Senin, 30 Mei 2011

Serangan Terhadap Al Qur'an (1).

PENGANTAR.
Allaah Ta'ala berfirman:

Mareka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.
(QS. 9:32)
Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
(QS. 61:8)

Dua ayat di atas mengabarkan,musuh-musuh Islam akan senantiasa berusaha untuk memadamkan cahaya (Agama) Allah.Demi menyukseskan makar jahat tersebut,mereka menempuh berbagai cara.Salahsatunya adalah dengan melakukan serangan dan tuduhan -tuduhan nista terhadap Al Qur'an.Kitab suci yang berisi wahyu Allah kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi Wasallam.
Dahulu,ketika masa-masa awal al Qur'an diturunkan ,orang-orang musyrik menuduh Al Qur'an sebagai buatan Muhammad.Mereka juga menuduh Al Qur'an sebagai asaatirul Awwaliyn (cerita orang-orag terdahulu).Dahulu serangan terhadap Al Qur'an hanya dilakukan oleh orang-orang di luar Islam.Namun hari ini serangan terhadap Al Qur'an turut dilakukan oleh anak-anak kaum Muslimin.Turut dilakukan oleh para akademisi yang telah berguru kepada para orientalis.
Banyak dianatra mereka yang bertitel sarjana agama bahkan doktor dibidang agama yang ikut-ikutan menyerang Al qur'an.Berbagai bentuk serangan terhadap Al Qur'an tersebut diuraikan oleh Ust DR Ugi Suharto ,salah seorang peneliti di INSITS dan INPAS .Dan berikut ini adalah tulisan beliau yang kami copypaste dari :
http://www.inpasonline.com.

Serangan terhadap Mushaf Utsmani datang dari tiga jurusan. Pertama, melalui periwayatan; kedua, melalui penemuan manuskrip lama; dan ketiga, melalui tafsiran dan kekuatan intelektual. Melalui jalan periwayatan, mereka terpaksa menggunakan senjata Ulum al-Hadits agar riwayat-riwayat yang pada asalnya tertolak itu dapat diterima kembali.

Ulama Hadits tentu tidak berdiam diri dalam masalah ini, karena sejak dulu mereka memang telah memberi sumbangan besar dalam menjaga keutuhan al-Qur’an.Pengaruh serangan melalui riwayat ini tidak akan mampu merusakkan Mushaf Utsmani, karena mushaf ini disandarkan kepada riwayat mutawatir.

Pengaruh paling jauh melalui jalan ini adalah semata-mata naiknya kedudukan riwayat syadh (menyimpang) ke taraf riwayat ahad, itupun harus dengan syarat tidak bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an Mushaf Utsmani. Katakanlah usaha ini berhasil, fungsi yang paling tinggi dari riwayat itu hanyalah sebagai pembantu tafsir Mushaf Utsmani, dan belum tentu diterima oleh ijma‘ sebagai salah satu bacaan Mushaf Utsmani. Jadi sebenarnya serangan terhadap Mushaf Utsmani melalui jalan riwayat memakan terlalu banyak tenaga, tetapi pengaruhnya tidak seberapa. Alford T. Welch yang menulis mengenai al-Qur’an dalam Encyclopaedia of Islam menyatakan keputus-asaan para pengkaji Barat itu terhadap berbagai riwayat mengenai bacaan-bacaan yang mereka telah kumpulkan sekian lama tetapi kemudian mereka sendiri tidak mendapat apa-apa manfaat untuk kajian mereka. Ia mengatakan: Western scholarship has not reached a consensus on what value this mass of allegedly pre-Utsmanic variants has for our knowledge of the history of the Kur’an. Confidence in the variants declined during the 1930s as they were being collected and analysed.( A. T. Welch, “al-Kur’an,” di Encyclopaedia of Islam, 5: 407b.)

Apabila mereka berputus asa untuk meruntuhkan al-Qur’an melalui jalan riwayat yang dijaga ketat terutama oleh para Ulama Hadis, para Orientalis itu lantas menjadi semakin marah, kemudian dengan serta merta mereka menuduh pula bahwa riwayat-riwayat hadis itulah kesemuanya yang dibuat-buat oleh para ulama Islam. Welch menyatakannya:Recently J. Burton . . . and J. Wansbrough . . . . have concluded that, not just some, but all of the accounts about Companion codices, metropolitan codices, and individual variants were fabricated by later Muslim jurists and philologers. (A. T. Welch, “al-Kur’an,” di Encyclopaedia of Islam, 5: 407b.)

Begitulah sikap mereka, apabila gagal menyerang al-Qur’an, maka Hadis yang menjadi sasaran mereka. Apabila gagal menyerang Hadis, maka fikih dan bahkan ilmu kalam yang mereka hantam. Dan apabila mereka gagal menghantam fikih dan kalam, sejarah Islam yang luas dan panjang itu pula yang mereka buru. Kaum Orientalis tidak akan berhenti menyerang sumber-sumber Islam, baik secara halus atau terang-terangan sehingga agama Islam menerima nasib yang sama seperti agama mereka.

Beralih kepada bentuk-bentuk serangan terhadap sumber utama Islam, bentuk serangan kedua yang mereka lancarkan adalah melalui penemuan-penemuan manuskrip, seperti yang dilakukan oleh Gerd R. Puin baru-baru ini. Ia telah menemukan mushaf tua di Yaman yang kononnya mengandung qira’ah yang lebih awal dari Qira’ah Tujuh yang terkandung dalam Mushaf Utsmani, walaupun mushaf itu tidak lengkap dan sangat berbeda dengan Mushaf Utsmani. Tujuan dari tuduhan itu adalah agar umat Islam yang membaca tulisannya menjadi keliru dan ragu dan seterusnya menganggap bahwa al-Qur’an pada zaman Sahabat itu bertentangan antara satu sama lain. Memang benar bahwa serangan melalui manuskrip lama ini lebih canggih dibandingkan dengan serangan semata-mata melalui riwayat. Oleh sebab itu ketiadaan manuskrip yang mereka inginkan di tangan mereka dianggap sebagai tidak membantu, bahkan menghambat, kepada tujuan kajian mereka. Welch menyatakan hal itu secara jelas: In addition to the usual difficulties of evaluating Muslim sources that were regulated by the science of hadits, the task of reconstructing the history of the Kur’an is further complicated by the fact that the classical literature records tsousands of textual variants, which, however, are not found in any extant manuscripts known to Western scholars. (A. T. Welch, “al-Kur’an,” di Encyclopaedia of Islam, 5: 404b)

Oleh karena itu, Puin kononnya ingin mengemukakan bukti bahwa riwayat-riwayat yang bertentangan dengan Mushaf Utsmani itu bukan sekadar pemberitaan, tetapi ada faktanya. Dengan modal penemuan manuskrip Sana’a di Yaman itu, Puin merasa bahwa serangannya terhadap Mushaf Utsmani lebih ampuh daripada melalui periwayatan yang merupakan jalan mati bagi para Orientalis yang menggeluti bidang al-Qur’an. Memang wajar bagi pengkaji Barat yang berlatar-belakang tradisi Ahlul Kitab, Yahudi dan Kristen, untuk kini melirik kepada manuskrip sebagai senjata utama mereka, karena memang masalah agama mereka itu bersumber pada kitab suci mereka sendiri. Mereka ingin agar nasib al-Qur’an seperti nasib Taurat dan Injil. Mereka mau agar kita juga masuk dalam kelompok Ahlul Kitab! Maha Benar Allah, dengan firman-Nya dalam al-Qur’an:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah ilmu datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Al-Baqarah: 120)

Kaum Muslimin tidak perlu terlalu bimbang dengan serangan baru melalui manuskrip ini, karena penilaian terhadap manuskrip itu pada dasarnya sama saja dengan penilaian terhadap riwayat-riwayat hadis. Kesahihan manuskrip tentu akan menjadi isu utama, sebagaimana sebuah hadis yang apabila dari segi isnadnya nampak sah, tetapi pengertian matannya bertentangan dengan hadis-hadis yang lebih kuat derajat kesahihannya, maka hadis tersebut dianggap sebagai syadh (menyimpang). Begitu pula nilai sebuah manuskrip al-Qur’an dan qira’ah-nya yang ditemukan. Puin mengklaim bahwa manuskrip Sana’a itu lebih tua dari sistem qira’ah tujuh atau sepuluh, yang telah diakui mutawatir atau masyhur oleh para ulama Islam, hanya semata-mata dengan membandingkan bahwa manuskrip itu mengandungi qira’ah yang lebih banyak daripada qira’ah tujuh, sepuluh, atau empat belas seperti mana yang disebutkan dalam Mu‘jam al-Qira’at al-Qur’aniyyah.

Kita ingin mengatakan kepada Puin bahwa banyaknya qira’ah yang terdapat dalam manuskrip itu tidak mesti sahih. Karena apabila ia telah keluar dari qira’ah 14 yang memuatkan bacaan ahad, bisa jadi bacaan-bacaan yang banyak itu hanyalah merupakan bacaan yang bernilai syadh (ganjil; menyimpang) ataupun mawdhu‘ (palsu). Bacaan-bacaan yang dikategorikan bernilai dha‘if (lemah) seperti itu bisa jadi merupakan suatu kesalahan-kesalahan tulisan dalam manuskrip al-Qur’an yang diistilahkan sebagai ‘tashif’, yang ditulis secara sendirian oleh para penulis manuskrip yang mungkin dalam keadaan mengantuk, letih, tidak profesional, dan lain-lain. Perlu disebutkan bahwa asal al-Qur’an adalah bacaan (qira’ah) yang diperdengarkan, barulah tulisan (rasm) mengikutinya. Prinsip yang disepakati adalah al-rasm tabi‘ li al-riwayah (tulisan teks mengikuti periwayatan). Oleh karena itu, faktor periwayatan dari mulut ke mulut sangatlah penting. Hal itu telah dilakukan oleh para sarjana dan penghafal al-Qur’an yang mempunyai otoritas ilmiah. Tetapi para Orientalis ingin menyodorkan pemikiran mereka yang serong dan menyeleweng dengan mengatakan bahwa bacaan al-Qur’an mestilah mengikuti teks tulisan (rasm), sekalipun tulisan itu salah. Wajarlah apabila nenek moyang mereka yang Ahlul Kitab itu tersesat sejak dulu, karena mereka hanya berpegang dengan teks tulisan dan telah kehilangan isnad dan sandaran yang kukuh dalam periwayatan kitab suci mereka. Mungkin sebab itulah juga mereka dipanggil Ahlul Kitab, karena mereka itu memang, seperti kata Prof. Naquib al-Attas, “bookish.”

Para ulama Islam, pertama-tama, telah membuat perbedaan antara al-Qur’an dengan qira’ah. Al-Qur’an adalah bacaan mutawatir yang diterima oleh keseluruhan umat Islam, dibaca dalam salat, dan menolak bacaan itu adalah kufur. Sedangkan pada qira’ah tidak demikian. Kemudiannya, para ulama pula telah meletakkan syarat-syarat penerimaan qira’ah. Pembagian qira’ah yang kita sebutkan di atas menunjukkan kategori penerimaan dan penolakan terhadap sesuatu qira’ah. Jadi tidak semua qira’ah dapat diterima. Selanjutnya, kalaupun diterima, belum tentu bacaan itu dibenarkan untuk dibaca dalam salat. Dan hal ini tidak berarti qira’ah tersebut sia-sia, karena fungsi bacaan itu masih bisa membantu dalam ilmu tafsir. Oleh sebab itu penemuan Puin mengenai kononnya terdapat banyak qira’ah dalam manuskrip itu mungkin termasuk sekali qira’ah-qira’ah yang dha’if yang tidak akan diterima para ulama.

Agaknya Puin tidak begitu mengindahkan tiga rukun utama yang mesti dipenuhi agar suatu qira’ah itu bisa diterima. Rukun-rukun yang telah disepakati itu adalah; pertama, qira’ah mestilah sesuai dengan tata bahasa Arab, walaupun itu hanya dari satu pengertian (wajh); kedua, qira’ah mesti juga sesuai dengan salah satu dari Mushaf Utsmani, walaupun itu hanya dari segi kemungkinannya (ihtimal); dan yang ketiga, qira’ah juga mesti sah sanad periwayatannya. Apabila salah satu rukun itu tidak terpenuhi, maka qira’ah tadi dianggap dha‘if (lemah), syadh (ganjil), atau batil. Menurut Ibnu al-Jazari, ketentuan yang sedemikian itu adalah “sahih di sisi para pengesah (tahqiq) baik di kalangan ulama salaf (ulama di kurun awal) ataupun khalaf (ulama yang terkemudian).” Uraian terperinci terhadap ketiga rukun itu terdapat dalam kajian Ulum al-Qur’an.

Tujuan utama penggunaan manuskrip lama oleh para orientalis adalah untuk mencabut dan seterusnya menghapuskan ketiga rukun di atas untuk kemudian memberikan alternatif dan definisi baru bagi penerimaan qira’ah. Definisi baru itu adalah: mana-mana bacaan yang ditemukan dalam manuskrip lama adalah bacaan yang diterima. Usulan definisi ini, yang sebenarnya mempunyai dasar pemikiran tersendiri, dan telah diawali oleh Ignaz Goldziher, seorang Orientalis dari Hungaria, yang mengatakan bahwa banyaknya qira’ah itu bersumber dari tulisan al-Qur’an (rasm) yang asalnya tidak mempunyai titik (naqt) dan baris (syakl atau harakah). Jadi, menurutnya qira’ah itu dasarnya adalah rasm. Para ulama Islam pula yang tahu persis mengenai sejarah al-Qur’an, yang melalui kitab-kitab merekalah Goldziher mendapat pengetahuan, dari dulu telah bersepakat bahwa qira’ah itu dasarnya adalah riwayat, karena memang begitulah al-Qur’an itu disampaikan dari Rasulullah shallalaahu 'alaihi wasallam kepada para Sahabat dan seterusnya kepada umat ini. Tetapi Goldziher memang sengaja membelakangi kesepakatan para ulama Islam yang menjadi referensinya karena ingin membuka peluang bagi penemuan-penemuan manuskrip lama yang nantinya akan menjatuhkan otoritas Mushaf Utsmani, dan nyata sekali peluang pemikiran ini telah diambil oleh Puin.

Kalaulah benar tuduhan Goldziher itu, sudahlah tentu tidak ada lagi Qira’ah Tujuh, Sepuluh, atau Empat Belas yang kita sebutkan sebelum ini. Dan sudah tentu terlalu banyak qira’ah yang beredar dan diakui dari dulu hingga kini, termasuklah qira’ah yang tidak sabit dari Rasulullah shallalaahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi hakekat yang sebenarnya menyalahi cara melihat sejarah al-Qur’an à la Goldziher. Padahal sejarah al-Qur’an juga mengisyaratkan bahwa hikmah di sebalik Khalifah Utsman meniadakan titik dan baris bagi mushafnya adalah supaya mushaf itu memungkinkan (ihtimal) bacaan-bacaan lain yang bersumber dari Rasulullahshallalaahu 'alaihi wasallam juga. Jadi apabila ada satu bacaan yang mungkin terkandung dalam, dan sesuai dengan, Mushaf Utsmani tetapi tidak diriwayatkan dari Rasulullah shallalaahu 'alaihi wasallam, maka bacaan itu ditolak oleh para ulama Islam. (DR Ugi Suharto/http://www.inpasonline.com).

TABLIGH AKBAR TENTANG TERORISME

Tabligh Akbar

Terorisme Antara Konspirasi Barat dan Lemahnya Pembinaan Umat

Oleh :Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA

Insya Allah,pada hari Kamis, 2 Juni 2011 pukul 09.00 Wita, Departemen Dakwah DPP WI akan menggelar Tabligh Akbar tentang isu yang lagi hangat akhir-akhir ini,yakni tentang Terorisme .Tema yang akan diangkat adalah "Terorisme, Antara Konspirasi Barat dan Lemahnya Pembinaan Umat"


Acara ini akan diisi langsung oleh Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, Lc, MA yang juga Pengurus MUI Pusat.Kegiatan ini akan diadakan di Lt.2 Masjid Darul Hikmah Kompleks Kantor DPP WI, Jl.Antang Raya No.48 Makassar. Acara ini terbuka untuk umum.(*)

Minggu, 29 Mei 2011

Apa Itu Wahabi? (2).

Sebagaimana yang kami janjikan pada artikel sebelumnya, “Apa itu Wahabi? (1)” , pada tulisan kali ini kita akan memaparkan beberapa tuduhan kepada dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan jawabannya.

Beberapa Tuduhan dan Jawaban

Beragam penilaian manusia dalam menilai dakwah ini. Sebagian mereka berkeyakinan bahwa dakwah ini adalah mazhab kelima setelah empat mazhab yang lain. Sebagian lagi menganggap bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sangat ekstrim sehingga mudah mengkafirkan kaum muslimin. Sebahagian lagi menganggap bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mencintai Rasulullah dan para wali. Serta anggapan-anggapan lainnya yang sama sekali tidak ada buktinya.

Sebelum membantah tuduhan-tuduhan mereka renungilah perkataan al-‘Allamah Muhammad Rasyid Ridha berikut ini:

Pada masa kecilku, aku sering mendengar cerita tentang “Wahabiyah” dari buku-buku Dahlan [1] dan selainnya. Sayapun membenarkannya karena taqlid kepada guru-guru kami dan bapak-bapak kami. [2] Saya baru tahu tentang hakikat jama’ah ini setelah hijrah ke Mesir. Ternyata aku mengetahui dengan yakin bahwa mereka (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya) yang berada di atas hidayah. Kemudian saya mengkaji buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab anak-anaknya, dan cucu-cucunya serta ulama-ulama lainnya dari Najd (sebuah daerah di Arab Saudi), maka saya mengetahui bahwa tidak terdapat sebuah tuduhan serta celaan yang dilontarkan kepada mereka kecuali mereka menjawabnya. Jika tuduhan itu dusta mereka berkata, “Maha Suci Engkau (Ya, Allah), ini adalah kedustaan yang besar.” Akan tetapi jika tuduhan itu ada asalnya, mereka menjelaskan hakikatnya dan membantahnya. Sesungguhnya ulama’ Sunnah dari India dan Yaman telah meneliti, membahas dan menyelidiki tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya. Akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa para penuduh itu sebenarnya tidak amanah dan tidak jujur.

Baiklah, sekarang kita kaji tuduhan-tuduhan mereka dan jawabannya.

“agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (Terjemah Qur’an surah al-Anfaal ayat :8)

Tuduhan Pertama:

Mereka, ahli bid’ah, menganggap bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (atau mereka sebut dengan dakwah wahabiyah) merupakan mazhab kelima setelah empat mazhab lainnya (Hambali, Maliki, Syafi’i dan Hanafi).

Jawaban kepada tuduhan pertama:

Ini merupakan kejahilan mereka, sebab telah merupakan perkara yang masyhur dan memang nyata bahwa dakwah ini bukanlah dakwah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam hal aqidah mengikuti manhaj Salaf. Adapun dalam masalah furu’ mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal (Hambali). Maka bagaimanakah mereka menyatakan bahwa Wahabiyah merupakan dakwah baru serta dianggapnya sebagai jama’ah sesat dan rusak? Semoga Allah menghancurkan kejahilan, hawa nafsu dan taqlid.

Syaikh Muhammad Jamil Zainu pernah bercerita:

Aku pernah bertemu seorang di Syria yang mengatakan tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa beliau adalah pendiri mazhab kelima dari empat mazhab. Maka akupun berkata kepadanya bahwa bagaimana anda mengatakan demikian padahal bukankah sudah masyhur bahawa mazhab beliau adalah Hambali? Sungguh ini adalah kedustaan dan tuduhan tanpa bukti.

Tuduhan Kedua:

Mereka menganggap bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mudah mengkafirkan kaum muslimin.

Jawaban kepada tuduhan kedua:

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri telah menjawab tuduhan ini ketika menuliskan dalam suratnya kepada Suwaidiy, seorang alim dari Iraq (pada zamannya):

Adapun apa yang kalian sebutkan bahwa saya mengkafirkan kaum manusia, kecuali yang mengikutiku dan bahwasanya aku menganggap pernikahan-pernikahan mereka tidak sah, maka saya katakah bahwa sungguh mengherankan, bagaimana hal ini dapat masuk akal, apakah ada seorang muslim yang mengatakan demikian. Ketahuilah aku berlepas diri kepada Allah dari tuduhan ini, yang tidak muncul melainkan dari orang yang terbalik akalnya. Adapun yang saya kafirkan adalah orang yang telah mengetahui agama Rasulullah, kemudian setelah mengetahuinya ia mencelanya, melarangnya dan memusuhi orang yang menegakkannya. Inilah yang saya kafirkan.

Tuduhan Ketiga:

Mereka menuduh bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya tidak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jawaban kepada tuduhan ketiga:

Ketahuilah wahai orang-orang yang berakal, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai kitab yang berjudul Mukhtashar Sirah al-Rasul yang berisi tentang perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini menunjukkan kecintaan beliau terhadap baginda.

Maka tuduhan ini merupakan kedustaan dan kebohongan yang akan diminta pertanggungjawabannya di sisi Allah. Kemudian kita katakan kepada mereka, yakni para penuduh, apakah cinta kepada Rasulullah itu (dibuktikan) dengan mengadakan (perayaan) Maulid Nabi, Shalawatan bid’ah [3] atau selainnya yang tidak pernah diajarkan Rasulullah sendiri? Atau cinta kepada Rasulullah itu (dibuktikan) dengan mengagungkan sunnahnya, menghidupkannya, membelanya serta memberantas lawannya (yaitu bid’ah) sampai keakar-akarnya. Jawablah wahai orang-orang yang dikurniakan akal.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terjemahan al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat: 31)

Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, juz 2 hal 37:

Ayat ini merupakan hakim bagi setiap orang yang mengakui mencintai Allah padahal tidak mengikuti manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah. Dia dianggap dusta dalam pengakuannya hingga dia mengikuti syari’at Rasulullah dalam segala hal, baik dalam perkataan, perbuatan maupun keadaan.

Insya Allah artikel ini akan bersambung masih dengan pembahasan menjawab tuduhan dan syubhat terhadap dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Footnote:
[1] Yang dimaksudkan ialah Ahmad Zaini Dahlan, seorang yang memusuhi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab semata-mata karena dakwah tersebut menyalahi pegangan dan kedudukannya. Sebagaimana kata Syaikh Rasyid Ridha di atas, jika kita mengkaji buku-buku karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para tokohnya, ternyata bahawa cerita negatif “Wahabiyah” yang dibawa oleh Ahmad Zaini Dahlan adalah dusta. (Hafiz Firdaus)
[2]Inilah hakikat pembenci dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kebanyakan orang membenci dan menolak dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab semata-mata kerana ikutan kepada orang-orang sebelum mereka tanpa mengkaji secara ilmiah apa dan bagaimana dakwah tersebut. (Hafiz Firdaus)
[3] Yakni bacaan-bacaan selawat yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bacaan selawat yang terbaik, teragung, terbesar, termulia adalah bacaan selawat yang diajarkan sendiri oleh Rasulullah, yakni apa yang kita lazimi baca ketika duduk tasyahud dalam shalat. (Hafiz Firdaus).

Sumber: www.hafizfirdaus.com

Penginjil Mati Kutu di Tangan TKW Hong Kong

Allah Ta'ala berfirman :
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu". (QS. 2:120)

Dalam ayat yang lain Dia berfirman:
"Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). ......" (QS. 4:89)

Dua ayat di atas mengabarkan bahwa orang kafir (yahudi dan nasrani) akan selalu berupaya untuk memurtadkan Ummat Islam.Berbagai upaya mereka tempuh untuk merealisasikan maksud tersebut.Bahkan mereka mengirim para misionaris /penginjil untuk mengkristenkan para TKW di luar negri .Seperti yang dicerikan oleh TKW Indonesia di Hongkong.Berikut kisahnya (kami nukil dari http://www.voa-islam.com). Selamat membaca!

Selesai bertugas di komunitas perpustakaan Islam, Ahad pekan lalu, untuk menjaga kebersamaan bersama para akhwat BMI kami meluangkan waktu untuk makan bersama. Selepas maghrib saya bersama teman-teman menuju warung makan Indonesia yang terletak di Tin Hau, salah satu kota di Hong Kong yang bersebelahan dengan Causeway Bay. Cuaca hari itu cukup panas, sehingga kelelahan itu terobati ketika makan bersama sambil sesekali bercanda ringan.

Baru beberapa menit bercanda, seorang wanita berkulit gelap yang duduk di samping kami memprovokasi dengan pembicaraan yang mendiskreditkan Islam. Dengan berbagai cara ia berusaha menjebak pembicaraan yang ujung-ujungnya melecehkan Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam .

Awalnya masih kami layani dengan baik, apalagi penginjil wanita itu mengaku lulusan pesantren. Setelah kami biarkan wanita itu bicara, lama kelamaan nampak bahwa dia bukan seorang muslimah. Tak sabar jadi pendengar pidato bualannya, saya langsung bertanya, “Apa agama anda saat ini?” Akhirnya dia menjawab Kristen.

“Oh, ternyata wanita ini seorang penginjil. Bakal seru nih”, batin saya waktu itu. Saya bersama May, Afa, Umi, Ayuun dan Biati merasa mendapat udara segar yang bisa mendinginkan cuaca. Kami biarkan beberapa saat salibis tersebut meneruskan pidatonya, hingga menyinggung masalah ketuhanan.

Pada giliran kami bicara, saya pun tanya, “Apa definisi Tuhan?” Dia menghindar, saya tanya lagi “ Di mana sifat ketuhanan Yesus saat disiksa, ditelanjangi, diarak, diludahi dan disalib?” Dia malah bertanya balik, “Menurut anda?”

“Jawab dulu pertanyaan saya,” tukas saya.

Gelagapan, sang penginjil pun mengalihkan pembicaraan, akhirnya saya tegur, “Jangan mengalihkan tema, jawab dulu pertanyaan saya.” Sang penginjil masih terdiam beberapa sat, lalu saya berondong lagi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Injil Barnabas, jilbab dalam Bibel, pertentangan khitan antara Kitab Perjanjian Baru dengan Perjanjian Lama, dan seterusnya. Semua pertanyaan tidak bisa menjawab satupun, akhirnya dengan sangat kasihan saya bilang. “Anda masih terlalu amatir dan bukan kelas kami. Anda ini pembohong, pasti bukan muslimah lulusan pesantren!”

Ketika saya tanya di mana pesantren tempat dia belajar, dia menjawab tidak pernah masuk pesantren, saya bilang lagi, “Tadi di awal pembicaraan anda bilang pernah nyantri, sekarang bilang tidak pernah. Anda ketahuan pembohong.”

Teman-teman saya tidak mau ketinggalan, ikut-ikut bertanya dengan berbagai macam pertanyaan, babak belur salibis kacangan tersebut. Merasa terpojok, keluarlah jurus andalan salibisnya, dengan bangga mengatakan perihal ustadz Junaidi pimpinan pesantren di Jawa Barat yang akhirnya masuk Kristen, saya dan teman-teman mengejarnya untuk mendapatkan kevalidan info yang dia ceritakan, tapi kukuh tidak diberikan, akhirnya saya bilang berkali-kali, “Anda mau berbohong lagi? Anda pembohong seperti umumnya tradisi misionaris. Anda sangat lihai berbohong”, tiap dia ingin menyangkal, saya selalu katakan “Anda pembohong”.

Saya dan teman-teman jadi geli menahan senyum, saya minta nomor HP dia berkelit, saya paksa dengan sedikit menekan akhirnya diberikan, ini nomor HP-nya + 852 92067974.

Kami tidak memulai, kami hanya mengikuti saja permainan jebakan salibis, namun sangat disayangkan, ternyata salibis tersebut masih amatir dan tidak menguasai Injil sedikitpun. Semua pertanyaan kami yang hanya ringan-ringan tidak mampu dia jawab.

Itulah sekelumit kisah para buruh migran Indonesia (BMI) menghadapi agresivitas para penginjil Kristen di Hong Kong. Kisah-kisah kristenisasi yang membidik BMI Hong Kong masih sangat banyak yang belum terkuak. [Yulianna PS/voa-islam.com]

Ternyata ,“Pacaran” Justru Bikin Wanita Tidak Sehat

Ungkapan saat jatuh cinta dunia serasa milik berdua tampaknya memang paling tepat menggambarkan sepasang sejoli yang tengah memadu kasih. Tapi, tahukah Anda jika suatu hubungan mesra seperti ini justru bisa menjadi tidak sehat bagi wanita?

Genius Beauty mewartakan, Jumat (27/5), kesehatan fisik perempuan ternyata sangat dipengaruhi pengalaman buruk hubungan masa lalu mereka.

Hal itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Universitas Chicago, Amerika Serikat, terhadap 1.500 wanita dari berbagai usia. Penelitian menunjukkan hampir 98 persen dari wanita memiliki alasan yang tepat merasa tersinggung oleh mantan pacar mereka.

Parahnya lagi, dalam 70 persen kasus, para responden wanita yang memiliki keluhan atau dendam akan mengalami masalah kesehatan. Kebanyakan dari mereka menderita sakit jantung, sakit maag, dan nyeri kronis.

Dalam beberapa kasus, amarah memang sering dirasakan saat kita tersakiti. Tapi satu hal yang pasti, jika terlalu lama dipendam hal itu justru memengaruhi kesehatan dan hubungan yang buruk.

Penelitian juga menunjukkan sekitar 70 persen dari koresponden merasa tersinggung dan 38 persen lainnya tak bisa mengampuni mantan kekasih mereka. Sementara itu, 32 persen sisanya memiliki argumen dengan teman-teman atau kerabat saat mengeluh tentang beberapa situasi.

Para ahli menyarankan untuk mencoba dan mengatasi emosi negatif. Namun, jika seseorang tidak bisa melawan emosi itu, diharapkan ia harus berkonsultasi ke psikolog. "Rasa maaf, ikhlas, dan mengeluarkan emosi tidak hanya meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga kesehatan fisik seseorang," kata Alex Likerman, ketua penelitian.

Nah, daripada pacaran hanya akan membuat luka hati, sebaiknya bersabar menunggu masa menikah atau menyegerakan menikah tanpa pacaran.(http://www.hidayatullah.com)

Jumat, 27 Mei 2011

Mari Kita Raih Kemenangan

seorang lelaki datang dan bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. “Wahai Rasulullah amal ibadah apa yang paling dicintai Allah dalam Islam?”, Rasulullah bersabda, “Shalat di awal waktu, dan siapa yang meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya, dan shalat adalah tiang agama.
(H.R Baihaqi)

Hayya ‘ala shalaah… hayya ‘ala-l fallaah… Suara azan shubuh dari mesjid terdengar merdu memanggil kita. Berapa banyak dari kita yang datang ke mesjid? Berapa banyak shaf-shaf di mesjid terisi? Mesjid sepi.

Tak berapa lama kemudian, hari masih sangat pagi, semua penghuni rumah bergegas keluar rumah, jalanan menjadi ramai, lalu lintas padat, angkutan umum penuh sesak... . hendak kemana kita? Tujuan kita ke tempat kerja.

Waktu zuhur dan ashar pun tiba, dan kita memilih tenggelam dengan pekerjaan kita, sibuk di depan komputer, mengikuti meeting panjang, menggarap proyek besar… Shalat zuhur dan ashar kita tunda-tunda, kita kerjakan shalat di akhir waktu…

Bagaimana dengan maghrib dan isya? Ah, kita sangat lelah, tenaga kita rasanya habis terkuras, shalat pun rasanya amat berat…

Inikah potret kehidupan kita? Inikah realitanya? Apakah pekerjaan menjadi prioritas kita? Shalat kita lalaikan? Sebenarnya apa yang kita tunggu-tunggu dalam hidup ini? Tak lain, kita semua sedang menunggu kematian…Dan setelah kematian, amalan apakah yang pertama kali dihisab oleh Allah? Ya, shalat adalah amalanyangpertama kalidihisab oleh Allah!

Betapa ingin kita datang tepat waktu ke kantor, betapa ingin kita dilihat oleh atasan sebagai karyawan yang bekerja dengan sungguh-sungguh, kita tidak ingin dicap pemalas, kita sangat peduli dengan perasaan atasan kita, tapi… mengapa kita tidak peduli dengan “perasaan”Allah? Pernahkah terpikir oleh kita bagaimana “perasaan” Allah saat kita selalu terlambat menghadap-Nya, mengakhir-akhirkan waktu shalat, bahkan ketika shalat kita masih saja memikirkan dunia… Padahal yang memberi rizki untuk kita bukan atasan kita, tetapi Allah.

Mungkin kita bertanya, bukankah bekerja adalah ibadah? Benar, bahwa bekerja adalah ibadah, tapi apakah dibenarkan jika bekerja memalingkan ibadah kita kepada Allah? Sungguh, betapa Allah sangat sayang kepada kita, dan betapa Allah sangat mengerti kebutuhan kita. Lihatlah rentang waktu yang panjang antara shalat shubuh dan zuhur, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk sibuk dengan dunia, untuk mencari sebagian karunia-Nya. Dan juga rentang waktu yang panjang antara isya dan shubuh adalah waktu istirahat yang diberikan Allah kepada kita setelah kita seharian lelah bekerja.

Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan Hadist yang menegaskan betapa agungnya kedudukan shalat. Allah Ta'ala berfirman:
“Bacalah apa yang telah diwahyukan padamu yaitu al kitab (Al-Qur’an) dan dirikan shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-prbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S. Al-Ankabut [29]:45)

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.” (Q.S Al-Ma’arij [70]:34-35)

Telah datang seorang lelaki dan bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. “Wahai Rasulullah amal ibadah apa yang paling dicintai Allah dalam Islam?”, Rasulullah bersabda, “Shalat di awal waktu, dan siapa yang meninggalkan shalat maka tidak ada agama baginya, dan shalat adalah tiang agama. (H.R Baihaqi)

Shalat juga merupakan pesan terakhir Rasulullah, sebelum wafat Rasulullah terus mengucapkan “As-shalah! As-shalah! Wa maa malakat aymanukum.” (Shalat! Shalat Dan para budak) (H.R Ibnu Dawud)

Saudaraku tercinta, sebelum kita dihisab Allah, sebelum tiba hari dimana harta dan anak tak lagi berguna, marilah kita hisab terlebih dahulu diri kita, kita hisab amalan shalat kita.


Marilah kita pelihara shalat kita, jadikan shalat sebagai prioritas pertama hidup kita, maka sungguh kita akan meraih kemenangan, yaitu kekal di dalam surga-Nya. Hayya ‘ala shalaah… Hayya ‘ala-l fallaah…

Daftar Pustaka
Al-Rasyid Muhammad ibn Khalid, Syami Ahmad Shaleh. “Min Akhta al-Mushallin assholah assholah (akhir maa takallama bihi anabii)”. Diterjemahkan oleh: Rapung Samuddin, Nasrullah Jasam dengan judul: Shalat yang Menangis”.2010. Jakarta:tuhifa media.(Silvani/www.eramuslim.com).

Adzab Neraka bagi Pembunuh Kucing, Bagaimana dengan Pembunuh Anaknya?

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, diceritakan bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Ada seorang wanita yang diadzab dalam kasus seekor kucing; ia mengurungnya sampai mati, maka ia pun masuk Neraka karenanya. Ia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya. Dan ia pun tidak membiarkannya makan dan serangga-serangga bumi.” 
(HR. Bukhari)

Penjelasan Hadits:

Wanita yang melakukan hal itu pastilah berhati keras. Karena dia tak sekedar tidak memberi makan dan minum kepada si kucing, bahkan dia juga tidak memberinya kesempatan untuk mencari makanan dan serangga-serangga bumi. Hal itulah yang kemudian menjadi penyebab kematiannya.

Balasan bagi wanita yang keras hati itu adalah siksa di dunia dan adzab di Akhirat. Hal itu bisa kita pahami dari sabda Rasulullah yang menyatakan, “Ada seorang wanita yang diadzab dalam kasus seekor kucing; ia mengurungnya sampai mati” kemudian beliau menyatakan, “maka ia pun masuk Neraka karenanya.” ini berarti bahwa di sana ada siksa (hukuman) yang mendahului adzab yang dipersiapkan untuknya di Neraka Jahannam.

Barangkali hal ini bisa menjadi peringatan keras bagi orang yang menganggap jauh adanya siksa Neraka Jahannam atau bahkan sama sekali tidak menganggap keberadaannya. Akan tetapi apabila yang bersangkutan mengetahui adanya seorang wanita yang disiksa di dunia, lantaran ia pernah memperlakukan seekor kucing seperti apa yang dilakukan oleh wanita yang diceritakan di dalam Hadits tersebut, niscaya ia akan menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran dan nasihat.

Dua kata kerja (Fi’il) yang terdapat di dalam Hadits tersebut; “diadzab” (‘udzdzibat) dan “masuk” (dakhalat) disampaikan dalam bentuk kata kerja lampau (madhi). ini dimaksudkan untuk menegaskan kepastian adanya adzab dan masuknya ke dalam Neraka. Ini juga semakin mengingatkan ancaman terhadap wanita yang keras hati, dan menghilangkan semua harapan untuk bisa selamat dan adzab dan api Neraka.

Hadis ini menegaskan bahwa wanita muslimah yang konsisten terhadap agamanya adalah sosok wanita yang penuh kasih sayang. Ia tidak memperlakukan hewan apa pun dengan keras, bagaimana mungkin ia akan memperlakukan putra-putrinya, suaminya, anak-anak tetangganya maupun yang bukan tetanggannya dengan keras?!

Bagaimana dengan wanita yang melemparkan tiga orang anaknya dari jendela, lalu si bungsu menemui ajalnya, sementara dua orang lainnya mengalami patah tulang dan luka berat?! Kenapa? Karena ia bertengkar hebat dengan suaminya dalam hal uang belanja, lalu suaminya memukulnya. Akibatnya, ia pun melemparkan anak-anaknya dari jendela!!

Bagaimana dengan wanita yang mencekik seorang bayi yang usianya tidak lebih dan tiga bulan?!! Penyebabnya ialah perseteruan tajam dengan tetangganya yang mengejeknya sebagai wanita mandul!!! (Koran As-Siyasah, Kuwait, edisi 9562)

Bagaimana dengan wanita dan sebelah timur kota London yang membuang putrinya yang berusia 14 bulan dari jendela apartemennya yang berada di lantai tiga, dan tak ayal bayi itu pun jatuh ke tanah menjadi bangkai berlumuran darah. Kemudian ia menggigit putranya yang berusia 2 tahun dan melemparkannya menyusul adiknya, dan tanpa ampun bocah itu pun jatuh ke tanah bermandikan darah?! (Koran Asy-Syarq Al Ausath, Saudi Arabia)

Bagaimana dengan wanita yang merencanakan pembunuhan terhadap putranya sendiri demi mendapatkan harta warisan darinya? Wanita itu memanfaatkan seseorang yang sedang membutuhkan uang untuk melakukan eksekusi tersebut?! (Koran A1-Anba &, Kuwait, edisi 8 April 1993M.)

Kasus pembunuhan yang dilakukan oleh wanita terhadap anaknya sendiri amat sangat banyak terjadi. Wanita semacam itu tidak bisa disebut sebagai “ibu’. Karena, ibu yang sejati tidak akan melakukan hal itu.

Setelah membaca paparan di atas, bagaimana mungkin seorang muslimah akan berfikir untuk membunuh anaknya sendiri, sementara dia mengetahui bahwa api Neraka tengah menunggu orang yang membunuh seekor kucing atau menjadi penyebab tewasnya seekor kucing?! Apatah lagi orang yang membunuh anaknya sendiri?!

Islam yang mereka tuduh kejam di dalam ketentuan hukum hudud-nya ternyata jauh lebih santun dibandingkan dengan undang-undang manapun yang mereka buat. Islam melindungi setiap hati yang hidup, berpesan untuk kebaikannya, dan memberikan ancaman hukuman ke pada siapa saja yang menyakitinya.[]

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.(www.wimakassar.org)

Kamis, 26 Mei 2011

Istiqamah Di Zaman Fitnah

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu ,Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
  
 (( بَادِرُوابِالأعْمَال فتناًكقطَعِ اللَّيلِ المُظْلِمِ،يُصْبحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناًوَيُمْسِي كَافِراً،وَيُمْسِي مُؤمِناً ويُصبحُ كَافِراً،يَبيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّني.))
 “Segeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari mukmin, tapi sore hari kafir, atau sore masih mukmin, paginya sudah kafir. Ia jual agamanya dengan ganti sekelumit kenikmatan dunia.
 (HR. muslim)

Nilai Islam itu ibarat emas di antara pasir. Emas-emas itu akan tampak jika didulang. Semakin teliti mendulangnya, semakin jelas kilau indahnya. Tapi jika hanya dilihat dari kejauhan, atau bahkan tak dipedulikan, adakalanya orang hanya akan berpikir, ini hanyalah pasir biasa yang tidak ada apa-apanya.

Coba kita renungkan. Dalam kisah-kisah muallaf, hampir seluruhnya memiliki plot yang sama. Rata-rata menemukan hidayah setelah mempelajari Islam terlebih dahulu, sesederhana apapaun. Bahkan tidak sedikit yang memulai penelitiannya justru karena dorongan kebencian, dendam dan keinginan untuk mencari celah dan kesalahan dalam Islam. Tapi yang mereka temukan justru emas yang berkilau hingga hati mereka pun tak sanggup mengingkari keindahan yang terkandung di dalamnya.

Namun sebaliknya, yang sudah merasa memiliki Islam tapi hanya melihatnya dari kejauhan; enggan mendalami dan malas mempelajari, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya hanya melihat Islam tak lebih dari pasir kuning biasa. Islam hanya dianggap agama yang tak jauh beda dari agama yang ada. Lalu, merekapun menjualnya dengan harga yang sangat murah. Mereka tukar keislaman mereka dengan kenikmatan dunia yang fana.

Orang-orang keluar dari Islam padahal Islam telah mereka peluk sekian lama, hampir semuanya karena dunia. Ada yang dengan entengnya membuang Islamnya karena calon isterinya beda agama, meninggalkan Islam agar mendapat dukungan meraih jabatan, meninggalkan Islam karena gerojokan dana dan sampai cuma gara-gara sembako. Kalaupun ada yang bercerita, ia meninggalkan Islam karena mendapat ‘hidayah’ setelah mempelajari agama lain, dijamin orang tersebut pasti sebelumnya buta terhadap Islam atau mendapat pemahaman Islam yang salah. Ini karena Islam adalah kebenaran yang hakiki, emas sejati yang tak satupun jiwa suci manusia mengingkari kebenaranya.

Dan hari ini, manakala Islam banyak dijauhi, kemurtadan pun semakin sering terjadi. Begitu gampangnya seseorang melepaskan tali Islamnya. Dengan sekali urai, atau sedikit demi sedikit. Yang lebih parah adalah yang telah melakukan kekafiran tapi tak sadar dan masih menganggap dirinya muslim. Misalnya, mengaku Islam tapi nabinya bukan nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.

Sebuah fenomena yang rasa-rasanya sangat cocok dengan apa yang diprediksikan oleh Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam sebagai fitnah akhir zaman.

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – : أن رَسُولالله – صلى الله عليه وسلم – ،قَالَ : (( بَادِرُوابِالأعْمَال فتناًكقطَعِ اللَّيلِ المُظْلِمِ،يُصْبحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناًوَيُمْسِي كَافِراً،وَيُمْسِي مُؤمِناً ويُصبحُ كَافِراً،يَبيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّنيا.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah bersabda, “Segeralah beramal sebelum datang fitnah-fitnah laksana potongan-potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari mukmin, tapi sore hari kafir, atau sore masih mukmin, paginya sudah kafir. Ia jual agamanya dengan ganti sekelumit kenikmatan dunia.”(HR. muslim)

Imam an Nawawi menjelaskan di dalam kitab Syarh Shahih Muslim, maksud hadits ini adalah hendaknya segera melakukan kebaikan sebelum datangnya suatu fitnah yang bertubi-tubi dan membawa kegelapan sebagaimana malam tanpa rembulan. Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam menyebutkan salah satu bentuk fitnah itu adalah cepatnya seseorang keluar dari Islam, pagi masih mukmin dan sorenya sudah kafir atau sebaliknya. Ia rela menjual agamanya demi sejumput kenikmatan duniawi.

Beliau Shallallaahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan agar segera melakukan kebaikan karena fitnah-fitnah akhir zaman akan mempersulit orang untuk melakukannya. Di akhir zaman, Islam dipreteli, dikritisi lalu digugat dan dicitraburukkanagar diganti atau dipahami tidak sebagaimana ajaran Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.Bukan hanya hal-hal besar mengenai teori ketuhanan, konsep masyarakat ideal atau sistem negara dan jilbab saja, hal-hal remeh semacam jenggot dan celana cingkrang pun tak luput dari sasaran. Semua ini akan mempersulit seseorang untuk melaksanakan agamanya.

Kemurtadan yang merajalela sebagaimana disebutkan dalam hadits, membuat suasana menjadi kian runyam. Kalau orang-orang sudah tega menjual agamanya demi dunia, kehancuran akan segera melanda. Tak bisa dibayangkan betapa sulitnya menjalankan Islam, apalagi secara menyeluruh (kaffah) pada saat orang-orang Islam di sekitar sudah tidak lagi menghargai keislamannya.

Fenomena mudahnya manusia keluar dari agamanya bukan hanya berupa kasus pindah agama saja, seperti yang terjadi di pelosok yang menjadi proyek kristenisasi. Tersebarnya pluralisme, liberalisme dan paham-paham sesat seperti aliran Nabi palsu juga merupakan virus yang dapat membuat seorang muslim keluar dari Islam dengan cepat dan tanpa sadar. Sebab, paham-paham ini akan membonsai Islam sedemikian rupa hingga sekedar tumbuh pun tidak bisa sebelum akhirnya mati.Dan untuk ini, musuh-musuh Islam rela menggelontorkan dana besar bagi siapapun yang mau jadi juru dakwahnya.

Fenomena ini mirip atau bahkan merupakan episode lanjutan dari apa yang terjadi di zaman Ibnu Taimiyah di mana Islam saat itu dirusak dengan ilmu filsafat. Saking cepatnya virus filsafat merusak iman seseorang, Beliau sampai mengatakan, “ Yang belajar filsafat di pagi hari, sore harinya pasti sudah gila.” Sama dengan liberlisme dan yang semisal. Setelah mempelajarinya dan mengidap virusnya seseorang akan segera gila karena menganggap semua agama benar, al Quran boleh dikritik dan suka mengotak-atik syariat demi hawa nafsunya.

Meskipun hari ini fitnah-fitnah itu sudah membombardir kita saban hari, bukan berarti sabda Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam di atas sudah tak relevan lagi. Justru anjuran beliau dalam hadits tersebut sangat sesuaidengan konteks yang kita hadapi.Kita harus segera beramal dan melaksanakan Islam secara kaffah, sekuat tenaga. Sebab, kian hari, fitnah ini bukannya berkurang tapi justru berpotensi besar kian menjadi-jadi. Saat itu akan semakin sulit bagi kita untuk menjalankan Islam secara maksimal. Kejahiliyahan semakin merajalela sedang para ulama yang benar-benar mumpuni dalam agama kian jarang adanya. Mereka wafat dan tiada pengganti. Jika sekarang saja banyak yang berani melecehkan syariat dan Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, tak terbayangkan 10 tahun yang akan datang kelancangan seperti apa yang bakal dilakukan. Wallahulusta’an, semoga Allah melindungi iman kita. (anwar/www.arrisalah.net)

Kontroversi Gagasan-gagasan Syekh Muhammad Abduh (2)

 Oleh:Ust Iham Jaya 'AbdurRauf Lc MHI
Sekilas Biografi Muhammad Abduh
Abduh lahir dimasa pergolakan politik yang terjadi di Mesir. Tepatnya  di akhir era pemerintahan Muhammad Ali Pasya, tahun 1849. Ayahnya, Abduh Hasan Khairallah, adalah orang Turki yang telah lama mukim di Mesir. Sedangkan ibunya keturunan Arab yang garis nasabnya dikaitkan dengan suku Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, khalifah ketiga setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Lahir dari keluarga muslim yang taat, Abduh kecil segera diarahkan untuk belajar dasar-dasar agama. Setelah menamatkan hapalan Al-Qur’annya pada 1862, atau usia 13 tahun, ia dikirim orang tuanya ke Thantha. Di sana, ia berguru pada seorang alim bernama Syekh Ahmad.

Model pengajaran yang didapatkan Abduh di Thantha adalah model pengajaran yang dipraktikkan di Mesir, bahkan dunia Muslim pada umumnya, pada saat itu. Dimana aspek  hapalan sangat ditonjolkan; yang di sisi lain mengabaikan sisi pemahaman terhadap materi pelajaran itu sendiri.

Sikap kritis Abduh telah mulai tampak pada usia yang masih sangat dini ini. Ia melakukan protes dan tidak setuju dengan model pengajaran yang berlaku. Karena frustrasi dengan kondisi sekolahnya, Abduh akhirnya memutuskan untuk pulang ke desanya.

Tapi di desa Abduh tidak diterima, bahkan ia disuruh kembali belajar. Putus asa terhadap keadaannya, bukannya ke Thantha, Abduh bersembunyi di rumah salah satu pamannya. Di sinilah ia bertemu dengan Syekh Darwisy Khadr, seorang penganut tasawwuf  yang pernah belajar di Libya dan Tripoli.

Syekh Darwisy adalah pendidik yang lembut. Dengan kelembutan dan kesantunannya, ia menanamkan kembali semangat untuk menuntut ilmu ke dalam diri Abduh. Dari Syekh Darwisy ini, Abduh belajar untuk lebih mencintai dan menaruh perhatian kepada Al-Qur’an. Kelak di kemudian hari, tarbiyah ini membekas dalam diri Abduh dan mewarnai seluruh kehidupannya.

Kelak setelah dewasa dan berkiprah di tengah masyarakat, Abduh menekankan peran sentral Al-Qur’an dalam aktivitas dan gerakannya. Itu dia buktikan dengan banyaknya karya yang dia tulis tentang Al-Qur’an. Pakar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Dr. Muhammad Husain al-Dzhahabi, dalam karya monumentalnya al-Tafsir wa al-Mufassirun, menyebut enam karya tulis Abduh yang terkait dengan Al-Qur’an.

Dengan berbekal semangat baru dari gurunya itu, Abduh melanjutkan pelajarannya ke Syekh Ahmad dan, setelah itu, melanjutkannya di universitas terkemuka di dunia muslim: al-Azhar, Cairo.

Semasa kuliah di al-Azhar inilah Abduh bertemu dengan Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M). Tokoh yang bagi banyak kalangan juga menuai kontroversi ini sedang singgah di Mesir. Sebab dia sementara dalam perjalanannya menuju India. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1869.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1871, Afghani kembali ke Mesir. Kali ini, dia memutuskan untuk menetap. Mulai saat itu, kontak antara Abduh dan Afghani semakin intens, layaknya hubungan belajar antara murid dengan guru.

Dalam diri Afghani, Abduh menemukan gelora yang tidak ia temukan di tempat lain. Pemikiran-pemikiran yang diperkenalkan Afghani demikian mempesona Abduh. Ia seakan mendapatkan pencerahan yang menggiringnya untuk dapat membebaskan diri dari banyak belenggu tradisi yang saat itu mengekang dirinya dan masyarakat. Sebab Afghani mengajarinya kritis terhadap kondisi keterpurukan umat Islam saat itu. Jadilah Afghani sebagai “universitas” kedua bagi Abduh setelah al-Azhar.

Perlahan namun pasti, pengaruh duo Afghani dan Abduh mulai menyebar ke tengah masyarakat luas. Namun, akibat kekisruhan politik saat itu, keduanya diusir dari Cairo. Afghani ke Paris (!) dan Abduh keluar dari Cairo. Tetapi pada tahun berikutnya, Abduh diizinkan kembali bahkan dipercaya untuk memimpin surat kabar pemerintah al-Waqa’i al-Mishriyah (!).

Pada periode ini, Abduh terjun dalam dunia politik praktis. Karena dianggap oposan, akibatnya Abduh diusir untuk kedua kalinya. Namun kali ini ia pergi ke Syiria. Di sana, Abduh sempat memberikan kuliah-kuliah yang di kemudian hari dibukukan menjadi salah satu karyanya: Risalah al-Tauhid. Buku ini kelak diterjemahkan ke dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama oleh tokoh-tokoh pembaruan di Indonesia.

Dari sana, pada tahun 1884, ia menuju Paris dan bergabung dengan Afghani. Keduanya menerbitkan majalah al-Urwah al-Wutsqa. Karena ide-ide majalah ini dianggap merongrong eksistensi Prancis, majalah tersebut tidak berumur panjang. Pemerintah membreidel majalah tersebut dan menyuruh Afghani dan Abduh untuk angkat kaki dari Paris.

Majalah al-Urwah al-Wutsqa memang memperkenalkan warna baru dalam kerangka umum pemikiran keislaman pada masa itu. Al-‘Allamah Rasyid Ridha (1282-1354 H/1865-1935 M), yang kelak berguru kepada Abduh, merupakan tokoh yang sangat terpengaruh oleh warna yang dibawa oleh al-Urwah al-Wutsqa. Dan itu dia akui sendiri.

Satu waktu, Rasyid Ridha menulis:

“Kemudia aku menemukan dalam barang simpanan bapakku beberapa edisi dari majalah al-Urwah al-Wutsqa. Maka setiap edisi itu bagaikan kabel listrik, yang ketika menyentuhku dapat menimbulkan getaran dan gelora yang membawaku dari satu kondisi (fase pemikiran) kepada kondisi (fase pemikiran) yang lain. Dampak terbesar dari artikel-artikel (majalah) itu, adalah (tulisan yang berjudul) ‘Reformasi Islam,’ kemudian artikel-artikel politik ‘Persoalan (Bangsa) Mesir,’ yang diterbitkan dalam sejumlah edisinya.
“Yang aku, orang lain serta sejarah tahu, bahwa tak ada tulisan bangsa Arab di masa itu serta beberapa abad sebelum itu, yang mampu menyaingi tulisan-tulisan tersebut dari segi sentuhan hati, pencerahan akal, dan keindahan retorika.” (Rasyid Ridha, Tarikh al-Ustadz al-Imam, I/996, 303)

Kesan yang digambarkan oleh Rasyid Ridha itu membuat kita bisa mengukur sejauh mana kondisi keterbelakangan sosial serta kemunduran ilmu pengetahuan di masa itu. Dalam kondisi seperti itulah, al-Urwah al-Wutsqa seakan tampil sebagai angin segar yang membawa kesadaran baru bagi kelompok intelektual umat Islam.

Bagi kita di Indonesia, gaung majalah al-Urwah al-Wutsqa juga sempat meberi dampak. Pendiri organisasi Muhammadiyah, Kyai Haji Ahmad Dahlan (1868-1932 M), disebut-sebut banyak terinspirasi oleh pemikiran Abdul dan Afghani lewat majalah ini.

Dari Paris, Abduh kembali ke Mesir. Keadaan politik di Mesir telah berubah dan relatif lebih kondusif bagi Abduh. Pada periode ini, Abduh pernah diserahi sejumlah jabatan penting, di antaranya sebagai qadhi (hakim), anggota al-Majlis al-A’la di universitas al-Azhar dan anggota legislatif negara.

Tahun 1899, Syekh Muhammad Abduh diangkat secara resmi sebagai mufti negara, jabatan yang akhirnya ia pegang hingga wafatnya tahun 1905.

Bersambung in sya ALlah…

(Ilham Jaya/www.tanaasuh.com)

Rabu, 25 Mei 2011

Kelalaian dan Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak (5)

Pada edisi lalu (tulisan 1 -4) telah kami sebutkan 15 bentuk kelalaian dalam mendidik anak. Berikut ini kembali kami sebutkan beberapa kelalaian yang lain, dan masih merupakan kelanjutan dari kelalaian sebelumnya. Diantara bentuk-bentuk kelalaian itu adalah:

16. Kesibukan Orang Tua di Luar Rumah
Sebagian orang tua mengabaikan rumahnya, berada di luar rumah dalam waktu yang lama, sehingga membahayakan anal-anak dengan berbagaimacam fitnah dan musibah, keterasingan dan penyimpangan perilaku. Di antara potret masalah ini adalah:

a. Kesibukan orang tua pada bisnis dan perdagangan yang mengabaikan anak-anak. Sekiranya orang tua –seperti ini- diperingatkan, maka mereka akan menjawab, “Sesungguhnya saya bekerja ini demi kebutuhan mereka.”
b.  Perjalanan panjang di luar negeri untuk urusan bisnis atau pelancongan.
c. Kumpul-kumpul bersama teman-teman dalam waktu yang lama pada waktu istirahat (luang) dan tempat-tempat rekreasi.
d. Melupakan rumah pertama (istri pertama) ketika seseorang menikah lagi dengan istri yang baru, dan tinggal bersama istri yang baru dalam satu rumah. Betapa banyak orang yang berpoligami kemudian melupakan rumah (istri)nya yang pertama. Maka, akhirnya ia melalaikan anak-anaknya, sehingga mereka tidak terkontrol karena kesibukan dan jauhnya (keterpautan hati) orang tua mereka.
e. Inilah sebagian potret kesibukan (dalam waktu yang lama) di luar rumah. Betapa banyak perilaku menelantarkan anak-anak. Betapa banyak cara yang mengantarkan mereka kepada bencana dan fitnah, betapa banyak dari mereka yang tidak merasakan kasih sayang, perhatian dan pemeliharaan maksimal dari orang tua mereka. Alangkah indahnya bait yang dilantunkan oleh seorang penyair:

    Bukanlah yatim paitu itu
    Seorang anak yang ditinggal mati kedua orang tuanya
    Dan keduanya meninggalkannya dalam keadaan terhina
    Sesungguhnya yatim itu
    Seorang yang mempunyai kedua orang tua
    Tetapi, ibunya meninggalkan rumah dan ayahnya sibuk

17. Berdoa Buruk untuk Anak

Betapa banyak orang tua khususnya ibu-ibu yang mendoakan keburukan bagi anak-anaknya, maka engkau dapati –karena sebab yang kecil saja- mendoakan buruk kepada anaknya agar mati karena penyakit demam, atau terbunuh dengan peluru, atau tertabrak mobil atau mengalami kebutaan dan bisu. Engkau juga dapati bapak yang mendoakan buruk kepada anak-anak hanya karena mendapatkan sedikit perilaku durhaka dari anak-anaknya, sementara dia tidak menyadari bahwa kedurhakaan anak-anaknya itu karena mereka sendirilah penyebab utamanya.

Orang tua tidak pernah menyadari bahwa doa itu terkadang bertepatan dengan waktu dikabulkannya, sehingga apa yang didoakannya itu benar-benar terjadi, dan akhirnya hanya penyesalan yang tiada arti lagi.

Oleh karenanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada,

    “Janganlah kamu berdoa keburukan atas diri kamu, janganlah kamu berdoa keburukan atas anak-anak kamu, Janganlah kamu berdoa keburukan harta-harta kamu, janganlah kalian (mendoakan mereka) agar (doa yang kalian panjatkan ) tidak bertepatan dengan waktu Allah yang mustajab (memberi segala permintaan hamba-Nya) sehingga Allah mengabulkan untuk kalian doa yang buruk tersebut.”

18. Memotivasi Anak Melakukan Hal-Hal yang Buruk dan Akhlak yang Tercela
Seperti menyemangati anak-anak untuk pergi ke tempat pesta (night club), mengikuti trendorang-orang kafir, membiasakan anak-anak perempuan berpakain pendekdan tipis, juga memebiasakan mereka dengan kata-kata jorok, kalimat yang jauh dari kesantunan. Ini terjadi karena seringnya anak-anak mendapati julukan-julukan aneh dalam panggilan mereka, sehingga anak-anak terbiasa dengan ungkapan tersebut, tidak lagi memperdulikan adab-adab pembicaraan.

19. Berbuat Kemungkaran di Hadapan Anak
Seperti merokok, mencukur jenggot, mendengarkan alunan lagu, menonton film-film berbau porno, atau menyimak sinetron televisi, terbukanya aurat ibu-ibu dihadapan puteri-puterinya, sering keluarnya ibu-ibu dari rumah tanpa keperluan yang jelas. Ini semua menjadikan kedua orang tua sebagai teladan buruk bagi anak-anak mereka.

Dalam hal ini, terkadang orang tua melihat kemungkaran pada anaknya, namun ia tadak memberikan reaksi apapun sehingga menjadikan mereka terus menerus dalam kemungkaran.

20. Membawa Kemungkaran Masuk ke dalam Rumah
Kemungkaran dapat masuk ke dalam rumah melalui media majalah porno, atau media lain bisa menjadi perusak dan pembinasa karakter anak, atau buku-buku yang membahas sex secara vulgar, atau kemungkaran lainnya.

Jauhkanlah dari anak-anak segala prasarana yang hancur, factor-faktor perusak, media dan alat yang meneyebabkan kerusakan dan penyimpangan, sekolah-sekolah untuk menghancurkan bangunan akidah dan penistaan akhlak, serta praktek nyata dalam melakukan kriminalitas.

Itulah cara dan metode yang memiliki kekuatan besar untukmenyampaikan pesan buruk, ia mempunyai pengaruh kuat untukmenjauhkan peran keluarga dalam pendidikan.(Bersambung Insya Allah)

Sumber : Disalin dari buku “Jangan Salah Mendidik Buah Hati” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd.

Apa itu Wahabi? (1)

Pertarungan antara Ahlu Tauhid dan Ahlu Syirik merupakan sunnatullah yang tetap berjalan, tidak akan berakhir hingga matahari terbit dari sebelah barat. Hal ini merupakan ujian dan cobaan bagi Ahlu al-Haq agar terjadi jihad fi sabilillah dengan lidah, pena ataupun senjata.

“Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka (dengan tidak payah kamu memeranginya) tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain.” (Terjemah Qur’an Surah Muhammad : 4)

Kita lihat musuh-musuh tauhid berusaha sekuat tenaga dengan mengorbankan waktu dan harta mereka tanpa mengenal lelah untuk membela kebatilan mereka, menebarkan kesesatan mereka, dan memadamkan cahaya Rabb mereka.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (Terjemah Qur’an Surah at-Taubah : 32)

Salah satu senjata utama mereka untuk memadamkan cahaya Allah ialah dengan menjauhkan manusia dari da’i yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan gelar-gelar yang jelek dan mengerikan. Seperti kata yang populer di tengah masyarakat yaitu “Wahabi”. Semua itu dengan tujuan menjauhkan manusia dari dakwah yang benar.

Apa sebenarnya Wahabi? Mengapa mereka begitu benci setengah mati terhadap Wahabi? Sehingga buku-buku yang membicarakan tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mencapai 80 kitab atau lebih. Api kebencian mereka begitu membara hingga salah seorang di antara mereka mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bukan anak manusia, melainkan anak setan, Subhanallah, adakah kebohongan setelah kebohongan ini?

“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (Terjemah Qur’an surah al-Kahfi: 5)

Hal seperti ini terus diwarisi hingga sekarang. Maka kita lihat orang-orang yang berlagak alim atau ustadz bangkit berteriak memperingatkan para pengikutnya, membutakan hati mereka dari dakwah yang penuh barakah ini, dan dari para da’i penyeru tauhid pemberantas syirik dengan sebutan-sebutan dan gelaran-gelaran yang menggelikan, seperti gelaran “Wahabi”. Padahal mereka tidak mengetahui hakikat dakwah yang dilancarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

“… sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.” (Terjemah Qur’an surah al-Baqarah: 13)

“…Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (Terjemah Qur’an surah al-Hasyr: 5)

Yang mereka dengar hanyalah tuduhan-tuduhan di tepi jurang yang runtuh lalu bangunannya jatuh bersama-sama mereka ke dalam neraka Jahannam. Tuduhan-tuduhan mereka tidaklah ilmiah sama sekali, lebih lemah dari sarang laba-laba.

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Terjemah Qur’an surah al-Ankabut: 41)

Semoga kalimat sederhana ini dapat membuka pandangan mata mereka terhadap dakwah ini dan agar binasa orang yang binasa di atas keterangan yang nyata pula. Dan jangan sampai mereka termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Allah:

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. (Terjemah Qur’an surah al-Baqarah: 206)
Apakah Wahabi?

Perlu ditegaskan di sini bahwa penamaan dakwah ini dengan “Dakwah Wahabiyah” dan para pengikutnya dengan “Wahabi” merupakan kesalahan kalau ditinjau dari segi lafadz dan maknanya.

Dari segi lafadz, penamaan “Wahabiyah” dinisbatkan kepada Abdul Wahhab yang tidak mempunyai sangkut paut dengan dakwah ini.[1] Ia tidak dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, yang menurut mereka, beliau adalah pendirinya. Kalaulah mereka jujur, tentu menamakannya dengan “Dakwah Muhammadiyah” karena nama beliau adalah Muhammad. Namun karena mereka menganggap bahwa jika menamakan dakwah ini dengan “Dakwah Muhammadiyah”, ia tidak akan menjauhkan manusia, maka mereka menggantinya dengan “Dakwah Wahabiyah”.

Adapun dari segi makna, maka mereka juga keliru di dalamnya sebab dakwah ini mengikuti manhaj dakwah al-Salaf al-Soleh dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Kalaulah mereka jujur, tentunya menamai dakwah ini dengan dakwah Salafiyyah.

Jadi apakah sebenarnya Wahabiyah? Dalam Kitab Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah [2]Juz 2, hal 174 diterangkan:

Wahabiyah adalah sebuah lafaz yang dilontarkan oleh musuh-musuh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab disebabkan dakwah beliau di dalam memurnikan tauhid, membasmi syirik dan membendung seluruh tata cara ibadah yang tidak dicontohkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tujuan mereka dalam menggunakan lafaz ini adalah untuk menjauhkan manusia dari dakwah beliau dan menghalangi mereka agar tidak mau mendengarkan perkataan beliau.

Sungguh sangat mengherankan omongan kebanyakan manusia, ketika mereka melihat seorang yang mengagungkan tauhid, menyeru dan membelanya, mereka menyebutnya sebagai “Wahabi”. Yang lebih lucu adalah apabila mereka menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim keduanya adalah Wahabi. Subhanallah! Apakah Muhammad bin Abdul Wahhab melahirkan orang yang hidupnya lebih dulu beberapa abad dari dirinya?[3]

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata:
Mungkin sebagian orang-orang bodoh akan menuduh Imam al-Suyuti dengan Wahabi sebagaimana adat mereka. Padahal jarak wafat antara keduanya kurang lebih 300 tahun.[4]

Aku teringat cerita menarik sekali, terjadi di salah satu sekolah di Damaskus (Syria) ketika seorang guru sejarah beragama Nashara (Kristen) menceritakan tentang sejarah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya dalam memerangi syirik, khurafat dan bid’ah. Sehingga seakan-akan guru Nashara itu memuji dan kagum kepadanya. Maka berkatalah salah seorang muridnya, “Wah guru kita menjadi Wahhabi!”.

Demikianlah kebencian mereka terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya, bahkan kepada orang Nashrani pun -yang nyata-nyata bukan Muslimin- mereka tuduh “Wahabi”.

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Terjemah Qur’an al-Buruuj: 8)

Insya Allah artikel ini akan bersambung dengan tulisan menjawab tuduhan dan syubhat dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.

Footnote:
[1] Ini karena Abdul Wahhab adalah ayah kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Yang mendirikan dakwah ini adalah Muhammad dan bukannya Abdul Wahhab, maka sepatutnya gelaran disandarkan kepada Muhammad dan bukannya Abdul Wahhab. Sebab mengapa gelaran sengaja dialihkan dari nama Muhammad diterangkan seterusnya di atas. (Hafiz Firdaus).
[2] Sebuah lembaga pemberi fatwa di Saudi Arabia
[3] Ini kerana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal dunia pada tahun 1206H manakala Imam Ibnu Taimiyah meninggal dunia pada tahun 728H dan Imam Ibnul Qayyim pada tahun 757H. (Hafiz Firdaus).
[4] Imam al-Suyuti meninggal dunia pada tahun 911H.

Sumber: www.hafizfirdaus.com

Kamis, 05 Mei 2011

Mengenalkan Allah kepada Anak

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam  pernah mengingatkan, untuk mengawali bayi-bayi kita dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.” Kalimat suci inilah yang kelak akan membekas pada otak dan hati mereka
Kalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan –meskipun barangkali ada yang demikian—tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah dalam suasana menakutkan.

Mereka mengenal Allah dengan sifat-sifat jalaliyah-Nya, sementara sifat jamaliyah-Nya hampir-hampir tak mereka ketahui kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Maka tak salah kalau kemudian mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian datang menghampiri orang-orang tersayang.

Astaghfirullahal ‘adziim…

Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat “keliru” –meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita—asma Allah terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita, “Ayo…. Nggak boleh! Dosa!!! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”
Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, “E… nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba…? Muba…? Mubazir!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”
Setiap saat nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara “mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”. Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti penggunaan kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka “menjauh” karena telanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata kita. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang di antara mereka ada yang berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Sebab, semenjak kecil mereka tak biasa menangkap dan merasakan kasih-sayang Allah.

Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apa pun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Kita ajari mereka menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

Bercermin pada perintah Nabi saw. dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri kita dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah !
Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otaknya dan menghidupkan cahaya hatinya. Apa yang didengar bayi di saat-saat awal kehidupannya akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan. Suara ibu yang terdengar berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah shallallaahu 'alahi wasallam  berpesan:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq

Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Karim, sebagaimana firman-Nya, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara.
Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, “Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?”

Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran –bukan hanya pengetahuan—bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia. Wallahu a’lam bishawab.* (Fauzil Adzim //www.hidayatullah.com)