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>INILAH SALAFI SEJATI</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;OLEH :&lt;br /&gt;YANG MULIA SYEKH ABDUL AZIZ BIN BAZ&lt;br /&gt;DAN HAIAH KIBARUL ULAMA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ada di antara para da'i (ustadz) dan tbalibul ilmi (Santri) pada hari ini yang menyangka bahwa hanya dengan mengaku atau membubuhi namanya dengan kata salafi dia sudah termasuk bagian dari salafiyin. Bahkan yang lebih memprihatinkan mengira kalau dirinya menjadi ukuran bagi kesalafan orang lain. Nilai seseorang tidak diukur dengan pengakuan, namun dengan kenyataan dan prilaku dan sepak terjang serta bagian yang diperankan. Jadi banyak orang yang masih sebatas pengakuan, bukan sampai pada tingkat kenyataan. Yang lebih ironis, justru orang-orang yang menapaki jalan salafus shalih malah tidak selamat dari mereka. Dan sesungguhnya, perkara yang merupakan kekurangan mereka pada hari ini adalah adab, alkhlak yang mulia, hati yang tulus dan baik sangka. Allah merahmati orang yang mau muhasabah terhadap dirinya. Semoga Allah mcniadikan kita sebagai golongan yang selamat. Aamiin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lajnah Daimah (komite tetap) untuk riset.ilmiah dan fatwa telah melihat surat yang masuk kepada yang mulia Mufti 'Amm Fadhilatus Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz yang berasal dari seorang peminta fatwa, yaitu Muhammad bin Hasan Alu Dzubyan, yang dialihkan oleh sekjen Haiat Kibar Ulama –yang bernomor 3134, tertanggal T Rajab 1414 H- kepada Lajnah Daimah.&lt;br /&gt;Penanya meminta fatwa dengan pertanyaan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  "Kami mendengar dan mendapati orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah bagian dari salafiyah, sementara kesibukan mereka adalah mencela para ulama, serta menuduh mereka sebagai ahli bid'ah. Seakan-akan lisan-lisan mereka tidaklah diciptakan kecuali hanya untuk sikap seperti ini. Mereka berkata: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kami adalah salafi."&lt;/span&gt; Pertanyaannya adalah mudah-mudahan Allah senantiasa menjaga anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah sebenarnya maksud dari salafiyah yang sesungguhnya itu? Dan bagaimana sikap salafiyah terhadap kelompok-kelompok lslam yang ada sekarang ini?"&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah membalas anda, kami dan segenap kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar do'a."&lt;br /&gt;Setelah Lajnah Daimah yang diketuai oleh Yang Mulia Syaikh bin Baz  mempelajari pertanyaan tersebut, Lajnah menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Jika keadaannya memang seperti apa yang telah disebutkan, maka sesungguhnya mencela para ulama, dan melemparkan (tuduhan) kebid'ahan terhadap mereka serta menuduh-nuduh mereka adalah cara yang membinasakan, bukan termasuk cara salaf yang terbaik dari umat ini. Sesungguhnya kesungguhan salafus shalih adalah berdakwah kepada al-Kitab dan as-Sunnah,dan berdakwah kepada apa-apa yang didakwahkan para sahabat dan para ta'bi'in yang mengikuti mereka dengan baik dengan ihsan (berbuat baik), dengan penuh hikmah, mauizhah (nasihat) yang baik, serta berdebat dengan cara yang baik pula. Dengan disertai oleh kesungguhan jiwa untuk mengamalkan apa yang mereka dakwahkan kepada setiap hamba. Serta dengan konsisten memegang teguh apa yang telah diketahui secara pasti dari agama lslam, yang berupa ajakan untuk bersatu, saling tolong menolong di atas kebaikan, menyatukan kalimat kaum muslimin di atas kebenaran, menjauh dari perpecahan dan sebab-sebabnya yang berupa saling curiga, saling benci dan saling hasud, serta menahan diri dari ketergelinciran di dalam kehormatan kaum muslimin serta melemparkan anggapan-anggapan dusta dan sebab-sebab semacamnya yang menimbulkan perpecahan kaum muslimin serta menjadikan mereka berkelompok-kelompok yang sebagiannya melaknat sebagian yang Iain, dan sebagiannya memerangi sebagian yang lain.&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."&lt;/span&gt;(QS. Ali imran: 103)&lt;br /&gt; Dan telah valid dari Nabi  bahwa beliau  bersabda:&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Janganlah kalian kembati kufur setelah aku, sebagian kalian memukul leher sebagian yang lain." &lt;/span&gt;(HR. bukhari muslim)&lt;br /&gt; Ayat-ayat dan hadits Nabi yang mencela perpecahan beserta sebab-sebabnya sangatlah banyak.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah, melindungi kehormatan kaum muslimin dan menjaganya adalah termasuk sesuatu yang secara pasti diketahui sebagai bagian dari islam. Maka melanggarnya, dan menjerumuskan diri di dalamnya adalah diharamkan. Keharaman tersebut semakin menjadi keras Saat orang dijerumuskan adalah para ulama, dan orang yang manfaatnya besar bagi kaum muslimin. Hal ini berdasarkan nash-nash dua wahyu yang mulia yang telah mengagungkan&lt;br /&gt;kedudukan mereka. Diantaranya adalah Allah telah menyebut .mereka sebagai saksi atas l ketauhidan Allah Subhanahu Wa Ta'ala . Allah  berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.,&lt;/span&gt;(QS. Ali lmran: l8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjerumuskan diri berbicara tentang para ulama tanpa hak, dengan membid'ahkan mereka, menfasiqkan, mendiskriditkan, dan merendahkan mereka adalah termasuk kezhaliman dan dosa yang teragung, dan itu termasuk di antara sebab-sebab fitnah, menghalangi kaum muslimin dari mengambil ilmu mereka yang&lt;br /&gt;bermanfaat, juga menghalangi mereka dari mengambil kebaikan serta petunjuk yang mereka bawa.&lt;br /&gt;Ini akan mendatangkan bahaya besar terhadap penyebaran syariat yang suci, karena jika pembawa syariat ini dicela, maka itu akan berpengaruh kepada apayang dia bawa.&lt;br /&gt;Maka pada sikap seperti ini terdapat penyerupaan dengan cara ahlul bid'ah yang terjerumus pada pembicaraan buruk tentang para sahabat. Sementara para sahabat Rasulullah adalah saksi nabi umat ini atas syariat Allah&lt;br /&gt;yang telah beliau sampaikan.Maka jika yang bersaksi disakiti (dinodai), berarti yang disaksikanpun juqa di sakiti (dinodai).&lt;br /&gt;Maka yang wajib atas setiap  muslim adalah konsisten dengan  Adab-adab lslam, Petunjuk dan  syariatnya Hendaknya dia  menahan lisannya dari Perkataan  keji dan menjerumuskan diri  dalam membicarakan kehormatan Para ulama bertaubat kepada Allah  dari perbuatan tersebut, serta membersihkan diri dari berbuat zhalim kepada Para hamba Allah Akan tetap jika sebuah kesalahan terjadi Pada diri seorang 'alim, maka kesalahan tersebut tidaklah menghabiskan ilmu yang dimilikinya' Yang wajib pada. saat mengetahui kesalahan adalah kembali kepada ahli ilmu yang diakui kapasitas keilmuan' agama dan kesalahan i'tiqadnya' Hendaknya seseorang tidak memasrahkan dirinya kePada setiap orang yang menghembuskan dan menjalarkan (fitnah) hingga menuntunnya kepada kehancuran dari arah Yang tidak disadarinya' Wabillahit taufiq washallallahu'ala nabiyyina muhammadin wa aalihi washahbihi wasaIIam' .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus Yang sejenis, Yang Mulia Syaikh lbn Bazz berkata:&lt;br /&gt;"Yang saya nasehatkan kepada mereka, saudara-saudara Yang membicarakan kehormatan Para da'i dan menzhaliminya agar mereka bertaubat kepada Allah dari apa yang mereka tulis atau mereka ucapkan, dari hal-hal yang menyebabkan rusaknya hati sebagian Pemuda, dan mengisi&lt;br /&gt;mereka dengan rasa benci dan dengki, menyibukkan mereka dari mencari ilmu yang bermanfaat, dari dakwah kepada Allah dengan katanya dan katanya, dan pembicaraan tentang fulan-dan fulan, serta mencari-cari apa yang mereka anggap sebagai kesalahan bagi orang lain, menjaring dan memaksa-maksa.&lt;br /&gt;Sebagaimana saya nasehatkan agar menebus apa yang telah mereka lakukan dengan tulisan atau lainnya yang dapat membuat diri mereka terbebas dari perbuatan ini dan menghapus dari benak orang-orang yang pernah mendengarkan ucapan mereka, dan hendaknya menghadap fokus  pada amal-amal yang produktif yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan bermanfaat bagi para hamba. .Hendaklah mereka takut untuk tergesa-gesa, dalam menyebut vonis kafir atau fasiq atau bid'ah tanpa bukti nyata dan hujjah. Rasul  telah bersabda:&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Barang siapa mengatakan kepada saudaranya: Wahai kafir '' maka kalimat itu pasti kembali kepada salah satu dari keduanya." (&lt;/span&gt;HR. Bukhari-Muslim)&lt;br /&gt;(sumber:majalah Qiblati edisi 11 Tahun III 1429 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-1175192339781637174?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/1175192339781637174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/inilah-salafi-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/1175192339781637174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/1175192339781637174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/inilah-salafi-sejati.html' title='INILAH SALAFI SEJATI'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-3998675708592246124</id><published>2011-08-20T03:43:00.000-07:00</published><updated>2011-08-20T03:48:02.207-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><title type='text'>Waktu Seorang Muslim  Pada Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Waktu seorang Muslim umumnya sangat berharga, dan pada bulan Ramadhan lebih berharga dan lebih mahal. Oleh sebab itu, wajib mengingatkan beberapa hal terkait dalam memanfaatkan waktu di bulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Sebuah kesalahan ketika oleh sebagian orang begadang sepanjang malam pada bulan Ramadhan. Seseorang hendaknya membagi waktu malamnya untuk tidur, karena tidur malam tidak sama dengan tidur siang. Sebab satu atau dua jam yang dipakai untuk tidur oleh seseorang di waktu malam tidak akan tergantikan oleh istirahat di waktu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Seorang Muslim selayaknya mengisi waktunya pada bulan Ramadhan dengan membaca al-Quran. Entah membaca melalui mushaf atau dari hafalan. Membaca di masjid, rumah, mobil dan tempat lain yang memungkinkan. Hendaknya ia bersungguh-sungguh menamatkan bacaan al-Quran setiap tiga hari, atau setiap pekan, atau paling minimal menamatkan  satu kali selama bulan Ramadhan ini, meskipun hal ini termasuk kelalaian yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Ketiga:&lt;/span&gt; Pentingnya meninggalkan permainan (perkara) sia-sia. Sebab sebagian pemuda berkumpul selepas shalat tarwih –kalau mereka shalat- untuk begadang. Mereka berbagi cerita,bahkan majelis tersebut didominasi oleh senda gurau, canda tawa, bahkan mereka terjerumus ke dalam ghibah dan namimah, perkataan dusta dan semacamnya. Semua ini tidak pantas bagi seorang Muslim pada seluruh waktunya apalagi pada bulan ini. Sungguh kerugian besar  bila seorang hamba berbuat baik, kemudian ia rusak sendiri dengan  kemaksiatan dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keempat:&lt;/span&gt; Sebagian pemuda menganggap bulan Ramadhan sebagai kesemptan bermain dan bersenda gurau. Anda saksikan sebagian mereka setelah shalat Isya atau tarwih pergi bermain bola. Mereka menghabiskan seluruh malamnya dengan bermain sepanjang malam sampai waktu sahur. Mungkin sebagian mereka bergembira dengan kedatangan Ramadhan  karena kesempatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bermaksud melarang berolahraga, asal dilakukan sesuai kadar (porsi) yang masuk akal. Tetapi aku tidak ragu untuk mengatakan bahwa menghabiskan seluruh malam untuk permainan merupakan kelalaian dan menyia-nyiakan waktu. Tidurnya seseorang pada pada malam hari jauh lebih baik dari keadaan para pemuda yang menghabiskan atau melawati malamnya dengan perkara yang tidak bermanfaat, entah dengan main bola, nonton TV yang menayangkan wanita, musik ,dan sinetron yang merusak. Dimana tidak sepantasnya bagi orang yang menghargai waktunya untuk menghabiskan waktunya dalam perkara tersebut, sehingga ia rugi karena tidak mendapat pahala dan justru berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kelima:&lt;/span&gt; Sebagian pemuda menghabiskan waktu siangnya untuk tidur.Hal ini disebabkan oleh buruknya manajemen waktu harian mereka dan kelalaian mereka untuk menambah kebaikan pada musim yang mulia ini.&lt;br /&gt;Mereka begadang sepanjang malam kemudian usai shalat subuh mereka pergi balapan liar dengan berkumpul di pinggir jalan-jalan. Andaikan mereka duduk di masjid setelah shalat subuh sampai matahari terbit setinggi tombak, kemudian shalat dua rakaat sehingga dia memperoleh pahala haji dan umrah sempurna, sempurna, dan sempurna. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;Saya ulangi, mereka pergi balapan, tertawa dan bersenda gurau,  kemudian saat matahari telah meninggi mereka pergi tidur sampai datang waktu bekerja atau belajar mereka beranjak dengan perasaan berat.Setelah  selesai jam belajar dan berkantor ia langsung lemparkan badannya ke kasur sampai terbenam matahari.&lt;br /&gt;Ini adalah masalah yang krusial. Kaum Muslimin wajib memeprhatikan hal ini.Jika seseorang butuh untuk menghabiskan sebagian hari di siang hari bulan Ramadhan pada tempat kerja atau sekolah, maka ia harus mengkhususkan sebagian waktu malamnya untuk tidur, agar dapat menghadiri shalat berjama’ah, lalu siangnya untuk membaca al-Quran dan taqarrub  lainnya.&lt;br /&gt;Dan sangat disayangkan, sebagian pegawai ketiduran pada jam kantor, juga para pelajar tidur pada jam belajar. Apakah seorang pegawai digaji hanya untuk tidur di kantor? Ataukah untuk melayani kepentingan publik dan kemaslahatan kaum Muslimin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri bahwa ia digaji untuk menunaikan tugas yang dibebankan kepadanya,maka ia tidak boleh tidur pada jam kerja. Meskipun kebanyakan pegawai –&lt;span style="font-style: italic;"&gt;alhamdulillah&lt;/span&gt;- tetap merasakan tanggungjawab dan kewajibannya serta bermuamalah (interaksi) dengan baik bersama kaum Muslimin pada setiap waktu khususnya di bulan Ramadhan. Tetapi hal ini tidak menghalangi kita untuk mengingatkan kesalahan yang dilakukan oleh segelintir  orang. Dan Allah menunjuki yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;(sym)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Disalin dari Kitab &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Duruus Ramadhan,Waqafaat Lish Shaaimiin&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-3998675708592246124?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/3998675708592246124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/waktu-seorang-muslim-pada-bulan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/3998675708592246124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/3998675708592246124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/waktu-seorang-muslim-pada-bulan.html' title='Waktu Seorang Muslim  Pada Bulan Ramadhan'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-4697148821964863853</id><published>2011-08-19T18:15:00.000-07:00</published><updated>2011-08-19T18:19:34.970-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqh'/><title type='text'>Bersiwak (Sikat Gigi) Saat Puasa</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Siwak disyariatkan pada seluruh waktu, khususnya pada waktu yang dianjurkan untuk melakukannya, yaitu pada enam waktu:&lt;br /&gt;1.Sebelum shalat&lt;br /&gt;2.Sebelum berwudhu&lt;br /&gt;3.Sebelum masuk rumah&lt;br /&gt;4.Saat bangun tidur&lt;br /&gt;5.Sebelum membaca al-Quran&lt;br /&gt;6.Ketika terjadi perubahan bau mulut&lt;br /&gt;Dalil-dalil tentang hal ini sangat banyak, diantaranya hadits Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Andai tidak khawatir menyulitkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak setiap akan shalat.&lt;/span&gt;” (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;Dalam Kitab al  Muwatha, haditsnya berbunyi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Andai tidak khawatir menyulitkan /memberatkan umatku, nisacaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap akan berwudhu (sebelum berwudhu).’&lt;/span&gt;’ (Muwatha 1/66).&lt;br /&gt;Hadits lain, perkataan Aisyah Radhiyallahu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘anha ketika ditanya, “Apa yang mula-mula dilakukan oleh Nabi ketika memasuku rumahnya? Bersiwak.” jawabnya&lt;/span&gt; (HR. Muslim).&lt;br /&gt;Sedangkan Hudzaifah menceritakan, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam jika bangun malam membersihkan mulutnya dengan siwak (HR. Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;Dalil lain adalah sabda Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Siwak itu mensucikan mulut dan mendatangkan keridhaan Rab.”&lt;/span&gt; (HR Ahmad,Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah). Dan masih ada dalil-dalil lain tentang siwak.&lt;br /&gt;Maka sepantasnya seorang Muslim senantiasa bersiwak setiap saat, khususnya pada waktu-waktu yang enam ini. Tentu ini berlaku di dalam dan di luar bulan Ramadhan. Sebab, pendapat yang benar adalah siwak disyariatkan kepada orang yang berpuasa sebelum tergelincir matahari (zawal) dan setelahnya. Sama persis seperi orang yang tidak berpuasa, karena perkataan Nabi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“setiap akan shalat&lt;/span&gt;” dan “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;setiap akan berwudhu&lt;/span&gt;” mencakup sebelum zawal dan setelah zawal.&lt;br /&gt;Adapun hadits Ali Radhiyallahu ‘anhu yang berbnyi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jika kalian puasa maka bersiwaklah di pagi hari dan jangan bersiwak pada sore hari.”&lt;/span&gt; (HR Baihaqi dan Daruquthniy) adalah hadits yang sangat lemah.&lt;br /&gt;Demikian pula dengan hadits, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak terhitung banyaknya aku melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersiwak saat beliau sedang berpuasa,”&lt;/span&gt; adalah hadits dha’if (lemah) juga.&lt;br /&gt;Disalin dari Duruus Ramadhan Waqafaat lishaaimiin.(&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;sym)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-4697148821964863853?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/4697148821964863853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/bersiwak-sikat-gigi-saat-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4697148821964863853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4697148821964863853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/bersiwak-sikat-gigi-saat-puasa.html' title='Bersiwak (Sikat Gigi) Saat Puasa'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-5449357520247074928</id><published>2011-08-18T07:00:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T07:07:52.150-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><title type='text'>Ramadhan Bulan Doa</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Allah Ta’ala Maha Dekat. Dia menjawab hambaNya yang  berdoa kepadaNya. Ini berlaku setiap saat, khususnya di bulan Ramadhan, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya bahwa setiap Muslim memilki doa yang mustajab pada bulan Ramadhan. Maka sepantasnya seorang Muslim bersungguh-sungguh dalam berdoa sambil mencari sebab terkabulnya doa.&lt;br /&gt;Secara umum ada beberapa sebab terkabulnya doa.  Lima diantaranya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1. Memilih waktu yang utama.&lt;/span&gt; Seperti waktu sahur, diakhir/penghujung shalat wajib, antara adzan dan iqamat, pada saat terakhir di hari Jumat (setelah waktu shalat ashar), saat imam masuk masjid (khatib naik mimbar) hingga selesai shalat  Jumat, dan saat berbuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;2. Memilih tempat yang afdhal (terbaik/utama),&lt;/span&gt; seperti masjid, Kota Makkah, Madinah dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;3. Kondisi orang berdoa.&lt;/span&gt; Seperti saat dalam perjalanan, karena orang yang dalam perjalanan (musafir) doanya mustajab. Atau seorang ayah mendoakan anaknya, orang yang sedang berpuasa, orang di medan perang (doa pada saat bertemunya dua pasukan mustajab), atau orang yang sedang terzhalimi. Ini dikarenakan doa orang terzhalimi tidak tertolak bahkan  Allah mengangkatnya ke atas awan, seraya Allah berfirman (artinya), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Demi kemuliaan-Ku dan keagunganKu, Aku pasti akan menolongmu walaupunsetelah beberapa waktu .”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; Termasuk orang yang berdoa sedang terdesak/kesulitan. Hakikat terdesak yang dimaksud adalah ketika seorang hamba terputus dengan semua sebab, lalu saat itu dia menghadap kepada Allah dengan penuh rasa harap kepadaNya semata. Ia menyerahkan seluruh urusannya  secara total kepada Allah. Allah berfirman tentang hal ini, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bukankah Dia yang memperkanankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa’ kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan”&lt;/span&gt; (Qs an-Naml[27]:62).&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam melewati seseorang yang berdoa kepada Allah ‘Azza wa jalla. Musa berkata, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wahai Tuhanku andai hajat/kebutuhan orang ini terdapat padaku (dapat aku penuhi) niscaya akan aku berikan keperluannya.” Dijawab oleh Allah, “Wahai Musa, Aku lebih sayang kepadanya daripada engkau. Tetapi dia berdoa kepadaKu, namun hatinya kepada selainKu.”&lt;/span&gt; Maka Musa segera menyampaikan hal itu kepada orang tersebut. Ia tersadar lalu memutuskan untuk berkonsentrasi kepada Allah. Akhirnya Allah Jalla wa ‘ala menjawab/mengabulkan doanya.&lt;br /&gt;Maka hendaknya seseorang yang berdoa selalu berada dalam kondisi jiwa yang merasakan  kebutuhan kepada Allah menghilangkan/memutuskan segala rasa harap kepada selain Allah. Dan jangan dia berdoa hanya coba-coba, atau tidak yakin dengan pengabulan dari Allah.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Berdoalah kepada Allah sedang kalian yakin akan dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.”&lt;/span&gt; Hadits ini memilki dua sanad yang saling menguatkan, sehingga derajat hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;4. Sifat doa&lt;/span&gt;.Hendaknya orang yang berdoa memerhatikan adab-adab berdoa. Seperti berwudhu, menghadap qiblat, mengangkat kedua tangan, mengulangi doa sebanyak tiga kali, memilih doa yang singkat tapi padat (kandungannya) , memerbaiki makanan (konsumsi makanan yang baik/halal), bertawassul dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang tinggi, tidak meminta yang mengandung dosa pemutusan silaturrahim, dan adab-adab lain yang diajarkan oleh Nabi kita, Muhammad &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Di sini saya ingin mengingatkan sebuah kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam berdoa. Dalam hal ini sikap berlebihan yang tidak wajar (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al i’tida’)&lt;/span&gt; dalam berdoa. Diantara bentuk al i’tida’ dalam berdoa adalah seseorang yang merincikan doanya yang sebenarnya tidak perlu.&lt;br /&gt;Sebagian orang mengatakan di dalam doanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ya Allah ampunilah bapak dan ibu kami, kakek dan nenek kami, paman dan bibi kami, om dan tante kami…”&lt;/span&gt; Dia terus berdoa  dengan menyebut  karib kerabatnya secara rinci, kemudian berpindah kepada tetangganya, lalu teman-temannya, demikian seterusnya. Perincian semacam  ini mengambil waktu yang tidak sedikit. Padahal cukup ia mengatakan, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah ampunilah kami, saudara-saudara kami, karib kerabat kami ,orang-orang yang kami cintai…”&lt;/span&gt; Secara global seperti ini, karena rahmat Allah sangat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap berlebihan  yang tidak wajar dalam berdoa lainnya adalah seseorang  berdoa dengan nama Allah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Seperti perkataan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Yaa Ghufraan, Yaa Sulthaan .”&lt;/span&gt; Padahal kedua nama ini bukan termasuk nama Allah  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jalla wa ‘ala&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Termasuk pula al i’tida’ yakni berlebihan dalam mengangkat suara saat berdoa. Hal ini telah tersebar khususnya di zaman kita saat ini, dengan keberadaan pengeras suara. Mungkin anda mendengarkan orang yang berdoa di timur kota, sementara anda berada di barat. Hal ini tidaklah pantas. Jika seseorang sedang mengimami shalat, lalu ia berdoa, kemudian diaminkan oleh orang-orang di  belakangnya, maka hendaknya ia mengangat suara sekadar dapat didengar oleh orang-orang yang shalat di belakangnya saja, tidak perlu menambah volume suara, sebab hal ini termasuk al i’tida’ berlebihan dan merupakan pintu riya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang berdoa sendirian untuk dirinya sendiri, maka hendaknya doaanya secara sirr (lirih), sebagaimana firman Allah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat  Tuhanmu kepada hamba-Nya Zakaria.(Yaitu) Ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut”&lt;/span&gt; (Qs. Maryam[19]:2-3).&lt;br /&gt;Dan ibadah semakin tersembunyi maka semakin dekat kepada ketulusan /kebenaran dan pengabulan untuk lebih diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;5. Hilangnya penghalang terkabulnya doa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang menghalangi terkabulnya doa. Diantaranya memakan yang haram, entah dari sumber riba, menipu, memperlaris barang (jualan) dengan sumpah palsu, memakan harta anak yatim, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dalam shahih Muslim diterangkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut masai lagi berdebu, ia mengangkat tangannya ke langit (seraya berkata),&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “Wahai Rabb, wahai Rabb….” Tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dia tumbuh dengan yang haram, bagaimana mungkin dikabulkan permohonannya?!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pula penghalang terkabulnya doa adalah meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari berbagai jalur bahwa Allah Ta’ala berfirman (artinya), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Perintahkanlah  yang ma’ruf (kebaikan), laranglah dari kemunkaran, sebelum kalian berdoa kepadaKu tapi Aku tidak kabulkan, kalian memhon pertolongan tetapi Aku tidak menolong kalian, kalian meminta kepadaKu tetapi Aku tidak beri.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika manusia meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar terhadap diri mereka, anak-anak, keluarga, tetangga, karib-kerabat dan kepada masyarakat secara umum, maka Allah Jalla wa ‘ala menghukum mereka dengan tidak terkabulnya doa mereka.(&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Syam&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disalin dari Kitab Duruus Ramadhan,Waqafaat Lish Shaaim).&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-5449357520247074928?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/5449357520247074928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/ramadhan-bulan-doa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5449357520247074928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/5449357520247074928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/ramadhan-bulan-doa.html' title='Ramadhan Bulan Doa'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-6801913859477429217</id><published>2011-08-18T00:32:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T00:35:09.594-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>KEISTIMEWAAN SEPULUH TERAKHIR RAMADHAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;                                                                      &lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Di awal ramadhan,masjid mana yang tak penuh sesak dengan jamaah?Terutama sholat 'isya dan tarawih.Hampir dipastikan ,di hari-hari/malam-malam awal ramadhan  tidak ada yang mau ketinggalan.&lt;br /&gt; Namun,seperti biasa saat tapak-tapak hari/malam Ramadhan kian menjelang akhirnya ,semangat beribadah mulai redup,fisik semakin berat dan ketaatan semakin berkurang.Saat memasuki sepuluh hari/malam terkhir ramadhan ,masjid-masjid mulai sepi dan  kekurangan jamah.Sebaliknya pasar-pasar malam,mall-mall,dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya lebih ramai dari biasanya.&lt;br /&gt; Demikian yang terjadi di sekitar kita dari tahun ke ahun.Bahkan tanpa sadar ,kitapun menjadi bagian dari kasahan dan kelalaian "klasik" ini.Sebagai gejala dan indikasi bahwa  keutamaan dan kemuliaan Ramadhan kurang dipahami dengan baik,sehingga kemeriahan suasana  amaliyah ramadhan yang terjadi di awalnya seolah hanya karena tradisi saja.Semangat yang menggebu-gebu pada awal-awal ramadhan sepertinya tidak dilandasi oleh 'ilmu dan pemahaman yang cukup.&lt;br /&gt; Sungguh,sepuluh terakhir ramadhan  merupakan kesempatan khusus dan spesial yang sangat istimewa untuk menggapai ridha Allah dan mendulang banyak pahala dan kebaikkan yang berlimpah.Sebab, sepuluh terakhir ramadhan memiliki keutaman dan keistimewaan  khusus yang tidak dimiliki oleh malam-malam sebelumnya.&lt;br /&gt;  Saat memasuki sepuluh terakhir Ramadhan ,Rasulullah biasa meningkatkan intensitas ibadah yaang beliau kerjakan .Istri beliau 'Aisyah menuturkan :&lt;span style="font-style: italic;"&gt;" Rasulullah bersungguh-sungguh brribadah pada sepuluh malam terakhir ramadhan melebihi kesungguhan beliau pada malam-ma;am yang lain".(&lt;/span&gt;HR Muslim).Bahkan,Beliau mengkhususkan sepuluih malam terakhir dengan melakukan ibadah  yang tidak beliau kerjakan pada malam-malam sebelumnya .Biasanya  jika telah masuk bulan&lt;br /&gt;ramadhan ,beliau sholat dan tidur,namun jika telah memasuki sepuluh malam terakhir beliau tidak sempat memejamkan mata .&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam turut membangunkan istri-istrinya  pada bulan ramadhan .Kebiasaan seperti ini  tidaklah beliau lakukan pada kesempatan-kesempatan yang lain.Abu Dzar Al Ghifari radhiyallahu 'anhu menuturkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam   mengimami mereka pada nalam keduapuluhtiga,keduapuluhlima,dan kedupuluhtujuh.lalu disebutkan bahwa beliau turut mengajak  istri-istrinya  untuk beribadah pada malam kedua puluh tujuh.Hal ini menegaskan bahwa  sangat diprioritaskan membangunkan keluarga  untuk beribadah pada malam-malam ganjil,karena besar kemungkinan malam-malam tersebut adalah saat terjadinya lailatulQadar.&lt;br /&gt; Menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan  iibadah sholat,membaca al Quran,dan amalan-amalan ibadah nlainnya serta turut membangunka keluarga pada malam-malam seperti ini merupakan salahsatu  sunnah Rasulullah yang diikuti oleh orang-orang sholih.Sufyan Ats-Tsauri bekata:Aku sangat menykai bagi seseorabg jika ,telah masuk sepuluh malam teakhir Ramadhan  hendaknya ia bersyngguh-sungguh beribadah  di malam hari dan hendaknya ia turut membangunkan istri dan anak-anaknya jikam mereka mampu melakkukan hal tersebut".&lt;br /&gt;    Kebiassan yang lain yang dilakukan oleha Rasulull ah shollallahu 'alaihui wasallam pada sepuluh terkhir ramdhan adalah beri'tikaf.I'tikaf artinya menetap dan berdiam diri di masjid dengan niyat taqarrub mendekatkan diri kepad Allah 'Azza wajalla.&lt;br /&gt;     Apa yang menyebabkan Rasulullah shollallaahu,alaihi wasallam begitu bersunnguh-sungguh beribadah pada sepuluh malam terakhir ramafdhan ini?&lt;br /&gt;     Mungin salahsatu alasannya karena diantara malam-malam pada sepuluh malam terakhir Ramadhan ini terdapat malam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"LailatulQadar"&lt;/span&gt;.Satu malam yang nilainya  jauh berlipat melebihi jatah usia hidup kita di dunia ini.LailatulQadar(malam kemuliaan),malam yang lebih baik dari seribu bulan.Seribu bulan =83 tahun empat bulan.Beliu memerintahakan kepada kita untuk mencarinya pada sepuluah malam terakhir Ramadhan.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Carilah LailatulQadar pada sepuluhmalam terakhir ramadhan".&lt;/span&gt;Demikian Rasulullah menganjurkan.&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(Syams)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-6801913859477429217?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/6801913859477429217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/keistimewaan-sepuluh-terakhir-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/6801913859477429217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/6801913859477429217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/keistimewaan-sepuluh-terakhir-ramadhan.html' title='KEISTIMEWAAN SEPULUH TERAKHIR RAMADHAN'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-885731799335664663</id><published>2011-08-16T01:43:00.000-07:00</published><updated>2011-08-16T01:43:41.340-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><title type='text'>Ramadhan Bulan Bertaubat</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Pada bulan Ramadhan, para hamba Allah kembali kepda Rabb mereka. Mereka meninggalkan dosa-dosa. Hal ini disebabkan oleh dua hal.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pertama:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Kedermawanan dan kepemaafan Allah terhadap hambaNya pada bulan yang mulia ini. Sampai-sampai disebutkan dalam hadits shahih bahwa setiap malam ada yang dibebaskan dari neraka (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kedua: &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Karena para setan dibelenggu dan dirantai jika datang Ramadhan. Pintu-pintu neraka ditutu, pintu surga dibuka, sehingga para hamba Allah dekat dengan Rabb mereka.&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi seorang hamba Allah untuk bertaubat. Kalau dia tidak bertaubat pada bulan ini, kapan lagi dia akan bertaubat? Taubat memiliki enam syarat yang harus dipenuhi agar menjadi taubat yang benar dan tulus, kita sebutkan secara ringkas.&lt;br /&gt;1. Ikhlas kepada Allah Ta’ala. Dimana taubat tersebut dilakukan semata-mata karena mengharapkan wajah Allah, tidak boleh dicampuri oleh maksud (kepentingan) duniawi.&lt;br /&gt;2. Taubat tesebut dilakukan pada waktu yang memungkinkan untuk dikabulkannya taubat, yaitu sebelum matahari terbit dari arah barat dan sebelum nyawa sampai di kerongkongan, karena Allah akan menerima taubat seorang hamba selama dia belum ghar-ghaah (sekarat).&lt;br /&gt;3. Meninggalkan dosa, dan tidak benar jika seorang hamba mengaku bertaubat tetapi ia tetap dalam kemaksiatannya.&lt;br /&gt;4. Menyesali dosa yang telah lalu. Betapa banyak orang yang bertaubat&amp;nbsp;&amp;nbsp; tapi hatinya idak menyesal. Oleh sebab itu ada hadits&amp;nbsp; shahih dari nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, &lt;i&gt;“Sesal itu adalah taubat.”&lt;/i&gt;(HR Ibnu Majah dan Hakim).&lt;br /&gt;5. Ber’azam (tekad) untuk tidak mengulangi dosa.&lt;br /&gt;6. Jika suatu dosa berhubungan dengan hak makhluk maka wajib mengembalikan hak tersebut kepada pemiliknya, meminta kehalalan dari mereka, berupa harta atau kehormatan atau yang lainnya.&lt;br /&gt;(Sumber:Duruus Ramadhan,Waqafaat LishShaaimin).&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-885731799335664663?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/885731799335664663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/ramadhan-bulan-bertaubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/885731799335664663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/885731799335664663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/ramadhan-bulan-bertaubat.html' title='Ramadhan Bulan Bertaubat'/><author><name>MUNA-WI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13164645042757109207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-4285797338267948126</id><published>2011-08-16T00:19:00.000-07:00</published><updated>2011-08-16T00:19:24.432-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Koreksi'/><title type='text'>Nuzulul Qur'an</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para&amp;nbsp;&amp;nbsp; ahli sejarah banyak berbeda&amp;nbsp; pendapat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kapan waktu pertama kali&amp;nbsp; diturunkan-nya Al-Qur’an, dimana saat tersebut Allah سبحانه وتعلى memuliakan Muhammad صل اللة عليه وسلم dengan Nubuwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpendapatlah satu kelompok yang besar bahwa hal tersebut terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal dan kelompok yang lain berpendapat bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan kemudian yang lainnya mengatakan pada bulan Rajab (Lihat Mukhtashar Sirah Rasul oleh Syaikh Abdullah Bin Muhammad Bin Abdul Wahab An-Najdi hal : 75) dan pendapat yang kami kuatkan diantara ketiga pendapat tersebut adalah pendapat yang kedua yaitu pada bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ … البقرة:185“&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bulan Ramadhan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an …..&lt;/i&gt;” (QS. Al-Baqarah 185)Kemudian dalam surah lain Allah سبحانه وتعلى berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيـْلَةِ الْقَدْرِ&amp;nbsp; القدر :1&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan (lailatul qadri)” &lt;/i&gt;(QS. Al-Qadr:1)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan demikian telah diketahui bahwa Al-Qur’an diturun-kan pertama kali di malam lailatul qadri pada bulan Ramadhan, dan bulan inilah yang dimaksud dalam firman Allah سبحانه وتعلى :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp;إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنـْذِرِينَ الدخان :3&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada satu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi-kan peringatan”&lt;/i&gt; (QS. Ad-Dukhaan : 3).&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang menguatkan pendapat ini adalah karena Rasulullah صل اللة عليه وسلم berada di gua Hira pada bulan Ramadhan dan pada saat itulah turun Jibril sebagaimana yang yang disebutkan oleh ahli sejarah.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ulama berbeda pendapat tentang hari dan tanggal awal turunnya wahyu pada bulan Ramadhan. Pendapat pertama menga-takan bahwa awal turunnya wahyu pada hari yang ke tujuh dan yang lain berpendapat bahwa hal itu terjadi pada hari yang ketujuh belas dan pendapat yang lain pada hari yang kedelapan belas (Lihat Rahmatan Lil’alamin 1:49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Al-Khudhori telah menetapkan dalam beberapa muhadharahnya (ceramahnya) bahwa hal itu terjadi pada hari yang ketujuh belas (pendapat ini banyak dianut di Indonesia).Namun demikian kami menguatkan bahwa awal turunnya wahyu adalah pada hari yang ke dua puluh satu walaupun kami tidak mendapatkan siapa yang berpendapat seperti itu. Kami memilih tanggal ini karena seluruh ahli sejarah atau kebanyakan dari mereka telah sepakat bahwa Rasulullah صل اللة عليه وسلم diutus pada hari Senin dan hal itu didukung dengan apa yang diriwayatkan oleh imam-imam hadits. Dari Abu Qatadah Al Anshari, bahwa Rasulullah&amp;nbsp; صل اللة عليه وسلم ditanya tentang puasa hari Senin maka beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Pada hari tersebut (Senin) aku dilahirkan dan pada hari tersebut pula diturunkan kepadaku wahyu”&lt;/i&gt;.(HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada lafadz lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ&amp;nbsp; فِيْهِ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pada hari itu (Senin) aku dilahirkan dan hari itu aku diutus (menjadi rasul) dan pada hari itu pula diturunkan padaku wahyu“ (HR. Muslim, Ahmad, Al-Baihaqi dan Al-Hakim)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Dan hari Senin bulan Ramadhan pada tahun itu bertepatan hari ketujuh, keempat belas dan kedua puluh satu serta hari kedua puluh delapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di dalam hadits yang diriwayat-kan oleh Aisyah رضي الله عنها, Rasulullah صل اللة عليه وسلم bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp; تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ اْلأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Carilah malam lailatul qadri pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan”&lt;/i&gt; (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa malam lailatul qadri tidak terjadi kecuali pada hari ganjil pada sepuluh malam terak-hir di bulan Ramadhan dan lailatul qadri akan berpindah antara malam-malam tersebut, hadits ini juga menun-jukkan bahwa Al-Qur’an pertama kali turun bukan pada tanggal tujuh dan tanggal empat belas, kerena tidak termasuk dalam sepuluh malam terak-hir di bulan Ramadhan, dan bukan juga bukan pada tanggal dua puluh delapan, kerena malam lailatul qadri hanya terdapat dalam malam-malam ganjil.&lt;br /&gt;Maka apabila kita hubungkan firman Allah سبحانه وتعلى :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيـْلَةِ الْقَدْرِ&amp;nbsp; القدر :1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan (lailatul qadri)” (QS. Al-Qadr:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hadits riwayat Abu Qatadah Al Anshari, dapat di simpulka bahwa Rasulullah&amp;nbsp; صل اللة عليه وسلم diutus pada hari Senin serta menurut perhitungan kalender hijriyah tentang tanggal berapa hari Senin pada tahun tersebut maka akan nampak bagi kita bahwasanya awal turunnya Al Qur’an (Nuzulul Qur’an) adalah pada malam yang kedua puluh satu pada bulan Ramadhan –Wallahu A’lam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlukah Nuzulul Qur’an dirayakan ?&lt;br /&gt;Peristiwa Nuzulul Qur’an tidaklah diharapkan agar dijadikan sebagai hari raya oleh ummat ini, yang dirayakan setiap tahun, karena Islam bukanlah agama perayaan sebagaimana agama-agama lainnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Islam tidak memerlukan polesan, tidak perlu dibungkus dengan perayaan-perayaan yang membuat orang tertarik kepadanya. Allah سبحانه وتعلى berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&amp;nbsp; اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنـَكُمْ وَ أَتــْمـَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمـَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنـــًا&amp;nbsp; المائدة : 3&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu “&lt;/i&gt; (QS. Al Maidah : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam hanya mengenal dua hari raya dalam setahun yaitu ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha tidak lebih dari itu. Dengan demikian memperingati hari pertama kali turunnya Al-Qur’an tidaklah disyariatkan, sebab tidak dicontohkan oleh Rasulullah صل اللة عليه وسلم. Rasulullah صل اللة عليه وسلم bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan (peribadatan) yang tidak ada contohnya dari kami maka amalan tersebut tertolak” (&lt;/i&gt;HR. Muslim)&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Seandainya perayaan tersebut dianggap baik, tentu Rasulullah صل اللة عليه وسلم dan para shahabatnya yang pertama kali merayakannya, namun hal tersebut tidak mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Memperingati Nuzulul Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Memperingati peristiwa pertama kali turunnya Al Qur’an tersebut dapat dilakukan dengan mengikuti jejak ulama-ulama salaf yaitu dengan membaca Al Qur’an setiap saat tanpa ada batasan waktu, Allah سبحانه وتعلى barfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;إِنَّ الَّذِيْنَ يَتـْلُوْنَ كِتـَابَ اللهِ وَأَقَامُوْا الصَّلاَةَ وَأَنـْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنـَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيـَةً يَرْجُوْنَ تــِجَارَةً لَنْ تــَبُوْرَ&amp;nbsp; فاطر :29&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”&lt;/i&gt; (QS. Faathir:29)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi di bulan Ramadhan, bulan Qur’an, Bulan yang digandakan padanya kebaikan dan ketaatan. Utsman bin Affan رضي الله عنه berkata : “Seandainya hati kita bersih, tentu tidak akan merasa kenyang dari kalam Allah, sesungguhnya aku amat tidak suka mana kala datang sebuah hari sementara aku tidak membaca Al Qur’an” Karena itu beliau tidak meni-nggal hingga mushaf Al Qur’annya sobek karena seringnya dibaca.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Para tabi’in dan atbaut tabiin, karena begitu memahami arti dari Ramadhan sebagai bulan Al Qur’an maka begitu kuatnya mereka dalam mencintai Al Qur’an, seperti yang dilakukan Imam Az Zuhri dan Sufyan Ats Tsauri, mereka mengkhatamkan Al Qur’an sampai berpuluh-puluh kali.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Imam Qatadah di luar Ramadhan mengkhatamkan setiap tujuh hari, di dalam Ramadhan khatam sampai tiga hari. Sementara Imam Syafi’i diluar bulan Ramadhan dalam sebulannya mengkhatamkan Al Qur’an&amp;nbsp; tiga&amp;nbsp; puluh kali dan di dalam bulan Ramadhan mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak enam puluh kali itu semua di luar shalat. Demikianlah ulama Ahlus sunnah tidak pernah merayakan Nuzulul Qur’an, namun setiap harinya khatam Al Qur’an ada yang sekali dan ada yang dua kali, sementara kita di bulan Ramadhan jika hanya mampu khatam satu kali saja sudah merasa puas dan gembira. Itupun dapat dihitung dengan jari.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Syekhul Islam selama dalam penjara, dari tanggal 7 Sya’ban 726 H sampai wafatnya 22 Dzulqo’dah 728 H, selama 2 tahun 4 bulan telah mengkhatamkan Al Qur’an bersama saudaranya Syekh Zainuddin Ibnu Taimiyah sebanyak 80 kali khatam, yang berarti rata-rata beliau meng-khatamkan Al Qur’an setiap 10 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah merahmati kita semua sehingga dapat meneladani Rasulullah&amp;nbsp; dan para shahabatnya dan para ulama salaf dalam mencintai Al Qur’an dan ibadah-ibadah mereka. (Al Fikrah/Muhammad Anas Syukur).Maraji’ : Ar Rahiqul Makhtum, Asy Syekh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri – حفظه الله - &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-4285797338267948126?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/4285797338267948126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/nuzulul-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4285797338267948126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/4285797338267948126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/nuzulul-quran.html' title='Nuzulul Qur&apos;an'/><author><name>MUNA-WI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13164645042757109207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-7564267979148125276</id><published>2011-08-15T00:00:00.001-07:00</published><updated>2011-08-15T00:10:24.090-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fadhilah'/><title type='text'>FADHILAH PUASA</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Puasa memiliki beberapa fadhilah/keutamaan,dianataranya:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.Puasa adalah perisai dari api neraka.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yag shahih dari Sahabat Jabir  radhiyallaahu ‘anhu, bahwa nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Puasa adalah perisai yang dengannya seorang hamba melindungi dirinya dari api neraka”&lt;/span&gt; (HR  Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain yang muttafaq ‘alaih dari sahabat Abu Sa’id al Khudiry radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah,maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh (perjalanan) tujuhpuluh  tahun”&lt;/span&gt; (HR Bukhari 2685 dan Muslim1153).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika puasa sehari saja dapat menjauhkan seorang dari apai neraka sejauh tujuhpuluh tahun,lalu bagaimana lagi dengan puasa ramadhan sebulan penuh?atau paasa sunnah tiga hari sebulan (ayyaam bidh),atau puasa-puasa lain yang disyariatkan.&lt;br /&gt;Sungguh,ini merupakan keutamaan (fadhilah) yang sangat agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2.Puasa Adalah Perisai Dari Syahwat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang  diriwayatkan oleh Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu ,Bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wahai para pemuda,barangsiapa diantara kalian yang memiliki kemampuan,maka hendaknya ia menikah.Sebab menikah lebih (memudahkan) menjaga pandangan dan lebih membentengi kemaluan.Dan barangispa yang belum sanggup ,maka hendaknya iya berpuasa karena puasa menjadi pengendali baginya”.&lt;/span&gt;(HR Bukhari 4779 dan Muslim 1400)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dalam hadit ini ) Nabi member arahan kepada para pemuda yang belum mampu menikah agar berpuasa untuk memadamkan /meredamgejolak syahwatnya,karena puasa dapat meredam dan mengekang syahwat.&lt;br /&gt;Sungguh ,kebanyakan pemuda kita hari ini mengeluhkan (sulitnya mengendalikan)syahwat,kususnya  yang bertebaran dimana-mana saat ini. Seperti wanita-wanit yang bersolek (tabarruj) di pasar-pasar (mall-mall) ,di majalah-majalah rendahan yang tersebar di took-toko buku  serta fitnah-fitnah (godaan) lain yang menyerbu para pemuda di pesawat-pesawat,di jalan di Rumah Sakit dan di tempat-tempat (umum) lainnya.&lt;br /&gt;Anak muda tentu saja secara naluri memilki syahwat yang besar yang sewaktu-waktu bisa bergejolak/bergerak saaat ada yang merangsangnya ,apalagi jika ditambah dengan lemahnya komitmen keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kepada para pemuda yang seperti ini, kami hadiahkan nasihat “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan barangispa yang belum sanggup ,maka hendaknya iya berpuasa karena puasa menjadi pengendali baginya”&lt;/span&gt;.Dan  riset (pengalaman)  telah membuktikan bahwa terapi Nabawi ini sangat manjur dalam mengobati persoalan yang dihadapi oleh para pemuda berupa ….dan kita tidak lagi membutuhkan obat-obatan yang sifatnya materi (benda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.Puasa Adalah jalan Menuju Sorga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam An Nasai rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad shahih dari Abu Umamah radhiyallaahu ‘anhu ,Beliau berkata:wahai Rasulullah perintahkan kepadaku  sesuatu dimana Allah memberikan manfaat kepadaku dengannya.Maka Nabi bersabda:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Hendaknya engkau berpuasa ,karena tidak ada (amalan) yang semisal dengan puasa”&lt;/span&gt;(HR An Nasai 2221).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini Nabi menjelaskan bahwa tidak ada (amalan)  yang dapat  mendekatkan seorang hamba kepada Allah dan menjauhkan dari ‘adzab-Nya kecuali puasa.Bahkan sang Nabi pilihan (Al Mushtofa) shallallaahu ;alaihi wasallam mengabarkan,bahwa di sorga terdapat satu pintu khusus bagi orang-orang yang berpauasa ,sebagaimana diterangkan dalam hadits  muttafaq ‘alaih dari sahabat Sahl bin Sa’ad radhiyallaahu ‘anhu,bahwa nabi shallallaahu ‘alahi wasallam bersabda:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Sesungguhnya di sorga ada satu pintu yang disebut Pintu Ar Rayyan .Kelak Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan memasuki pintu ini.Tidak ada yang masuk melalui pintu tersebut selain mereka.Diserukan;mana orang-orang yang berpuasa (ash Shaimun)?Lalu mereka berdiri ,tidak ada yang memasuki pintu itu selain mereka.Jika mereka telah masuk,pintunya  ditutup dan tidak ada seorangpun masuk melalui pintu tersebut.”&lt;/span&gt;(HR  Bukhari 1797 dan Muslim 1152).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita cermati ,nama pintu tersebut sesuai dengan karakter(sifat) orang   puasa yang  didera rasa dahaga  sebagai dampak/akibat dari ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4.Puasa Akan Memberi Syafa’at Kepada Pelakunya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad dan Hakim rahimahumallah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad hasan dari sahabat  ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma ,bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Puasa dan Al qur’an akan member syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat kelak.Puasa berkata,wahai Rabb aku telah menghalanginya dari makan dan minum pada siang hari ,maka maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya .Al Qur’an berakta,aku telah menghalanginya dari tidur di waktu malam ,maka perkenankanlah aku memberi syafaat baginya,. Lalu syafaat keduanya diterima Allah.’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadi,pada hari kiamat nanti puasa akan menjadi sesuatu yang Nampak secara fisik.ia akan berbicara dan member syafaa’at kepada pelakunya,entah itu puasa sunnah atau puasa  fardhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5.Puasa Sebagai kaffarat (Penebus) dan Penghapus Dosa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa termasuk amalan yang akan menjadi penghapus dan penghpus dosa-dosa seorang hamba.karean setiap kebaikkan menghapus keburukan.Sementara di dalam ibadah puasa terdapat kebaikan yang begitu banyak.Allah Ta’ala telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapuskan keburukan” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengenai penebusan dan penghapusan dosa oleh puasa telah dijelaskan dalam beberaa hadits ,dianataranya hadits Hudzaifah yang bahwa nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Fitnah (ujian) yang menimpa seseorang pada keluarga ,harta,dan tetangganya dihapuskan oleh puasa ,shalat,dan sedekah”&lt;/span&gt; (HR Bukhari Muslim   ) Maksudnya,semua kesalahan yang dilakukan seorang hamba berupa kelalaian terhadap hak keluarganya  berupa kata-kata yang menyinggung,menyakiti,kelalaian  atau kesalahan terhadap tetangga berupa perkataan dan perbuatan yang menyakiti  atau kesalahan dalam urusan harta dan lain sebagainya.Kesalahan-kesalahan tersebut dan yang semacamnya berupa dosa-dosa kecil dapat dihapus/ditebus oleh shalat,puasa,dan sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang disepakati keshahihannya (oleh Bukhari Muslim) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad  shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena (dorongan) iman dan ihtisab (berharap pahala dari Allah) akan diampunkan semua dosa-dosanya yang telah lalu” &lt;/span&gt;(HR Bukhari Muslim) .&lt;br /&gt;Maksudnya karena keimanan kepada Allah dan berharap (ihtisab) pahala  yang disiapkan oleh Allah Tabaraka Wa Ta’ala  kepada orang-orang yang berpuasa.&lt;br /&gt;Sementara Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;” Antara Shalat lima waktu,jum’at ke jum’at ,bulan ramadhan ke bulan ramadhan berikutnya,menghapus dosa-dosa diantaranya selama dosa-dosa besar dijauhi” &lt;/span&gt;(HR Muslim)&lt;br /&gt;Jadi,puasa ramadhan merupakan sebab terampunkannya  dosa –dosa yang terjadi antara bulan ramadhan dengan ramdhan sebelumnya.Dengan syarat menjauhi dosa besar ,karena dosa besar tidak terhapus kecuali oleh taubat sebagaiamana madzhab mayoritas Ulama salaf.Oleh sebab itu Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang merupakan dosa-dosa yang kalian dilarang untuk melakukannya, pastilah Kami menghapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami memasukkan kalian ke tempat yang mulia (surga) “.&lt;/span&gt;(QS An Nisa:31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6.Puasa Adalah Sebab Meraih Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana hal ini diterangkan dalam hadits muttafaq ‘alaih dari SaHabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu ,bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;’’Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraa ketika berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adapun kegembiraan saat berbuka merupakan representasi kebahagiaan di dunia yang diperoleh seorang Mukmin di dunia sebagai balasan atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla  sebagai kebahagiaan yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan bahagia saat berbuka muncul kareana dua alasan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt;karena saat itu Allah membolehkan kepadanya untuk makan dan minum saat itu.Dan tidak diragukan lagi  bahwa jiwa/nafsu telah difitrahkan untuk suka kepada makanan dan minuman ,oleh sebab ini Allah menyuruh kita beribadah kepada-Nya dengan meninggalkan makan dan minum.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt;Perasaan gembira atas taufiq Allah kepadanya dalam menyelesaikan puasa  dan menyempurnakan ibadah tersebut pada hari itu .Hal ini merupakan kebahagiaan tertinggi dari sekadar pembolehan makan dan minum kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7.Bau Mulut Orang Yang berpuasa Lebih Wangi di sisi Allah Daripada Minyam Kesturi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau terebut adalah bau yang berasal dari lambung yang keluar lewat mulut karena kosongnya lambung dari makanan .Bau yang dibenci oleh makhluq tapi dicintai oleh Al Khaliq (Allah Ta’ala).Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Muttafaq ‘alaihi:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma  minyak kasturi.”&lt;/span&gt; (HR Bukhari :1805 dan Muslim:1152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa tidak mengapa orang yang berpuasa   bersiwak setelah zawal (tergelincir matahari/ba’da dzuhur) .Bahkan siwak termasuk amalan yang disunnahkan/dianjurkan (mustahab) menurut pandapat yang terkuat (rajih)  ditempat –tempat yang dianjurkan bersiwak dalam kondisi /keadaan seperti ketika akan  shlat,berwudhu,masuk rumah,bangun tidur dan lain-lain .Karena bau tersebut –pertama-:Tidak bersumber dari mulut  tetapi dari dalam lambung.Kedua,bau tersebut lebih harum di sisi Allah dariapada minyak kesturi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah atsar israiliyat yang mengisahkan bahwa ketika Allah memanggil Musa untuk datang kepada-Nya ,Allah menyuruhnya untuk berpuasa selama tigapuluh hari .Lalu Musapun berpuasa.Ketika selesai menjalani puasa tersebut Nabi Musa mendapai  adanya khaluf (bau) pada mulutnya.Sehingga  beliau berbuka  atau  bersiwak.Maka Allah memerintahkannya untuk berpuasa sepuluh hari setelahnya dan Dia berkata kepada Musa;Tidakkah engakau ketahui bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisiku dari aroma minyak kesturi.Lalu Allah menyemprnakannya menjadi  sepuluh hari.Allah Ta’alan berfirman:&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt; maka sempurnakanlah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam”&lt;/span&gt;. (QS Al A’raf:142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana bau mulut orang yang berpuasa tidak disenangi oleh makhluk  (tetapi) lebih wangi di sisi Allah dari aroma minyak kesturi ,maka demikian pula dengan darah seorang syahid pada hari kiamat nanti akan beraroma  minyak kesturi.Padahal darah termasuk yang menjijikkan ,bahkan ia najis menurut sebgaian Fuqaha (Ahli Fiqh) .Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak ada satu tubuh yang terluka di jalan Allah ,melainkan akan datang pada hari kiamat dalam keadaan lukanya berdarah,warna nya warna darah tetapi baunya adalah bau minyak kesturi &lt;/span&gt;(HR Bukhari 5213 dan Muslim 1876).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah,terkadang sesuatu itu dibenci oleh manusia tetapi sangat dicintai oleh Allah Ta’ala,karena ia termasuk bekas-bekas taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Ta’ala .Oleh sebab ini ,tangisan dan ….orang-orang yang berdosa di hadapan Allah ‘Azza wajalla merupakan taqarrub yang paling agung.Bahkan dalam kondisi tertentu (menangisi)  dosa lebih afdhal dari ibadah  dan kataatan yang yang dibanggakan dan dibesar-besarkan oleh seseorang .lain halnya dengan orang yang hancur hatinya,menangis ,merasa (mengakui) kelalaian ,meskipun mereka(benar-benar) berbuat dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adajuga sebuah atsar –meskipun tidak kuat-,bahwa ketika Allah ditanya oleh para Nabi dan Rasul-Nya ,dimana Engkau berada wahai Rabb?Aku bersama orang-orang yang hatinya hancur karena-Ku.Olehkarena itu,tidak ada sesuatupun yang lebih agung dari doa.Sebab,dalam do’a terlihat kehinaan diri,ketundukan di hadapan Allah.Di dalam do’a juga Nampak perasaan berhajat (butuh)kepada karunia Allah,ksususnya ketika seorang hamba Allah menghadapi kesulitan.Sebagaimana firman Allah :” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya…” (&lt;/span&gt;QS. An Naml : 62)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-7564267979148125276?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/7564267979148125276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/fadhilah-puasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/7564267979148125276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/7564267979148125276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/fadhilah-puasa.html' title='FADHILAH PUASA'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-2362320426077501587</id><published>2011-08-13T20:10:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T20:10:27.839-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><title type='text'>Fiqih Shiyam</title><content type='html'>Fiqh shiyam Oleh Ust Saiful Yusuf Lc.silahkan klik:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.fileden.com/files/2010/12/14/3038119//Fiqih%20Shiyam%20Ramadhan_Ust.%20Saiful%20Yusuf,%20Lc_converted.mp3"&gt;http://www.fileden.com/files/2010/12/14/3038119//Fiqih%20Shiyam%20Ramadhan_Ust.%20Saiful%20Yusuf,%20Lc_converted.mp3&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-2362320426077501587?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/2362320426077501587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/fiqih-shiyam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2362320426077501587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/2362320426077501587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/fiqih-shiyam.html' title='Fiqih Shiyam'/><author><name>MUNA-WI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13164645042757109207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-3849651613159099849</id><published>2011-08-12T02:47:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T02:51:13.754-07:00</updated><title type='text'>Tafsir Surah An Naba</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.fileden.com/files/2010/12/14/3038119//Air%20dan%20Kesehatan_converted.mp3"&gt;Tafsir Surah An Naba Oleh Ust Rahmat AbdurRahman Lc&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-3849651613159099849?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/3849651613159099849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/tafsir-surah-naba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/3849651613159099849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/3849651613159099849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/tafsir-surah-naba.html' title='Tafsir Surah An Naba'/><author><name>Syamsuddin al Munawiy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11436658967088200639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-657527609375497740</id><published>2011-08-11T01:33:00.000-07:00</published><updated>2011-08-11T01:33:18.921-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Kajian Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.fileden.com/files/2010/8/15/2942658/2.%20Durus%20Ramadhan%20Episode%202_converted.mp3"&gt;Episode Kedua&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-657527609375497740?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/657527609375497740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/kajian-ramadhan_11.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/657527609375497740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/657527609375497740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/kajian-ramadhan_11.html' title='Kajian Ramadhan'/><author><name>MUNA-WI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13164645042757109207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-8624322561350212191</id><published>2011-08-11T01:27:00.002-07:00</published><updated>2011-08-11T01:27:30.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Audio'/><title type='text'>Kajian Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.fileden.com/files/2010/8/15/2942658/1.%20Durus%20Ramadhan%20Episode%201_converted.mp3"&gt;Episode Pertama&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8627992781101120342-8624322561350212191?l=wahdahmuna.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/feeds/8624322561350212191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/kajian-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8624322561350212191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8627992781101120342/posts/default/8624322561350212191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wahdahmuna.blogspot.com/2011/08/kajian-ramadhan.html' title='Kajian Ramadhan'/><author><name>MUNA-WI</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13164645042757109207</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8627992781101120342.post-1459101453697494985</id><published>2011-08-10T01:46:00.000-07:00</published><updated>2011-08-10T01:50:05.461-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tazkiyah'/><title type='text'>Setan Dibelenggu Nafsu Menghasutmu</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan datang, kita pantas bergembira. Peluang pahala dibuka seluas-luasnya. Motivasi amal tercurah begitu melimpah, sementara penghalang utama disingkirkan sebulan lamanya. Pintu jannah dibuka, pintu neraka ditutup dan setan dibelenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan berarti semua manusia menjadi ma’shum karenanya. Masih ada kemungkinan bagi mereka untuk berbuat dosa. Malah fakta yang biasa terulang, masih banyak maksiat terpampang di depan mata, dosa pun masih menjadi pemandangan yang biasa. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada bahaya latin pada diri manusia. Dia adalah musuh besar manusia, tapi dianggap tuan olehnya. Perintahnya diikuti, keinginannya dituruti dan pantangannya disingkiri. Dialah nafsu yang sebagian ulama menyebutnya dengan ‘aduwwun matbuu’, musuh yang diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nafsu, Teman dan Tunggangan Setan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu disebut pula sebagai rafiiqusy syaithan, teman akrabnya setan. Nafsu punya kecenderungan bersenang-senang, lalu setan yang menyuguhkan progam maksiat yang menyenangkan. Atau setan lebih dulu memberikan tawaran menggiurkan, lalu nafsu datang memberikan sambutan. Maka antara setan dan nafsu ibarat sejoli yang saling melengkapi keinginan pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama yang lain menyebut nafsu sebagai markabusy syaithan atau mathiyyatusy syaithan, kendaraan setan. Karena tatkala setan hendak melancarkan serangan, dia akan memboncengi nafsu yang selaras dengan kesenangan yang memperdayakan. Melalui pintu nafsu pula setan bisa masuk dan menghembuskan bisikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya saling berperan dalam menyesatkan, maka, kelak di neraka masing-masing saling menuduh siapa ‘biang’ yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka. Setan akan ‘cuci tangan’ atas ajakan yang pernah ia lakukan. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah diri (nafsu)mu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku.” &lt;/span&gt;(QS Ibrahim 22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter nafsu memang tidak bersifat netral. Ia sudah memiliki kecondongan, yang jika dibiarkan akan terus mengarah kepada apa yang disenangi. Dan kecondongan nafsu itu menuju ke arah yang buruk. Inilah yang disebut dengan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; “nafsu ammaaratun bis suu’&lt;/span&gt;.” Seperti ucapan Nabi Yusuf alaihis salam yang dikisahkan oleh Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“…karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku.”&lt;/span&gt; (QS Yusuf 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak salah jika manusia memiliki kecenderungan dan kesenangan terhadap wanita, anak-anak, harta dari jenis emas, perak, kendaraan pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Bahkan semua itu bisa menjadi sarana untuk taat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, seringkali nafsu menghasut manusia untuk melampaui batas dari petunjuk wahyu. Nafsu tak puas hanya sebatas itu. Ia terus merengek agar bisa mengenyam segala kesenangan dengan cara yang haram, mengelola untuk tujuan yang haram, atau menyibukkan manusia dengan semua perhiasan itu, hingga mereka lalai dari berdzikir dan menghamba kepada Allah. Begitulah peranan nafsu dalam menyeret manusia menuju daerah larangan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu juga cenderung untuk berleha-leha, hanya menerima enaknya saja dan cenderung malas untuk berjuang dan berkorban, sementara ibadah kepada Allah menuntut total ketundukan dan pengorbanan. Karenanya, kemudian manusia enggan melakukan kewajiban dan keutamaan. Nafsu membuat kewajiban menjadi terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Dituruti, Tak Pernah Terpuasi&lt;br /&gt;Sisi lain dari bahaya nafsu, ia tidak akan pernah terpuasi. Makin dituruti, makin liar pula mencari-cari. Nabi saw memberikan gambaran tentang nafsu manusia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Andaikan anak Adam memiliki dua ladang emas, niscaya dia akan mencari ladang yang ketiga, dan tidak ada yang bisa memenuhi perut (keinginan) anak Adam kecuali tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa yang bertaubat.”&lt;/span&gt; (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang melampiaskan nafsunya di tempat yang haram, baik berkenaan dengan wanita, minuman keras atau mencari harta dengan jalan dosa, sulit baginya untuk berhenti. Bukan karena mereka merasa nikmat dengan apa yang telah mereka cicipi, tapi karena sulitnya mereka keluar dari kubangan syahwat dan kuatnya cengkeraman nafsu membelenggu. Dan nafsu tak akan puas hany
